Detail Update

Detail Update

Bukan Jusuf Kalla, Ketua Relawan sebut 3 sosok ini lebih berperan mengantar Jokowi sebagai presiden

Card image cap

Ringkasan Berita:
  • Ketua Umum Relawan “Kami Jokowi-Gibran”, Razman Arif Nasution yang tidak terima dengan klaim Jusuf Kalla. 
  • Razman menyebut tiga sosok lain yang lebih berperan dalam mengantarkan Jokowi sebagai presiden. 
  • Tiga sosok itu adalah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, dan Hashim Djojohadikusumo, adik Prabowo Subianto.

 

SURYA.CO.ID - Polemik klaim Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla yang menyebut Jokowi bisa menjadi Presiden ke-7 berkat jasanya, terus bergulir. 

Kini giliran Ketua Umum Relawan “Kami Jokowi-Gibran”, Razman Arif Nasution yang tidak terima dengan klaim Jusuf Kalla. 

Razman bahkan menyebut tiga sosok lain lebih berperan dalam mengantarkan Jokowi sebagai presiden. 

Tiga sosok itu adalah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, dan Hashim Djojohadikusumo, adik Prabowo Subianto.

“Yang benar itu ada peran Pak Hashim dan Pak Prabowo. Ada peran Bu Mega itu benar,” ungkap Razman saat ditemui usai bertemu Jokowi di kediamannya, Jumat (24/4/2026).

Menurutnya, narasi bahwa Jusuf Kalla memiliki peran dominan dalam mengantarkan Jokowi menjadi presiden tidak sepenuhnya tepat.

Ia menyebut komunikasi antara JK dan Jokowi hanya terjadi sekali.

“Pak JK hanya sekali menghubungi Pak Jokowi. Beliau menelpon, mengatakan minat nggak jadi Gubernur DKI. Jadi nggak benar beliau yang menjadikan,” tutur Razman.

Razman menjelaskan, pada masa pencalonan Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta, terdapat komunikasi politik yang melibatkan Prabowo Subianto melalui adiknya, Hashim Djojohadikusumo.

“Pak Prabowo berkomunikasi dengan Pak Hasim. Pak Hashim komunikasi dengan Pak Jokowi. Sehingga ada pertemuan satu dua kali di salah satu tempat di Jakarta untuk menggodok calon gubernur,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa penentuan Jusuf Kalla sebagai calon wakil presiden bukanlah keputusan langsung Jokowi, melainkan wewenang partai pengusung.

“Komunikasi dengan Pak JK iya tapi sekali. Kalau ada bahasa menjadikan presiden atau menjadikan gubernur nggak benar. Apalagi untuk menentukan cawapres, Pak Jokowi tidak ikut-ikut,” tambahnya.

Lebih lanjut, Razman menegaskan bahwa terlepas dari berbagai dinamika politik sebelum pencalonan, Jokowi akhirnya terpilih menjadi presiden karena pilihan rakyat melalui proses demokrasi yang sah.

“Beliau paham bahwa dia hanya diajukan. Dia tidak punya kepentingan untuk memilih calon melakukan sesuatu untuk bangsa yang negatif tidak. Yang pasti Pak Jokowi dipilih rakyat karena dianggap mumpuni menjadi presiden dan dua periode menjadi presiden,” jelas Razman.

Pernyataan Jusuf Kalla Jadi Polemik 

Sebelumnya, JK mengeklaim bahwa tanpa dorongannya kepada Megawati, Jokowi mungkin tidak akan pernah menjadi Gubernur DKI Jakarta ataupun Presiden.

JK mengklaim dia lah yang membawa Jokowi dari Solo ke Jakarta. 

"Siapa yang bawa Jokowi ke Jakarta? Saya yang bawa ke Jakarta dari Solo untuk jadi Gubernur. Saya bawa. Saya ke Ibu Mega, 'Ibu ini ada calon baik orang PDIP'. (Megawati menjawab) 'Ah jangan'. Saya datang lagi, akhirnya beliau setuju jadilah Gubernur," ungkap JK di Kebayoran Baru, Sabtu (18/4/2026).

JK bahkan memberikan pernyataan keras yang ditujukan kepada para relawan atau buzzer yang kerap disebutnya dengan istilah 'termul'.

"Kasih tahu semua itu termul-termul itu, Jokowi jadi Presiden karena saya. Kan tanpa Gubernur mana bisa jadi Presiden?" tegas JK dengan nada lantang.

JK juga membeberkan bahwa pada Pilpres 2014, Megawati sempat bersikeras tidak akan memberikan tiket capres jika JK tidak bersedia mendampingi sebagai cawapres.

"Aduh saya mau pulang kampung waktu itu mau pulang ke Makassar, Ibu Mega bilang jangan, 'Pak Yusuf dampingi. Saya tidak mau teken kalau bukan Pak Yusuf' Ya bukan saya minta, bukan," kenang JK.

Ia menutup klarifikasinya dengan menegaskan alasan Megawati memintanya turun gunung.

"Ibu Mega yang minta sama saya agar dampingi karena beliau tidak berpengalaman. Mengerti? Jadi jangan coba. Minta maaf ya, kasih tahu semua itu buzzer-buzzer itu. Dia tidak jadi Gubernur kalau bukan saya," pungkasnya.

Tanggapan Jokowi dan Gibran

PUJI - Wapres Gibran Rakabuming menannggapi pernyataan Jusuf Kalla yang menyebut Jokowi jadi presiden karena jasanya. (Kolase Kompas.com dan Tribunnews/dzaky)

PUJI - Wapres Gibran Rakabuming menannggapi pernyataan Jusuf Kalla yang menyebut Jokowi jadi presiden karena jasanya. (Kolase Kompas.com dan Tribunnews/dzaky)

Tanpa mau berpolemik atas klaim JK, Jokowi memilih merendah. 

 Ia mengaku bukan sosok istimewa dan berasal dari latar belakang sederhana.

“Ya saya ini bukan siapa-siapa. Saya orang kampung,” ungkap Jokowi saat ditemui di kediamannya di Sumber, Banjarsari, Solo, Senin (20/4/2026).

Ditemui terpisah, Wakil Presiden Gibran Rakabuming yang juga putra sulung Jokowi melontarkan pujiannya ke Wapres ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla saat diminta konfirmasi soal ini.

Gibran malah menyebut Jusuf Kalla sebagai senior, mentor, dan idolanya.

"Ya baik terima kasih untuk pertanyaannya. Pak JK itu senior saya. Pak JK itu mentor juga," kata Gibran di sela-sela kunjungan kerjanya di Papua Barat Daya, Rabu (22/4/2026).

Gibran menyebutkan, JK sangat berpengalaman dalam menyelesaikan konflik di daerah.

"Beliau sudah sangat berpengalaman. Beliau banyak kiprah dan kontribusinya untuk negeri ini, terutama di daerah-daerah konflik," tutur dia.

Selain itu, Gibran menganggap JK sebagai idolanya dan sosok yang dapat diteladani.

Mantan wali kota Solo ini juga sangat mengapresiasi setiap masukan dan saran dari JK.

"Jadi beliau itu adalah teladan untuk kita semua dan ya saya sangat berterima kasih sekali untuk masukan-masukan dan juga evaluasi dari Pak JK. Pak JK itu idola saya," ucap Gibran.

Sebagian artikel ini telah tayang di TribunSolo.com dengan judul Di Solo, Razman Arif Balas Klaim JK Jadikan Jokowi Presiden : Prabowo dan Megawati Lebih Berjasa

Repost from: SUMBER

TAGS