Detail Update

Detail Update

Ketika Spanyol Mengajarkan Keberanian Moral kepada Dunia

Card image cap "La justicia no tiene religión. La humanidad no tiene fronteras." artinya: "Keadilan tidak memiliki agama. Kemanusiaan tidak mengenal batas."

Membela Palestina Bukan Semata Soal Agama, tetapi Soal Kemanusiaan

Oleh: Djoko Iriandono, S.E., M.A.*)

 

Sejarah sering menghadirkan ironi yang mengundang renungan.

Berabad-abad silam, Spanyol dikenal sebagai benteng Kekristenan di Eropa. Setelah runtuhnya pemerintahan Islam di Andalusia pada 1492, umat Islam dan Yahudi mengalami pengusiran, pemaksaan pindah agama, hingga berbagai bentuk diskriminasi. Peristiwa itu menjadi salah satu lembar kelam dalam sejarah hubungan antaragama.

Namun sejarah tidak pernah berhenti. Ia terus bergerak, mengubah cara pandang suatu bangsa.

Hari ini, Spanyol justru tampil sebagai salah satu negara Eropa yang paling berani menyuarakan hak-hak rakyat Palestina. Di saat banyak negara masih berhitung dengan kepentingan politik, ekonomi, dan tekanan diplomatik, Spanyol mengambil langkah yang tidak ringan dengan mengakui Negara Palestina dan menyerukan penghentian penderitaan warga sipil di Gaza.

Bagi banyak orang, terutama umat Islam, sikap tersebut menghadirkan pertanyaan yang menarik: mengapa keberanian moral itu justru datang dari sebuah negara yang mayoritas penduduknya bukan Muslim?

Jawabannya mungkin terletak pada satu nilai universal: kemanusiaan.

Belajar dari Sejarah

Sikap Spanyol hari ini bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Setelah mengalami Perang Saudara (1936–1939) dan puluhan tahun berada di bawah rezim otoriter Francisco Franco, bangsa Spanyol belajar bahwa kekerasan, penindasan, dan hilangnya kebebasan meninggalkan luka yang sangat dalam.

Ketika akhirnya memasuki era demokrasi, Spanyol membangun identitas baru yang lebih kuat dalam menjunjung hak asasi manusia, perdamaian, dan hukum internasional. Pengalaman sejarah itu tampaknya membentuk kepekaan moral mereka terhadap penderitaan bangsa lain.

Barangkali karena pernah merasakan pahitnya konflik, mereka lebih mudah memahami derita mereka yang hidup di bawah bayang-bayang peperangan.

Palestina dan Nurani Dunia

Selama bertahun-tahun, dunia menyaksikan penderitaan rakyat Palestina, khususnya di Gaza. Rumah-rumah hancur, rumah sakit rusak, sekolah porak-poranda, dan ribuan warga sipil menjadi korban. Berbagai lembaga internasional berulang kali mengingatkan besarnya dampak kemanusiaan dari konflik tersebut.

Di tengah kenyataan itu, nurani manusia akan bertanya: sampai kapan penderitaan ini harus berlangsung?

Al-Qur’an mengingatkan bahwa Allah tidak pernah lengah terhadap kezaliman.

“Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah hanya menangguhkan mereka sampai hari ketika mata (mereka) terbelalak.”
(QS. Ibrahim: 42)

Ayat ini memberikan harapan bahwa setiap bentuk kezaliman pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Membela Keadilan adalah Perintah Agama

Bagi umat Islam, Palestina memiliki nilai spiritual yang tinggi. Di sanalah berdiri Masjid Al-Aqsa, kiblat pertama kaum Muslimin dan salah satu masjid yang dimuliakan Allah. Tanah itu juga merupakan negeri para nabi.

Namun membela Palestina tidak boleh dipahami semata-mata sebagai persoalan identitas keagamaan. Yang lebih mendasar adalah membela nilai keadilan.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)

Ayat ini mengajarkan bahwa keadilan tidak boleh dipengaruhi oleh sentimen agama, suku, ataupun politik. Ketika warga sipil menjadi korban, ketika anak-anak kehilangan orang tua, ketika perempuan dan orang tua hidup dalam ketakutan, maka membela hak-hak mereka merupakan bagian dari amanat kemanusiaan yang diajarkan Islam.

Ketika Dunia Memilih Diam

Sikap Spanyol menunjukkan bahwa keberanian moral masih hidup. Mereka membuktikan bahwa membela nilai-nilai kemanusiaan tidak harus menunggu semua pihak sepakat.

Sebaliknya, dunia juga menyaksikan masih banyak negara yang memilih diam atau bersikap sangat hati-hati karena pertimbangan geopolitik, hubungan ekonomi, maupun kepentingan strategis lainnya. Tentu setiap negara memiliki kebijakan luar negerinya sendiri. Namun sejarah sering kali lebih mengingat keberanian moral daripada kenyamanan politik.

Pada akhirnya, sejarah akan mencatat siapa yang memilih bersuara ketika kemanusiaan sedang diuji.

Pelajaran bagi Umat Islam

Peristiwa ini juga menjadi cermin bagi umat Islam. Jangan sampai kepedulian kepada Palestina berhenti pada slogan, emosi sesaat, atau perdebatan di media sosial.

Al-Qur’an memberikan pesan yang sangat menggugah:

“Mengapa kamu tidak berjuang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya zalim…’”

(QS. An-Nisa’: 75)

Dalam konteks saat ini, perjuangan itu dapat diwujudkan melalui doa, bantuan kemanusiaan melalui lembaga yang terpercaya, dukungan terhadap upaya diplomasi damai, edukasi kepada generasi muda, serta terus menyuarakan pentingnya penghormatan terhadap hukum humaniter internasional dan perlindungan warga sipil.

Lebih dari itu, kita juga harus menghadirkan keadilan dalam kehidupan kita sendiri. Tidaklah bijak menyerukan keadilan untuk dunia, sementara di lingkungan kita masih membiarkan ketidakadilan tumbuh.

Penutup

Sikap Spanyol mengingatkan kita bahwa hati nurani tidak mengenal batas agama maupun kebangsaan. Sebuah bangsa dapat berubah ketika belajar dari sejarahnya. Sebuah negara dapat dihormati ketika berani berdiri di pihak nilai-nilai kemanusiaan.

Semoga semakin banyak negara yang memiliki keberanian moral seperti itu. Semoga konflik yang berkepanjangan di Palestina dapat berakhir melalui jalan yang adil dan damai, sehingga rakyat Palestina maupun Israel sama-sama dapat hidup aman, bermartabat, dan terbebas dari kekerasan.

Allah SWT menegaskan:

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kaum kerabat; dan Dia melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan.”

(QS. An-Nahl: 90)

Ayat yang selalu mengakhiri banyak khutbah Jumat itu seakan menjadi pengingat bahwa peradaban yang mulia hanya dapat dibangun di atas fondasi keadilan. Dan ketika dunia mulai kehilangan keberanian untuk membela keadilan, siapa pun yang berani menyuarakannya—apa pun agama dan bangsanya—telah memberikan pelajaran berharga bagi umat manusia.

Wallāhu a’lam biṣ-ṣawāb.


*) Kominfo BPIC Kaltim

 

TAGS