Oleh: Djoko Iriandono*)
Lebih dari separuh hidup saya habiskan di dunia pendidikan — dari menjadi guru, kepala sekolah, hingga akhirnya dipercaya menjabat sebagai Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar. Sampai saat ini sudah lebih sepuluh tahun saya meninggalkan ruang kelas. Tidak lagi berdiri di depan papan tulis, tidak lagi memeriksa buku tugas, dan tidak lagi mendengar riuh tawa anak-anak saat istirahat. Namun, meskipun masa pensiun telah tiba, hati saya belum pernah benar-benar berhenti menjadi guru. Sebab ternyata, bagi saya menjadi guru bukan hanya sekadar profesi — ia adalah identitas, passion dan jalan hidup saya.
Dalam keheningan hari-hari di tengah-tengah kesibukan menjalankan tugas sebagai kepala seksi peningkatan mutu tenaga pendidik dan kependidikan di Islamic Center, saya sering merenung: Apa yang sesungguhnya membuat seseorang menjadi guru yang baik?
Pertanyaan ini dulu terasa sederhana, tetapi kini justru semakin dalam maknanya. Melalui artikel ini saya ingin berbagi sedikit refleksi, bukan untuk menggurui rekan-rekan guru yang saat ini masih aktif, tetapi sebagai renungan dari seorang yang pernah berjalan di jalan yang sama — jalan pengabdian dalam dunia pendidikan.
1. Mengajar Itu Tidak Pernah Sekadar Mengajar
Ketika saya pertama kali diangkat menjadi guru, fokus saya hanyalah bagaimana menyampaikan materi dengan baik. Saya ingin murid saya pintar, nilainya tinggi, dan sekolah memuji hasilnya. Tapi seiring waktu, saya sadar: mengajar itu tidak sama dengan mendidik.
Mengajar hanyalah bagian kecil dari tugas besar seorang guru. Tugas yang lebih berat — dan lebih mulia — adalah mendidik hati dan membentuk karakter.
Saya mulai menyadari bahwa murid tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga keteladanan, perhatian, dan kasih sayang.
Ada murid yang datang ke sekolah dengan hati yang penuh masalah, ada yang menutupi kesedihan dengan tawa. Guru yang baik bukan hanya mengajar di depan kelas, tetapi juga mendengarkan di luar jam pelajaran. Dan terkadang, satu kalimat hangat dari seorang guru bisa mengubah arah hidup seorang anak.
2. Guru yang Baik Selalu Mau Belajar
Selama bertahun-tahun mengajar, saya sempat merasa sudah cukup tahu. Tapi ternyata dunia pendidikan tidak pernah berhenti berubah.
Teknologi, kurikulum, bahkan cara berpikir anak-anak terus bergeser. Dan saya belajar bahwa guru yang berhenti belajar, maka ia harus berhenti menjadi guru.
Saya masih ingat ketika pertama kali komputer masuk ke ruang guru. Banyak di antara kami yang canggung, bahkan takut menyentuhnya. Apalagi saat itu kepala sekolah mewanti-wanti jangan sampai ada guru yang menyentuh komputer tanpa mengikuti pelatihan terlebih dahulu. Tapi murid-murid begitu cepat beradaptasi. Dari situlah saya belajar satu hal penting: guru tidak boleh kalah cepat dari muridnya.
Kini, setelah pensiun dan melihat dunia digital berkembang begitu pesat, saya semakin yakin bahwa belajar adalah napasnya guru. Tidak harus selalu dalam bentuk pelatihan resmi. Belajar bisa datang dari membaca buku, mendengarkan cerita murid, berdiskusi dengan rekan, bahkan dari kesalahan yang kita lakukan sendiri.
3. Wibawa Seorang Guru Tidak Ditentukan oleh Suara yang Keras
Saya dulu pernah berpikir bahwa untuk menguasai kelas, saya harus tegas — bahkan keras. Tapi seiring waktu, saya menyadari bahwa wibawa sejati datang dari hati yang tulus, dan bahkan saya sangat menyadari bahwa hanya orang bodoh sajalah yang menegakkan wibawa dengan amarah.
Murid bisa saja takut pada guru yang galak, tetapi mereka hanya menghormati guru yang adil dan penuh kasih. Guru yang baik tidak memerintah dengan suara tinggi, tetapi menuntun dengan ketulusan. Ia tidak menaklukkan murid dengan ancaman, melainkan menyentuh hati mereka dengan perhatian.
Saya masih ingat satu murid yang dulu sering membuat saya kesal. Ia bandel, sering tidak mengerjakan tugas, dan suka mengganggu teman. Tapi ketika saya mencoba mendekatinya bukan sebagai “guru yang marah”, melainkan sebagai “orang dewasa yang ingin mengerti”, saya menemukan bahwa ia hanya merasa tidak dihargai di rumah. Sejak hari itu, hubungan kami berubah, dan ia mulai memperbaiki diri.
Dari situ saya belajar, murid tidak bisa diubah dengan kemarahan, tetapi bisa disentuh hatinya dengan penuh perasaan dan kasih sayang.
4. Murid Lebih Banyak Meniru daripada Mendengar
Sebagai guru Pendidikan Moral Pancasila (PMP), saya sering berbicara tentang disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab. Tapi saya sadar, murid jarang meniru apa yang saya ucapkan — mereka justru meniru apa yang saya lakukan.
Saya pernah terlambat datang ke kelas beberapa kali karena suatu sebab yang tidak bisa dielakkan (terpaksa), dan ternyata murid-murid saya pun mulai sering datang terlambat dengan berbagai alasan. Itu tamparan halus bagi saya. Sejak saat itu saya belajar, guru adalah cermin. Apa yang tampak pada diri kita akan terpantul pada murid kita.
Jadi, jika kita ingin melahirkan generasi yang jujur, disiplin, dan berakhlak, maka semua itu harus terlebih dahulu tumbuh dalam diri kita. Keteladanan adalah pelajaran yang paling kuat, meski tanpa kata.
5. Teknologi Tidak Menggantikan Guru, Tetapi Menuntut Guru untuk Lebih Bijak
Sekarang, anak-anak belajar dari gawai, video, dan kecerdasan buatan. Banyak orang berkata bahwa peran guru akan tergeser. Tapi saya tidak percaya. Teknologi memang bisa mengajar, tetapi tidak bisa mendidik. Ia bisa memberi informasi, tetapi tidak bisa memberi nilai. Ia bisa menjawab pertanyaan, tetapi tidak bisa memahami hati anak.
Karena itu, saya berharap para guru muda hari ini tidak takut pada teknologi. Gunakanlah ia sebagai alat bantu untuk memperkaya pembelajaran, bukan sebagai saingan.
Ajarkan murid untuk tidak hanya pandai mencari jawaban di internet, tetapi juga pandai memilah mana yang benar, mana yang baik, dan mana yang bernilai.
Guru tetap dibutuhkan — bukan hanya untuk mengajar logika, tetapi juga menanamkan nurani.
6. Empati Adalah Bahasa Paling Indah Seorang Guru
Ada kalanya murid-murid kita tidak membutuhkan pelajaran, tetapi membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan. Saya belajar bahwa empati lebih kuat daripada seribu nasihat. Saat murid merasa dimengerti, ia akan membuka hatinya. Dan ketika hatinya terbuka, proses belajar menjadi jauh lebih mudah.
Saya teringat seorang siswi yang nilai pelajarannya anjlok karena orang tuanya bercerai. Saya tidak menegurnya karena nilainya, tapi saya duduk bersamanya dan berkata, “Kamu tidak sendiri. Bapak Ibu gurumu di sini juga sayang padamu.” Ia menangis, lalu perlahan semangatnya kembali. Empati kecil, tetapi dampaknya besar.
Guru yang baik tidak hanya mengajar mata pelajaran, tetapi juga menenangkan jiwa-jiwa kecil yang gelisah.
7. Guru Tidak Bisa Bekerja Sendiri
Dulu saya berpikir, kalau saya mengajar dengan sungguh-sungguh, itu sudah cukup. Tapi ternyata tidak. Pendidikan adalah kerja bersama — antara guru, orang tua, dan lingkungan. Ketika guru dan orang tua saling mendukung, anak-anak tumbuh dengan lebih baik. Tapi ketika keduanya saling menyalahkan, anak-anak menjadi korban.
Karena itu, saya selalu berpesan kepada rekan-rekan guru: jangan pernah lelah menjalin komunikasi dengan orang tua murid. Bukan untuk menuntut, tapi untuk bekerja sama. Sampaikan bukan hanya kesalahan anak, tapi juga kemajuannya. Orang tua pun akan merasa dihargai dan semakin percaya pada guru.
8. Guru yang Baik Juga Harus Bahagia
Bertahun-tahun saya terlalu sibuk dengan tugas, rapat, dan kegiatan sekolah, sampai lupa menjaga diri sendiri. Kadang saya pulang dengan lelah dan marah tanpa sebab. Baru setelah pensiun saya sadar: guru juga manusia.
Guru yang terlalu lelah, mudah kehilangan sabar. Guru yang stres, sulit tersenyum.
Padahal senyum guru bisa mengubah suasana satu kelas.
Saya ingin mengatakan pada para guru muda: jaga keseimbangan hidupmu.
Luangkan waktu untuk beristirahat, untuk keluarga, dan untuk dirimu sendiri. Karena guru yang bahagia akan melahirkan murid yang bahagia.
9. Jadilah Guru yang Menginspirasi, Bukan Sekadar Menguasai
Dulu saya senang jika murid bisa mengulang kembali pelajaran saya dengan tepat. Tapi kini saya sadar, yang lebih penting adalah ketika mereka mampu berpikir, berbuat, dan bermimpi sendiri.
Guru yang baik tidak mencetak murid yang sama seperti dirinya, tetapi menumbuhkan mereka menjadi lebih baik dari dirinya. Mungkin itu sebabnya, setiap kali saya bertemu murid lama yang kini sukses, saya merasa bahagia luar biasa — bukan karena saya berjasa besar, tapi karena saya pernah menjadi bagian kecil dalam perjalanan hidup mereka.
10. Mengajar dengan Cinta, Mengabdi dengan Iman
Kini, setelah pensiun, saya melihat bahwa seluruh perjalanan sebagai guru adalah ibadah panjang. Setiap peluh, setiap nasihat, setiap doa, bahkan setiap kesalahan yang disertai niat memperbaiki — semuanya menjadi bagian dari pengabdian.
Saya ingin mengingatkan rekan-rekan guru yang masih aktif: jangan biarkan semangat mengajar padam karena lelah, aturan, atau tekanan. Ingatlah, setiap kata yang Anda ucapkan bisa menjadi cahaya bagi murid-murid yang sedang mencari arah. Dan setiap ilmu yang Anda ajarkan dengan ikhlas, akan terus mengalir sebagai amal jariyah.
Penutup: Jejak Seorang Guru Tidak Pernah Hilang
Sudah lebih dari sepuluh tahun sudah saya pensiun, tapi saya masih sering bertemu murid-murid saya dahulu yang menyapa dengan senyum dan berkata, “Pak, saya masih ingat pelajaran yang Bapak ajarkan dulu.” Saat itu saya sadar, jejak seorang guru tidak pernah hilang. Ia mungkin tidak lagi berdiri di depan kelas, tetapi pengaruhnya tetap hidup dalam jiwa-jiwa yang pernah disentuhnya.
Maka bagi para guru yang masih mengajar hari ini, teruslah berjalan dengan cinta, teruslah menyalakan cahaya. Karena bangsa ini tidak akan pernah kekurangan ilmu — tetapi selalu membutuhkan guru yang berhati mulia. Dan saya, adalah seorang guru yang telah pensiun, akan selalu berdoa agar cahaya itu tidak pernah padam.
*) Kasi Peningkatan Mutu Tenaga Pendidik dan Kependidikan BPIC Kaltim