Detail Update

Detail Update

Menakar Kekuatan BRICS yang Kini Meliputi Setengah Lebih Populasi Dunia

Card image cap Brics

TEMPO.COJakarta - Para pemimpin negara-negara anggota BRICS secara resmi menyepakati *Deklarasi Rio* dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-17 yang berlangsung di Rio de Janeiro, Brasil, pada Minggu, 6 Juli 2025.

Dipimpin oleh Brasil, deklarasi ini menegaskan komitmen bersama negara-negara BRICS yaitu Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, untuk memperkuat prinsip multilateralisme dan mendorong reformasi tata kelola global demi membangun tatanan dunia yang lebih adil, inklusif, dan demokratis.

Dalam dokumen yang terdiri dari puluhan halaman tersebut, BRICS menyoroti perlunya pembaruan sistem internasional yang dinilai belum merepresentasikan dinamika geopolitik abad ke-21. Mereka juga menuntut peningkatan keterwakilan negara-negara berkembang, khususnya dari kawasan Afrika, Asia, dan Amerika Latin, agar dapat berperan lebih besar dalam pengambilan keputusan global.

Negara-negara anggota BRICS yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, dan lima anggota baru, merupakan aliansi informal dari negara-negara ekonomi berkembang yang bertujuan memperkuat pengaruh mereka dalam sistem global.

Dibentuk pada tahun 2009, BRICS lahir dari kritik terhadap dominasi negara-negara Barat dalam lembaga-lembaga internasional yang dinilai tidak lagi merepresentasikan kepentingan dunia berkembang.

KTT BRIC pertama kali digelar di Yekaterinburg, Rusia, pada tahun 2009. Kelompok ini berubah menjadi BRICS setelah bergabungnya Afrika Selatan pada 2010, yang kemudian resmi berpartisipasi dalam KTT ketiga di Sanya pada 2011.

Seperti dikutip dari Council of Foreign Relations, lebih dari sepuluh tahun setelah didirikan, BRICS mengalami perluasan terbesar dalam sejarahnya. Pada Januari 2024, Mesir, Ethiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab resmi menjadi anggota penuh, disusul Indonesia pada Januari 2025. Tahun ini, sembilan negara lainnya yakni Belarus, Bolivia, Kazakhstan, Kuba, Malaysia, Nigeria, Thailand, Uganda, dan Uzbekistan juga diumumkan sebagai mitra BRICS, mencerminkan meningkatnya pengaruh blok ini di kawasan Global Selatan.

Sejak saat itu, kelompok ini berupaya menyelaraskan kebijakan ekonomi dan diplomatik antar anggotanya, membentuk institusi keuangan baru, dan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Meski demikian, BRICS menghadapi tantangan internal, terutama terkait perbedaan sikap dalam isu-isu global seperti hubungan dengan Amerika Serikat dan konflik Rusia-Ukraina. Perluasan keanggotaan yang terus berlangsung turut memperbesar pengaruhnya, namun sekaligus memunculkan dinamika dan ketegangan baru di dalam blok.

Kekuatan BRICS

Dilansir dari Foreign Policy Research Institute, secara kolektif, BRICS 20 mencakup 43,93% dari total ekonomi global jika dihitung berdasarkan paritas daya beli (PPP), menurut data Dana Moneter Internasional (IMF). Populasi gabungan negara-negara BRICS 20 mencapai 4,45 miliar jiwa dari total populasi dunia yang berjumlah 8,01 miliar pada tahun 2025. Artinya, BRICS+ kini merepresentasikan 55,61% dari penduduk global.

Sejak dibentuk, BRICS terus mendorong kerja sama global yang lebih adil dan inklusif. Kelompok ini lahir karena banyak negara merasa bahwa aturan dan lembaga internasional yang selama ini dipimpin negara-negara Barat, terutama G7, sudah tidak lagi mewakili kepentingan dunia berkembang. Apalagi, kekuatan ekonomi dan militer saat ini masih terkonsentrasi di tangan negara-negara maju tersebut.

Namun, belakangan ini banyak yang menilai lembaga-lembaga global yang dikuasai Barat semakin tidak mampu menyelesaikan masalah-masalah besar dunia, seperti krisis iklim, ketimpangan ekonomi, hingga konflik internasional.

Ketidakpastian kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah masa jabatan kedua Donald Trump juga ikut memperparah situasi ini. Karena itu, KTT BRICS 2025 di Brasil menjadi momen penting untuk menawarkan solusi alternatif atas tatanan dunia yang dianggap sedang krisis.

Kini, semakin banyak negara melihat bahwa dunia sedang berubah. Banyak negara berkembang, terutama dari Afrika, Asia, Amerika Latin, dan Timur Tengah, merasa bahwa mereka layak mendapat peran lebih besar dalam menentukan arah dunia. Negara-negara tersebut tak hanya ingin ikut serta dalam lembaga internasional, tapi juga ikut membentuk aturan mainnya.

Di sinilah BRICS mengambil peran penting. Dengan kekuatan ekonomi dan politik yang makin besar, BRICS menjadi tempat bagi negara-negara Selatan Global untuk menyuarakan kepentingannya.

Peran BRICS yang semakin menonjol memaksa banyak negara, termasuk aliansi Barat, untuk meninjau ulang strategi politik dan ekonominya. Ketika hubungan ekonomi antarnegara mulai bergeser dan peta kekuatan dunia berubah, negara-negara berkembang kini lebih percaya diri untuk menentukan arah masa depan mereka sendiri, dengan atau tanpa dominasi Barat.

Artikel ini telah tayang di: Menakar Kekuatan BRICS yang Kini Meliputi Setengah Lebih Populasi Dunia