Detail Update

Detail Update

Menyongsong Pensiun dengan Hati Tenang

Card image cap Pensiun bukan akhir tetapi awal untuk kehidupan yang lebih bermanfaat

Menyongsong Pensiun dengan Hati Tenang: Refleksi Enam Tahun Merdeka

Oleh: Djoko Iriandono, S.E. M.A.*)

 

Alhamdulillah. Enam tahun lebih sudah saya menjalani kehidupan sebagai pensiunan.

Kadang saya masih tersenyum sendiri ketika mengingat masa-masa dulu. Pagi hari berangkat kerja dengan pikiran penuh agenda. Ada rapat yang harus dipimpin, kebijakan yang harus diputuskan, anggaran yang harus disusun dan dipertanggungjawabkan. Ada bawahan yang harus diarahkan, persoalan yang harus diselesaikan, bahkan urusan yang sebenarnya sederhana tetapi bisa menjadi panjang karena birokrasi.

Kini semua itu tinggal kenangan.

Saya tidak lagi dikejar rapat, target, laporan, disposisi, ataupun tenggat waktu. Tidak ada lagi telepon yang masuk sejak pagi menanyakan pekerjaan yang belum selesai. Tidak ada lagi rasa waswas menghadapi rapat koordinasi atau harus menjelaskan sebuah keputusan yang pernah dibuat.

Bukan berarti kehidupan menjadi tanpa tanggung jawab. Justru saya merasa tanggung jawab itu kini berubah bentuk.

Kalau dulu saya sibuk mengurus pekerjaan dan banyak urusan orang lain, sekarang saya lebih banyak belajar mengurus diri sendiri. Memperbaiki ibadah, memperbanyak waktu bersama keluarga, menjaga kesehatan, membaca, menulis, berbagi pengalaman, dan perlahan menyiapkan bekal untuk perjalanan yang jauh lebih panjang.

Sebab kita semua tahu, masa pensiun dari pekerjaan bukan berarti pensiun dari kehidupan.

Bersyukur Masih Diberi Kesempatan

Hal yang paling saya syukuri setelah memasuki masa pensiun bukanlah banyaknya waktu luang. Bukan pula karena terbebas dari kesibukan kantor.

Saya bersyukur masih diberi umur, kesehatan, dan kesempatan untuk menikmati hari-hari dengan lebih tenang.

Semakin bertambah usia, semakin saya menyadari bahwa kesehatan adalah salah satu bentuk anugerah dari Allah SWT yang sering kita abaikan ketika masih muda.

Dulu, tidur larut malam terasa biasa. Makan pun hampir tidak pernah banyak pertimbangan. Selama halal dan rasanya enak di lidah, semuanya terasa boleh saja. Jarang terpikir apakah makanan yang dikonsumsi mengandung terlalu banyak kolesterol, gula, atau hal-hal lain yang bisa berdampak pada kesehatan.

Kini, saya mulai memahami bahwa tubuh juga memiliki batas. Apa yang dulu terasa sepele, perlahan bisa menjadi sesuatu yang harus diperhatikan.

Saya menyaksikan sendiri beberapa teman sejawat yang setelah pensiun justru mengalami berbagai masalah kesehatan. Ada yang terkena stroke, ada yang mengalami tekanan mental, ada yang sakit berkepanjangan. Bahkan ada pula yang tidak sempat menikmati masa pensiunnya karena lebih dahulu dipanggil Allah.

Ada yang usianya lebih muda daripada saya. Ada yang secara karier masih sangat baik. Ada yang masih memiliki banyak rencana.

Namun kehidupan mengajarkan satu hal yang sederhana, yaitu: manusia boleh membuat rencana, tetapi umur berada di tangan Allah.

Karena itu, ketika hari ini kita masih diberi kesempatan untuk bangun pagi, menghirup udara segar, bercengkerama dengan keluarga, berjalan tanpa bantuan orang lain, atau sekadar menikmati secangkir kopi sambil membaca, sesungguhnya itu adalah nikmat yang luar biasa.

Pensiun mengajarkan saya untuk lebih menghargai hal-hal sederhana.

Jangan Kehilangan Semangat

Banyak orang menganggap usia 50 tahun ke atas sebagai masa ketika seseorang mulai kehilangan kesempatan untuk berkarya.

Saya tidak setuju.

Justru setelah melewati puluhan tahun kehidupan, seseorang memiliki sesuatu yang tidak mudah diperoleh dari buku atau bangku sekolah, yaitu: pengalaman.

Kita mungkin tidak lagi secepat anak-anak muda dalam berlari. Tetapi kita memiliki lebih banyak pengalaman tentang jalan mana yang pernah membawa kita jatuh dan jalan mana yang pernah membawa kita sampai.

Karena itu, jangan biarkan usia mematikan semangat.

Ada sebuah ungkapan yang sangat terkenal dalam tradisi Islam. Saya lupa kalimat lengkapnya. Namun isinya kurang lebih begini:

“Seandainya engkau mengetahui bahwa esok hari akan terjadi hari kiamat sementara di tanganmu terdapat sebuah bibit tanaman, maka hendaklah engkau menanamnya.”

Pesannya sederhana tetapi dalam. Berbuat baik tidak harus menunggu kepastian bahwa kita akan menikmati hasilnya.

Tanamlah, meskipun mungkin bukan kita yang akan memetik buahnya.

Begitu pula dengan kehidupan setelah pensiun. Jangan bertanya, “Apa lagi yang bisa saya lakukan di usia saya?”

Lebih baik bertanya, “Apa yang masih bisa saya berikan?”

Kita masih bisa menulis. Kita masih bisa mengajar. Kita masih bisa membimbing anak muda. Kita masih bisa aktif di masjid dan lingkungan. Kita masih bisa berbagi pengalaman kepada keluarga dan masyarakat.

Selama masih diberi umur, masih ada kesempatan untuk menjadi manusia yang bermanfaat.

Tutup Pengabdian dengan Nama Baik

Ada satu hal yang menurut saya sangat penting bagi siapa pun yang mendekati masa pensiun, yaitu: selesaikan pengabdian dengan sebaik-baiknya.

Jangan karena merasa beberapa bulan atau beberapa tahun lagi akan pensiun, lalu kita mulai mengurangi integritas.

Jangan berpikir, “Sebentar lagi saya selesai. Tidak akan ada yang mempermasalahkan.”

Justru di masa-masa terakhir itulah karakter seseorang sering kali diuji.

Saya teringat sebuah kisah tentang seorang tukang kayu yang sangat terampil.

Ia bukan tukang kayu biasa. Kemampuannya dalam membangun rumah dan gedung begitu baik sehingga seorang developer mempercayainya untuk merancang bangunan sekaligus memimpin para tukang dalam berbagai proyek.

Bertahun-tahun ia bekerja dengan hasil yang memuaskan. Bangunan yang dikerjakannya kokoh, rapi, dan indah. Karena keahliannya, nama perusahaan semakin dikenal. Sang bos pun sangat menghargainya.

Namun usia terus berjalan.

Tenaganya tidak lagi sekuat dulu. Ia mulai merasa lelah. Sepulang bekerja, tubuhnya membutuhkan waktu lebih lama untuk beristirahat. Ia mulai membayangkan kehidupan yang lebih sederhana, yatu: bangun pagi tanpa tergesa-gesa, menghabiskan waktu bersama istri dan anak-anak, menikmati hari tua dengan tenang.

Setelah berdiskusi dengan seluruh keluarganya, ia pun menyampaikan keinginannya kepada sang bos untuk pensiun.

Bosnya keberatan.

“Tenaga dan pengalamanmu masih sangat kami butuhkan,” katanya. “Selama ini kinerjamu sangat baik. Banyak kemajuan yang kita capai berkat kemampuanmu.”

Tetapi keputusan sang tukang kayu sudah bulat. Istri dan anak-anaknya terus mendorong agar ia beristirahat. Mereka merasa sudah waktunya sang ayah menikmati masa tua setelah puluhan tahun bekerja.

Akhirnya sang bos mengalah.

“Baiklah,” katanya. “Kalau memang itu keputusanmu, saya tidak akan menghalangi. Tetapi saya punya satu permintaan. Sebelum pensiun, tolong selesaikan satu rumah terakhir.”

Sang tukang kayu menyanggupinya.

“Untuk rumah yang terakhir ini,” lanjut sang bos, “silakan kamu sendiri yang memilih seluruh bahannya.”

Sang tukang kayu mulai bekerja.

Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Pikirannya sudah tidak lagi berada di proyek. Ia sudah membayangkan kehidupan setelah pensiun. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaan dan pulang menikmati hari-hari bersama keluarganya.

Karena merasa ini adalah pekerjaan terakhir, ia bekerja sekadarnya.

Bahan-bahan yang dipilihnya tidak sebagus biasanya. Ia mengurangi berbagai hal yang menurutnya tidak terlalu penting. Pekerjaan yang dahulu selalu ia kerjakan dengan teliti, kali ini dilakukan seadanya.

Tidak ada lagi semangat seperti ketika ia masih muda.

Yang ada di kepalanya hanya satu, yaitu: sebentar lagi saya pensiun.

Rumah itu pun selesai sesuai batas waktu.

Tetapi rumah tersebut jauh dari standar yang selama ini menjadi kebanggaannya. Tidak jelek, tetapi biasa saja. Bahkan jika dibandingkan dengan bangunan-bangunan yang pernah ia kerjakan, rumah itu terasa sangat mengecewakan.

Ia kemudian datang menemui bos untuk menyerahkan kunci.

“Saya sudah menyelesaikan rumah terakhir itu,” katanya.

Sang bos menerima kunci tersebut. Lalu, di luar dugaan, ia menyerahkan kembali kunci itu kepada sang tukang kayu.

“Rumah ini untukmu,” katanya. “Anggap sebagai hadiah dan ucapan terima kasih atas pengabdianmu selama ini.”

Sang tukang kayu terdiam.

Wajahnya berubah.

Baru saat itulah ia menyadari apa yang telah dilakukannya.

Rumah yang dibangun dengan bahan seadanya, dikerjakan tanpa kesungguhan, dan jauh dari kualitas terbaik itu ternyata akan menjadi rumah yang ia tempati sendiri.

Ia merasa malu.

Ia menyesal.

Seandainya ia tahu rumah itu untuk dirinya, tentu ia akan memilih bahan terbaik. Ia akan mengerjakannya dengan penuh perhatian. Ia akan memastikan setiap sudutnya kokoh dan nyaman.

Tetapi semuanya sudah terlambat.

Kini ia harus tinggal di rumah yang dibangunnya sendiri sampai akhir hayatnya.

Kisah itu selalu mengingatkan saya pada satu hal, yaitu: pekerjaan terakhir kita mungkin saja menjadi rumah yang kelak kita tempati.

Karena itu, jangan pernah mengurangi kualitas pengabdian hanya karena kita merasa perjalanan sudah hampir selesai.

Jangan biarkan kalimat “sebentar lagi pensiun” menjadi alasan untuk bekerja asal-asalan.

Sebab yang kita tinggalkan bukan sekadar bangunan, laporan, jabatan, atau proyek. Kita sedang meninggalkan nama, kehormatan, dan jejak kehidupan.

Allah berfirman:

“Dan katakanlah, bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin…”
(QS. At-Taubah: 105)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa pekerjaan kita tidak pernah benar-benar tersembunyi.

Ada manusia yang melihat, tetapi ada pula Allah Yang Maha Melihat.

Maka, selesaikan amanah dengan sebaik-baiknya, sampai hari terakhir.

Jangan Menunggu Pensiun untuk Membuat Rencana

Ada satu kesalahan yang sering dilakukan orang, yaitu: baru memikirkan kehidupan setelah pensiun ketika masa pensiun sudah tiba.

Menurut saya, persiapan itu seharusnya dimulai jauh sebelumnya.

Sebab yang hilang ketika seseorang pensiun bukan hanya pekerjaan. Ia juga kehilangan sebagian penghasilannya, rutinitas, lingkungan pergaulan, status sosial, dan kesibukan yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari kehidupannya.

Karena itu, pensiun tidak seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang baru dipikirkan ketika waktunya sudah dekat. Persiapannya justru perlu dilakukan jauh-jauh hari, ketika kita masih memiliki tenaga, penghasilan, jaringan pergaulan, dan kesempatan untuk mencoba berbagai hal.

Persiapan pertama tentu saja adalah keuangan. Jangan sampai ketika penghasilan rutin berhenti atau berkurang, kita baru menyadari bahwa kebutuhan hidup terus berjalan. Dana pensiun, tabungan, investasi yang sehat, pengelolaan utang, serta perencanaan kebutuhan keluarga perlu dipikirkan sejak masih aktif bekerja.

Namun, persiapan pensiun tidak cukup hanya dengan uang. Kesehatan juga harus dijaga. Masa pensiun akan terasa jauh lebih menyenangkan jika tubuh masih cukup kuat untuk bergerak, bepergian, beribadah, berkumpul dengan keluarga, dan melakukan berbagai kegiatan yang kita sukai.

Yang tidak kalah penting adalah mempersiapkan kegiatan setelah pensiun. Jangan menunggu sampai hari terakhir bekerja untuk mencari kesibukan. Mulailah sejak sekarang menemukan aktivitas yang membuat kita merasa berguna. Bisa dengan mengembangkan hobi, berkebun, menulis, mengajar, berwirausaha, aktif di masjid, terlibat dalam kegiatan sosial, atau mendalami ilmu yang selama ini belum sempat dipelajari.

Lingkungan pergaulan juga perlu dipelihara. Ketika masih bekerja, kita hampir setiap hari bertemu rekan kerja. Setelah pensiun, pertemuan itu bisa berkurang drastis. Karena itu, bangunlah hubungan yang lebih luas dengan keluarga, tetangga, komunitas, organisasi sosial, dan lingkungan keagamaan. Jangan sampai dunia pergaulan kita ikut pensiun hanya karena pekerjaan telah berakhir.

Ada pula yang sering terlupakan, yaitu kesiapan mental dan spiritual. Selama bertahun-tahun, identitas kita mungkin sangat melekat pada jabatan dan pekerjaan. Ketika jabatan itu tidak lagi ada, kita perlu memahami bahwa harga diri seseorang tidak ditentukan oleh pangkat, jabatan, atau seberapa besar ruang kerjanya. Nilai diri justru semakin terasa ketika kita mampu tetap bermanfaat bagi orang lain.

Karena itu, persiapan pensiun sesungguhnya adalah persiapan untuk menjalani kehidupan dengan cara yang berbeda. Kita perlu menyiapkan uang agar hidup tetap tenang, menjaga kesehatan agar tetap aktif, membangun relasi agar tidak merasa sendiri, menemukan kegiatan agar hari-hari tidak terasa kosong, dan memperkuat kehidupan spiritual agar memiliki pegangan ketika kesibukan dunia mulai berkurang.

Jangan menunggu pensiun untuk mulai memikirkan kehidupan setelah pensiun. Masa pensiun yang baik dibangun jauh sebelum hari pensiun tiba.

Sebab ketika waktunya datang, kita tidak lagi bertanya, “Setelah pensiun, saya mau melakukan apa?” Kita sudah tahu ke mana harus melangkah.

Karena itu, bagi yang sudah pensiun jangan biarkan hari-hari menjadi ruang kosong.

Isi dengan kegiatan yang bermakna.

Perbanyak ibadah. Hadiri majelis ilmu. Dekatkan diri kepada masjid. Luangkan lebih banyak waktu bersama keluarga.

Kembangkan hobi yang dulu tertunda. Berkebun, memancing, membaca, fotografi, memasak, bepergian, atau belajar sesuatu yang baru. Tapi ingat jangan yang banyak menggunakan tenaga fisik, karena bagaimanapun fisik kita telah banyak mengalami penurunan fungsi.

Kalau memiliki kemampuan dan tenaga, lakukan usaha kecil yang menyenangkan. Tidak perlu mengejar keuntungan besar. Yang penting ada aktivitas dan rasa percaya diri bahwa kita masih mampu menghasilkan sesuatu.

Bagi saya sendiri, menulis menjadi salah satu cara menikmati masa pensiun. Melalui tulisan, pengalaman yang kita miliki dapat dibagikan kepada orang lain. Barangkali tidak semuanya berguna, tetapi siapa tahu ada satu kalimat yang kelak menjadi pengingat bagi seseorang untuk tetap berjuang dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi segala cobaan hidup.

Bukankah menyenangkan jika pengalaman hidup kita masih bisa memberi manfaat, meskipun kita sudah tidak lagi berada di kantor?

Pensiun Bukan Berarti Berhenti

Enam tahun lebih menjalani masa pensiun membuat saya semakin memahami bahwa pensiun bukanlah akhir perjalanan.

Ia hanya pergantian peran.

Dulu kita mungkin dikenal karena jabatan. Setelah pensiun, jabatan itu perlahan hilang. Kartu nama tidak lagi mencantumkan gelar dan posisi seperti dulu. Teelepon genggampun juga semakin jarang berdering.

Namun sesungguhnya ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada jabatan, yaitu: siapa diri kita ketika jabatan itu sudah tidak ada.

Di situlah kita belajar membedakan antara hidup untuk pekerjaan dan hidup untuk kehidupan.

Pensiun memberi kesempatan untuk kembali kepada hal-hal yang mungkin selama ini terlewatkan. Lebih banyak waktu untuk keluarga. Lebih banyak kesempatan untuk beribadah. Lebih banyak ruang untuk membaca, berpikir, bersyukur, dan berbagi.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
(HR. Ahmad)

Hadis ini mengingatkan bahwa ukuran keberhargaan seseorang bukan semata-mata jabatan, kekayaan, atau panjangnya daftar prestasi.

Selama masih mampu memberi manfaat, kita masih memiliki alasan untuk bangun setiap pagi dengan penuh syukur.

Maka, bagi sahabat-sahabat yang sebentar lagi memasuki masa pensiun, jangan takut.

Siapkan hati. Siapkan kesehatan. Siapkan keuangan. Siapkan kegiatan. Dan yang paling penting, siapkan bekal untuk kehidupan setelah kehidupan ini.

Pensiun boleh mengakhiri masa kerja, tetapi jangan biarkan ia mengakhiri semangat untuk berbuat baik.

Nikmatilah hari-hari yang Allah berikan.

Bangunlah dengan rasa syukur. Jalani dengan tenang. Berbuatlah semampu kita. Jangan terlalu sibuk menghitung berapa lama lagi waktu yang tersisa.

Sebab yang lebih penting bukan berapa panjang usia yang kita miliki, melainkan apa yang kita lakukan dengan usia itu.

Enam tahun menjalani masa pensiun membuat saya semakin yakin yaitu bahwa kemerdekaan yang sesungguhnya bukan ketika kita terbebas dari pekerjaan, melainkan ketika hati kita mulai terbebas dari ambisi yang berlebihan, kecemasan tentang masa lalu, dan ketakutan terhadap masa depan.

Yang tersisa adalah rasa syukur.

Dan semoga rasa syukur itu mengantarkan kita kepada ketenangan, hingga suatu hari nanti Allah memanggil kita pulang dalam keadaan hati yang tenang dan diridai-Nya.

Aamiin.