Kebenaran kabur di era AI
Oleh: Djoko Iriandono, S.E., M.A*)
Seorang teman pernah berkata, “Sekarang ini kita harus hati-hati. Yang kita lihat belum tentu benar. Yang kita dengar belum tentu pernah diucapkan. Bahkan wajah seseorang pun bisa dibuat mengatakan sesuatu yang tidak pernah ia katakan.”
Kalimat sederhana itu terasa semakin masuk akal ketika kita melihat perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Dulu, kita percaya kepada sebuah foto karena foto dianggap sebagai rekaman sebuah peristiwa. Kita percaya kepada suara karena suara dianggap berasal dari orang yang kita kenal. Kita percaya kepada video karena kamera dianggap merekam apa yang benar-benar terjadi.
Sekarang semuanya berubah.
Wajah dapat ditiru. Suara dapat dibuat. Video dapat direkayasa. Seseorang dapat terlihat berbicara tentang sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ia katakan. Bahkan tulisan yang tampak begitu meyakinkan dapat dihasilkan dalam hitungan detik oleh mesin.
Pertanyaannya bukan lagi sekadar, “Apa yang bisa dilakukan AI?”
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, “Bagaimana manusia menemukan kebenaran ketika sesuatu yang palsu dapat dibuat menyerupai kenyataan?”
Di titik inilah perkembangan teknologi bersentuhan dengan persoalan yang jauh lebih tua daripada teknologi itu sendiri, yaitu: fitnah, kebohongan, kesaksian palsu, dan hilangnya kemampuan manusia membedakan yang benar dari yang salah.
Empat belas abad yang lalu, Rasulullah SAW telah mengingatkan umatnya tentang datangnya masa ketika ukuran-ukuran kebenaran menjadi kacau.
Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya. Pada masa itu orang yang berdusta akan dibenarkan, orang yang jujur akan didustakan, orang yang berkhianat akan dipercaya, dan orang yang amanah akan dianggap berkhianat. Dan akan berbicara ar-Ruwaibidhah.”
Para sahabat bertanya, “Siapakah ar-Ruwaibidhah?”
Beliau menjawab:
“Orang yang bodoh atau tidak memiliki kapasitas berbicara mengenai urusan masyarakat.”
Hadits ini diriwayatkan dalam Sunan Ibnu Majah dan dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah.
Hadits tersebut tentu tidak sedang berbicara tentang teknologi kecerdasan buatan. Tidak tepat jika kita mengatakan bahwa Rasulullah SAW secara khusus telah meramalkan AI. Namun, gambaran tentang zaman ketika kebohongan dipercaya dan kebenaran justru dicurigai terasa sangat dekat dengan persoalan yang kita hadapi sekarang.
Teknologi tidak menciptakan kebohongan. Teknologi hanya membuat manusia memiliki kemampuan baru untuk menyebarkannya dengan kecepatan dan jangkauan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Bayangkan seseorang menerima sebuah video yang memperlihatkan seorang tokoh terkenal mengucapkan sesuatu yang kontroversial.
Video itu tampak nyata.
Suaranya terdengar asli.
Gerakan bibirnya sesuai.
Ekspresinya meyakinkan.
Tanpa memeriksa lebih jauh, orang tersebut membagikannya kepada teman-temannya. Beberapa menit kemudian, video itu beredar luas.
Orang lain melihatnya dan ikut percaya.
Tidak lama kemudian, muncul klarifikasi bahwa video tersebut palsu.
Tetapi persoalannya belum selesai. Nama baik seseorang sudah terlanjur tercemar. Persepsi publik sudah terbentuk. Sebagian orang bahkan mungkin tetap percaya pada video palsu itu meskipun sudah diberikan bukti bahwa video tersebut merupakan hasil rekayasa.
Inilah salah satu persoalan terbesar di era AI.
Kebenaran membutuhkan proses untuk dibuktikan, sementara kebohongan dapat dibuat dalam hitungan detik.
Karena itu, semakin canggih teknologi, semakin besar pula tanggung jawab manusia untuk berhati-hati terhadap apa yang dilihat, didengar, dan dibagikan.
Allah SWT telah memberikan prinsip yang sangat jelas:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
QS. Al-Hujurat: 6
Perintah fatabayyanu dalam ayat tersebut mengandung pesan yang sangat kuat, yaitu: jangan menerima berita begitu saja. Periksa terlebih dahulu sebelum mempercayai dan menyebarkannya.
Di zaman media sosial, pesan ini bukan sekadar nasihat moral. Ia merupakan kebutuhan.
Terlebih ketika sebuah gambar, suara, atau video tidak lagi dapat dianggap sebagai bukti dengan sendirinya.
Ada persoalan lain yang tidak kalah serius.
Kita hidup pada zaman ketika informasi begitu mudah diperoleh. Hampir semua pertanyaan dapat dijawab dalam hitungan detik. Mesin pencari menyediakan jutaan halaman. Media sosial menyediakan jutaan pendapat. AI bahkan mampu merangkum berbagai informasi menjadi jawaban yang tampak rapi dan meyakinkan.
Tetapi banyaknya informasi tidak selalu berarti bertambahnya ilmu.
Rasulullah SAW telah mengingatkan tentang hilangnya ilmu melalui wafatnya para ulama.
Beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari manusia, tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sampai ketika tidak tersisa seorang alim pun, manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Ketika mereka ditanya, mereka memberikan fatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
Hadits tersebut memberi pelajaran penting: persoalan ilmu bukan hanya tentang ada atau tidaknya informasi. Persoalannya juga tentang siapa yang memiliki kapasitas untuk memahami, menjelaskan, dan mempertanggungjawabkannya.
Inilah yang perlu kita renungkan ketika AI mulai digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan agama.
AI dapat membantu mencari ayat, hadits, kitab, atau pendapat ulama. Tetapi jawaban yang dihasilkan mesin tidak dengan sendirinya menjadi fatwa.
Sejumlah ulama kontemporer juga mengingatkan persoalan ini. Dalam pembahasan mengenai penggunaan AI untuk fatwa, dijelaskan bahwa AI dapat digunakan sebagai alat bantu penelitian dan pencarian bahan, tetapi jawabannya tetap harus diverifikasi dan tidak layak dijadikan pengganti ulama yang memiliki kompetensi keilmuan.
Pandangan ini sejalan dengan prinsip dasar tradisi keilmuan Islam.
Imam Syafi’i, sebagaimana dikutip dalam pembahasan tentang syarat seorang mufti, menekankan bahwa orang yang memberikan fatwa harus memiliki pengetahuan tentang Al-Qur’an, hadits, bahasa Arab, nasikh dan mansukh, konteks turunnya ayat, serta kemampuan memahami persoalan yang dihadapi manusia.
Dengan kata lain, ilmu bukan sekadar kemampuan memberikan jawaban.
Ilmu membutuhkan pemahaman.
Ilmu membutuhkan guru.
Ilmu membutuhkan adab.
Dan untuk persoalan tertentu, ilmu membutuhkan pengalaman membaca kenyataan manusia secara langsung.
Mesin mungkin dapat memberikan jawaban yang terdengar pintar. Tetapi kepintaran sebuah jawaban tidak otomatis menjadikannya kebenaran.
Bahaya yang perlu diwaspadai bukan hanya berita palsu.
Ada bahaya lain yang lebih halus, yaitu: manusia mulai menyerahkan kemampuan berpikirnya kepada mesin.
Ketika AI mengatakan sesuatu, kita percaya.
Ketika mesin memberikan kutipan, kita tidak memeriksa sumbernya.
Ketika jawaban AI terdengar islami, kita menganggapnya sebagai kebenaran agama.
Inilah yang dapat disebut sebagai taklid digital: menerima jawaban mesin tanpa melakukan pemeriksaan.
Padahal Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
QS. Al-Isra’: 36
Ayat ini terasa sangat relevan dengan kebiasaan kita hari ini.
Apa yang kita dengar akan dipertanggungjawabkan.
Apa yang kita lihat akan dipertanggungjawabkan.
Apa yang kita yakini dan ikuti pun akan dipertanggungjawabkan.
Maka, sekadar berkata “saya mendapat informasi dari AI” tidak dapat menjadi alasan untuk melepaskan tanggung jawab.
Mesin boleh membantu kita mencari.
Tetapi manusialah yang harus memastikan.
Mesin boleh membantu merangkum.
Tetapi manusialah yang harus memahami.
Mesin boleh memberikan kemungkinan jawaban.
Tetapi untuk persoalan agama yang membutuhkan fatwa, kita tetap membutuhkan orang yang memiliki ilmu dan amanah.
Ada satu bagian dari hadits tentang tahun-tahun penuh tipu daya yang terasa sangat dekat dengan kehidupan media sosial, yaitu: ar-Ruwaibidhah.
Rasulullah SAW menggambarkannya sebagai orang yang tidak memiliki kapasitas tetapi berbicara mengenai urusan publik. Hadits tersebut juga dikaitkan oleh para ulama dengan keadaan ketika orang-orang yang tidak memiliki keahlian justru tampil sebagai rujukan.
Hari ini, jumlah pengikut sering kali dianggap sebagai ukuran kebenaran.
Jutaan penonton dianggap sebagai bukti bahwa seseorang layak dipercaya.
Sebuah video yang viral dianggap lebih penting daripada penjelasan seorang ahli yang hanya ditonton sedikit orang.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.
Viral tidak sama dengan benar.
Banyak yang menyukai sebuah informasi tidak berarti informasi tersebut benar.
Banyak yang membagikan sebuah pendapat tidak berarti orang yang menyampaikannya memiliki ilmu.
Dan sebuah jawaban yang terdengar meyakinkan tidak otomatis menjadi kebenaran.
AI bahkan dapat memperkuat persoalan ini. Ia mampu menghasilkan tulisan yang terlihat cerdas, sistematis, dan meyakinkan. Jika manusia kehilangan kebiasaan untuk memeriksa sumber, maka kita dapat memasuki keadaan yang aneh yaitu: bukan manusia yang menggunakan teknologi, melainkan manusia yang perlahan mengikuti apa yang dihasilkan teknologi.
Kita tidak perlu menjadi takut kepada teknologi.
AI dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat. Ia dapat membantu pendidikan, penelitian, pelayanan publik, dunia usaha, kesehatan, dan berbagai pekerjaan manusia.
Yang perlu ditakuti bukan keberadaan teknologinya, melainkan ketika manusia kehilangan kendali moral atas penggunaannya.
Sebuah pisau dapat digunakan untuk memasak atau melukai.
Teknologi komunikasi dapat digunakan untuk menyebarkan ilmu atau fitnah.
AI dapat digunakan untuk membantu manusia menemukan pengetahuan, tetapi juga dapat digunakan untuk membuat kebohongan terlihat seperti kenyataan.
Karena itu, persoalannya kembali kepada manusia.
Allah SWT tidak memerintahkan kita untuk menolak segala sesuatu yang baru. Allah justru memberikan akal agar manusia dapat membedakan, menimbang, dan memilih.
Di tengah derasnya informasi, kita membutuhkan kembali tradisi yang mungkin terdengar sederhana tetapi sangat penting, yaitu: membaca, bertanya, memeriksa, dan tabayyun.
Jika sebuah berita menyangkut agama, tanyakan kepada ulama yang kompeten.
Jika menyangkut ilmu pengetahuan, lihat sumber ilmiahnya.
Jika menyangkut seseorang, jangan terburu-buru menuduh.
Jika sebuah video tampak mengejutkan, jangan langsung membagikannya.
Jika AI memberikan jawaban, jangan berhenti pada jawaban itu. Lihat sumber yang digunakan dan periksa apakah sumber tersebut benar-benar ada.
Mungkin inilah tantangan besar kita di zaman AI.
Bukan sekadar belajar menggunakan teknologi, tetapi belajar agar tidak kehilangan kebijaksanaan ketika menggunakannya.
Kita perlu menjadi manusia yang semakin canggih dalam teknologi, tetapi juga semakin rendah hati terhadap keterbatasan pengetahuan kita.
Kita perlu berani mengatakan, “Saya belum tahu.”
Kita perlu terbiasa mengatakan, “Saya harus memeriksanya terlebih dahulu.”
Dan kita perlu memiliki kerendahan hati untuk bertanya kepada orang yang memang lebih mengetahui.
Sebab Allah SWT telah mengingatkan bahwa manusia hanya diberi sedikit pengetahuan.
Teknologi mungkin membuat kita mampu menghasilkan ribuan kata dalam hitungan detik. Tetapi tidak semua kata adalah ilmu.
AI mungkin mampu membuat gambar yang sangat mirip kenyataan. Tetapi kemiripan bukanlah kebenaran.
Sebuah video mungkin tampak sempurna. Tetapi kesempurnaan visual bukan bukti bahwa peristiwa itu pernah terjadi.
Karena itu, jangan mudah percaya hanya karena sesuatu terlihat nyata.
Jangan mudah membagikan hanya karena sesuatu membuat kita marah.
Jangan menganggap benar hanya karena banyak orang mempercayainya.
Dan jangan menyerahkan pertanyaan-pertanyaan penting tentang agama dan kehidupan sepenuhnya kepada mesin.
Rasulullah SAW telah mengingatkan tentang zaman ketika kebohongan dipercaya, orang jujur didustakan, dan orang yang tidak memiliki kapasitas justru berbicara tentang urusan banyak orang.
Kita tidak perlu memastikan bahwa setiap perkembangan teknologi adalah bentuk langsung dari ramalan tersebut. Yang lebih penting adalah mengambil peringatannya.
Ketika kebohongan semakin mudah dibuat, kejujuran harus semakin dijaga.
Ketika informasi semakin banyak, ilmu harus semakin dicari.
Ketika suara orang yang tidak tahu semakin keras, kita harus semakin dekat kepada orang yang berilmu.
Dan ketika batas antara kenyataan dan rekayasa semakin tipis, kita membutuhkan sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh mesin mana pun, yaitu: akal yang sehat, hati yang bersih, iman yang kokoh, dan keberanian untuk mencari kebenaran meskipun kebenaran itu tidak selalu viral.
Di situlah manusia tetap memiliki tanggung jawabnya.
Bukan menjadi lebih pintar daripada mesin.
Tetapi menjadi lebih bijaksana dalam menggunakannya.
*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim