Oleh: Djoko Iriandono*)
Dahulu kala ketika menjadi seorang guru di sebuah SMP vavorit di Samarinda, selain mengajar Penulis juga diberikan tugas oleh kepala sekolah sebagai Pembina OSIS. Saat itu Penulis masih muda, energik dan penuh gagasan untuk membantu kepala sekolah dalam mewujudkan visi dan misi sekolah.
Banyak sekali gagasan-gagasan baru yang Penulis sampaikan. Namun seringkali terganjal oleh teman-teman guru yang lain yang tidak sependapat. Mengahadapi kenyataan itu, seringkali Penulis menghadap kepala sekolah dan mencoba menjelaskan secara detail gagasan yang Penulis Sampaikan. Rasanya Penulis tidak sabar menghadapi teman-teman yang sulit diajak maju atau berubah. Jika Penulis terlihat sedikit “ngotot”, biasanya kepala sekolah dengan nada menghibur mengatakan “Oleh Cepet Ning Ojo Ndisiki”.
Ungkapan "oleh cepet ning ojo ndisiki" adalah peribahasa dalam bahasa Jawa yang mengandung pesan filosofis mendalam. Secara harfiah, ungkapan ini berarti "boleh cepat tetapi jangan mendahului." Dalam konteks kehidupan, ungkapan ini mengajarkan nilai kesabaran, kehati-hatian, dan rasa hormat terhadap proses. Dalam esai ini Penulis akan mencoba membahas bagaimana ungkapan ini relevan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti pekerjaan, hubungan sosial, dan pengambilan keputusan.
Konteks Filosofis
Ungkapan ini mengingatkan kita bahwa kehidupan adalah perjalanan yang membutuhkan keseimbangan antara kecepatan dan kehati-hatian. “Oleh cepet” berarti kita didorong untuk bertindak cepat, responsif, dan efisien. Namun, "ojo ndisiki" menggarisbawahi pentingnya menghormati aturan, norma, dan tatanan yang ada. Jika kita terlalu tergesa-gesa untuk mencapai tujuan tanpa memperhatikan hal-hal yang penting di sepanjang jalan, hasil yang dicapai mungkin tidak sesuai dengan harapan.
Dalam Dunia Pekerjaan
Di dunia kerja, banyak orang berlomba-lomba untuk mencapai target dengan cepat. Namun, jika hanya mengejar kecepatan tanpa perencanaan matang, risiko kegagalan akan semakin besar. Prinsip “ojo ndisiki” mengajarkan bahwa penting untuk mengikuti proses yang benar. Misalnya, seorang karyawan yang ingin mendapatkan promosi perlu menunjukkan kompetensi dan dedikasi secara konsisten, bukan hanya mengandalkan cara pintas atau menyabotase rekan kerja.
Dalam Hubungan Sosial
Hubungan sosial juga membutuhkan keseimbangan ini. Terlalu terburu-buru dalam menilai seseorang tanpa memahami latar belakangnya dapat menimbulkan kesalahpahaman. Prinsip "ojo ndisiki" mengajarkan kita untuk memberi ruang dan waktu agar hubungan dapat berkembang secara alami. Dalam persahabatan, misalnya, hubungan yang terburu-buru seringkali rapuh karena kurangnya pemahaman mendalam.
Dalam Pengambilan Keputusan
Ketika mengambil keputusan, terburu-buru tanpa mempertimbangkan risiko dapat mengarah pada penyesalan. Prinsip ini relevan dalam situasi penting seperti membuat keputusan bisnis, memilih pasangan hidup, atau menentukan langkah besar lainnya. Dengan mengambil waktu untuk berpikir dan bertindak secara bijaksana, hasil yang diperoleh akan lebih kokoh dan memuaskan.
Relevansi di Era Modern
Di era serba cepat seperti sekarang, tekanan untuk selalu bergerak lebih cepat sangat besar. Namun, ungkapan "oleh cepet ning ojo ndisiki" mengingatkan kita bahwa kecepatan tanpa arah bisa menjadi bumerang. Prinsip ini relevan dalam penggunaan teknologi, media sosial, dan kompetisi global. Misalnya, seorang pengusaha startup harus mampu bergerak cepat untuk inovasi, tetapi tetap mematuhi etika bisnis dan menjaga kualitas produk.
Ungkapan "oleh cepet ning ojo ndisiki" adalah panduan hidup yang relevan di berbagai aspek kehidupan. Ini bukan hanya tentang kecepatan, tetapi juga tentang keseimbangan antara tindakan cepat dan penghormatan terhadap proses. Dengan menginternalisasi nilai-nilai ini, kita dapat mencapai tujuan dengan cara yang bermartabat dan berkelanjutan. Maka dari itu, marilah kita menerapkan prinsip ini dalam setiap langkah hidup kita, agar perjalanan menuju sukses tidak hanya cepat, tetapi juga bermakna.
Penerapan Prinsip dalam Pendidikan
Dalam dunia pendidikan, "oleh cepet ning ojo ndisiki" menjadi pedoman yang sangat penting, terutama bagi siswa, guru, maupun orang tua. Siswa didorong untuk belajar dengan giat dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar mencapai hasil yang maksimal. Namun, prinsip "ojo ndisiki" mengingatkan mereka untuk tidak menggunakan cara-cara curang seperti menyontek atau meminta bantuan yang tidak seharusnya.
Bagi guru, prinsip ini mengajarkan pentingnya memberikan pendidikan yang berproses, bukan hanya mengejar hasil akhir seperti nilai tinggi atau kelulusan. Pendidikan adalah perjalanan membentuk karakter dan kepribadian siswa. Jika hanya berfokus pada kecepatan pencapaian, esensi pendidikan yang sebenarnya bisa hilang. Orang tua juga diingatkan untuk tidak memaksakan anak agar cepat berhasil tanpa mempertimbangkan kesiapan anak secara emosional dan mental.
Makna Spiritual dan Kebijaksanaan Lokal
Dalam dimensi spiritual, ungkapan ini juga mencerminkan ajaran kearifan lokal yang selaras dengan nilai-nilai agama. Banyak tradisi keagamaan yang mengajarkan pentingnya kesabaran dan tawakal dalam menjalani kehidupan. "Ojo ndisiki" mengingatkan kita bahwa segala sesuatu memiliki waktunya masing-masing, dan ada kekuatan Ilahi yang mengatur jalannya kehidupan. Tergesa-gesa dalam mengejar duniawi seringkali membuat manusia melupakan esensi spiritual yang lebih dalam.
Prinsip ini juga memperkuat budaya saling menghormati yang menjadi inti dari masyarakat Jawa. Dalam tata krama Jawa, mendahului orang lain tanpa izin, baik secara fisik maupun simbolis, dianggap kurang sopan. Oleh karena itu, ungkapan ini juga mengajarkan pentingnya menjaga harmoni dalam hubungan antarindividu.
Tantangan dalam Penerapan
Meskipun penuh makna, menerapkan prinsip ini tidak selalu mudah, terutama di dunia modern yang serba kompetitif. Banyak orang merasa tertekan untuk selalu menjadi yang tercepat dan terbaik, meskipun harus mengabaikan nilai-nilai moral. Di sinilah pentingnya pendidikan karakter dan pembentukan mental yang kuat sejak dini, agar generasi muda mampu memahami bahwa kesuksesan sejati tidak selalu tentang menjadi yang tercepat, tetapi tentang bagaimana mencapai tujuan dengan cara yang benar.
Selain itu, tantangan lain datang dari godaan untuk menggunakan cara pintas. Dalam situasi tertentu, masyarakat sering menganggap bahwa hasil lebih penting daripada proses. Misalnya, dalam dunia politik, beberapa orang cenderung menghalalkan segala cara untuk mencapai kekuasaan. Hal ini bertentangan dengan semangat "ojo ndisiki" yang menekankan pentingnya bertindak sesuai aturan.
Ungkapan "oleh cepet ning ojo ndisiki" mengandung filosofi kehidupan yang sangat relevan, baik di masa lalu, masa kini, maupun masa depan. Prinsip ini tidak hanya mengajarkan kita untuk bertindak cepat dan efisien, tetapi juga untuk menghormati proses, etika, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Dalam dunia yang semakin kompleks, ungkapan ini menjadi pengingat bahwa kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari seberapa cepat kita mencapainya, tetapi juga dari cara kita melakukannya. Dengan menjadikan prinsip ini sebagai pedoman, kita dapat menciptakan kehidupan yang lebih harmonis, bermartabat, dan bermakna. Sebuah perjalanan hidup yang tidak hanya membawa kita ke tujuan, tetapi juga memberi pelajaran berharga di sepanjang jalan.
*) Kasi Kominfo BPIC.