"Ilmu tanpa agama adalah buta, sedangkan agama tanpa ilmu adalah lumpuh."
Oleh: Dr. Ir. H. Irianto Lambrie, M.M.
Ketua Umum Dewan Pengurus Badan Pengelola Islamic Center Kalimantan Timur
Kemajuan peradaban manusia pada abad ke-21 sesungguhnya menghadirkan sebuah paradoks. Di satu sisi, dunia mencapai kemajuan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Teknologi digital menghubungkan miliaran manusia hanya dalam hitungan detik. Kecerdasan buatan mulai mengambil alih berbagai pekerjaan yang dahulu hanya mampu dilakukan manusia. Kemajuan di bidang kedokteran memperpanjang harapan hidup, sementara ilmu pengetahuan terus membuka tabir-tabir baru mengenai alam semesta.
Namun di sisi lain, dunia juga menghadapi krisis yang semakin kompleks. Peperangan masih berlangsung di berbagai kawasan. Ketimpangan ekonomi semakin lebar. Kerusakan lingkungan mengancam keberlangsungan kehidupan generasi mendatang. Korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, krisis kepercayaan publik, serta lunturnya etika sosial menjadi persoalan yang hampir ditemukan di setiap negara, baik negara maju maupun berkembang.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak selalu berjalan seiring dengan kemajuan moral. Sebuah bangsa dapat menjadi sangat maju secara ekonomi, tetapi belum tentu menghadirkan rasa keadilan. Sebuah negara dapat memiliki teknologi tercanggih, tetapi belum tentu mampu membangun masyarakat yang damai dan saling menghormati. Peradaban ternyata tidak cukup dibangun hanya dengan kecerdasan intelektual; ia memerlukan fondasi nilai yang membimbing arah kemajuan.
Di sinilah agama memperoleh relevansinya. Agama bukan sekadar kumpulan ritual yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, melainkan sumber nilai yang membentuk karakter individu sekaligus menentukan arah sebuah peradaban.
Bagi umat Islam, prinsip itu telah ditegaskan secara jelas dalam firman Allah SWT:
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya’ [21]: 107).
Ayat yang singkat ini mengandung makna yang sangat luas. Misi Rasulullah SAW bukan hanya mengajak manusia memeluk agama Islam, melainkan menghadirkan kasih sayang, keadilan, kedamaian, dan kemaslahatan bagi seluruh alam. Kata al-’alamin tidak hanya menunjuk kepada umat manusia, tetapi juga seluruh ciptaan Allah: lingkungan hidup, hewan, tumbuhan, bahkan sistem kehidupan yang menopang keberlangsungan peradaban.
Dengan demikian, Islam tidak hadir untuk membangun sekat, melainkan membangun jembatan. Islam bukan hanya mengatur ibadah individual, tetapi juga mengajarkan bagaimana manusia membangun masyarakat yang adil, ekonomi yang berkeadilan, pemerintahan yang amanah, ilmu pengetahuan yang bermanfaat, serta hubungan sosial yang penuh kasih sayang.
Inilah makna terdalam dari Islam sebagai rahmatan lil ’alamin.
Sampai saat ini masih banyak orang yang mempersepsikan bahwa agama hanya mengurus persoalan akhirat, sedangkan urusan dunia dianggap menjadi wilayah ilmu pengetahuan, politik, dan ekonomi. Cara pandang seperti ini sesungguhnya tidak dikenal dalam ajaran Islam.
Islam justru memandang kehidupan sebagai satu kesatuan yang utuh. Dunia adalah ladang tempat manusia menanam amal, sedangkan akhirat merupakan tempat memanen hasilnya. Karena itu, membangun sekolah, mengembangkan ilmu pengetahuan, menciptakan teknologi, mengelola pemerintahan secara bersih, menjaga lingkungan, bahkan mengatur lalu lintas agar tertib, semuanya dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan memberi manfaat bagi sesama.
Peradaban pada hakikatnya adalah hasil kemampuan manusia mengelola ilmu, ekonomi, budaya, politik, dan teknologi untuk menciptakan kehidupan yang tertib, aman, sejahtera, dan bermartabat. Akan tetapi, seluruh kemajuan tersebut membutuhkan arah. Di sinilah agama berfungsi sebagai kompas moral.
Sering kita mendengar pepatah yang mengatakan, "Ilmu tanpa agama adalah buta, sedangkan agama tanpa ilmu adalah lumpuh." Pepatah ini mengandung makna yang sangat mendalam. Kemajuan yang tidak dibimbing oleh nilai-nilai moral akan mudah melahirkan keserakahan. Kekuasaan yang tidak disertai integritas akan berubah menjadi tirani. Ilmu pengetahuan yang kehilangan akhlak dapat menjelma sebagai alat penindasan, sementara teknologi yang berkembang tanpa landasan etika berpotensi mengancam martabat dan kemanusiaan.
Sebaliknya, agama yang hanya berhenti pada tataran ritual tanpa diwujudkan dalam karya nyata juga akan kehilangan daya transformasinya. Nilai-nilai luhur yang diajarkan agama semestinya diterjemahkan ke dalam tindakan yang nyata, menghadirkan kemaslahatan, mendorong kemajuan, serta memberi manfaat yang luas bagi kehidupan masyarakat.
Ibnu Khaldun, salah seorang pemikir terbesar dalam sejarah Islam, menjelaskan bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi atau militer, tetapi juga oleh kualitas moral masyarakatnya, kekuatan solidaritas sosial (’ashabiyah), dan kepemimpinan yang adil. Ketika moral melemah, ketika keadilan mulai ditinggalkan, dan ketika kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan bersama, maka kemunduran peradaban sesungguhnya telah dimulai, meskipun bangunan-bangunan megah masih berdiri kokoh.
Berabad-abad kemudian, sejarawan Inggris Arnold Toynbee sampai pada kesimpulan yang tidak jauh berbeda. Dalam kajiannya mengenai kebangkitan dan keruntuhan berbagai peradaban dunia, Toynbee menegaskan bahwa sebuah peradaban tidak hancur terutama karena serangan dari luar, melainkan karena kehilangan kemampuan moral dan spiritual untuk menjawab tantangan zamannya.
Pandangan kedua tokoh tersebut mengingatkan kita bahwa kualitas sebuah bangsa tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonominya, tetapi juga dari karakter manusianya.
Dalam perjalanan kehidupan, alhamdulillah saya diberikan kesempatan oleh Allah SWT mengunjungi berbagai negara dengan latar belakang budaya, sistem pemerintahan, dan tingkat kemajuan yang berbeda. Pengalaman tersebut memberikan pelajaran yang sangat berharga, yaitu: bahwa setiap bangsa besar selalu dibangun di atas nilai-nilai yang mereka pegang secara konsisten.
Di Jepang, misalnya, saya dapat menyaksikan bagaimana disiplin menjadi budaya yang hidup dalam keseharian. Kereta datang tepat waktu, masyarakat menjaga kebersihan tanpa harus diawasi, dan rasa malu ketika melanggar aturan menjadi bagian dari pendidikan karakter sejak usia dini. Nilai-nilai tersebut membuat pelayanan publik berjalan efektif sekaligus menumbuhkan kepercayaan sosial yang tinggi.
Di Jerman, saya mendapati nilai kehidupan terkait penghargaan terhadap kualitas pekerjaan, ketelitian, dan kepatuhan terhadap hukum yang dijadikan fondasi kemajuan industri mereka. Di Belanda, masyarakat menunjukkan bagaimana tata kelola yang baik mampu mengubah tantangan menjadi kekuatan. Negara yang sebagian wilayahnya berada di bawah permukaan laut justru berhasil membangun sistem pengelolaan air yang menjadi rujukan dunia. Semua itu lahir dari budaya disiplin, perencanaan jangka panjang, serta penghargaan terhadap ilmu pengetahuan.
Korea Selatan memberikan pelajaran lain bagi saya. Negara yang pada dekade 1950-an pernah mengalami kehancuran akibat perang itu mampu bangkit menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia karena menjadikan pendidikan, riset, dan pengembangan sumber daya manusia sebagai investasi utama. Demikian pula Tiongkok, yang dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan transformasi luar biasa melalui perencanaan yang konsisten, etos kerja yang tinggi, dan pembangunan infrastruktur secara berkesinambungan.
Dari negara-negara tersebut saya menyadari satu hal penting, yaitu: “kemajuan tidak pernah lahir secara kebetulan”. Ia selalu merupakan buah dari budaya kerja, integritas, kedisiplinan, penghargaan terhadap ilmu, serta kepemimpinan yang memiliki visi jangka panjang.
Yang menarik, hampir seluruh nilai tersebut sesungguhnya telah lama diajarkan dalam Islam.
Islam mengajarkan amanah sebelum dunia modern berbicara tentang good governance. Islam mengajarkan kebersihan jauh sebelum lahir konsep sanitasi modern. Islam memerintahkan keadilan bahkan kepada orang yang kita tidak sukai. Islam mendorong umatnya membaca, berpikir, dan menuntut ilmu sejak wahyu pertama yang turun berbunyi, “Iqra’” (bacalah).
Karena itu, ketika kita menyaksikan kemajuan bangsa-bangsa lain, sikap yang tepat bukanlah merasa rendah diri ataupun sekadar mengagumi. Yang lebih penting adalah melakukan introspeksi, “sudahkah nilai-nilai luhur yang diajarkan Islam benar-benar kita hidupkan dalam kehidupan sehari-hari?”
Sebab, sejarah membuktikan bahwa ketika umat Islam menjadikan ilmu, akhlak, dan keadilan sebagai fondasi kehidupan, lahirlah peradaban-peradaban besar yang menerangi dunia. Baghdad menjadi pusat ilmu pengetahuan, Cordoba berkembang menjadi kota paling maju di Eropa pada masanya, sementara para ilmuwan seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Al-Biruni, dan Ibnu Khaldun mewariskan karya-karya yang hingga kini masih menjadi bagian penting dari khazanah ilmu pengetahuan dunia.
Pertanyaannya, mengapa kejayaan itu pernah lahir? Jawabannya bukan semata karena umat Islam menguasai teknologi, melainkan karena mereka memandang ilmu sebagai bagian dari ibadah dan kemajuan sebagai sarana untuk menghadirkan kemaslahatan bagi umat manusia.
Lalu, bagaimana konsep rahmatan lil ’alamin diwujudkan dalam kehidupan nyata?
Jawabannya tidak berhenti pada slogan, ceramah, atau diskusi ilmiah. Islam menjadi rahmat ketika hadir dalam tindakan nyata yang membawa manfaat bagi orang lain. Rasulullah SAW menegaskan ukuran kemuliaan seorang manusia melalui sabdanya:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad dan Ath-Thabrani).
Hadis ini mengubah cara kita memandang keberhasilan. Selama ini ukuran sukses sering diidentikkan dengan tingginya jabatan, besarnya kekayaan, atau luasnya pengaruh. Padahal, dalam perspektif Islam, ukuran yang lebih hakiki adalah seberapa besar manfaat yang kita tinggalkan bagi sesama.
Karena itu, setiap profesi sesungguhnya merupakan ladang ibadah.
Guru menghadirkan rahmat melalui ilmu yang ditanamkannya kepada generasi muda. Dokter menghadirkannya melalui pelayanan yang menyelamatkan kehidupan. Hakim melalui keputusan yang adil. Aparatur pemerintah melalui pelayanan publik yang bersih, cepat, dan berpihak kepada kepentingan masyarakat. Pengusaha melalui usaha yang jujur serta membuka lapangan pekerjaan. Petani melalui hasil panennya yang memberi kehidupan. Penulis melalui gagasan yang mencerahkan, sementara orang tua menghadirkannya melalui pendidikan karakter bagi anak-anaknya.
Tidak ada profesi yang lebih mulia daripada yang lain apabila semuanya dijalankan dengan amanah dan memberikan manfaat.
Allah SWT berfirman:
“Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 195).
Pada ayat lain Allah mengingatkan:
“Jika kamu berbuat baik, sesungguhnya kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri.”
(QS. Al-Isra’ [17]: 7).
Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa setiap kebaikan pada hakikatnya kembali kepada pelakunya. Masyarakat memperoleh manfaatnya, sementara pelakunya memperoleh keberkahan hidup di dunia dan pahala di akhirat.
Salah satu ujian terbesar dalam membangun peradaban adalah kepemimpinan. Jabatan bukanlah simbol kemuliaan, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Seorang pemimpin tidak cukup hanya mampu menyusun program atau mencapai target pembangunan. Ia juga harus mampu menghadirkan rasa keadilan, membangun kepercayaan, serta menjaga martabat manusia yang dipimpinnya.
Dalam pengalaman sejarah Islam, Rasulullah SAW berhasil membangun masyarakat Madinah bukan semata karena kekuatan politik, tetapi karena kepemimpinan yang dilandasi kejujuran, kasih sayang, musyawarah, dan penghormatan terhadap hak-hak seluruh warga, termasuk mereka yang berbeda agama.
Nilai-nilai tersebut tetap relevan hingga hari ini. Pemerintahan yang bersih, pelayanan publik yang transparan, penegakan hukum yang adil, perlindungan terhadap kelompok lemah, serta pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab merupakan wujud nyata dari ajaran Islam yang membangun peradaban.
Dalam konteks Indonesia yang majemuk, penerapan nilai-nilai Islam tidak diwujudkan dengan memaksakan simbol, tetapi melalui keteladanan akhlak, integritas dalam bekerja, dan komitmen menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh warga negara. Di sinilah makna rahmatan lil ’alamin menemukan relevansinya.
Di tengah berbagai tantangan zaman, saya meyakini bahwa Islamic Center tidak boleh dipahami hanya sebagai tempat penyelenggaraan ibadah. Ia harus berkembang menjadi pusat peradaban (center of civilization) yang mengintegrasikan spiritualitas, pendidikan, kesehatan, ilmu pengetahuan, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan pembinaan karakter.
Masjid pada masa Rasulullah SAW merupakan pusat kehidupan masyarakat. Dari sanalah lahir pendidikan, pelayanan sosial, musyawarah, penguatan ukhuwah, hingga pembinaan generasi. Masjid menjadi tempat bertemunya nilai-nilai keimanan dengan solusi atas persoalan kehidupan.
Semangat itulah yang perlu terus dihidupkan. Islamic Center hendaknya menjadi ruang yang terbuka bagi siapa pun untuk belajar, berdialog, berinovasi, dan berkolaborasi dalam membangun masyarakat yang religius sekaligus maju. Di dalamnya tumbuh tradisi membaca, menulis, meneliti, melayani, dan mengabdi.
Ketika masjid mampu melahirkan generasi yang jujur, disiplin, cinta ilmu, menghormati perbedaan, dan peduli terhadap lingkungan, sesungguhnya masjid sedang membangun peradaban.
Hal yang paling penting untuk kita renungkan bukanlah seberapa tinggi jabatan yang pernah kita sandang, seberapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan, atau seberapa luas kekuasaan yang pernah kita miliki. Sebab, semua itu hanyalah titipan yang akan berakhir ketika usia kita berakhir. Yang akan tetap hidup adalah manfaat yang kita tinggalkan.
Mungkin kita tidak mampu membangun universitas besar, tetapi kita dapat membantu seorang anak tetap bersekolah. Mungkin kita tidak mampu mewakafkan tanah yang luas, tetapi kita dapat menyisihkan sebagian rezeki untuk mereka yang membutuhkan. Mungkin kita tidak memiliki panggung besar untuk berdakwah, tetapi kita dapat menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain, memberi senyum yang tulus, menyingkirkan duri dari jalan, atau menjadi pendengar yang baik bagi mereka yang sedang menghadapi kesulitan.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa tidak ada kebaikan yang terlalu kecil apabila dilakukan dengan ikhlas. Sebaliknya, tidak ada jabatan yang terlalu tinggi untuk terbebas dari pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Almarhum Syekh Ali Jaber pernah menyampaikan sebuah nasihat yang sangat menyentuh hati:
“Jika kamu belum mampu menjadi orang kaya yang dermawan, jadilah orang sederhana yang rajin menolong. Jika belum mampu menjadi ulama, jadilah penuntut ilmu yang tekun belajar dan mengamalkan ilmunya.”
Pesan sederhana ini mengandung makna yang dalam. Allah tidak menilai manusia dari besarnya kesempatan yang dimiliki, melainkan dari kesungguhan memanfaatkan kesempatan yang telah diberikan-Nya.
Perjalanan sejarah menunjukkan bahwa peradaban besar tidak pernah dibangun hanya oleh gedung-gedung megah atau kecanggihan teknologi. Peradaban lahir dari manusia-manusia yang memiliki integritas, ilmu pengetahuan, etos kerja, kepedulian sosial, dan keyakinan bahwa setiap pekerjaan adalah amanah dari Tuhan.
Islam telah memberikan fondasi yang lengkap untuk membangun peradaban semacam itu. Tauhid melahirkan kejujuran. Ibadah membentuk kedisiplinan. Zakat menumbuhkan solidaritas sosial. Ilmu melahirkan inovasi. Akhlak menjaga kemanusiaan. Semua berpuncak pada satu tujuan, yaitu: “menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.”
Di tengah dunia yang semakin maju tetapi sekaligus menghadapi krisis moral, umat Islam memiliki tanggung jawab besar untuk menunjukkan bahwa ajaran Islam bukan hanya indah dalam teks, melainkan juga nyata dalam praktik kehidupan.
Marilah kita mengukur diri bukan dari banyaknya penghargaan yang pernah diterima, melainkan dari seberapa banyak orang yang merasakan manfaat karena kehadiran kita. Bukan dari panjangnya daftar jabatan yang pernah diemban, melainkan dari jejak kebaikan yang tetap hidup setelah kita tiada.
Sebab tidak ada satu pun yang dapat bertahan selamanya. Usia akan berhenti, jabatan akan berakhir, harta akan ditinggalkan, dan nama perlahan memudar dari ingatan. Yang tetap hidup adalah ilmu yang diajarkan, amal jariah yang diwariskan, doa dari anak-anak yang saleh, serta manfaat yang terus dirasakan oleh manusia.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa menebarkan kebaikan, menghadirkan keadilan, memakmurkan bumi dengan ilmu dan amal saleh, serta mengakhiri kehidupan dengan husnul khatimah. Semoga kelak kita dipertemukan kembali di surga Firdaus bersama orang-orang yang dicintai-Nya.
Karena sesungguhnya, ukuran terbaik kehidupan bukanlah seberapa lama kita hidup, melainkan seberapa besar manfaat yang kita tinggalkan bagi sesama sebagai wujud nyata Islam yang rahmatan lil ’alamin.