Detail Update

Detail Update

🌙 Renungan Senin Ba’da Zuhur: Mengapa Dalam Surat Al-Ikhlas Tidak Ada Ayat Tentang Ikhlas?

Card image cap

Oleh: Djoko Iriandono*)

Setiap hari Senin ba’da Zuhur, Masjid Raya Baitul Muttaqin Islamic Center Kalimantan Timur mengadakan kajian rutin ba’da dhuhur.  Kajian ini  senantiasa dihadiri oleh jamaah yang haus akan ilmu dan ketenangan batin. Di antara lantunan dzikir dan desiran angin yang masuk dari pintu-pintu besar masjid, seusai sholat dhuhur para jamaah duduk khusyuk mendengarkan kajian rutin.

Siang itu, yang bertindak sebagai penceramah adalah Ustadz Drs.H. Muhammad Haiban (Wakil Ketua MUI Kaltim). Tema yang diangkat sederhana yaitu “Ikhlas.”  

Namun di tengah penjelasan sang ustadz tentang makna keikhlasan, muncul sebuah pertanyaan yang menggugah hati:

“Mengapa surat Al-Ikhlas tidak berisi ayat tentang ikhlas?”

Pertanyaan yang tampak sederhana ini, tetapi sesungguhnya membawa kita menyelami samudra makna yang dalam tentang hakikat tauhid dan keikhlasan. Di bawah ini saya coba rumuskan penjelasan dari ustadz Haiban yang sempat saya catat. Semoga hal ini tidak menyimpang dari makna sesungguhnya yang dimaksudkan oleh beliau.

🌿 Ikhlas yang Tidak Disebut, Tapi Dirasakan

Jika kita buka mushaf dan membaca surat Al-Ikhlas, tak satu pun dari empat ayatnya berbicara tentang keikhlasan manusia dalam beramal. Yang kita jumpai justru adalah pernyataan-pernyataan tentang siapa Allah sebenarnya:

“Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”
(QS. Al-Ikhlas: 1–4)

Mengapa surat yang seluruhnya berbicara tentang keesaan Allah ini dinamai “Al-Ikhlas”? Para ulama menjelaskan bahwa nama tersebut bukan diambil dari lafaz yang ada dalam ayat, melainkan dari substansi maknanya.
Surat ini memurnikan keesaan Allah dari segala bentuk kesyirikan, penyerupaan, dan kekeliruan dalam memahami sifat-sifat-Nya.

Dengan kata lain, ikhlas di sini bukan tentang niat manusia, tetapi tentang kemurnian tauhid kepada Allah. Ikhlas berasal dari kosa kata Khalasha” yg berarti bersih/ selesai. Beribadah dgn ikhlas berarti beribadah hanya tertuju kpd Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bersih dari campur tujuan yang lain atau selesai pada yang dituju dan  tidak nengharap lagi selain daripadaNya.

đź’Ž Ikhlas yang Melahirkan Keikhlasan

Kita sering memaknai ikhlas sebagai urusan hati manusia — niat yang tulus, tanpa pamrih, tanpa berharap balasan atau pujian.
Namun sejatinya, ikhlas yang sejati tidak akan lahir tanpa pengenalan yang benar terhadap Allah.

Surat Al-Ikhlas menjadi pondasi dari semua bentuk keikhlasan.
Ia mengajarkan bahwa ketika seseorang telah mengenal Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung (As-Shamad), maka hatinya akan lepas dari segala ketergantungan pada makhluk.
Dari sinilah tumbuh keikhlasan yang sesungguhnya — bukan karena kita berusaha keras untuk tidak riya, tetapi karena hati kita hanya tertuju kepada Allah.

Ikhlas yang sejati bukanlah hasil latihan semata, melainkan buah dari keyakinan tauhid yang murni.

🌸 Ikhlas dalam Keheningan

Kajian siang itu berakhir dengan suara lembut sang ustaz yang menutup dengan kalimat yang sangat berkesan:

“Surat Al-Ikhlas bukan berbicara tentang ikhlas, tetapi mengajarkan hakikat ikhlas.”

Kata-kata itu terasa menembus ke dalam hati. Kadang kita terlalu sibuk berusaha “menjadi ikhlas”, padahal kunci keikhlasan justru terletak pada pengenalan kita terhadap Allah. Semakin kita mengenal Allah, semakin kecil keinginan untuk mencari pengakuan dari selain-Nya.

🌺 Penutup: Memurnikan Hati, Memurnikan Tauhid

Surat Al-Ikhlas mengajarkan kepada kita bahwa keikhlasan tidak selalu harus disebutkan untuk bisa dirasakan.
Di balik empat ayat yang pendek itu tersimpan pesan besar: bahwa keikhlasan dalam amal adalah cerminan dari kemurnian tauhid di dalam hati.

Barang siapa memahami surat ini dengan benar, sesungguhnya ia telah memurnikan imannya kepada Allah. Dan siapa yang memurnikan imannya, akan mudah baginya untuk beramal dengan ikhlas — karena hatinya sudah tidak lagi bergantung kepada selain Allah.

“Ikhlas itu tidak harus dibicarakan, tapi harus dihayati. Dan surat Al-Ikhlas mengajarkan kita untuk memurnikan arah hati — hanya kepada Allah semata.”

 

*) Kepala Seksi Kominfo Islamic Center Kalimantan Timur