Detail Update

Detail Update

17.500 Pelanggan PDAM Samarinda Berpotensi Terdampak Kekeringan

Card image cap

Tampak Sungai Mahakam yang surut, akibat masuknya musim kemarau. RAMA S

SAMARINDA-Beragam strategi menghadapi ancaman krisis air baku, tengah disiapkan Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Kencana Samarinda. Pada musim kemarau yang diperkirakan mencapai puncaknya Oktober nanti, sedikitnya 17.500 sambungan rumah berpotensi kesulitan mendapat pasokan rutin air bersih.

Upaya pertama, Perumdam Tirta Kencana Samarinda akan mengeruk intake. Pengerukan harus dilakukan karena di lokasi sekitar intake telah terjadi kekeringan. “Misalnya Intake Bengkuring, Intake Lempake, dan Intake Loa Kulu. Ini kami antisipasi dengan mengeruk area intake agar bisa mengambil air lebih banyak,” kata Direktur Teknik PDAM Samarinda, Ali Rachman AS ditemui di kantornya Kamis (3/8).

Selain itu, pihaknya telah membentuk tim yang bertugas menyalurkan bantuan air bersih melalui mobil tangki ke wilayah-wilayah yang instalasi pengolahan airnya sudah tidak beroperasi. “Biasanya yang mati duluan kawasan IPA Pulau Atas dan IPA Palaran. Umumnya setelah intrusi air laut ke Sungai Mahakam,” ucapnya. Ali melanjutkan, distribusi bantuan air bersih diberikan secara cuma-cuma. Namun apakah nantinya berbayar, dia menyebut akan diatur dalam surat keputusan.

“Nanti kami siapkan untuk distribusi dari IPA-IPA yang airnya tersedia, misalnya IPA Cendana,” sambungnya. Langkah lainnya, bersurat ke Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Kaltim mengenai peminjaman IPA mobile. “Ini bisa dipakai ke beberapa titik yang membutuhkan,” katanya. Pihaknya juga akan kembali mengecek sumur bor yang pernah dibangun di beberapa wilayah. Seperti Pampang, Palaran, Pulau Atas, dan Bantuas. “Meski kecil, tapi ada saja airnya,” ucapnya.

Ali mengungkapkan, jika kemarau berlangsung panjang, maka Perumdam Tirta Kencana Samarinda terpaksa memberlakukan penggiliran distribusi air di beberapa wilayah. “Ini antisipasi jika potensi jangka panjang,” ucapnya. Menurutnya, secara keseluruhan, persediaan dan produksi air baku di Samarinda masih normal. Meski demikian, dia mengimbau masyarakat untuk menampung air dan menghemat pemakaian.

Dia juga meminta agar masyarakat tidak menggunakan air PDAM untuk menyiram tanaman atau mencuci kendaraan. “Kami juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Agama (Kemenag) Samarinda atau ormas keagamaan untuk melaksanakan salat Istiska. Namun, ini menunggu kepastian pelaksanaan. Karena instansi ini mengetahui waktu yang tepat,” ucapnya.

Ali menuturkan, kekeringan ini merupakan fenomena yang beberapa kali sudah dilalui. Sehingga, upaya antisipasi telah dilakukan. Misalnya, untuk kawasan yang dialiri IPA Palaran. Lanjut dia, sudah terbangun jaringan dari IPA Kalhol. “Palaran sementara aman. Jaringan tengah disiapkan menuju Kelurahan Bukuan,” ucapnya. Sedangkan untuk wilayah utara Samarinda yang ditopang dari Waduk Benanga seperti Intake Lempake sebagai sumber air baku IPA Gunung Lingai, saat ini terdapat sekitar 9.000 sambungan rumah (SR).

Ali mengatakan, saat ini tengah dilakukan uji coba pompa baru di Pelita 4, Kecamatan Sambutan dengan kapasitas 100 liter per detik menuju wilayah utara Samarinda. “Saat ini suplai air dari Pelita 4 sudah mencapai Jalan Perjuangan hingga Jalan Damanhuri, Gang Ogok. Ini terus dievaluasi,” terangnya. Pihaknya menargetkan, air yang berasal dari IPA Sungai Kapih, bisa mengalir melalui jaringan tersebut hingga ke Jalan DI Panjaitan. Sehingga, air bisa mengalir ke kawasan Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara. “Jadi, bisa meminimalisasi wilayah yang tidak teraliri,” ucapnya.

Alternatif kedua, menunggu penyelesaian pembangunan interkoneksi saluran dari IPA Makroman di bawah flyover Jalan Sultan Sulaiman ke booster Pelita 4. “Kalau itu selesai, air Makroman masuk ke Pelita 4, maka produksi IPA Makroman bisa digenjot. Saat ini, Makroman hanya produksi 30-50 liter per detik. Jika jaringan terkoneksi, kami genjot hingga 80 liter per detik atau lebih,” ucapnya.

Ali memaparkan, ada pula interkoneksi pipa dari Makroman. Jaringan pipa itu terkoneksi ke Pelita 4 melalui Jalan Kapten Soedjono menuju Handil Kopi menuju Jalan Perjuangan. “Semua air dari Sambutan bisa menyuplai wilayah Utara Samarinda,” ucapnya.

Sedangkan untuk kawasan Bengkuring di mana terdapat sekitar 5.000 SR, saat ini diantisipasi dengan pengerukan intake. Namun, wilayah ini bisa ditopang dari IPA Bendang, Kecamatan Sungai Kunjang.

              Jaringan pipa ini mengalir melalui Jalan Nusyirwan Ismail, hingga Jalan HM Ardans (ring road) menuju Jalan Wahid Hasyim II dan kawasan Batu Cermin, Kelurahan Sempaja Utara. “Pada Intake Bengkuring juga kami dibantu Badan Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV membangun intake terapung. Jika ini selesai dan beroperasi, maka fungsi intake lebih mantap,” ucapnya. Ali pun mengimbau masyarakat tetap bersiap menghadapi semua kemungkinan.

“Kalau pun kejadian kekeringan terus terjadi, opsi terakhir adalah menerapkan penggiliran aliran. Meskipun saat ini produksi masih aman. Semoga kondisi cuaca bisa kembali normal dan hujan segera turun sehingga kondisi air di wilayah Samarinda normal kembali,” jelasnya. Kondisi air baku yang akan didistribusikan ke warga di Samarinda beberapa hari terakhir mulai mengkhawatirkan. Pasalnya, volume air Waduk Benanga dari hari ke hari terus mengering. Penurunan debit air begitu signifikan.

Selama ini, waduk yang berlokasi di Kecamatan Samarinda Utara itu, dimanfaatkan sebagai pengendali banjir, irigasi pertanian, dan air baku. Kepada Kaltim Post, Kepala Unit Pelaksana Bendungan (UPB) Bendungan Lempake Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Teguh Indartono mengatakan, tinggi muka air (TMA) Waduk Benanga terus mengalami penurunan. Normalnya, kata dia, 7,5 meter. Adapun saat ini, 7,0 meter. Sementara, level waspada di angka 6,5 meter.

Dengan demikian, ucap dia, untuk sementara, ketinggian air untuk kebutuhan air baku masih relatif aman. Tapi, jika dalam beberapa hari ini hujan tidak turun di area Waduk Benanga, maka stok air hanya bertahan hingga satu pekan ke depan. Selanjutnya, pihaknya tidak bisa menjamin. Itu karena Waduk Benanga merupakan waduk tadah hujan sehingga volumenya sangat bergantung pada hujan. “Debit air juga turun terus imbas satu minggu lebih tidak hujan,” ujarnya

Untuk diketahui, berdasarkan hasil monitoring BMKG hingga pertengahan Juli 2023, sebanyak 63 persen dari zona musim telah memasuki musim kemarau. BMKG memprediksi kemarau tahun ini akan lebih kering dari normalnya dan juga lebih kering dari tiga tahun sebelumnya. "Di Indonesia, El Nino memberikan dampak pada kondisi lebih kering sehingga curah hujan berkurang, tutupan awan berkurang, dan suhu meningkat," kata Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG Fachri Rajab dalam keterangan resminya.

              Dia menuturkan,  pemantauan 10 hari terakhir Juli 2023, indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) menunjukkan nilai sebesar +1.14 yang mengindikasikan bahwa El Nino terus menguat intensitasnya sejak awal Juli. BMKG memprediksi, puncak dampak El Nino akan terjadi pada Agustus-September 2023 mendatang. "Di Indonesia, El Nino memberikan dampak pada kondisi lebih kering sehingga curah hujan berkurang, tutupan awan berkurang, dan suhu meningkat," katanya.

Berdasarkan prakiraan curah hujan bulanan BMKG, menunjukkan bahwa sebagai besar wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan bulanan kategori rendah bahkan sebagian lainnya akan mengalami kondisi tanpa hujan sama sekali hingga Oktober nanti. "Jadi, harus tetap waspada akan potensi terjadinya kekeringan," kata Fachri. Adapun sektor yang paling terdampak dari fenomena El Nino adalah sektor pertanian. Utamanya, tanaman pangan semusim yang sangat mengandalkan air. Rendahnya curah hujan tentunya akan mengakibatkan lahan pertanian kekeringan dan dikhawatirkan akan mengalami gagal panen.

Oleh karenanya, BMKG mendorong pemerintah daerah-khususnya bagi daerah yang diprediksi terdampak serius-untuk melakukan langkah mitigasi dan aksi kesiapsiagaan secepat mungkin. Caranya, melakukan gerakan panen hujan, memasifkan gerakan hemat air, dan menyiapkan tempat cadangan air untuk puncak kemarau. (riz/k15)

 

DENNY SAPUTRA

@dennysaputra46

Berita ini telah terbit sebelumnya di: https://kaltimpost.jawapos.com/samarinda/04/08/2023/17500-pelanggan-pdam-samarinda-berpotensi-terdampak-kekeringan