Oleh: Djoko Iriandono*)
Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali tanpa sadar kita terjebak dalam jerat prasangka. Sebuah bisikan kecil di dalam hati, sebuah pandangan sekilas, atau informasi sepotong bisa dengan cepat memicu asumsi negatif terhadap orang lain. "Ah, dia pasti tidak suka lagi padaku karena tadi ketika lewat di depanku dia tidak menyapa." "Pasti dia sengaja datang terlambat, malas sekali!" "Aku tau dialah orangnya yang menyebarkan gosip itu, pasti dia tidak salah lagi." “Sombong sekali!, mentang-mentang baru saja membeli sepeda motor sudah tidak mau menoleh ketika disapa”. Dan masih banyak lagi kalimat yang dapat menggambarkan prasangka buruk yang tersimpan dalam alam bawah sadar kita.
Prasangka buruk (su'udzan) bagai kabut tebal yang menyelubungi akal sehat dan menutup mata hati. Ia meracuni hubungan, merusak persaudaraan, dan menjauhkan kita dari rahmat Allah. Inilah mengapa Islam dengan tegas dan indah mengajarkan kita untuk senantiasa berusaha berprasangka baik (husnudzan) kepada sesama.
Landasan Agung: Larangan Berprasangka Buruk
Allah Subhanahu wa Ta'ala secara eksplisit melarang hamba-Nya untuk berprasangka buruk dalam firman-Nya yang agung:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ ١٢
"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat ayat 12)
Ayat ini begitu jelas dan tegas. Allah memerintahkan kita untuk menjauhi (ijtanibu) banyak dari prasangka. Kata "banyak" (katsiran) menunjukkan betapa umumnya penyakit hati ini dan betapa kita harus benar-benar waspada. Su'udzan (prasangka buruk) tidak hanya disamakan dengan dosa, tetapi juga dikaitkan langsung dengan dua penyakit sosial berbahaya lainnya: tajassus (mencari-cari kesalahan orang) dan ghibah (menggunjing). Ketiganya seringkali berjalan beriringan, saling menguatkan, dan merusak tatanan masyarakat.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam juga bersabda tentang bahaya prasangka:
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ
"Hati-hatilah kalian terhadap prasangka (buruk), karena prasangka itu adalah sedusta-dusta perkataan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Prasangka buruk disebut sebagai "perkataan paling dusta" karena ia lahir dari ketidaktahuan, asumsi tanpa bukti, dan seringkali hanya berdasarkan perasaan atau bisikan setan. Ia adalah "cerita fiksi" yang kita karang sendiri dalam pikiran tentang orang lain, lalu kita percayai dan sebarkan seolah-olah itu kebenaran.
Dampak Dahsyat Prasangka Buruk
Mengapa Islam sangat menekankan untuk menjauhi su'udzan? Karena dampaknya yang sangat merusak, baik secara individu maupun sosial:
إِنَّ اللَّهَ قَالَ: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي
"Sesungguhnya Allah berfirman: 'Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku'." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Prasangka kita kepada Allah akan menentukan bagaimana kita merasakan rahmat-Nya. Demikian pula, prasangka buruk kita kepada sesama manusia bisa menjadi penghalang turunnya rahmat Allah dalam kehidupan kita secara umum. Hati yang dipenuhi kebencian dan kecurigaan sulit merasakan ketenteraman dan kasih sayang Ilahi.
Mengapa Kita Mudah Berprasangka Buruk?
Memahami akar masalah membantu kita memeranginya. Beberapa penyebab umum munculnya prasangka buruk dalam pikiran kita:
Membiasakan Diri dengan Husnudzan (Berprasangka Baik)
Husnudzan bukan berarti naif atau menutup mata terhadap kejahatan yang nyata. Ia adalah sikap hati untuk selalu memberi ruang bagi kemungkinan baik, mencari penjelasan yang positif terlebih dahulu, dan tidak terburu-buru menghakimi. Bagaimana melatihnya?
اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ ٦
"Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 6)
Prinsip ini bisa kita terapkan dalam memandang orang lain: bersama "kesulitan" memahami tindakannya, selalu ada "kemudahan" penjelasan yang baik jika kita mau mencarinya.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ ٦
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat: 6)
Prinsip tabayyun (mencari kejelasan) ini sangat penting untuk menghindari prasangka dan tindakan gegabah.
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan pendengaranku, kejahatan penglihatanku, kejahatan lisanku, kejahatan hatiku, dan kejahatan maniku (syahwat)." (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, hasan)
Hati yang sering diisi dzikir akan lebih tenang dan terjaga dari bisikan negatif.
"Beruntunglah orang yang sibuk dengan aibnya sendiri sehingga lalai memikirkan aib orang lain." (HR. Al-Baihaqi, dinilai hasan oleh Al-Albani)
Sibukkan diri dengan memperbaiki kekurangan sendiri. Ketika kita sadar betapa banyaknya kesalahan dan kelemahan kita, akan lebih mudah untuk memaklumi dan memberi ruang pada kesalahan orang lain.
Cahaya Husnudzan
Allah menggambarkan hati orang beriman dengan cahaya:
اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ مَثَلُ نُوْرِهٖ كَمِشْكٰوةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌۗ اَلْمِصْبَاحُ فِيْ زُجَاجَةٍۗ اَلزُّجَاجَةُ كَاَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُّوْقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰرَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَّلَا غَرْبِيَّةٍۙ يَّكَادُ زَيْتُهَا يُضِيْۤءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌۗ نُوْرٌ عَلٰى نُوْرٍۗ يَهْدِى اللّٰهُ لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌۙ ٣٥
"Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca, kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. An-Nur: 35)
Husnudzan adalah salah satu wujud cahaya itu dalam hati. Ia menerangi pandangan kita terhadap sesama, menghangatkan hubungan, dan menyingkirkan kabut kecurigaan. Ia menciptakan ketenteraman dalam jiwa dan kedamaian dalam bermasyarakat.
Penutup: Menjaga Kemuliaan Hati
Saudaraku, memelihara prasangka baik adalah bentuk pemeliharaan terhadap kemuliaan hati kita sendiri. Ia adalah investasi untuk ketenangan jiwa dan keharmonisan hidup. Setiap kali kita menahan diri dari berprasangka buruk, setiap kali kita memilih untuk mencari alasan baik, setiap kali kita diam sebelum menyebarkan kecurigaan, kita sedang membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah.
Mari kita berdoa sebagaimana diajarkan Rasulullah:
"Ya Allah, sucikan hatiku dari kemunafikan, amalku dari riya’, lisanku dari dusta, dan mataku dari khianat. Sesungguhnya Engkau mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan dalam dada." (HR. Ath-Thabarani)
Jangan biarkan prasangka buruk merampas kedamaian hati dan merusak silaturahmi. Berikanlah kesempatan bagi kebaikan, karena husnudzan adalah cermin dari kebaikan itu sendiri yang bersemayam dalam hati kita. Jadikanlah ia kebiasaan, niscaya hidup akan terasa lebih ringan, hubungan lebih bermakna, dan hati lebih dekat kepada Sang Maha Pemberi Cahaya. Mari bebaskan hati dan pikiran kita dari su’udzan. Wallahu a'lam bish-shawab.
*) Kasi Kominfo BPIC