Semua orang ingin didengar, lalu siapa yang akan mendengar?
Oleh: Djoko Iriandono, S.E., M.A.
Suatu hari saya duduk di sebuah warung kopi. Di meja sebelah, beberapa orang sedang berbincang hangat. Namun, semakin lama saya perhatikan, sebenarnya mereka tidak sedang berbincang. Mereka sedang bergantian berbicara.
Satu orang menyampaikan pendapatnya panjang lebar. Belum selesai lawan bicaranya memahami, orang lain sudah memotong dengan cerita yang berbeda. Tidak ada yang benar-benar mendengarkan. Semua ingin menyampaikan pendapat masing-masing. Semua ingin didengar.
Pemandangan seperti itu kini semakin sering kita temui. Bukan hanya di warung kopi, tetapi juga di ruang keluarga, ruang rapat, ruang kelas, bahkan di media sosial. Semua orang berbicara. Semua orang berkomentar. Semua orang merasa perlu menyampaikan pandangan. Namun, semakin banyak suara yang terdengar, semakin sedikit telinga yang benar-benar mendengar.
Kita hidup di zaman yang sangat bising.
Era Ketika Semua Orang Memiliki Panggung
Dahulu, untuk menyampaikan pendapat kepada publik tidaklah mudah. Seseorang harus menulis di surat kabar, berbicara di forum, atau tampil di media massa. Tidak semua orang memiliki kesempatan itu.
Kini keadaan berubah drastis. Dengan sebuah telepon genggam di tangan, siapa pun dapat memiliki panggungnya sendiri. Satu unggahan dapat dibaca oleh ribuan orang. Satu komentar dapat memicu perdebatan panjang. Satu video dapat menyebar ke seluruh negeri dalam hitungan jam.
Fenomena ini sesungguhnya merupakan kemajuan yang luar biasa. Demokratisasi informasi memungkinkan setiap orang menyuarakan gagasannya. Namun, seperti pisau bermata dua, kemajuan ini juga membawa konsekuensi.
Ketika semua orang memiliki mikrofon, siapa yang masih memegang fungsi pendengar?
Media sosial secara tidak sadar mendorong kita untuk lebih banyak berbicara daripada mendengar. Kita berlomba membuat status, mengunggah foto, menulis komentar, dan menyampaikan pendapat. Bahkan sering kali kita merespons sebelum benar-benar memahami apa yang sedang dibahas.
Yang penting cepat.
Yang penting terlihat.
Yang penting ikut berkomentar.
Padahal tidak semua hal harus segera ditanggapi. Tidak semua perbedaan harus diperdebatkan.
Mendengar Bukan Sekadar Diam
Banyak orang mengira mendengar adalah aktivitas pasif. Cukup diam ketika orang lain berbicara. Padahal mendengar yang sesungguhnya adalah pekerjaan yang tidak mudah.
Mendengar berarti memberi ruang kepada orang lain untuk menyampaikan pikirannya.
Mendengar berarti berusaha memahami sebelum menilai.
Mendengar berarti menahan diri untuk tidak langsung menyela.
Mendengar berarti membuka kemungkinan bahwa kita tidak selalu benar.
Di sinilah tantangannya.
Ego manusia sering kali lebih suka berbicara daripada mendengar. Kita ingin pendapat kita diterima. Kita ingin dianggap pintar. Kita ingin diakui. Tanpa sadar, kita lebih sibuk menyiapkan jawaban daripada memahami pertanyaan.
Akibatnya, percakapan berubah menjadi kompetisi. Setiap orang ingin menang. Setiap orang ingin menjadi yang paling benar.
Ketika itu terjadi, dialog kehilangan maknanya.
Keluarga yang Kehilangan Pendengarnya
Salah satu dampak paling nyata dari hilangnya budaya mendengar adalah di lingkungan keluarga.
Banyak orang tua mengeluhkan anak-anak yang sulit diajak bicara. Sebaliknya, banyak anak merasa orang tuanya tidak memahami mereka.
Sesungguhnya masalahnya sering kali bukan kurangnya komunikasi, melainkan kurangnya mendengar.
Orang tua sibuk memberi nasihat tetapi lupa mendengarkan kegelisahan anaknya.
Anak-anak sibuk mempertahankan pendapat mereka tetapi lupa memahami kekhawatiran orang tuanya.
Akhirnya rumah yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman justru menjadi ruang yang penuh jarak.
Tidak sedikit konflik keluarga yang sebenarnya dapat diselesaikan apabila masing-masing pihak bersedia mendengar dengan hati yang terbuka.
Pendidikan yang Terlalu Banyak Berbicara
Sebagai orang yang puluhan tahun berkecimpung di dunia pendidikan, saya melihat persoalan serupa terjadi di sekolah.
Guru sering diminta mengajar dengan baik. Siswa diminta belajar dengan baik. Namun, ada satu keterampilan penting yang jarang diajarkan secara serius, yaitu kemampuan mendengar.
Padahal proses belajar sejatinya dimulai dari mendengar.
Guru yang baik bukan hanya pandai menjelaskan, tetapi juga mampu mendengarkan muridnya.
Kepala sekolah yang baik bukan hanya mampu memberi instruksi, tetapi juga mau mendengar guru-gurunya.
Pemimpin yang baik bukan hanya mampu berbicara di depan publik, tetapi juga mampu menyerap aspirasi yang berkembang.
Sering kali solusi atas berbagai persoalan pendidikan sebenarnya sudah ada di lapangan. Namun, karena para pengambil keputusan lebih banyak berbicara daripada mendengar, solusi itu tidak pernah muncul ke permukaan.
Bangsa yang Terlalu Cepat Menilai
Kita juga hidup di era ketika seseorang dapat dihakimi hanya berdasarkan potongan video beberapa detik.
Orang dapat dicap baik atau buruk tanpa proses klarifikasi.
Seseorang bisa menjadi pahlawan hari ini dan menjadi sasaran hujatan keesokan harinya.
Mengapa hal itu terjadi?
Karena kita semakin kehilangan kesabaran untuk mendengar cerita secara utuh.
Kita lebih menyukai kesimpulan cepat daripada pemahaman yang mendalam.
Padahal kehidupan manusia tidak sesederhana judul berita.
Ada konteks yang harus dipahami.
Ada latar belakang yang perlu diketahui.
Ada sisi lain yang belum tentu terlihat.
Mendengar mengajarkan kita untuk tidak tergesa-gesa dalam menilai.
Rasulullah SAW: Teladan dalam Mendengar
Dalam sejarah Islam, Rasulullah SAW memberikan teladan luar biasa dalam hal mendengar.
Beliau mendengarkan sahabat, mendengarkan orang miskin, mendengarkan anak-anak, bahkan mendengarkan orang yang berbeda pandangan dengannya.
Beliau tidak selalu langsung memotong pembicaraan. Beliau memberikan kesempatan kepada lawan bicara untuk menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya.
Karena itulah, banyak hati yang luluh bukan hanya karena kata-kata beliau, tetapi juga karena sikap beliau yang menghargai orang lain.
Mendengar ternyata bukan sekadar keterampilan komunikasi. Mendengar adalah bentuk penghormatan kepada sesama manusia.
Ketika kita mendengar seseorang dengan sungguh-sungguh, kita sedang mengatakan, "Kamu penting. Apa yang kamu rasakan dan pikirkan layak untuk didengar."
Belajar Menjadi Pendengar
Mungkin dunia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang pandai berbicara.
Kita sudah memiliki terlalu banyak pembicara.
Kita sudah memiliki terlalu banyak komentator.
Kita sudah memiliki terlalu banyak orang yang ingin tampil.
Yang kita butuhkan adalah lebih banyak pendengar.
Pendengar yang sabar.
Pendengar yang tulus.
Pendengar yang mampu memahami sebelum menghakimi.
Pendengar yang mencari kebenaran, bukan kemenangan.
Bayangkan jika para suami lebih banyak mendengarkan istrinya. Jika para orang tua lebih banyak mendengarkan anak-anaknya. Jika para guru lebih banyak mendengarkan muridnya. Jika para pemimpin lebih banyak mendengarkan rakyatnya.
Mungkin banyak konflik dapat dicegah.
Mungkin banyak kesalahpahaman dapat diselesaikan.
Mungkin banyak luka sosial dapat disembuhkan.
Penutup
Di tengah dunia yang semakin ramai oleh suara, kemampuan mendengar justru menjadi sesuatu yang langka.
Kita berlomba-lomba mencari perhatian, tetapi lupa memberikan perhatian.
Kita ingin dipahami, tetapi enggan memahami.
Kita ingin didengar, tetapi tidak menyediakan telinga untuk orang lain.
Barangkali sudah saatnya kita bertanya kepada diri sendiri:
Ketika semua orang ingin didengar, apakah saya masih bersedia menjadi orang yang mau mendengar?
Sebab sering kali perubahan besar tidak dimulai dari pidato yang panjang, melainkan dari kesediaan seseorang untuk mendengarkan dengan hati yang lapang.
Dan mungkin, di zaman yang penuh kebisingan ini, menjadi pendengar yang baik adalah salah satu bentuk kebijaksanaan yang paling dibutuhkan.
*) Kominfo BPIC Kaltim