Anak Krakatau Erupsi Lagi
KRAKATAU: KETIKA SEBUAH GUNUNG MEMBUAT DUNIA TERDIAM
Oleh: Dr. Ir. H. Irianto Lambrie, M.M.
Ketua Umum BPIC Kaltim
“Saya belum bisa pulang. Penerbangan ditunda sampai hari Senin karena Anak Krakatau erupsi.”
Itulah pesan pendek yang saya terima dari seorang teman beberapa saat lalu.
Kalimatnya sederhana. Tidak panjang. Tidak dramatis.
Tetapi entah mengapa, setelah membacanya saya justru terdiam sejenak.
Seseorang yang seharusnya sudah dalam perjalanan pulang harus menunda kepulangannya karena sebuah gunung di Selat Sunda sedang menunjukkan aktivitasnya.
Bagi teman saya, erupsi Anak Krakatau mungkin berarti perubahan jadwal penerbangan.
Bagi saya, pesan itu seperti membuka kembali sebuah halaman sejarah yang pernah membuat dunia terdiam.
Krakatau.
Nama itu membawa kita kembali kepada sebuah peristiwa yang terjadi lebih dari satu abad lalu, ketika sebuah gunung di Selat Sunda meledak dengan kekuatan yang luar biasa.
Kita sering mengenal Krakatau hanya dari satu tanggal: 27 Agustus 1883.
Tetapi sesungguhnya, kisah Krakatau jauh lebih panjang daripada satu letusan.
Ada sejarah letusan sebelum 1883.
Ada pulau yang kemudian hampir lenyap.
Ada tsunami yang menelan ribuan kehidupan.
Ada suara ledakan yang terdengar ribuan kilometer jauhnya.
Ada langit dunia yang berubah warna.
Dan setelah kehancuran itu, dari laut justru muncul sebuah gunung baru.
Anak Krakatau.
Mungkin karena itulah pesan singkat dari teman saya tadi terasa lebih dari sekadar kabar tentang penerbangan yang tertunda.
Ia menjadi pengingat bahwa kisah Krakatau belum benar-benar selesai.
Dan dari sanalah saya kembali membaca kisahnya.
PAGI KETIKA DUNIA TERDIAM
Pagi 27 Agustus 1883.
Tidak banyak orang yang tahu bahwa hari itu mereka sedang menyaksikan salah satu bencana alam paling dahsyat dalam sejarah modern.
Di Selat Sunda, sebuah gunung sedang menuju puncaknya.
Namanya Krakatau.
Beberapa bulan sebelumnya, gunung itu sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Asap mengepul. Letusan-letusan kecil terdengar. Langit di sekitar gunung berubah.
Namun manusia mungkin belum menyadari satu hal:
Krakatau sedang mengumpulkan kekuatannya.
Lalu, pada 26 Agustus, letusan besar mulai mengguncang kawasan tersebut.
Keesokan harinya, 27 Agustus, rangkaian ledakan mencapai puncaknya.
Dan setelah itu...
dunia tidak pernah benar-benar sama.
Dalam Al-Qur'an, Allah mengingatkan manusia:
“Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa ujian merupakan bagian dari kehidupan manusia.
Namun bencana tidak semestinya membuat kita tergesa-gesa menghakimi orang yang menjadi korbannya. Kita tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang Allah kehendaki dari sebuah peristiwa.
Yang dapat kita lakukan adalah mengambil pelajaran, menjaga diri, membantu sesama, dan tetap bersabar.
SUARA YANG TERDENGAR RIBUAN KILOMETER
Bayangkan berada ribuan kilometer dari sebuah gunung.
Anda tidak melihat apinya.
Tidak melihat asapnya.
Tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Tetapi tiba-tiba terdengar suara ledakan yang luar biasa keras.
Itulah yang dilaporkan terjadi setelah Krakatau meledak.
Suara letusan terdengar hingga Perth, Australia, sekitar 3.000 kilometer lebih dari Krakatau.
Di Mauritius, yang jaraknya sekitar 4.800 kilometer, laporan mengenai suara ledakan juga tercatat.
Tekanan atmosfer akibat letusan bahkan tercatat menjalar mengelilingi bumi.
Krakatau seolah tidak hanya meledak di Selat Sunda.
Ia membuat seluruh planet ikut mendengar.
Ketika membaca kisah seperti ini, kita seperti sedang diingatkan betapa terbatasnya kekuatan manusia.
Al-Qur'an mengajak kita memperhatikan alam sebagai tanda-tanda kebesaran Allah:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
(QS. Ali 'Imran: 190)
Alam bukan sekadar sesuatu yang kita nikmati keindahannya.
Ada pelajaran yang dapat kita baca dari setiap peristiwa.
TETAPI SUARA BUKANLAH PEMBUNUH TERBESAR
Ada sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Air laut.
Letusan Krakatau memicu tsunami besar yang menghantam pesisir Banten dan Lampung.
Di beberapa lokasi, gelombangnya mencapai puluhan meter.
Bayangkan sebuah dinding air setinggi gedung belasan lantai bergerak menuju sebuah desa.
Dalam hitungan menit, rumah, pepohonan, jalan, dan manusia tersapu.
Tidak ada waktu untuk bersiap.
Tidak ada tempat berlindung yang cukup.
Desa-desa di sepanjang pantai lenyap.
Kapal-kapal besar terlempar ke daratan.
Dan ribuan manusia tidak pernah kembali.
Lebih dari 34.000 orang diperkirakan tewas akibat tsunami, sementara jumlah keseluruhan korban jiwa akibat bencana Krakatau mencapai lebih dari 36.000 orang.
Angka itu sulit dibayangkan.
Karena di balik setiap angka ada manusia.
Ada keluarga.
Ada anak-anak.
Ada orang tua.
Ada seseorang yang pagi itu mungkin masih berpikir bahwa hari tersebut akan menjadi hari biasa.
Dalam keadaan seperti itu, Islam mengajarkan agar manusia tidak kehilangan kasih sayang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika bencana datang, pertanyaan terpenting bukanlah siapa yang harus disalahkan.
Tetapi:
siapa yang bisa kita bantu?
Siapa yang kehilangan rumah?
Siapa yang kehilangan keluarga?
Siapa yang membutuhkan pertolongan?
Di situlah nilai kemanusiaan diuji.
LALU, KRAKATAU MENGHANCURKAN DIRINYA SENDIRI
Ini mungkin bagian paling menakjubkan dari kisah Krakatau.
Gunung yang meledak begitu dahsyat itu...
sebagian besar tubuhnya sendiri ikut lenyap.
Sebagian struktur Krakatau runtuh ke dalam kaldera.
Gunung Perboewatan dan Danan hancur.
Sebagian besar pulau tempat gunung itu berdiri tidak lagi ada.
Yang tersisa dari struktur lama antara lain bagian Rakata serta pulau Sertung dan Panjang.
Bayangkan melihat sebuah pulau yang selama ini berdiri kokoh, kemudian menyaksikan sebagian besar tubuhnya hilang dalam satu rangkaian bencana.
Namun cerita itu belum selesai.
Justru di sinilah babak berikutnya dimulai.
Manusia memiliki kemampuan untuk merencanakan banyak hal.
Tetapi tetap ada batas yang tidak dapat kita lampaui.
Karena itu, Islam mengajarkan manusia untuk berikhtiar sekaligus menyadari bahwa tidak semua hal berada dalam kendali kita.
DARI KEHANCURAN LAHIR GUNUNG BARU
Beberapa puluh tahun setelah kehancuran Krakatau, aktivitas vulkanik kembali muncul di kawasan kaldera.
Sedikit demi sedikit, daratan baru tumbuh dari laut.
Gunung baru muncul.
Orang kemudian menyebutnya:
Anak Krakatau.
Nama itu terdengar sederhana.
Tetapi maknanya luar biasa.
Sebuah gunung yang lahir dari reruntuhan gunung yang pernah menghancurkan dirinya sendiri.
Seakan-akan alam sedang menunjukkan kepada manusia bahwa kehancuran bukan selalu akhir dari sebuah cerita.
Kadang, dari kehancuran justru muncul sesuatu yang baru.
Al-Qur'an memberikan penguatan yang sangat indah:
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Asy-Syarh: 5–6)
Ayat ini bukan berarti setiap musibah pasti segera berubah menjadi keberuntungan.
Tetapi ia mengajarkan bahwa manusia tidak boleh kehilangan harapan hanya karena pernah mengalami kesulitan.
TAPI KRAKATAU BUKAN GUNUNG YANG BARU SEKALI MELETUS
Jauh sebelum tragedi 1883, kawasan Krakatau telah mengalami aktivitas vulkanik.
Ada bukti geologi mengenai letusan besar pada masa lampau.
Dalam tradisi Jawa juga terdapat kisah mengenai Gunung Batuwara dan Gunung Kapi yang meletus dahsyat.
Sebagian penulis menghubungkan kisah tersebut dengan Krakatau purba.
Tetapi kita perlu berhati-hati.
Kisah dalam Pustaka Raja bukanlah laporan saksi mata dari tahun 416 Masehi, dan hubungan antara nama-nama dalam naskah tersebut dengan Krakatau masih menjadi bahan perdebatan.
Yang lebih pasti, penelitian geologi memang menunjukkan bahwa kawasan Krakatau pernah mengalami letusan besar jauh sebelum tahun 1883.
Kemudian pada sekitar 1680–1681, catatan pelaut Eropa kembali menggambarkan aktivitas vulkanik Krakatau.
Jadi, letusan 1883 bukanlah sebuah kejadian yang muncul tanpa sejarah.
Krakatau telah lama menjadi bagian dari siklus vulkanik Selat Sunda.
KETIKA LANGIT DUNIA BERUBAH
Ada sesuatu yang lebih mengejutkan lagi.
Dampak Krakatau tidak berhenti ketika suara ledakan menghilang.
Material vulkanik yang terlontar tinggi ke atmosfer menyebar ke berbagai penjuru dunia.
Matahari terbit dan matahari terbenam tampak dengan warna merah dan jingga yang sangat mencolok.
Langit di berbagai tempat terlihat seperti terbakar.
Atmosfer bumi berubah untuk sementara.
Suhu global juga mengalami penurunan akibat pengaruh aerosol vulkanik yang menyebar di atmosfer.
Namun ada satu fakta yang perlu diluruskan.
Sering kali kita mendengar bahwa Krakatau menyebabkan “tahun tanpa musim panas.”
Itu tidak tepat.
Tahun Tanpa Musim Panas terjadi setelah letusan Gunung Tambora pada 1815, puluhan tahun sebelum Krakatau meletus.
Krakatau memang memberikan dampak iklim global.
Tetapi bukan penyebab peristiwa yang dikenal sebagai Year Without a Summer.
BOM WAKTU?
Karena sejarah panjangnya, Krakatau sering disebut sebagai “bom waktu”.
Tetapi sebenarnya istilah itu hanya sebuah kiasan.
Gunung berapi tidak bekerja seperti bom yang memiliki waktu ledak yang sudah ditentukan.
Aktivitasnya dipengaruhi oleh proses geologi yang sangat kompleks.
Kita bisa mengamati tanda-tanda aktivitas.
Kita bisa melakukan pemantauan.
Kita bisa mempelajari sejarah letusan.
Tetapi manusia tidak dapat menentukan dengan tepat kapan sebuah gunung akan kembali mengalami letusan besar.
Karena itu, menghadapi bencana tidak cukup hanya dengan rasa takut.
Kita membutuhkan ilmu.
Kita membutuhkan kesiapsiagaan.
Kita membutuhkan sistem peringatan dini.
Dan kita membutuhkan sikap tawakal setelah melakukan ikhtiar.
Rasulullah ﷺ pernah memberikan gambaran yang sangat sederhana:
“Ikatlah ia dan bertawakallah.”
(HR. Tirmidzi)
Pesannya jelas.
Berusaha dahulu. Kemudian bertawakal.
LEBIH DARI SEKADAR CERITA TENTANG BENCANA
Krakatau bukan hanya cerita tentang gunung yang meledak.
Ia adalah cerita tentang manusia yang berhadapan dengan kekuatan alam.
Tentang desa-desa yang hilang.
Tentang ribuan kehidupan yang berakhir dalam hitungan jam.
Tentang sebuah pulau yang sebagian besar lenyap.
Tentang langit yang berubah warna.
Dan tentang sebuah gunung baru yang kemudian tumbuh dari dasar laut.
Tetapi ada satu pelajaran yang mungkin lebih penting dari semuanya.
Manusia sering merasa bumi begitu tenang hanya karena kita tidak melihat apa yang terjadi di bawah permukaannya.
Kita membangun rumah.
Membangun kota.
Menanam harapan.
Merencanakan masa depan.
Sementara jauh di bawah tanah, bumi terus bergerak dengan hukum dan waktunya sendiri.
Krakatau mengingatkan kita bahwa alam tidak pernah benar-benar tidur.
Ia hanya bekerja dalam skala waktu yang jauh lebih panjang daripada kehidupan manusia.
Dan ketika musibah datang, Al-Qur'an mengajarkan:
“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.”
(QS. Al-Baqarah: 156)
Ayat ini mengajarkan kesadaran bahwa hidup dan segala yang kita miliki pada hakikatnya adalah amanah.
Karena itu, ketika bencana terjadi, yang seharusnya tumbuh bukan hanya rasa takut.
Tetapi juga kesadaran, kepedulian, kesabaran, dan kemanusiaan.
DAN KISAH ITU BELUM SELESAI
Hari ini, di tempat yang sama, berdiri Anak Krakatau.
Gunung yang lahir dari kehancuran.
Gunung yang terus tumbuh.
Gunung yang mengingatkan kita pada sebuah peristiwa yang terjadi lebih dari satu abad lalu.
Ketika sebuah gunung membuat laut berubah menjadi dinding air.
Ketika suara ledakannya terdengar ribuan kilometer jauhnya.
Ketika sebuah pulau hampir lenyap.
Dan ketika dunia melihat langitnya berubah warna.
Krakatau pernah membuat dunia terdiam.
Tetapi setelah semua suara itu menghilang...
bumi kembali berbicara.
Dan kali ini, ia berbicara melalui sebuah gunung baru: Anak Krakatau.
Sebuah pengingat bahwa di alam, sebuah akhir terkadang hanyalah awal dari sesuatu yang lain.
Mungkin itulah sebabnya Krakatau selalu mengundang rasa kagum sekaligus hormat.
Ia bukan hanya bagian dari sejarah Indonesia, tetapi juga pengingat betapa kecilnya manusia di hadapan kekuatan alam.
Dan mungkin, setelah menerima pesan singkat dari seorang teman yang penerbangannya tertunda karena aktivitas Anak Krakatau, saya justru kembali diingatkan pada satu hal:
kadang-kadang sebuah pesan sederhana dapat membuka pintu untuk merenungkan sesuatu yang jauh lebih besar.
Tentang alam.
Tentang kehidupan.
Tentang kehilangan.
Tentang ketabahan.
Dan tentang Sang Pencipta yang mengajarkan manusia untuk membaca tanda-tanda di sekelilingnya.
Kalau Anda hidup pada masa letusan Krakatau 1883, menurut Anda apa yang paling menggetarkan hati: suara ledakannya, tsunami yang meluluhlantakkan pesisir, atau kenyataan bahwa sebuah gunung bisa menghancurkan dirinya sendiri lalu melahirkan gunung baru?
Atau mungkin, setelah membaca kisah ini, ada pelajaran lain tentang sabar, tawakal, ikhtiar, dan kemanusiaan yang menurut Anda lebih penting untuk kita renungkan?
Saya ingin mendengar pandangan Anda. Mari berbagi cerita dan berdiskusi dengan saling menghargai.
Sumber Bacaan: