Detail Update

Detail Update

BELAJAR PANCASILA DARI NEGERI YANG TIDAK MEMILIKI PANCASILA (Bag. 1)

Card image cap Nenek yang tak mau mengambil hak orang lain.

Kisah seorang nenek di tengah salju yang mengajarkan arti menghormati hak orang lain

Oleh: Djoko Iriandono, S.E., M.A.*)

 

Ada kalanya kita harus pergi jauh ke negeri orang untuk menemukan sesuatu yang sesungguhnya telah lama kita pelajari di negeri sendiri.

Kita belajar Pancasila sejak bangku sekolah. Kita diajarkan tentang keadilan, kemanusiaan, kesopanan, dan penghormatan terhadap sesama. Kita juga mendengar ajaran agama tentang pentingnya berbuat baik kepada orang lain.

Namun, dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai luhur itu tidak selalu tercermin dalam perilaku kita.

Saya pernah mendapatkan pelajaran berharga tentang hal ini ketika berkesempatan melanjutkan pendidikan S-2 di Inggris pada tahun 2000. Sebuah pengalaman sederhana di halte bus justru menjadi salah satu kenangan yang paling membekas dalam perjalanan pendidikan saya.

Bekal Sebelum Berangkat ke Inggris

Pada tahun 1998, saya dinyatakan lulus seleksi untuk memperoleh beasiswa pendidikan S-2 di luar negeri yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta.

Pada 1999, saya mengikuti program persiapan pendidikan luar negeri selama sembilan bulan di Universitas Negeri Malang dan tiga bulan di British Council, Jakarta.

Setelah menjalani serangkaian tes, termasuk IELTS, saya dinyatakan memenuhi persyaratan untuk melanjutkan pendidikan di Inggris.

Sebelum keberangkatan, kami mendapatkan pembekalan dari seorang dosen British Council mengenai culture shock, atau gegar budaya.

Kami dijelaskan bahwa hidup di negara lain bukan sekadar berpindah tempat dan mempelajari bahasa baru. Kami juga akan berhadapan dengan kebiasaan, tata krama, cara berpikir, dan sistem sosial yang berbeda dari yang selama ini kami kenal.

Salah satu contoh yang disampaikan dosen tersebut berkaitan dengan pengalaman menggunakan bus kota di Jakarta.

Saat mengikuti kursus di British Council, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, saya terbiasa naik bus kota dari tempat kos menuju tempat kursus.

Untuk naik bus, penumpang sering harus berebut. Tidak selalu ada antrean yang tertib. Siapa yang lebih cepat mendekati pintu, dialah yang berpeluang masuk lebih dahulu.

Di dalam bus, penumpang berdesakan. Bahkan, ketika hendak turun, terkadang kami harus memberi tahu sopir atau kernet jauh sebelum mencapai tempat tujuan, kemudian bersiap turun dengan cepat ketika bus mendekati tempat pemberhentian.

Semua itu sudah menjadi bagian dari rutinitas yang terasa biasa.

Namun, dosen tersebut menjelaskan bahwa sistem bus yang akan kami temui di Inggris memiliki kebiasaan pelayanan yang berbeda.

Saya mendengarkan penjelasannya dengan rasa ingin tahu.

Benarkah perjalanan menggunakan bus bisa memberikan pengalaman yang begitu berbeda?

Ketika Antrean Menjadi Pelajaran Keadilan

Setelah tiba di Inggris, saya menemukan bahwa calon penumpang bus umumnya menunggu dengan tertib di halte.

Ketika bus datang, penumpang yang hendak turun dipersilakan keluar terlebih dahulu. Setelah itu, sopir memanggil calon penumpang untuk naik satu per satu.

Sambil melayani penumpang, sopir mengucapkan kalimat yang masih saya ingat: "Next, please."

Silakan berikutnya.

Begitu seterusnya sampai kapasitas bus terpenuhi. Jika bus sudah penuh, calon penumpang yang belum mendapatkan giliran harus menunggu bus berikutnya.

Tidak ada perlombaan untuk merebut tempat. Setiap orang memahami bahwa dirinya memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan, tetapi orang lain juga memiliki hak yang sama.

Saya kemudian menyadari bahwa antrean bukan sekadar barisan manusia yang menunggu kendaraan.

Antrean merupakan kesepakatan sosial bahwa setiap orang bersedia menahan keinginannya agar hak orang lain tetap dihormati.

Namun, ada satu peristiwa yang membuat saya memahami makna antrean jauh lebih dalam.

Nenek yang Menolak Didahulukan

Suatu hari, saya sedang menunggu bus seperti biasa.

Satu per satu calon penumpang dipanggil oleh sopir. Ketika giliran saya semakin dekat, sopir mengatakan, "One more, please."

Artinya, satu penumpang lagi.

Saya memahami bahwa setelah satu orang masuk, bus akan penuh. Pintu akan ditutup dan orang-orang yang masih berada dalam antrean harus menunggu bus berikutnya.

Kebetulan, saat itu giliran saya.

Namun, sebelum naik, saya melihat seorang nenek berdiri tepat di belakang saya. Usianya tampak sudah sangat lanjut. Tubuhnya renta dan gemetar menahan dingin. Saat itu musim dingin dan salju sedang turun.

Saya membayangkan betapa tidak nyamannya menunggu lebih lama dalam cuaca seperti itu.

Karena itu, saya mempersilakannya naik terlebih dahulu.

Saya masih muda dan merasa sanggup menunggu bus berikutnya. Bagi saya, memberikan kesempatan kepada seorang nenek merupakan tindakan yang wajar.

Tetapi, jawaban beliau sungguh di luar dugaan.

Dengan tubuh yang masih gemetar, ia menolak tawaran saya.

"You are a good boy. No, thank you. It's your turn. I will wait for the next bus."

"Kamu anak yang baik. Tidak, terima kasih. Ini giliranmu. Saya akan menunggu bus berikutnya."

Saya terdiam.

Di hadapan saya berdiri seorang perempuan lanjut usia yang jelas membutuhkan kenyamanan lebih daripada saya. Ia sedang kedinginan, tubuhnya renta, dan menunggu bus berikutnya tentu bukan hal yang menyenangkan.

Namun, ia tetap memilih menghormati giliran orang lain.

Ia tidak memanfaatkan usianya untuk meminta perlakuan istimewa. Ia juga tidak merasa bahwa kondisinya membuat hak orang lain boleh dikesampingkan.

Saya tidak mengetahui siapa nama nenek itu. Saya bahkan tidak tahu bagaimana kehidupannya setelah peristiwa tersebut.

Namun, tindakannya meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi saya.

Ketika Saya Mulai Bercermin

Peristiwa tersebut membuat saya membayangkan situasi serupa di Jakarta pada masa itu.

Dalam kondisi ketika penumpang harus berebut untuk masuk bus, apakah seseorang yang sudah mendapatkan giliran akan dengan mudah memberikan kesempatan kepada orang lain?

Tentu saja, saya tidak bisa memastikan bagaimana setiap orang akan bertindak. Selalu ada orang baik di mana pun berada, termasuk di Indonesia.

Namun, pengalaman itu memunculkan pertanyaan yang terus mengusik pikiran saya.

Bukankah kita juga diajarkan untuk menghormati hak orang lain?

Bukankah Pancasila mengajarkan kemanusiaan yang adil dan beradab?

Bukankah agama mengajarkan kita untuk berlaku adil, menghormati sesama, dan tidak mengambil hak orang lain?

Mengapa nilai-nilai yang begitu luhur terkadang sulit kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari?

Pertanyaan ini bukan untuk merendahkan bangsa sendiri. Justru, saya ingin mengajak kita bercermin.

Inggris memang tidak memiliki Pancasila sebagai dasar negara. Masyarakatnya pun memiliki latar belakang agama dan keyakinan yang beragam. Namun, pengalaman saya menunjukkan bahwa nilai seperti menghormati giliran, menjaga ketertiban, dan tidak mengambil hak orang lain dapat tumbuh melalui kebiasaan sosial yang dipelihara secara konsisten.

Ketertiban tidak hanya dibentuk oleh aturan. Ia juga membutuhkan kesadaran bahwa orang lain memiliki hak yang sama dengan diri kita.

Pancasila Harus Hidup dalam Perilaku

Saya tetap bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Kita memiliki tradisi gotong royong, tenggang rasa, tepa selira, dan kepedulian terhadap sesama.

Namun, kebanggaan itu tidak boleh membuat kita berhenti belajar.

Pancasila tidak hanya perlu hadir dalam upacara, ruang kelas, pidato kenegaraan, atau dokumen resmi. Pancasila harus hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Ia harus terlihat ketika kita mengantre, menggunakan jalan raya, mendapatkan pelayanan publik, berinteraksi dengan tetangga, atau berhadapan dengan seseorang yang tidak kita kenal.

Apa arti kemanusiaan yang adil dan beradab jika kita tidak bersedia menghormati giliran orang lain?

Apa arti keadilan jika kita merasa berhak memperoleh keistimewaan dengan mengorbankan hak sesama?

Bagi saya, nenek di tengah salju itu telah memberikan pelajaran yang sederhana tetapi mendalam.

Ia tidak sedang berpidato tentang keadilan. Ia tidak sedang mengajarkan teori etika.

Ia hanya menjalankan apa yang menurutnya benar.

Dan justru karena itulah tindakannya terasa begitu kuat.

Sebuah bangsa tidak hanya dinilai dari betapa luhur nilai-nilai yang dimilikinya, tetapi juga dari seberapa jauh nilai-nilai itu hidup dalam perilaku warganya.

Mungkin, kita tidak perlu pergi jauh ke Inggris untuk memulai perubahan.

Kita sebenarnya hanya perlu belajar menghormati giliran, tidak menyerobot hak orang lain, dan menyadari bahwa kepentingan kita bukanlah satu-satunya kepentingan yang perlu diperhatikan. Hal-hal sederhana seperti inilah yang menjadi fondasi kehidupan bersama yang tertib, adil, dan beradab.

Karena itu, saya mengimbau seluruh guru di pelosok negeri tercinta ini agar tidak pernah lelah mengajarkan sekaligus membiasakan budaya antre kepada anak-anak didik kita. Jangan hanya menjelaskan bahwa menyerobot antrean itu tidak baik, tetapi tunjukkan melalui keteladanan dan praktik sehari-hari. Sebab, karakter tidak cukup dibentuk melalui nasihat; karakter tumbuh dari kebiasaan yang terus-menerus dilakukan.

Terkadang, pelajaran terbesar tentang keluhuran budi justru datang dari seseorang yang tidak pernah kita kenal. Seorang nenek di tengah salju pernah mengajarkan kepada saya bahwa menghormati hak orang lain bukan sekadar sopan santun, melainkan cerminan dari kualitas kemanusiaan kita.

Bersambung ke Seri 2: Ketika Tidak Ada yang Mengawasi, Siapa yang Menjaga Kita Tetap Tertib?

* ) Kasi Kominfo BPIC Kaltim.