Oleh: Djoko Iriandono
Setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Mereka berharap buah hatinya tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, sukses, dan bahagia. Namun, jalan yang ditempuh untuk mencapai tujuan itu seringkali berbeda, bahkan bertolak belakang. Dalam dunia pengasuhan, dua filosofi utama seringkali saling berhadapan: mendidik anak untuk menjadi pemenang dalam setiap persaingan, atau membesarkannya untuk menjadi pribadi yang pandai berkolaborasi dalam komunitas.
Di satu sisi, ada kelompok orang tua yang memegang teguh prinsip bahwa hidup adalah sebuah kompetisi. Mereka memotivasi anak dengan cara membandingkan setiap capaian anak dengan pencapaian anak orang lain. Prestasi diukur dengan angka, peringkat, dan pengakuan eksternal. Menduduki peringkat tiga besar berarti hadiah dan pujian, sementara gagal mencapainya bisa berujung pada omelan dan kekecewaan. Bagi mereka, metode ini adalah cara untuk mengeraskan mental anak, mempersiapkannya menghadapi dunia nyata yang keras dan penuh persaingan. Tujuannya mulia yaitu agar anak bisa survive dan unggul.
Di sisi lain, sekelompok orang tua lain lebih menekankan pada nilai kerjasama dan harmoni sosial. Mereka memotivasi anak dengan himbauan untuk selalu bisa bekerjasama dengan orang lain. Filosofi mereka berakar pada keyakinan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Kesuksesan, menurut mereka, dicapai melalui jaringan dukungan dan kemampuan untuk memahami serta beradaptasi dengan lingkungan. Prestasi bukan hanya tentang menjadi yang terbaik secara individual, tetapi tentang bagaimana berkontribusi bagi kelompok dan diterima dalam komunitas dengan berperilaku sesuai norma yang berlaku.
Lalu, mana pendekatan yang lebih baik? Sebelum menjawab, mari kita telaah dampak dari masing-masing pendekatan tersebut.
Dampak Pola Asih Berbasis Kompetisi (Competitive Parenting)
Pendekatan yang berorientasi pada persaingan dan perbandingan memang bisa memacu anak untuk mencapai hasil yang maksimal. Anak-anak mungkin akan termotivasi untuk belajar lebih giat, berlatih lebih sungguh-sungguh, dan mengembangkan disiplin diri yang kuat. Mereka belajar untuk tidak mudah menyerah dan selalu berusaha untuk menjadi yang terdepan.
Namun, dampak negatifnya pun tidak bisa diabaikan. Pertama, anak bisa berkembang dengan mentalitas "winner takes all". Mereka hanya merasa berharga ketika menang dan berada di puncak. Hal ini dapat menciptakan kecemasan berlebihan, takut gagal, dan perfeksionisme yang tidak sehat. Kedua, hubungan sosialnya bisa terganggu. Teman-teman dipandang bukan sebagai sahabat, tetapi sebagai rival yang harus dikalahkan. Ini dapat memupuk rasa iri, curang, dan kesulitan untuk membangun hubungan yang tulus. Ketiga, yang paling berbahaya, anak bisa kehilangan sense of self-nya. Identitasnya dibangun berdasarkan perbandingan dengan orang lain, bukan pada pemahaman akan minat, bakat, dan nilai-nilai dirinya sendiri. Mereka hidup untuk memenuhi ekspektasi orang tua, bukan mengejar passion-nya.
Dampak Pola Asuh Berbasis Kolaborasi (Collaborative Parenting)
Pendekatan kolaboratif membangun anak menjadi pribadi yang empatik, punya keterampilan sosial yang baik, dan mampu bekerja dalam tim. Anak-anak ini cenderung lebih mudah diterima dalam pergaulan karena mereka belajar mendengarkan, bernegosiasi, dan berkontribusi tanpa selalu harus menjadi pusat perhatian. Mereka memahami bahwa kesuksesan bisa diraih bersama dan kegagalan bukanlah aib yang harus ditutupi.
Kekuatan mental yang dibangun adalah ketahanan sosial dan kemampuan beradaptasi. Mereka siap untuk dunia kerja yang semakin mengutamakan teamwork dan intelligence emotional. Namun, tantangannya adalah tanpa bimbingan yang tepat, anak mungkin kurang memiliki daya juang individu (competitive edge). Dalam situasi yang memang menuntut persaingan sehat, seperti ujian masuk atau kompetisi tertentu, mereka mungkin kurang terlatih untuk tampil maksimal secara individual. Mereka juga berisiko untuk terlalu mengikuti arus (conformity) dan kehilangan daya kritis serta keunikan dirinya karena terlalu berusaha menyesuaikan dengan norma kelompok.
Mencari Keseimbangan: Bukan Kompetisi vs Kolaborasi, Melainkan Kompetisi dan Kolaborasi
Pada hakikatnya, dunia membutuhkan kedua kemampuan ini. Seorang CEO sukses tidak hanya perlu cerdik dan kompetitif dalam menjalankan bisnisnya, tetapi juga harus mampu memimpin timnya dengan kolaborasi dan empati. Seorang ilmuwan tidak hanya bersaing untuk menemukan teori terbaru, tetapi juga harus berkolaborasi dengan rekan-rekannya untuk memecahkan masalah yang kompleks.
Oleh karena itu, tugas orang tua bukanlah memilih salah satu extreme, tetapi menemukan keseimbangan yang sehat antara keduanya. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil:
Kesimpulan
Memotivasi anak bukanlah soal memilih antara menjadikannya seorang petarung yang tangguh atau seorang kolaborator yang empatik. Dunia yang kompleks menuntut kedua keterampilan tersebut. Tantangan terbesar orang tua adalah membesarkan anak yang percaya diri untuk berlari cepat dalam balapan, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menengok ke samping dan menawarkan tangan jika ada yang terjatuh. Anak yang tidak hanya bisa memenangkan perlombaan, tetapi juga bisa memimpin timnya meraih kemenangan bersama. Dengan menemukan keseimbangan ini, kita tidak hanya mempersiapkan mereka untuk survive, tetapi untuk truly live and thrive dalam masyarakat.