Detail Update

Detail Update

"No Viral No Justice + People Power = Dua Kalimat yang Membongkar Singgasana"

Card image cap

Oleh: Djoko Iriandono*)

Pernah nggak sih kamu merasa kesal melihat suatu ketidakadilan? Rasanya pengen teriak, pengen ngelakuin sesuatu, tapi seringkali kita merasa kecil dan nggak berdaya. Apalagi kalau masalahnya udah nyangkut sama kepentingan orang-orang besar. Rasanya kayak semut mau melawan gajah. Tapi tahukah kamu, ternyata ada dua kalimat sederhana yang terbukti berkali-kali mampu mengubah peta politik dan membongkar bangunan kekuasaan yang kokoh? Dua kalimat itu adalah: "No Viral No Justice" dan "People Power".

Kedengarannya klise? Atau malah kayak jargon demonstrasi? Coba deh kita bedah pelan-pelan. Karena di balik kesederhanaannya, dua kalimat ini menyimpan energi luar biasa yang sering diremehkan oleh para penguasa.

"No Viral No Justice" – Saat Rekaman HP Lebih Berbunyi daripada Teriakan

Dulu, kalau ada orang kecil yang diperlakukan semena-mena oleh aparat atau orang berkuasa, nasibnya seringkali hanya berakhir di meja hijau yang mencekik leher. Atau bahkan cuma jadi gunjingan di warung kopi lalu lenyap ditelan zaman. Tapi sekarang? Semuanya berubah sejak muncul kalimat No Viral No Justice.

Artinya sederhana: Kalau nggak viral, nggak ada keadilan. Pahit memang, tapi itulah realita yang kita hidup di dalamnya.

Coba kamu ingat kasus-kasus besar belakangan ini. Mulai dari oknum polisi yang main hakim sendiri, guru yang digurui oleh orang tua murid yang arogan, sampai skandal korupsi yang diam-diam ditutup-tutupi. Kenapa baru bergerak setelah videonya tersebar di TikTok, Twitter, atau Instagram? Karena viral menciptakan pressure yang nggak bisa dibohongi. Publik jadi saksi mata. Opini publik berubah jadi gelombang yang nggak bisa dihentikan oleh siapa pun, bahkan oleh kekuasaan sekalipun.

Viral itu seperti kaca pembesar. Setiap detail kasus dilihat, dibahas, dan dituntut. Pejabat yang tadinya santai-santai aja tiba-tiba berkeringat dingin karena ponselnya nggak berhenti bunyi dari wartawan dan atasan mereka. Dalam hitungan jam, harus sudah ada tanggapan. Dalam hitungan hari, harus ada hasil. Kalau nggak, tagar baru akan lahir, dan nama institusinya bakal jadi bulan-bulanan.

Tapi jangan salah paham. "No Viral No Justice" sebenarnya adalah bentuk kegagalan sistem. Itu adalah alarm yang nyaring Supaya kita sadar bahwa saluran resmi seperti laporan polisi, pengaduan ke Ombudsman, atau jalur birokrasi seringkali terlalu lambat atau bahkan macet total. Masyarakat nggak punya pilihan lain selain menjadikan media sosial sebagai pengadilan darurat.

Dan di situlah letak kekuatannya, sekaligus kelemahannya. Kekuatannya karena suara rakyat kecil jadi didengar. Kelemahannya karena kadang viral juga bisa dimanipulasi. Tapi satu hal yang pasti: tanpa viral, perhatian publik tak akan pernah tertuju. Dan tanpa perhatian publik, keadilan hanya akan jadi pemanis lidah para pejabat.

"People Power" – Ketika Massa Lebih Kuat dari Meriam

Kalau "No Viral No Justice" adalah pemicunya, maka "People Power" adalah ledakannya.

Kita mungkin udah sering dengar istilah ini, terutama dari buku sejarah tentang jatuhnya rezim otoriter di Filipina tahun 1986, atau peristiwa reformasi 1998 di Indonesia. Tapi jangan bayangkan "People Power" itu selalu dalam bentuk demo besar-besaran dengan ban terbakar dan bentrokan dengan aparat. Tidak. People power adalah momentum ketika kesadaran kolektif berubah menjadi gerakan fisik. Saat masyarakat yang tadinya diam, tiba-tiba turun ke jalan. Bukan karena hasutan, tapi karena perut mereka keroncongan, atau karena rasa takut yang bertahun-tahun dipendam akhirnya berubah menjadi keberanian.

Ingat tahun 1998? Harga kebutuhan pokok melambung tinggi, mahasiswa jadi ujung tombak, dan akhirnya rakyat dari berbagai lapisan ikut bergerak. Itu bukan iseng. Itu adalah puncak dari kemarahan yang nggak tertampung lagi. Istana yang tadinya kokoh, retak. Presiden yang merasa tak tersentuh, akhirnya lengser. Itulah people power dalam bentuknya yang paling nyata.

Tapi people power juga bisa terjadi dalam skala yang lebih kecil. Misalnya ketika warga sekitar bergerak bersama menolak pabrik yang meracuni sungai mereka. Atau saat para buruh bersatu menuntut upah layak. Atau ketika para korban kekerasan seksual berani bicara bersama-sama meskipun ancaman pembunuhan karakter menghadang mereka. Karena inti dari people power bukanlah jumlah fisik semata, tapi solidaritas.

Orang-orang berkuasa selalu berhitung untung-rugi. Mereka punya aparat, punya uang, punya media. Tapi satu hal yang nggak bisa mereka beli adalah massa yang bergerak dengan hati. Karena ketika sudah menyangkut harga diri dan kelangsungan hidup, manusia akan jadi luar biasa gigih. Mereka rela panas-panasan di jalan, rela berdesakan, bahkan rela kehilangan pekerjaan atau nyawa. Itu adalah kekuatan yang nggak bisa dilawan dengan meriam sekalipun.

Ketika Dua Kalimat Ini Bekerja Sama

Nah, yang menarik adalah ketika "No Viral No Justice" dan "People Power" digabungkan. Maka jadilah sebuah senjata sipil yang nggak bisa diremehkan.

Viral berfungsi sebagai pemicu. Sebuah video amatir di ponsel menunjukkan seorang ibu tua didorong oleh petugas saat mengadu. Dalam semalam video itu ditonton 10 juta kali. Kemarahan menyebar. Tagar muncul. Dan dari situ, orang-orang mulai gerah. Mereka nggak cuma komen "setuju banget" lalu lanjut scrolling. Mereka mulai ngobrol di grup kompleks, di kantor, di warung kopi. Lalu muncullah ajakan: "Besok ayo kita ke kantor bupati, tuntut pertanggungjawaban!"

Itulah transisi dari jagat maya ke dunia nyata. Dari clout menjadi crowd. Dari like menjadi rally.

Tentu saja, rezim yang cerdik akan berusaha memecah belah. Operasi kedok hitam, provokator bayaran, sampai narasi "ini semua rekayasa" akan mereka tebar. Tapi ketika solidaritas sudah terbentuk dan viral terus berulang dari berbagai akun, kepercayaan publik akan mengalir ke pihak yang paling transparan.

Kita sudah melihat contohnya di berbagai belahan dunia. Di Korea Selatan, protes besar terhadap Presiden Park Geun-hye berawal dari isu kecil yang viral dan terus digulirkan sampai puluhan ribu orang turun ke jalan setiap Sabtu. Akhirnya, seorang presiden yang terpilih secara demokratis pun harus dipakisa lengser. Itu luar biasa. Itu mahakarya people power yang direkam dan disebarkan dengan media sosial.

Refleksi: Jangan Remehkan Dua Kalimat Ini

Mungkin kamu bertanya-tanya, "Kalau begitu, apa bedanya kita dengan kerumunan yang anarkis?" Bedanya, people power yang sehat selalu berpegang pada satu prinsip: kebenaran dan keadilan sebagai tujuannya, bukan anarki. Dan viral justice yang bertanggung jawab tidak menggunakan fitnah sebagai amunisi.

Di era digital ini, jari kita punya kekuatan yang sama kuatnya dengan kaki kita. Ketika kita membagikan sebuah informasi, kita sedang mendesain peta politik. Ketika kita memilih untuk tidak diam, kita sedang menulis ulang sejarah. Apalagi saat kita benar-benar turun ke jalan bergandengan tangan dengan sesama yang memiliki keresahan sama, itu adalah momen langka di mana demokrasi benar-benar bekerja.

Jadi, kepada kamu yang selama ini merasa nggak punya kuasa terhadap keadaan: jangan meremehkan dua kalimat sakti ini. Kamu nggak perlu jadi presiden, nggak perlu punya uang miliaran, nggak perlu punya pasukan. Cukup dengan ponsel yang merekam kebenaran, dan keberanian untuk bersuara bersama, kamu sudah bisa mengubah peta politik.

Sebab pada akhirnya, kekuasaan hanya akan hormat pada satu hal: rakyat yang tidak lagi takut. Dan hari ini, ketakutan itu mulai luntur, satu viral dalam satu waktu. Satu langkah kaki dalam satu demonstrasi.

No Viral No Justice dan People Power. Dua kalimat pendek, tapi dampaknya sepanjang masa.

*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim