Detail Update

Detail Update

Sekolah Dimulai Lagi: Momentum Menata Ulang Sikap, Etos Kerja, dan Keteladanan

Card image cap Hari Pertama masuk sekolah

Oleh: Djoko Iriandono*)

Pagi ini tanggal 5 Januari 2026, di berbagai penjuru tanah air, bel sekolah kembali berbunyi. Ada langkah kaki kecil yang sedikit ragu, ada wajah-wajah ceria penuh harapan, ada pula kegelisahan yang disimpan diam-diam. Hari pertama sekolah selalu menghadirkan suasana yang khas—campuran antara semangat, kecemasan, dan harapan baru. Namun sesungguhnya, hari pertama sekolah bukan hanya milik para siswa. Ia adalah momentum bagi kita semua—guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan pemangku kebijakan—untuk menata ulang niat, sikap, dan tanggung jawab.

Dalam perspektif religius, setiap awal adalah amanah. Allah SWT mengingatkan bahwa hidup manusia tidaklah berjalan tanpa tujuan. Setiap hari, setiap tugas, dan setiap peran akan dimintai pertanggungjawaban. Sekolah, sebagai ruang pembentukan karakter dan ilmu, adalah ladang amal yang luas. Apa yang ditanam hari ini, akan dipetik di masa depan—baik oleh siswa, maupun oleh bangsa ini secara keseluruhan.

Hari Pertama Sekolah dan Lurusnya Niat

Dalam Islam, niat adalah fondasi dari setiap amal. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” Hari pertama sekolah adalah waktu terbaik untuk meluruskan kembali niat: mengajar bukan sekadar menggugurkan kewajiban, belajar bukan hanya mengejar nilai, bekerja bukan sekadar menuntaskan jam kerja.

Guru menata ulang niatnya: bahwa setiap materi yang disampaikan adalah bagian dari ibadah, setiap kesabaran menghadapi siswa adalah sedekah, dan setiap keteladanan yang ditunjukkan adalah dakwah tanpa kata. Tenaga kependidikan pun demikian; dari petugas kebersihan hingga staf administrasi, semua memegang peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang bersih, tertib, dan manusiawi. Tidak ada peran kecil di hadapan Allah jika dikerjakan dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab.

Etos Kerja sebagai Cermin Keimanan

Agama tidak memisahkan antara ibadah ritual dan etos kerja. Justru, kerja yang dilakukan dengan sungguh-sungguh adalah wujud keimanan. Allah SWT mencintai hamba-Nya yang bekerja dengan itqan—tepat, tuntas, dan profesional. Hari pertama sekolah adalah momen refleksi: sudahkah kita bekerja dengan sepenuh hati, atau sekadar menjalankan rutinitas tanpa ruh?

Etos kerja di sekolah bukan hanya soal datang tepat waktu atau menyelesaikan administrasi. Ia tercermin dari kesungguhan mempersiapkan pembelajaran, kesabaran menghadapi perbedaan karakter siswa, dan kejujuran dalam menjalankan tugas. Ketika guru mengajar dengan sepenuh jiwa, siswa belajar dengan lebih bermakna. Ketika orang tua mendukung dengan doa dan perhatian, sekolah menjadi rumah kedua yang aman.

Keteladanan: Pelajaran yang Paling Diingat

Anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibandingkan apa yang mereka dengar. Keteladanan adalah kurikulum tersembunyi yang paling kuat pengaruhnya. Hari pertama sekolah menjadi pengingat bahwa setiap sikap orang dewasa di lingkungan sekolah adalah pelajaran yang sedang ditiru.

Guru yang disiplin mengajarkan arti tanggung jawab. Guru yang adil menanamkan nilai kejujuran. Guru yang santun membentuk karakter yang beradab. Sebaliknya, ketidakkonsistenan, kemarahan yang berlebihan, atau sikap acuh tak acuh akan meninggalkan bekas yang dalam di hati peserta didik.

Dalam ajaran agama, keteladanan adalah metode pendidikan para nabi. Mereka tidak hanya mengajarkan kebenaran, tetapi hidup dalam kebenaran itu sendiri. Sekolah yang baik bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi ruang tumbuhnya akhlak.

Peran Orang Tua: Sekolah Pertama yang Tak Pernah Libur

Hari pertama sekolah juga menjadi pengingat bagi orang tua bahwa pendidikan anak tidak pernah sepenuhnya diserahkan kepada sekolah. Rumah adalah madrasah pertama, dan orang tua adalah guru yang paling lama bersama anak-anaknya. Doa orang tua, perhatian kecil, dan teladan sehari-hari seringkali lebih berpengaruh daripada nasihat panjang.

Ketika orang tua dan sekolah berjalan seiring, anak-anak merasa aman dan dihargai. Sebaliknya, ketika keduanya berjalan sendiri-sendiri, anak-anak kebingungan menentukan arah. Momentum awal sekolah adalah waktu yang tepat untuk memperkuat kembali sinergi ini—dengan komunikasi yang baik, saling percaya, dan niat yang sama: kebaikan anak.

Bel Sekolah dan Pengingat Akhirat

Menarik untuk direnungkan, bel sekolah yang berbunyi di pagi hari sejatinya juga mengingatkan kita pada “panggilan” yang lebih besar dalam hidup. Setiap awal akan berakhir, dan setiap amanah akan dipertanyakan. Hari pertama sekolah bukan hanya tentang memulai semester, tetapi tentang bagaimana kita ingin dikenang: sebagai pendidik yang membekas, orang tua yang peduli, atau pekerja pendidikan yang amanah.

Allah SWT berfirman agar manusia memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok. Dalam konteks pendidikan, pertanyaannya sederhana namun mendalam: nilai apa yang sedang kita tanamkan hari ini? Sikap apa yang kita wariskan melalui perilaku kita?

Menutup Hari Pertama dengan Harapan

Sekolah dimulai lagi. Papan tulis kembali bersih, buku-buku kembali dibuka, dan mimpi-mimpi kembali dirajut. Namun yang lebih penting dari semua itu adalah kesiapan hati kita. Bila hari pertama ini diisi dengan niat yang lurus, etos kerja yang sungguh-sungguh, dan keteladanan yang nyata, maka sekolah akan menjadi tempat yang bukan hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menumbuhkan iman dan akhlak.

Semoga setiap langkah di lorong sekolah menjadi langkah menuju kebaikan. Semoga setiap peluh yang menetes menjadi saksi amal. Dan semoga dari ruang-ruang kelas sederhana ini, lahir generasi yang tidak hanya cerdas pikirannya, tetapi juga lembut hatinya dan kuat imannya.

Karena sejatinya, mendidik adalah ibadah panjang—dan hari pertama sekolah adalah awal yang sangat menentukan. Oleh sebab itu mari kita luruskan kembali niat kita bahwa setiap langkah, ucapan dan pikiran kita dalam mengajar, mendidik dan melatih para siswa di sekolah semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah SWT.

 

*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim