Detail Update

Detail Update

Kantin Sekolah dan Mutu Pendidikan: Sebuah Refleksi dari Negeri Ratu Elizabeth

Card image cap

Oleh: Djoko Iriandono*)

Pada tahun 2001 hingga 2003, saya mendapat beasiswa dari Asian Development Bank (ADB) untuk melanjutkan studi S-2 di Huddersfield University, Huddersfield, Inggris. Saya mengambil jurusan Human Resource Development in Education pada Fakultas Pendidikan.
Selama menempuh pendidikan di sana, seperti halnya kebanyakan mahasiswa asing lainnya di Inggris, saya memanfaatkan waktu luang untuk bekerja sambilan—atau istilah kami saat itu, “berburu pound sterling.”

Peluang bagi mahasiswa asing untuk bekerja di Inggris ketika itu memang cukup banyak. Beberapa teman saya bekerja di supermarket sebagai kasir, sales, atau bagian gudang. Ada pula yang menjadi pencuci piring di restoran atau di stadion sepak bola. Sementara yang lain memilih menjadi cleaning service di kantor, sekolah, atau kampus.

Saya sendiri memilih untuk bekerja di beberapa sekolah tingkat SMP dan SMA sebagai tenaga kebersihan. Pilihan ini terasa paling cocok karena sebelum melanjutkan studi S-2, saya memang telah berprofesi sebagai guru SMP di Indonesia. Dengan begitu, saya bisa tetap dekat dengan dunia pendidikan, meskipun posisi saya saat itu bukan sebagai pengajar, melainkan sebagai petugas kebersihan. Namun justru dari sanalah saya banyak belajar tentang etos kerja, kedisiplinan, dan penghargaan terhadap setiap profesi.

Belajar dari Kantin Sekolah di Inggris

Salah satu hal yang paling berkesan bagi saya selama bekerja di sekolah-sekolah di Inggris adalah bagaimana mereka menyiapkan dan mengelola kantin sekolah. Dari semua sekolah tempat saya bekerja, saya selalu menemukan adanya ruang makan yang luas, tertata rapi, dan sangat bersih. Setiap waktu istirahat tiba, baik guru maupun siswa memenuhi ruang makan tersebut dengan tertib. Tidak ada yang makan di kelas atau di taman sembarangan. Semua diarahkan ke satu tempat yang telah disiapkan secara khusus — kantin sekolah.

Jam belajar di Inggris umumnya dimulai pukul 09.00 pagi dan berakhir sekitar pukul 16.00 sore. Sistem full day school ini menuntut setiap sekolah untuk menyediakan kantin yang representatif, baik dari sisi luas ruangan, kenyamanan, kebersihan, maupun kualitas makanannya. Makanan yang dijual tidak hanya enak, tetapi juga memenuhi standar gizi yang ditetapkan pemerintah. Setiap sekolah memiliki petugas khusus yang memastikan bahwa makanan yang dijual aman dan bergizi.

Suatu ketika, saya sempat berbincang dengan salah seorang guru di salah satu sekolah tempat saya bekerja. Ia berkata bahwa kantin sekolah di Inggris bukan sekadar tempat makan. “Kantin,” katanya, “adalah ruang pembelajaran sosial.”
Di sanalah anak-anak belajar adab makan bersama, disiplin waktu, kebersihan, sikap saling menghargai, dan yang paling penting, kebiasaan antre. Mereka juga belajar untuk berbagi, menjaga lingkungan, dan menumbuhkan empati. Guru-guru sering makan bersama siswa, dan dari situ tumbuh hubungan yang lebih hangat dan setara antara guru dan murid.

Kantin, Energi, dan Kualitas Belajar

Pengalaman itu membuat saya berpikir dalam-dalam. Bagaimana mungkin seorang anak dapat belajar dengan baik jika perutnya kosong? Bagaimana mungkin seorang guru bisa mengajar dengan semangat bila ia sendiri tidak sempat makan dengan layak di sekolahnya?
Kita sering berbicara tentang kurikulum, asesmen, atau pelatihan guru, namun kita lupa bahwa proses belajar yang baik memerlukan tubuh yang sehat dan bertenaga.

Sayangnya, di Indonesia, perhatian terhadap aspek ini masih sangat minim. Banyak sekolah hanya menekankan pembangunan ruang kelas, sementara ruang-ruang pendukung seperti kantin, laboratorium, perpustakaan, ruang guru, dan UKS kerap terabaikan.
Ironisnya, ada sekolah baru yang megah dari luar, tetapi ruang gurunya sempit, UKS-nya hanya nama, dan kantinnya bahkan tidak tersedia. Akibatnya, siswa harus membeli makanan di luar pagar sekolah, di warung-warung seadanya yang belum tentu terjamin kebersihannya.

Padahal, dari perspektif pengembangan sumber daya manusia, hal seperti ini sangat strategis. Sekolah bukan hanya tempat mengajar dan belajar secara akademik, tetapi juga tempat pembentukan karakter, pembiasaan hidup sehat, dan pembelajaran sosial. Dan salah satu ruang yang paling efektif untuk menanamkan nilai-nilai itu adalah kantin sekolah.

Program Makan Bergizi Gratis: Sebuah Peluang

Kini, pemerintah Indonesia melalui kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah mencanangkan Program Makan Bergizi Gratis bagi pelajar di seluruh Indonesia. Ini adalah langkah luar biasa yang patut diapresiasi. Namun, jika kita tidak menyiapkan sarana pendukung yang memadai — seperti dapur sekolah dan kantin yang higienis — maka program mulia ini berisiko tidak berjalan efektif.

Kita tidak dapat berharap kualitas gizi anak-anak meningkat jika makanan disajikan di tempat yang kotor, atau jika tidak ada ruang makan yang layak. Maka, pembangunan kantin sekolah yang sehat, bersih, dan edukatif harus menjadi bagian tak terpisahkan dari program nasional ini.

Kantin bukan sekadar tempat makan, tetapi juga ruang pendidikan karakter dan kebiasaan hidup sehat. Melalui kantin, anak-anak dapat belajar disiplin, sopan santun, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial. Program Makan Bergizi Gratis akan jauh lebih bermakna bila disinergikan dengan pengelolaan kantin sekolah yang baik — dengan melibatkan guru, orang tua, bahkan masyarakat sekitar.

Ajakan untuk Para Pengambil Kebijakan

Karena itu, saya ingin mengajak para pengambil kebijakan, arsitek pendidikan, kepala sekolah, dan para pemerhati dunia pendidikan, agar mulai melihat kantin sekolah sebagai bagian integral dari mutu pendidikan. Jangan lagi kita memandangnya sebagai pelengkap, apalagi sekadar ruang dagang kecil di pojok sekolah.
Dalam setiap perencanaan pembangunan sekolah, seharusnya kantin menjadi salah satu prioritas utama — sejajar dengan ruang kelas, laboratorium, atau perpustakaan.

Mari kita belajar dari negara-negara maju yang menempatkan kesejahteraan fisik dan mental siswa sebagai fondasi pendidikan. Mari kita ciptakan sekolah-sekolah di Indonesia yang tidak hanya indah bangunannya, tetapi juga sehat dan ramah bagi seluruh penghuninya.

Kita ingin melihat para siswa belajar dengan penuh semangat karena tubuh mereka kuat dan pikiran mereka jernih. Kita ingin para guru mengajar dengan penuh energi karena mereka pun memiliki tempat yang layak untuk beristirahat dan makan dengan tenang.

Dan semua itu dimulai dari satu ruang sederhana — kantin sekolah.

Penutup

Pengalaman saya bekerja sebagai cleaning service di sekolah-sekolah Inggris telah membuka mata bahwa kemajuan pendidikan tidak hanya diukur dari kecanggihan kurikulumnya, tetapi juga dari perhatian terhadap hal-hal kecil yang berdampak besar.
Sebuah sekolah yang baik adalah sekolah yang memanusiakan warganya — guru, siswa, maupun pegawainya.
Dan salah satu bentuk paling nyata dari pemanusiaan itu adalah menyediakan ruang makan yang layak, bersih, dan nyaman.

Maka, ketika kini pemerintah Indonesia sedang gencar melaksanakan Program Makan Bergizi Gratis, mari kita sambut dengan langkah konkret: membangun dan menata kantin sekolah sebagai pusat pembelajaran sosial dan kesehatan anak bangsa.

Sebab pendidikan sejati bukan hanya tentang mengasah otak, tetapi juga menumbuhkan tubuh yang sehat dan hati yang berkarakter.


*) Kepala Bidang Pendidikan Yayasan Baitul Muttaqien Islamic Center Kaltim