Benarkah Inggris Akan Berubah Menjadi Negara Islam?
Oleh: Djoko Iriandono*)
Belakangan ini media sosial ramai membicarakan sebuah narasi bahwa Inggris perlahan berubah menjadi “negara Muslim.” Narasi tersebut muncul karena meningkatnya jumlah umat Islam di Inggris, bertambahnya masjid, semakin terlihatnya simbol-simbol Islam di ruang publik, hingga munculnya tokoh-tokoh Muslim dalam pemerintahan dan parlemen.
Bagi sebagian orang, fenomena ini dianggap sebagai bukti bahwa Islam berkembang sangat pesat di Eropa. Namun bagi sebagian lainnya, hal tersebut justru memunculkan kekhawatiran tentang perubahan identitas budaya Inggris yang selama ratusan tahun dikenal sebagai negara dengan akar tradisi Kristen yang kuat.
Lalu, benarkah Inggris sedang berubah menjadi negara Muslim?
Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak.
Fakta memang menunjukkan bahwa populasi Muslim di Inggris mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Data sensus resmi Inggris tahun 2021 menunjukkan bahwa jumlah Muslim di Inggris dan Wales mencapai sekitar 3,9 juta jiwa atau 6,5% dari total penduduk. Angka ini meningkat dibanding tahun 2011 yang berada di angka 4,9%. (Office for National Statistics)
Di saat yang sama, jumlah masyarakat yang mengidentifikasi diri sebagai Kristen justru menurun drastis. Untuk pertama kalinya dalam sejarah sensus Inggris, populasi Kristen turun menjadi di bawah 50 persen. Bahkan kelompok “tidak beragama” meningkat cukup tajam. (Office for National Statistics)
Inilah yang kemudian memunculkan kesan bahwa wajah Inggris sedang berubah.
Namun perubahan itu sebenarnya bukan hanya soal Islam semata. Yang sedang terjadi di Inggris dan banyak negara Eropa adalah perubahan sosial besar-besaran akibat globalisasi, migrasi, krisis identitas, dan menurunnya keterikatan masyarakat terhadap agama tradisional.
Islam memang tumbuh cepat. Tetapi pertumbuhan itu terjadi bersamaan dengan menurunnya pengaruh agama secara umum dalam kehidupan modern Barat.
Banyak analis menyebut pertumbuhan Islam di Inggris dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama adalah tingkat kelahiran keluarga Muslim yang relatif lebih tinggi dibanding rata-rata masyarakat Eropa. Kedua adalah arus migrasi dari negara-negara Asia, Timur Tengah, dan Afrika. Ketiga adalah semakin terbukanya masyarakat Inggris terhadap keberagaman budaya dan agama. (BRIN)
Bahkan sejumlah proyeksi menyebut populasi Muslim Inggris akan terus meningkat hingga tahun 2050. Ada prediksi yang memperkirakan jumlah Muslim dapat mencapai lebih dari 10% populasi Inggris dalam beberapa dekade mendatang, tergantung tingkat migrasi yang terjadi. (Wikipedia)
Namun perlu dipahami, meningkatnya populasi Muslim tidak otomatis menjadikan Inggris sebagai “negara Islam.”
Secara sistem pemerintahan, Inggris tetap merupakan negara demokrasi sekuler dengan tradisi monarki konstitusional yang sangat kuat. Hukum negara tidak didasarkan pada syariat Islam. Sistem pendidikan, ekonomi, politik, dan perundang-undangannya tetap berada dalam kerangka demokrasi Barat modern.
Yang berubah adalah komposisi masyarakatnya.
Hari ini London menjadi salah satu kota paling multikultural di dunia. Kita bisa menemukan gereja, masjid, kuil Hindu, sinagoga Yahudi, dan pusat-pusat budaya dari berbagai bangsa berdiri berdampingan. Di beberapa wilayah tertentu, umat Islam memang menjadi komunitas dominan. Namun itu tidak berarti seluruh Inggris berubah menjadi negara Islam.
Sayangnya, isu ini sering dibungkus secara berlebihan oleh media sosial.
Ada pihak yang menggambarkan pertumbuhan Islam di Inggris sebagai ancaman besar bagi Barat. Di sisi lain, ada juga yang terlalu cepat mengklaim bahwa Inggris akan sepenuhnya menjadi negara Muslim dalam waktu dekat. Kedua pandangan ini sama-sama cenderung menyederhanakan realitas yang sebenarnya jauh lebih kompleks.
Faktanya, masyarakat Muslim di Inggris sendiri sangat beragam. Ada Muslim keturunan Pakistan, Bangladesh, Arab, Turki, Afrika, bahkan mualaf asli Inggris. Mereka juga memiliki cara pandang dan tingkat religiusitas yang berbeda-beda. (Muslim Council of Britain)
Selain itu, kehidupan Muslim di Inggris tidak selalu mudah. Sebagian masih menghadapi tantangan ekonomi, diskriminasi, hingga islamofobia. Banyak komunitas Muslim tinggal di wilayah dengan tingkat kemiskinan yang cukup tinggi. (Pusat Kajian Hadis)
Karena itu, melihat fenomena ini hanya dari sudut “Islam menang” atau “Barat kalah” justru membuat kita kehilangan pemahaman yang objektif.
Yang lebih menarik untuk direnungkan sebenarnya adalah mengapa Islam bisa tumbuh di negara-negara Barat.
Salah satu jawabannya mungkin karena masyarakat modern sedang mengalami krisis makna hidup. Kemajuan teknologi ternyata tidak selalu menghadirkan ketenangan batin. Banyak orang hidup serba cepat, tetapi merasa kesepian. Serba bebas, tetapi kehilangan arah.
Dalam situasi seperti itu, agama kembali dicari sebagai tempat menemukan makna, identitas, dan ketenangan.
Islam hadir bukan hanya sebagai simbol budaya, tetapi juga sebagai jalan hidup yang menawarkan disiplin, spiritualitas, solidaritas sosial, dan nilai keluarga yang kuat. Hal inilah yang membuat banyak orang Barat mulai tertarik mempelajari Islam secara lebih serius.
Namun umat Islam sendiri juga perlu bijak menyikapi perkembangan ini.
Pertumbuhan jumlah bukanlah ukuran utama keberhasilan sebuah agama. Yang jauh lebih penting adalah kualitas akhlak umatnya. Jangan sampai Islam berkembang secara statistik, tetapi gagal menunjukkan wajah rahmat, kedamaian, dan keadilan.
Jika umat Islam ingin dihormati di mana pun, maka yang harus ditampilkan bukan sekadar identitas simbolik, melainkan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai luhur Islam itu sendiri.
Karena sesungguhnya, dunia tidak hanya melihat berapa banyak Muslim bertambah. Dunia juga melihat bagaimana Muslim bersikap.
Dan mungkin di situlah tantangan terbesar umat Islam hari ini. Bukan sekadar menjadi banyak, tetapi menjadi teladan.
*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim