Oleh: Djoko Iriandono*)
Bangunan yang Indah, tapi Tidak Manusiawi
Sekolah seharusnya menjadi tempat yang paling nyaman bagi siapa pun yang ada di dalamnya — bagi siswa yang menuntut ilmu, bagi guru yang mengabdi dengan sepenuh hati, maupun bagi tenaga kependidikan yang setia menjaga keberlangsungan kegiatan belajar. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Di banyak tempat di seluruh penjuru tanah air Indonesia, bangunan sekolah justru menjadi sumber ketidaknyamanan dan kelelahan, bahkan bagi mereka yang setiap hari mengabdikan diri di sana.
Banyak pembangunan sekolah yang tampak megah dari luar, tetapi tidak manusiawi dalam perencanaannya. Dindingnya mungkin tebal dan kokoh, catnya mengilap, ruang kelasnya berderet rapi — tetapi di balik itu tersembunyi desain yang tidak mempertimbangkan gerak manusia yang bekerja dan belajar di dalamnya.
Sungguh ironis, sekolah yang seharusnya mendidik manusia menjadi lebih baik, justru sering kali dibangun tanpa mempertimbangkan kebutuhan manusia itu sendiri.
Artikel kali ini saya persembahkan kepada para pemangku kepentingan yang berhubungan dengan pembangunan gedung sekolah. Agar dalam merancang pembangunan gedung sekolah untuk masa yang akan datang jauh lebih manusiawi.
Ketika Studi Gerak Diabaikan
Salah satu kelemahan paling mendasar dalam pembangunan sekolah di Indonesia adalah kurangnya perhatian terhadap analisis studi gerak (movement analysis). Analisis ini sebenarnya sangat penting untuk merancang tata letak bangunan yang efisien, nyaman, dan aman bagi para penggunanya. Sayangnya, hal tersebut hampir tidak pernah dilakukan.
Ambil contoh sederhana: banyak ruang toilet guru yang ditempatkan jauh di belakang gedung sekolah. Lokasinya sering kali terpencil dan harus ditempuh dengan berjalan cukup jauh, bahkan menyeberangi halaman terbuka di bawah terik matahari. Bagi guru muda mungkin hal itu tidak terlalu berat, tetapi bagaimana dengan guru yang sudah berusia di atas lima puluh tahun? Mereka harus naik-turun tangga, berjalan jauh, dan menahan lelah hanya untuk kebutuhan yang sangat dasar.
Jika sekolah memiliki beberapa bangunan gedung yang terpisah, umumnya tidak dibuat penghubung antar gedung sehingga ketika terjadi hujan guru yang sudah berada di sebuah gedung dimana ruang guru berada tidak dapat menjalankan tugas mengajar karena untuk menuju ruang kelas yang berada di gedung yang terpisah harus melewati halaman yang tidak ada bangunan peneduhnya.

Lebih ironis lagi, tidak sedikit sekolah yang dibangun bertingkat hingga tiga lantai tanpa adanya fasilitas lift atau alat bantu naik bagi guru yang sudah sepuh atau tenaga kependidikan dengan keterbatasan fisik. Padahal, kita tahu bahwa usia guru di Indonesia saat ini rata-rata sudah di atas 50 tahun , dan kemampuan fisik mereka pun tidak lagi sekuat dulu. Hal ini juga pasti akan dialami oleh guru-guru yang saat ini berusia muda karena dengan bertambahnya usia fisik mereka juga akan menurun.
Bukankah seharusnya pembangunan sekolah justru mempertimbangkan hal itu? Bukankah penghormatan kepada guru juga harus diwujudkan dalam bentuk lingkungan kerja yang ramah dan manusiawi?
Toilet Siswa: Simbol Kecil dari Masalah Besar
Masalah serupa juga terjadi pada toilet siswa. Banyak sekolah menempatkan toilet di lokasi yang jauh dari ruang kelas dan jauh dari pengawasan guru. Tujuannya mungkin baik — agar bau atau kebisingan tidak mengganggu proses belajar — tetapi hasilnya sering kali berbanding terbalik.
Ketika toilet siswa berada di tempat yang jauh dan tersembunyi, maka pengawasan menjadi lemah. Akibatnya, banyak toilet sekolah yang kotor, berbau, bahkan rusak. Ada yang pintunya patah, lantainya licin dan becek, atau dindingnya penuh coretan. Tidak jarang pula toilet menjadi tempat siswa “bersembunyi” dari pelajaran atau bahkan melakukan hal-hal yang tidak pantas.
Semua ini berawal dari desain yang salah. Penempatan ruang yang tidak mempertimbangkan perilaku pengguna membuat fasilitas tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Sungguh disayangkan, karena dari hal sekecil toilet pun sebenarnya kita bisa menilai sejauh mana sekolah menghargai kebersihan, disiplin, dan tanggung jawab.
Rasulullah ﷺ pernah bersabda bahwa “Kebersihan adalah sebagian dari iman.” Maka seharusnya kebersihan fasilitas sekolah — termasuk toilet — menjadi bagian dari pendidikan iman dan karakter. Namun bagaimana mungkin hal itu bisa terwujud jika bangunannya saja dirancang tanpa memperhatikan kemudahan pengawasan dan kenyamanan penggunaan?
Bangunan yang Melawan Gerak Manusia
Masalah-masalah tadi menunjukkan bahwa banyak sekolah dibangun tanpa mempertimbangkan gerak manusia di dalamnya. Desain bangunan seolah hanya mengejar tampilan megah: bertingkat, berdinding tebal, penuh ornamen — tetapi lupa bahwa setiap ruang memiliki “penghuninya” yang bergerak, berpikir, dan berinteraksi.
Tangga yang terlalu curam, koridor yang panjang tanpa ventilasi, halaman yang luas tapi tanpa tempat berteduh — semua ini adalah bentuk nyata dari bangunan yang “melawan” manusia. Padahal, sekolah bukan sekadar deretan ruang kelas. Ia adalah tempat di mana kehidupan sosial, spiritual, dan intelektual berdenyut setiap hari.
Beberapa sekolah akhir-akhir ini menjalani rehab total hingga tampak seperti gedung baru. Bangunannya terlihat megah dari luar, dan ruang kelasnya dirancang khusus untuk dipasangi AC, sehingga tidak dilengkapi ventilasi. Namun, masalah muncul setelah serah terima dari pemborong kepada sekolah. Sudah beberapa bulan siswa menempati ruangan, AC yang dijanjikan tak kunjung terpasang. Akibatnya, suasana di dalam kelas justru menjadi semakin panas karena tidak ada sirkulasi udara alami.
Sebuah sekolah yang baik seharusnya memudahkan, bukan mempersulit. Ruang toilet guru seharusnya dekat dan mudah dijangkau. Jalur antara ruang kelas, ruang guru, dan ruang kepala sekolah harus logis dan efisien. Setiap ruang seharusnya dirancang dengan pemahaman mendalam tentang siapa yang menggunakannya dan bagaimana mereka bergerak.
Sayangnya, hal itu jarang menjadi perhatian. Banyak pembangunan sekolah dilaksanakan dengan pola top-down — keputusan desain diambil oleh pihak yang bahkan tidak pernah sehari pun bekerja di sekolah tersebut. Guru dan kepala sekolah tidak dilibatkan dalam tahap perencanaan, padahal merekalah yang paling tahu kebutuhan lapangan.
Ketika Pembangunan Melupakan Pengguna
Banyak perencana bangunan berfokus pada hasil yang “indah di atas kertas,” tetapi tidak berpikir apakah ruang-ruang itu benar-benar fungsional. Akibatnya, banyak sekolah yang tampak gagah dari luar, tetapi di dalamnya penuh kesulitan kecil yang menguras tenaga dan waktu.
Pernah seorang guru bercerita, “Setiap kali mau ke ruang kepala sekolah, saya harus melewati dua tangga dan tiga koridor panjang. Kalau ada surat yang harus segera ditandatangani, saya lebih baik menunggu jam istirahat.” Maklum sekolah dari guru tersebut berada di lahan yang berbukit-bukit yang jarak antar satu bangunan dengan bangunan lainnya cukup jauh. Kisah sederhana ini menggambarkan bagaimana desain ruang yang tidak efisien dapat menurunkan produktivitas dan kenyamanan kerja.
Bukankah seharusnya pembangunan sekolah menyesuaikan dengan ritme kerja penggunanya? Bukankah ruang yang baik adalah ruang yang memudahkan gerak dan mempersingkat waktu, bukan sebaliknya?
Dampak Psikologis dan Moral
Desain bangunan yang tidak manusiawi bukan hanya berdampak pada kelelahan fisik, tetapi juga memengaruhi psikologis penghuninya. Guru yang setiap hari merasa kesulitan karena fasilitas yang tidak mendukung, lama-kelamaan akan kehilangan semangat. Siswa yang terbiasa dengan lingkungan yang kotor dan tidak tertata juga akan kehilangan rasa tanggung jawab terhadap kebersihan dan ketertiban.
Kita mungkin menganggap masalah ini sepele, tetapi sebenarnya inilah akar dari banyak perilaku yang terbentuk di sekolah. Anak-anak belajar bukan hanya dari guru, tetapi juga dari lingkungan tempat mereka tumbuh. Jika sejak kecil mereka terbiasa melihat toilet yang jorok dan ruang yang tidak nyaman, maka secara tidak sadar mereka akan meniru ketidakpedulian itu.
Lingkungan fisik adalah guru diam (silent teacher). Ia mengajarkan keteraturan, kedisiplinan, dan tanggung jawab tanpa kata-kata. Karena itu, membangun sekolah berarti juga membangun karakter.
Sekolah yang Ramah Gerak: Wujud Penghormatan kepada Manusia
Sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap pembangunan sekolah. Kita tidak lagi boleh menilai keberhasilan pembangunan dari jumlah ruang kelas atau tinggi bangunannya, tetapi dari seberapa nyaman dan efisien ruang itu digunakan.
Sekolah yang ramah gerak adalah sekolah yang memahami manusia. Ruang-ruangnya tidak hanya indah, tetapi juga fungsional dan bersahabat dengan tubuh manusia. Jalur antar-ruang dibuat efisien. Toilet bersih dan mudah dijangkau. Tersedia ramp atau lift bagi yang membutuhkan. Ventilasi udara alami dan cahaya matahari dimanfaatkan dengan baik.
Dalam perspektif Islam, memperhatikan kemudahan dan kenyamanan manusia dalam merancang sesuatu adalah bentuk ihsan — berbuat sebaik-baiknya. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah telah menetapkan ihsan atas segala sesuatu.”
(HR. Muslim)
Membangun sekolah yang ramah gerak berarti meneladani nilai ihsan itu — berbuat baik bukan sekadar untuk mematuhi aturan, tetapi sebagai wujud tanggung jawab moral kepada sesama manusia.
Penutup: Bangunan yang Memanusiakan
Sekolah bukanlah sekadar bangunan dari semen dan bata. Ia adalah rumah bagi ilmu, tempat di mana nilai-nilai luhur ditanamkan dan generasi baru dibentuk. Maka, sudah sepatutnya setiap detail pembangunan sekolah dirancang dengan cinta dan pemahaman terhadap manusia yang menghuninya.
Toilet yang dekat, tangga yang landai, koridor yang teduh, ruang yang lapang — semuanya tampak sederhana, tetapi di situlah letak penghormatan terhadap kemanusiaan.
Jika suatu hari nanti kita ingin melihat pendidikan Indonesia yang benar-benar maju, maka marilah mulai dari hal yang paling mendasar: membangun sekolah yang memanusiakan manusia.
Karena pendidikan sejati tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menumbuhkan kenyamanan, kasih, dan penghargaan terhadap sesama.
🕊️ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)
Maka, mari kita ubah cara kita membangun sekolah — dari sekadar membangun gedung menjadi membangun lingkungan yang hidup, ramah, dan manusiawi.
*) Kepala Bidang Pendidikan Yayasan Baitul Muttaqien Islamic Center Kalimantan Timur