Detail Update

Detail Update

Diam yang Menyelamatkan: Menjaga Lisan di Tengah Banjir Informasi

Card image cap

Oleh: Djoko Iriandono*)

Ada sebuah pepatah lama yang terus relevan lintas zaman: “Diam itu emas.” Pepatah ini sederhana, tetapi mengandung kebijaksanaan yang dalam. Ia bukan sekadar anjuran untuk tidak berbicara, melainkan ajakan untuk mengendalikan diri, menimbang kata, dan menahan reaksi. Terlebih di zaman sekarang—zaman ketika informasi mengalir tanpa batas, tanpa jeda, dan tanpa filter yang memadai.

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa banyak kemudahan. Informasi dapat diakses dalam hitungan detik, komunikasi lintas benua terjadi seketika, dan suara siapa pun dapat menggema ke ruang publik. Namun, di balik kemudahan itu, tersembunyi ancaman yang tidak kecil: hoaks, fitnah, ujaran kebencian, dan informasi setengah benar yang tersebar masif melalui media sosial.

Dalam kondisi seperti ini, pepatah “diam itu emas” bukan lagi sekadar pilihan etika pribadi, melainkan sikap moral dan spiritual yang sangat dibutuhkan.

Banjir Informasi dan Krisis Kebijaksanaan

Masalah utama zaman ini bukanlah kurangnya informasi, melainkan kelebihan informasi tanpa kebijaksanaan. Setiap hari kita disuguhi berita sensasional, potongan video tanpa konteks, dan opini yang dibungkus seolah-olah fakta. Banyak orang tergoda untuk segera berkomentar, membagikan, atau menghakimi—tanpa sempat bertanya: Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini akan membawa kebaikan?

Di sinilah diam sering kali menjadi pilihan paling bijak. Bukan karena kita tidak peduli, tetapi karena kita tidak ingin menjadi bagian dari kerusakan.

Allah SWT telah mengingatkan dengan sangat tegas dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
(QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini seolah berbicara langsung kepada generasi media sosial. Tabayyun—klarifikasi—adalah prinsip utama. Dan sering kali, langkah pertama dari tabayyun adalah diam, bukan langsung bereaksi.

Lisan yang Tak Dijaga, Dosa yang Tak Disadari

Dalam Islam, lisan bukan perkara ringan. Ia bisa menjadi jalan menuju surga, tetapi juga bisa menjerumuskan ke neraka. Rasulullah ﷺ mengingatkan:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini sangat jelas dan tegas. Tidak ada opsi ketiga. Jika tidak mampu berkata baik, maka diam adalah pilihan iman.

Di era digital, makna “lisan” tidak lagi terbatas pada ucapan verbal. Jari-jari kita adalah lisan baru. Status, komentar, unggahan, dan pesan berantai—semuanya akan dimintai pertanggungjawaban. Sayangnya, banyak orang merasa aman karena bersembunyi di balik layar, lupa bahwa Allah Maha Melihat.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang ia anggap sepele, tetapi karenanya ia terjerumus ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa banyak dosa hari ini lahir bukan dari perbuatan besar, tetapi dari komentar spontan, unggahan emosional, dan share tanpa pikir panjang.

Diam Bukan Lemah, Tapi Dewasa

Sebagian orang menganggap diam sebagai sikap pasif, bahkan pengecut. Padahal, dalam banyak situasi, diam justru menunjukkan kedewasaan jiwa dan kedalaman iman. Tidak semua hal harus ditanggapi. Tidak semua provokasi harus dilayani. Tidak semua kesalahan harus diumbar ke ruang publik.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Jika akal seseorang sempurna, maka ucapannya sedikit.”

Orang yang matang secara intelektual dan spiritual tahu bahwa tidak setiap kebenaran harus disuarakan, apalagi jika penyampaiannya justru melahirkan kerusakan yang lebih besar.

Allah SWT juga mengingatkan:

“Tiada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).”
(QS. Qaf: 18)

Ayat ini seharusnya membuat kita gemetar sebelum menekan tombol “kirim” atau “bagikan”.

Diam sebagai Bentuk Ibadah Sosial

Diam yang dimaksud bukanlah apatis, bukan pula pembiaran terhadap kezaliman. Diam yang bernilai emas adalah diam yang disertai niat menjaga diri dan orang lain dari keburukan. Dalam konteks hoaks, diam berarti tidak ikut menyebarkan kebohongan. Dalam konteks konflik, diam berarti tidak memperkeruh suasana. Dalam konteks perbedaan pendapat, diam berarti menghormati tanpa harus menjatuhkan.

Ini adalah bentuk ibadah sosial—ibadah yang dampaknya bukan hanya pada diri sendiri, tetapi juga pada ketenteraman masyarakat.

Imam Al-Ghazali bahkan menempatkan menjaga lisan sebagai salah satu fondasi utama penyucian jiwa. Karena banyak kerusakan sosial berawal dari kata-kata yang lepas kendali.

Belajar Menahan Diri di Zaman Serba Reaktif

Kita hidup di zaman serba reaktif. Sedikit tersinggung langsung menulis. Sedikit marah langsung membalas. Sedikit berbeda langsung menyerang. Padahal, Islam mengajarkan tahan diri (hilm) sebagai akhlak mulia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Menahan diri sering kali dimulai dari diam. Diam memberi ruang bagi akal untuk memimpin, bukan emosi. Diam memberi waktu bagi hati untuk jernih sebelum bertindak.

Penutup: Diam yang Bernilai Emas di Mata Allah

Pada akhirnya, “diam itu emas” bukan sekadar pepatah budaya, tetapi nilai universal yang sejalan dengan ajaran Islam. Di tengah dunia yang bising oleh opini, gaduh oleh emosi, dan riuh oleh hoaks, diam menjadi benteng terakhir kewarasan.

Diam bukan berarti kalah. Diam bukan berarti bodoh. Diam adalah pilihan sadar untuk menjaga iman, akhlak, dan kemanusiaan.

Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menimbang kata, menahan jari, dan menjaga lisan—karena kita sadar, setiap kata bukan hanya didengar manusia, tetapi juga dicatat oleh langit.

*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim