Oleh: Djoko Iriandono*)
Hampir dapat dipastikan jika kita menanyakan kepada seratus orang secara acak di Indonesia dengan pertanyaan, “Apa yang Anda tahu tentang sekolah?”, maka lebih dari 80 orang akan menjawab bahwa sekolah adalah tempat belajar-mengajar yang terdiri dari ruang kelas, papan tulis, meja, kursi, dan seorang guru di depan kelas. Hanya sedikit yang menyebutkan bahwa di dalam sekolah seharusnya ada laboratorium, perpustakaan, UKS, kantin, ruang kesenian, lapangan olahraga, atau taman belajar yang mendukung suasana belajar.
Pandangan seperti itu tentu tidak salah, sebab memang sampai sekarang pun masih banyak sekolah di pelosok negeri ini yang kondisinya sangat sederhana. Ada sekolah yang berdinding papan, beratap seng, dengan bangku seadanya, dan satu guru yang mengajar semua mata pelajaran. Namun di balik semua itu, sebenarnya tersimpan pertanyaan yang patut kita renungkan bersama: Apakah sekolah hanya sekadar tempat anak-anak duduk di kursi dan mendengarkan guru berbicara di depan kelas?
Saya teringat kembali pada tahun 2001 hingga 2003, ketika saya mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan S-2 di Inggris, negeri yang waktu itu masih dipimpin oleh Ratu Elizabeth II. Pengalaman belajar di sana benar-benar membuka mata saya tentang makna “sekolah” yang sesungguhnya. Betapa berbeda cara mereka memandang dan mengelola lembaga pendidikan. Sekolah bagi mereka bukan sekadar tempat untuk belajar teori, tetapi sebuah ekosistem yang dirancang untuk menumbuhkan potensi manusia secara menyeluruh—akal, rasa, dan keterampilan.
Sekolah Sebagai Lingkungan Hidup, Bukan Sekadar Gedung
Kesan pertama yang saya dapatkan ketika berkunjung ke sekolah-sekolah di Inggris adalah suasananya yang hidup. Bukan dalam arti ramai, tetapi hidup dalam arti “bernyawa”. Sekolah-sekolah di sana tidak tampak seperti gedung formal yang kaku. Halamannya luas, hijau, dan penuh bunga. Di beberapa sudut terdapat taman kecil yang ditanami sayur atau bunga oleh siswa sendiri. Anak-anak diajarkan bagaimana menanam, menyiram, dan memanen hasilnya.
Salah seorang guru pernah berkata kepada saya, "We want children to love learning, and that love only grows if school feels like a second home, not a prison." Kalimat itu sederhana, tetapi sangat dalam maknanya.
Ruang kelas di sekolah-sekolah Inggris juga jauh dari kesan membosankan. Di dinding-dindingnya terpajang karya siswa—bukan hanya hasil tugas akademik, tetapi juga lukisan, tulisan reflektif, puisi, atau hasil eksperimen sederhana. Meja-meja disusun dalam kelompok kecil agar anak-anak terbiasa berdiskusi dan berkolaborasi.
Yang menarik, setiap ruang memiliki fungsinya sendiri. Ada ruang sains dengan peralatan eksperimen yang lengkap, ruang komputer dengan koneksi internet stabil, ruang musik dengan berbagai alat musik, bahkan ada “ruang tenang”—ruangan kecil dengan pencahayaan lembut tempat anak-anak bisa menenangkan diri ketika sedang merasa stres atau lelah.
Sekolah benar-benar dirancang bukan hanya untuk mengajar, tetapi juga untuk menghidupkan rasa ingin tahu.
Laboratorium: Tempat Eksperimen, Bukan Sekadar Formalitas
Salah satu hal yang paling membekas bagi saya adalah bagaimana mereka mengelola laboratorium. Di Indonesia, kata “laboratorium” sering terdengar megah, tetapi dalam praktiknya sering kali hanya sekadar ruangan berdebu dengan beberapa tabung reaksi dan mikroskop tua yang jarang digunakan.
Berbeda dengan di Inggris. Di sana, laboratorium adalah jantung kegiatan belajar sains. Anak-anak tidak hanya mendengarkan teori, tetapi benar-benar melakukan percobaan. Mereka tidak takut salah, karena kesalahan dianggap bagian dari proses belajar. Guru berperan bukan sebagai “pemberi jawaban”, melainkan fasilitator yang mengarahkan siswa menemukan jawabannya sendiri. (Khusus uraian tentang laboratorium baca artikel sebelumnya).
Saya pernah menyaksikan anak-anak usia sekitar 10 tahun sedang melakukan eksperimen sederhana tentang reaksi kimia antara soda kue dan cuka. Mereka mencatat, mendiskusikan, lalu menarik kesimpulan. Suasana kelas begitu hidup. Ada tawa, ada rasa ingin tahu, ada kekaguman. Di wajah mereka tampak jelas—belajar itu menyenangkan.
Mungkin inilah yang kita rindukan di banyak sekolah kita: semangat eksplorasi. Di mana anak-anak belajar bukan karena takut pada ujian, tetapi karena mereka menikmati prosesnya.
Perpustakaan Sebagai Jantung Sekolah
Jika laboratorium adalah jantung pembelajaran sains, maka perpustakaan adalah jantung dari seluruh kegiatan intelektual sekolah. Di Inggris, perpustakaan sekolah bukan hanya tempat meminjam buku, melainkan ruang inspirasi.
Saya masih ingat aroma khas buku dan suasana tenang yang menenangkan di perpustakaan sekolah yang saya kunjungi. Setiap anak diberi waktu khusus untuk membaca buku yang mereka sukai. Tidak ada paksaan harus membaca buku tertentu. Bahkan ada pojok khusus dengan karpet lembut dan bantal warna-warni tempat anak-anak duduk santai sambil membaca.
Yang menarik, pustakawan bukan sekadar penjaga buku. Ia juga berperan sebagai pembimbing literasi, membantu anak-anak memilih bacaan sesuai minat dan usia mereka. Di dinding terpajang kutipan-kutipan inspiratif tentang membaca: “Reading gives us somewhere to go when we have to stay where we are.”
Saya membayangkan, betapa indahnya jika di sekolah-sekolah kita pun perpustakaan menjadi tempat yang hidup seperti itu—bukan sekadar ruangan sunyi dengan buku berdebu yang jarang disentuh.
Sekolah yang Menghargai Seni dan Gerak
Di Indonesia, pelajaran seni dan olahraga sering dianggap pelengkap—tidak sepenting matematika atau bahasa. Padahal, di Inggris saya melihat betapa seriusnya mereka menempatkan pendidikan seni dan olahraga sebagai bagian dari pembentukan karakter.
Setiap sekolah memiliki ruang kesenian, lengkap dengan alat musik, kanvas, dan bahan-bahan seni. Anak-anak diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri melalui musik, lukisan, atau teater. Di beberapa sekolah, setiap semester diadakan school exhibition di mana karya siswa dipamerkan dan dinilai oleh masyarakat sekitar.
Begitu juga dengan olahraga. Lapangan olahraga bukan hanya untuk upacara atau acara besar, tetapi benar-benar digunakan setiap hari. Semua sekolah yang saya kunjungi memiliki lapangan olahraga baik indoor mapun outdoor. Siswa didorong untuk bergerak, berlari, dan bekerja sama dalam tim. Mereka diajarkan sportivitas, kerja sama, dan disiplin—nilai-nilai yang kadang tidak bisa diajarkan lewat teori.
Kita dan Tantangan ke Depan
Sekolah-sekolah di Inggris tentu tidak bisa disamakan begitu saja dengan sekolah di Indonesia. Kita memiliki konteks sosial, ekonomi, dan budaya yang berbeda. Namun, ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari cara mereka memandang sekolah bukan sebagai gedung, tetapi sebagai ekosistem pembelajaran.
Sekolah yang baik bukanlah sekolah yang besar, megah, dan ber-AC. Sekolah yang baik adalah yang mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, membangun karakter, dan mengajarkan anak-anak untuk berpikir kritis serta berempati.
Mungkin kita belum mampu menyediakan laboratorium canggih di semua sekolah, tetapi kita bisa mulai dengan membangun budaya belajar yang aktif dan kreatif. Kita bisa mulai dengan memberi ruang bagi anak-anak untuk bertanya, bereksperimen, dan berpendapat tanpa takut salah. Kita bisa mulai dengan memperindah lingkungan sekolah agar lebih manusiawi dan menyenangkan.
Refleksi untuk Sekolah-Sekolah Islam di Indonesia
Sebagai pengurus lembaga pendidikan Islam, saya sering merenung: bagaimana seharusnya wajah sekolah Islam di masa kini? Apakah cukup dengan label “Islamic School” tanpa benar-benar menghadirkan suasana belajar yang islami—yakni yang menumbuhkan kecintaan pada ilmu, akhlak, dan keindahan?
Padahal, jika kita menelusuri sejarah Islam, laboratorium pertama kali justru tumbuh dari tangan para ilmuwan Muslim. Di masa keemasan Baghdad dan Andalusia, masjid menjadi pusat belajar, tempat para ilmuwan meneliti, berdiskusi, dan menemukan pengetahuan baru. Artinya, semangat ilmiah dan rasa ingin tahu itu seharusnya sudah menjadi bagian dari DNA sekolah Islam.
Sekolah Islam seharusnya bukan hanya tempat menanamkan nilai-nilai moral, tetapi juga tempat menumbuhkan keingintahuan ilmiah yang sejalan dengan ajaran Al-Qur’an: “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9).
Maka sudah saatnya kita menata ulang paradigma pendidikan Islam. Sekolah-sekolah kita tidak cukup hanya memiliki guru yang saleh, tetapi juga sistem yang mendukung tumbuhnya kreativitas dan kemandirian belajar. Perpustakaan yang nyaman, laboratorium yang hidup, ruang seni yang ekspresif, dan lingkungan yang bersih serta asri—semuanya adalah bagian dari dakwah pendidikan Islam.
Karena sesungguhnya, menciptakan sekolah yang baik adalah ibadah. Mendidik anak-anak agar mencintai ilmu adalah bagian dari jihad di jalan Allah.
Ketika saya mengenang kembali kunjungan ke sekolah-sekolah di Inggris itu, saya tidak merasa iri, tetapi justru terinspirasi. Mereka bisa karena sistemnya berjalan dengan baik dan masyarakatnya menghargai pendidikan. Kita pun bisa—asal memiliki tekad, kesungguhan, dan kemauan untuk berubah.
Sekolah yang baik tidak lahir dari gedung mewah, tetapi dari hati orang-orang yang mencintai pendidikan. Dan selama masih ada guru yang ikhlas, kepala sekolah yang peduli, dan masyarakat yang mendukung, harapan itu tidak akan pernah padam.
Mungkin inilah makna sebenarnya dari “sekolah yang sesungguhnya”—tempat di mana ilmu dan nilai hidup berdampingan, di mana anak-anak belajar bukan hanya untuk tahu, tetapi untuk menjadi manusia yang lebih baik.
*) Kepala bidang pendidikan Yayasan Baitul Muttaqien Islamic Center Kaltim