Detail Update

Detail Update

Makna dan Hakikat Bulan Muharram: Bulan Mulia, Momentum Hijrah dan Pembaruan Diri

Card image cap Muharam bulan yang mulia

Oleh: Djoko Iriandono*)

Pendahuluan

Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah dan termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan oleh Allah SWT. Keistimewaan Muharram bukan semata-mata karena posisinya sebagai awal tahun, tetapi karena Allah sendiri memuliakannya. Rasulullah SAW bahkan menyebutnya sebagai Syahrullah atau “Bulan Allah”, sebuah penyandaran yang menunjukkan kemuliaan dan keagungannya.

Para ulama tafsir, hadis, fikih, dan tasawuf memandang Muharram bukan sekadar pergantian tahun, melainkan momentum untuk memperbarui keimanan, melakukan muhasabah, memperbaiki diri, dan meningkatkan kedekatan kepada Allah SWT.

Makna Bahasa dan Istilah Muharram

Kata Muharram berasal dari akar kata Arab yang bermakna mulia, terhormat, dan terlarang untuk dilanggar kehormatannya. Karena itu, Muharram dapat dipahami sebagai bulan yang diharamkan melakukan pelanggaran terhadap kehormatannya.

Imam ar-Raghib al-Ashfahani dalam Mufradat Alfazh al-Qur'an menjelaskan bahwa sesuatu disebut haram karena memiliki kedudukan yang diagungkan sehingga tidak boleh dilanggar atau diremehkan.

Dengan demikian, Muharram bukan hanya nama sebuah bulan, tetapi juga simbol penghormatan terhadap waktu yang telah Allah istimewakan. https:

Baca artikel lainnya di: https://djokoiriandono.com/

Muharram dalam Perspektif Al-Qur'an

Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 36:

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan dalam ketetapan Allah sejak Dia menciptakan langit dan bumi; di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kalian menzalimi diri kalian pada bulan-bulan itu.”

Ayat ini menunjukkan bahwa terdapat empat bulan yang memiliki kemuliaan khusus, yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Para ulama memberikan penjelasan penting mengenai ayat tersebut:

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kezaliman dan dosa yang dilakukan pada bulan-bulan haram memiliki konsekuensi yang lebih besar.

Al-Qurthubi menegaskan bahwa larangan berbuat zalim berlaku sepanjang waktu, tetapi penekanannya lebih kuat pada bulan-bulan haram.

Fakhruddin ar-Razi menyebut adanya konsep “kesucian waktu”, sebagaimana terdapat kesucian tempat seperti Masjidil Haram.

Karena itu, Muharram menjadi waktu yang sangat tepat untuk meningkatkan amal saleh dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan.

Mengapa Muharram Disebut Syahrullah?

Keistimewaan Muharram semakin tampak dalam hadis Rasulullah SAW:

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram.”

Hadis ini menunjukkan bahwa Muharram memiliki kedudukan istimewa dibandingkan bulan-bulan lainnya setelah Ramadhan.

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa penyandaran nama Muharram kepada Allah (Syahrullah) merupakan bentuk penghormatan dan pengagungan. Tidak semua bulan memperoleh kehormatan tersebut, sehingga penyebutan ini menjadi bukti tingginya kedudukan Muharram dalam Islam.

Sejarah Muharram dan Awal Tahun Hijriah

Penghormatan terhadap Muharram telah dikenal sejak masa Nabi Ibrahim AS. Bangsa Arab sebelum Islam pun tetap menjaga kesucian bulan-bulan haram meskipun banyak menyimpang dalam akidah mereka.

Pada masa Khalifah Umar bin al-Khattab RA, kalender Hijriah secara resmi ditetapkan sebagai sistem penanggalan umat Islam. Muharram dipilih sebagai awal tahun Hijriah karena:

1. Berada setelah musim haji selesai.

2. Berkaitan dengan momentum hijrah dan pembaruan kehidupan umat Islam.

3. Menjadi awal siklus sosial dan keagamaan masyarakat Muslim.

Karena itu, Muharram tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga menjadi simbol awal perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.

Keistimewaan Muharram dalam Hadis

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa dalam satu tahun terdapat dua belas bulan dan empat di antaranya adalah bulan haram.

Keistimewaan bulan haram terletak pada:

  • Pahala amal kebaikan yang dilipatgandakan.
  • Dosa dan pelanggaran yang memiliki konsekuensi lebih berat.
  • Anjuran untuk memperbanyak ibadah dan amal saleh.
  • Kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.

Oleh sebab itu, Muharram menjadi salah satu waktu terbaik bagi seorang Muslim untuk meningkatkan kualitas spiritualnya.

Keutamaan Hari Asyura

Salah satu hari paling istimewa dalam bulan Muharram adalah tanggal 10 Muharram yang dikenal sebagai Hari Asyura.

Rasulullah SAW bersabda:

 “Aku berharap kepada Allah agar puasa Asyura dapat menghapus dosa setahun yang lalu.”

Hadis ini menunjukkan besarnya keutamaan puasa Asyura. Selain sebagai ibadah sunnah yang sangat dianjurkan, puasa Asyura juga menjadi sarana pengampunan dosa-dosa kecil yang telah lalu.

Banyak ulama juga menganjurkan puasa tanggal 9 Muharram (Tasu'a) bersama puasa Asyura untuk membedakan tradisi umat Islam dari praktik kaum Yahudi pada masa itu.

Perspektif Fikih tentang Muharram

Empat mazhab fikih sepakat mengenai keutamaan berpuasa pada bulan Muharram, meskipun terdapat perbedaan penekanan dalam pelaksanaannya.

Mazhab Hanafi menganjurkan memperbanyak puasa, terutama pada hari Asyura.

Mazhab Maliki menekankan sunnah puasa tanggal 9 dan 10 Muharram.

Mazhab Syafi'i menganjurkan puasa tanggal 9, 10, dan 11 Muharram.

Mazhab Hanbali juga memberikan perhatian besar terhadap puasa Asyura sebagaimana mazhab Syafi'i.

Keseluruhan pandangan tersebut menunjukkan bahwa Muharram adalah bulan yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak ibadah puasa sunnah.

Hakikat Muharram Menurut Ulama Tasawuf

Para ulama tasawuf memandang Muharram sebagai momentum hijrah batin dan pembaruan spiritual.

Imam al-Ghazali

Menurut beliau, hakikat hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perpindahan hati menuju Allah SWT. Muharram menjadi waktu yang tepat untuk memperbarui niat, memperkuat taubat, dan memulai kehidupan yang lebih baik.

Abdul Qadir al-Jailani

Beliau menekankan bahwa kecerdasan sejati adalah kemampuan seseorang untuk menghitung dan mengevaluasi amalnya. Muharram menjadi awal muhasabah dan peningkatan kualitas ibadah.

Ibnu Athaillah as-Sakandari

Beliau mengajarkan bahwa Muharram adalah kesempatan untuk memperbarui keikhlasan, tawakal, muraqabah (merasa diawasi Allah), dan taubat.

Hikmah Spiritual Bulan Muharram

Terdapat sejumlah pelajaran penting yang dapat dipetik dari Muharram:

1. Momentum Hijrah Ruhani

Hijrah terbesar adalah meninggalkan maksiat menuju ketaatan kepada Allah SWT.

 2. Waktu Muhasabah

Muharram menjadi kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan hidup dan memperbaiki kekurangan di masa lalu.

 3. Momentum Taubat

Pergantian tahun mengingatkan bahwa usia terus berkurang dan kesempatan beramal semakin terbatas.

 4. Pendidikan Kesabaran

Puasa Muharram melatih kesabaran, pengendalian diri, rasa syukur, dan keteguhan hati.

 5. Penguatan Tauhid

Peristiwa Nabi Musa AS yang diperingati melalui puasa Asyura mengajarkan bahwa kemenangan sejati datang dari pertolongan Allah SWT.

Kesimpulan

Muharram bukan sekadar bulan pertama dalam kalender Hijriah. Ia adalah bulan yang dimuliakan Allah, termasuk salah satu dari empat bulan haram, serta memiliki kedudukan istimewa sebagai Syahrullah (Bulan Allah).

Muharram mengajarkan pentingnya menghormati waktu, memperbanyak amal saleh, memperkuat taubat, melakukan muhasabah, dan melaksanakan hijrah spiritual dari keburukan menuju kebaikan. Keutamaan puasa Muharram, khususnya pada Hari Asyura, semakin menegaskan bahwa bulan ini merupakan kesempatan berharga untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Oleh karena itu, menyambut Muharram hendaknya tidak hanya dilakukan dengan perayaan pergantian tahun, tetapi juga dengan tekad untuk memperbarui iman, memperbaiki akhlak, dan meningkatkan kualitas pengabdian kepada Allah SWT.

Wallahu a'lam bish-shawab.

 

*) Kominfo BPIC Kaltim