Detail Update

Detail Update

Ketika Ibadah Tidak Lagi Bergantung pada Bungkusnya

Card image cap Ilustrasi jamaah sholat dhuhur.

Ketika Ibadah Tidak Lagi Bergantung pada Bungkusnya

Oleh: Djoko Iriandono, S.E., M.A*)

Selepas salat Zuhur, jamaah Masjid Raya Baitul Muttaqien Islamic Center Kalimantan Timur tidak langsung beranjak meninggalkan masjid. Mereka tetap duduk dengan tenang di saf masing-masing, menunggu dan mengikuti taujiah atau kajian Senin siang yang secara rutin dilaksanakan di masjid ini. Suasana selepas salat pun seketika berubah menjadi ruang perenungan, ketika jamaah kembali membuka hati untuk menyimak nasihat dan pesan-pesan keislaman.

Di hadapan jamaah, KH. Muhammad Rasyid, S.Pd.I., Ketua I BPIC sekaligus Imam Besar Masjid Raya Baitul Muttaqien, menyampaikan kajian rutin setiap Senin selepas salat Zuhur. Kajian tersebut menjadi ruang bagi jamaah untuk sejenak melepaskan diri dari kesibukan, membuka kembali hati untuk menerima nasihat, sekaligus merenungkan bagaimana ajaran Islam seharusnya hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Pada kajian Senin siang kali ini, KH. Muhammad Rasyid, S.Pd.I. kembali mengupas Hadis Arbain karya Imam Nawawi. Salah satu pesan penting yang beliau sampaikan adalah tentang kesempurnaan Islam sebagai agama sekaligus pedoman hidup manusia. Islam tidak cukup hanya diwujudkan melalui pelaksanaan ibadah ritual dan simbol-simbol keagamaan, tetapi juga harus tercermin dalam cara kita berpikir, bekerja, berinteraksi dengan sesama, mengambil keputusan, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Berikut adalah rangkuman pokok-pokok kajian yang beliau sampaikan siang tadi.

Islam yang Sempurna, Pedoman yang Menyeluruh

Dalam kajian tersebut disampaikan bahwa ketika Rasulullah SAW melaksanakan ibadah haji yang terakhir, turunlah wahyu yang menegaskan kesempurnaan agama Islam. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ma'idah ayat 3:

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.”

Ayat tersebut menjadi penegasan bahwa Islam telah diberikan Allah sebagai agama yang sempurna. Kesempurnaan itu bukan berarti kehidupan manusia kemudian terbatas hanya pada urusan ritual keagamaan, tetapi justru menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam dapat menjadi pedoman dalam berbagai bidang kehidupan.

Islam mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga memberikan tuntunan tentang hubungan manusia dengan sesama. Cara kita bekerja, memimpin, mendidik, berdagang, bertetangga, membantu orang lain, menjaga amanah, cara menyelesaikan masalah hutang-piutang bahkan cara kita menjaga hati, semuanya dapat memiliki nilai ibadah.

Karena itu, persoalan kehidupan seorang Muslim sebenarnya tidak hanya terletak pada apa yang dilakukan, tetapi juga untuk siapa dan dengan niat apa sesuatu itu dilakukan. Dua orang dapat melakukan pekerjaan yang sama, tetapi nilai amalnya di hadapan Allah bisa berbeda karena niat yang ada di dalam hati mereka.

Semua Kehidupan Bisa Menjadi Ibadah

Allah SWT berfirman:

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ayat tersebut sering kali kita pahami dalam konteks ibadah ritual seperti salat, puasa, zakat, haji, membaca Al-Qur'an dan berbagai bentuk ibadah lainnya. Pemahaman tersebut benar, tetapi makna pengabdian kepada Allah sesungguhnya jauh lebih luas.

Seorang guru yang mengajar dengan niat mendidik generasi dan mencari keridaan Allah sedang melakukan ibadah. Seorang pedagang yang mencari rezeki halal untuk keluarganya juga dapat bernilai ibadah. Begitu pula seorang petugas kebersihan yang membersihkan masjid dengan penuh keikhlasan, atau seorang pemimpin yang bekerja sungguh-sungguh untuk kemaslahatan masyarakat.

Sebuah pekerjaan tidak harus diberi label “kegiatan agama” terlebih dahulu agar menjadi ibadah. Pekerjaan yang terlihat biasa dan sederhana pun dapat memiliki nilai yang tinggi di sisi Allah apabila dilakukan dengan niat yang benar.

Sebaliknya, kegiatan yang secara lahiriah sangat religius belum tentu otomatis bernilai ibadah apabila niatnya tidak diarahkan kepada Allah.

Ketika MTQ Menjadi Cermin Niat

Salah satu contoh yang menarik adalah pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ). Dari sisi bentuk, MTQ merupakan kegiatan yang sangat Islami. Di dalamnya terdapat tilawah Al-Qur'an, hafalan, tafsir, syiar dan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan Al-Qur'an.

Namun, ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan kepada diri sendiri: mengapa saya mengikuti MTQ?

Apakah karena ingin mendekatkan diri kepada Allah, mencintai Al-Qur'an, mengembangkan kemampuan yang telah diberikan Allah dan ikut menyemarakkan syiar Islam? Ataukah tujuan utamanya adalah mendapatkan piala, hadiah, penghargaan dan pengakuan dari orang lain?

Pertanyaan yang sama sesungguhnya juga berlaku bagi para panitia. Menjadi panitia kegiatan keagamaan merupakan kesempatan untuk berbuat baik dan memberikan pelayanan kepada umat. Tetapi jika aktivitas tersebut kemudian dilakukan terutama agar dianggap berjasa, ingin dikenal, ingin mendapatkan posisi tertentu, atau berharap mendapatkan pujian, maka kita perlu berhenti sejenak dan memeriksa kembali hati kita.

Bukan berarti piala, hadiah atau penghargaan itu sesuatu yang salah. Yang perlu diperhatikan adalah apa yang menjadi tujuan utama di dalam hati. Penghargaan boleh datang, tetapi jangan sampai penghargaan itu menjadi alasan utama mengapa kita beramal.

Dari Niat Menuju Riya

Karena itu, persoalan niat sebenarnya bukan perkara kecil dalam kehidupan seorang Muslim. Niat berada di balik setiap amal dan menjadi penentu ke mana arah sebuah perbuatan ditujukan. Dua orang bisa melakukan pekerjaan yang sama, berada dalam kegiatan yang sama, bahkan menghasilkan sesuatu yang sama, tetapi nilai amalnya di hadapan Allah bisa berbeda karena niat yang ada di dalam hati mereka.

Di sinilah kita kemudian berhadapan dengan satu persoalan yang sangat halus: ketika niat yang semula tertuju kepada Allah perlahan bergeser kepada penilaian manusia.

Seseorang mungkin memulai sebuah kegiatan dengan niat yang baik. Namun dalam perjalanan, ia mulai menikmati pujian, berharap diperhatikan, ingin dianggap berjasa, atau merasa kecewa ketika amalnya tidak diketahui orang lain. Pergeseran yang tampak kecil inilah yang perlu kita waspadai, karena dari sinilah riya dapat masuk ke dalam amal.

Riya sering kali tidak datang dengan cara yang terang-terangan. Ia bisa tumbuh perlahan, bahkan di tengah amal yang secara lahiriah terlihat sangat baik dan religius. Karena itu, menjaga niat bukan pekerjaan sekali jadi, melainkan perjuangan yang harus terus dilakukan sepanjang kita beramal.

Jangan Bergantung pada Penilaian Manusia

Kadang kita merasa senang ketika orang mengatakan, “Hebat sekali kegiatannya.” Kita merasa bangga ketika nama kita disebut, kecewa ketika kontribusi kita tidak diketahui, atau kehilangan semangat ketika tidak ada seorang pun yang memberikan penghargaan.

Pada saat seperti itu, kita perlu mengajukan pertanyaan yang sangat sederhana kepada diri sendiri: “Apakah saya masih melakukan ini karena Allah, atau karena penilaian manusia?”

Kita memang hidup di tengah masyarakat. Mendapat apresiasi bukan sesuatu yang salah, dan menerima pujian bukan pula sebuah dosa apabila datang secara wajar. Yang harus dijaga adalah jangan sampai penilaian manusia berubah menjadi tujuan utama dari amal yang seharusnya kita persembahkan kepada Allah.

Jika hidup kita terlalu bergantung pada penilaian manusia, kita akan mudah lelah. Ketika dipuji kita bersemangat, tetapi ketika tidak diperhatikan kita kecewa. Ketika dianggap berhasil kita bahagia, tetapi ketika usaha kita tidak dihargai kita merasa seolah-olah semua yang kita lakukan menjadi sia-sia.

Padahal, ada ketenangan yang jauh lebih dalam ketika seseorang bekerja karena Allah. Ia tidak terlalu gelisah apakah manusia melihat atau tidak, karena ia percaya bahwa Allah selalu melihat. Ia tidak sibuk menghitung berapa banyak pujian yang diterima, karena yang ia harapkan bukan tepuk tangan manusia, melainkan keridaan Allah.

Belajar Berbuat Baik Tanpa Harus Dilihat

Mungkin salah satu latihan terbaik untuk menjaga keikhlasan adalah belajar melakukan kebaikan yang tidak diketahui orang lain. Sesekali lakukan sesuatu yang baik tanpa perlu difoto, tanpa perlu diumumkan, tanpa perlu disebut namanya. Biarkan hanya Allah yang mengetahui.

Di zaman ketika banyak aktivitas mudah dibagikan kepada publik, menjaga keikhlasan menjadi tantangan tersendiri. Tidak semua yang boleh dipublikasikan harus dipublikasikan, dan tidak semua kebaikan harus diketahui manusia. Ada amal yang justru terasa lebih indah ketika hanya antara kita dan Allah.

Bukan berarti setiap publikasi amal otomatis menjadi riya. Ada kalanya kebaikan perlu diketahui agar menginspirasi orang lain, mengajak masyarakat berpartisipasi atau mempertanggungjawabkan sebuah kegiatan. Yang perlu dijaga adalah hati: apakah kita sedang menyampaikan kebaikan untuk kemaslahatan, atau sedang mencari pengakuan atas kebaikan yang kita lakukan?

Jawaban itu tidak selalu mudah. Bahkan kita sendiri mungkin tidak selalu mampu menjawabnya dengan jujur. Karena itulah muhasabah perlu dilakukan berulang-ulang.

Sebelum Beramal, Periksa Hati

Inilah salah satu pelajaran penting dari kajian rutin Senin siang di Masjid Raya Baitul Muttaqien. Kesempurnaan Islam bukan hanya terletak pada banyaknya ritual yang kita kerjakan, tetapi juga pada bagaimana nilai-nilai Islam masuk ke dalam hati dan kemudian tercermin dalam seluruh kehidupan.

Karena itu, mari kita mulai dari hal yang paling sederhana: memeriksa niat sebelum melakukan sesuatu. Sebelum bekerja, bertugas, membantu orang lain, mengikuti kegiatan keagamaan atau melakukan amal apa pun, tanyakan kepada diri sendiri, “Untuk siapa saya melakukan ini?”

Jika jawabannya adalah Allah, lanjutkan dengan penuh keikhlasan. Jika di dalam hati muncul keinginan kuat untuk dipuji, diperhatikan atau mendapatkan pengakuan manusia, jangan langsung menyalahkan diri sendiri, tetapi segera luruskan kembali niat.

Kemudian, belajarlah tetap berbuat baik meskipun tidak ada yang melihat. Jangan biarkan semangat beramal bergantung pada komentar, penghargaan, jumlah orang yang mengetahui atau penilaian manusia. Sebab, sesuatu yang tidak terlihat oleh manusia tidak berarti tidak bernilai di hadapan Allah.

Kita juga perlu belajar menerima ketika kebaikan yang kita lakukan tidak disebut, tidak dipuji, bahkan mungkin tidak diketahui siapa pun. Justru pada saat itulah kita dapat menguji sejauh mana keikhlasan kita. Apakah kita tetap mau melakukan kebaikan ketika tidak ada tepuk tangan?

Bukan Tepuk Tangan Manusia

Pada akhirnya, setiap orang akan menjalani perjalanan hidupnya sendiri-sendiri. Ada yang mendapatkan banyak pujian, ada yang hampir tidak pernah disebut; ada yang amalnya terlihat besar, ada pula yang amalnya sangat sederhana dan tersembunyi. Tetapi ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah seberapa ramai manusia membicarakan kita.

Mari kita jadikan setiap aktivitas kehidupan sebagai kesempatan untuk beribadah. Luruskan niat sebelum memulai, jaga hati ketika menjalankan, dan serahkan penilaiannya kepada Allah.

Sebab amal yang besar di mata manusia belum tentu besar di hadapan Allah. Sebaliknya, amal yang kecil dan tidak pernah diketahui siapa pun bisa jadi sangat berarti di sisi-Nya.

Maka, mulai hari ini, sebelum mengejar pengakuan manusia, marilah kita lebih dahulu mengejar keridaan Allah. Tidak semua kebaikan harus terlihat, tidak semua amal harus disebut, dan tidak semua perjuangan harus mendapatkan tepuk tangan.

Karena pada akhirnya, yang paling penting bukanlah berapa banyak manusia yang melihat amal kita, melainkan apakah Allah menerima amal tersebut.

Wallahu a'lam bish-shawab.

 

*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim

 

TAGS