Oleh : Djoko Iriandono, S.E., M.A
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar adanya orang atau teman kita yang diberikan gelar atau stempel “SUKA NGEYEL”. Gelar ini umumnya diberikan kepada orang yang susah dibilangi. Menurut kamus besar bahasa Indonesia “ngeyel” berasal dari kata “eyel” yang berarti tidak mau mengalah dalam berbicara dan mau menang sendiri. Ngeyel adalah perilaku keras kepala dan tidak mau mendengarkan perkataan orang lain. Orang yang suka ngeyel biasanya bersikukuh dengan pendapatnya dan tidak mau menerima nasehat atau diberi tahu. Pada beberapa hal, ngeyel bisa dianggap bagus, tetapi jika terlalu sering ngeyel, hal itu bisa menghambat kesuksesan dan kedewasaan seseorang.
Mengapa ada orang yang suka ngeyel? Ada sepuluh alasan mengapa seseorang mungkin memiliki kecenderungan untuk menjadi ngeyel atau keras kepala. Berikut adalah kesepuluh faktor yang mungkin mempengaruhinya:
Pertama, ketidakmampuan seseorang untuk mengakui kesalahannya karena mereka merasa perlu melindungi citra diri mereka atau karena mereka tidak ingin merasa tidak kompeten. Akibatnya, mereka menjadi ngeyel dan bertahan pada pendiriannya meskipun ada bukti yang menunjukkan sebaliknya.
Ke dua, adanya ketidakpercayaan terhadap otoritas atau informasi lain karena mereka merasa tidak percaya pada otoritas atau sumber informasi yang lain. Mereka mungkin merasa bahwa mereka memiliki pemahaman yang lebih baik atau pengetahuan yang lebih luas daripada orang lain, dan karena itu mereka enggan untuk menerima pandangan atau saran orang lain.
Ke tiga, adanya rasa takut kehilangan kontrol atau kekuasaan. Seseorang yang suka ngeyel mungkin memiliki kebutuhan yang kuat untuk mengendalikan situasi atau merasa memiliki kekuasaan atas orang lain. Mereka merasa tidak nyaman atau tidak aman ketika harus mengikuti atau tunduk pada keputusan atau otoritas orang lain, dan sebagai hasilnya, mereka menjadi keras kepala dalam mempertahankan pandangan atau tindakan mereka sendiri.
Ke empat, orang yang suka ngeyel disebabkan oleh faktor kepribadian. Beberapa orang memiliki kepribadian yang memang cenderung suka ngeyel atau keras kepala secara alami. Mereka mungkin memiliki sifat-sifat seperti keinginan untuk dominan, keinginan untuk menonjolkan diri, atau kegigihan yang tinggi dalam mempertahankan pendapat mereka sendiri. Hal ini merupakan sifat bawaan sejak lahir.
Ke lima, pengalaman masa lalu yang negatif, seperti pernah dimanipulasi atau disalahpahami, dapat membuat seseorang menjadi lebih ngeyel dalam mempertahankan pendiriannya. Mereka mungkin merasa bahwa mereka harus melindungi diri mereka sendiri dan kebenaran mereka sendiri agar tidak disalahpahami atau terluka lagi.
Ke enam yaitu adanya pengaruh ingkungan di mana seseorang tumbuh dapat memengaruhi kepribadian dan perilaku mereka. Jika seseorang dibesarkan dalam lingkungan yang cenderung mendorong sikap keras kepala atau mempertahankan pendirian dengan keras, maka mereka mungkin mengembangkan kecenderungan untuk menjadi ngeyel. Pola asuh yang otoriter atau dominan, di mana anak tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya atau tidak diajarkan keterbukaan terhadap pandangan orang lain, juga dapat berkontribusi pada sikap ngeyel di masa dewasa.
Ke tujuh, adanya perasaan tidak puas atau frustasi dengan situasi atau keadaan tertentu. Ketika mereka merasa bahwa keinginan atau kebutuhan mereka tidak terpenuhi, mereka mungkin menggunakan sikap keras kepala sebagai cara untuk mengungkapkan ketidakpuasan atau mengambil kendali atas situasi tersebut.
Ke delapan, adanya perbedaan nilai, keyakinan, atau pandangan antara individu. Perbedaan ini memungkinkan terjadinya konflik dan munculnya sikap keras kepala. Seseorang mungkin menjadi ngeyel dalam upaya mempertahankan nilai-nilai atau keyakinan mereka, terutama jika mereka merasa bahwa nilai-nilai tersebut penting atau berasal dari identitas pribadi mereka.
Ke sembilan, kurangnya keterampilan komunikasi yang efektif atau kurang dalam kemampuan untuk memahami perspektif orang lain. Keterampilan komunikasi yang rendah dan tidak efektif dapat mendorog munculnya perilaku ngeyel pada diri seseorang. Hal ini disebabkan karena ia mengalami kesulitan dalam mengungkapkan atau memahami pandangan orang lain dengan baik.
Ke sepuluh, beberapa individu mungkin memiliki motivasi untuk menonjol atau mendapatkan perhatian dengan menjadi ngeyel. Dengan mempertahankan pendapat yang kontroversial atau berlawanan dengan mayoritas, mereka berharap untuk menarik perhatian orang lain atau membangun citra diri yang kuat.
Jika Anda termasuk oang yang suka ngeyel, dari sepuluh faktor tersebut di atas, faktor manakah yang dominan menjadi penyebabnya? Anda tidak perlu takut mengakuinya, karena ngeyel tidak selalu buruk dan bukan merupakan karakteristik tetap dalam seseorang. Perilaku suka “ngeyel” dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor dan dapat berubah seiring waktu dengan kesadaran diri, pengembangan keterampilan sosial, atau pengalaman yang memperluas pemahaman individu terhadap dunia dan pandangan orang lain. Beberapa situasi membutuhkan seseorang yang teguh pada pendiriannya (ngeyel) dan mampu mempertahankan keyakinan yang kuat. Namun, jika perilaku ngeyel menghambat komunikasi yang sehat atau mengganggu hubungan dengan orang lain, penting untuk mencari cara untuk membangun pemahaman dan menghormati pandangan orang lain.
*) Kasi Kominfo BPIC