Oleh: Achmad Ruslan Afendi*)
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional setiap tanggal 20 Mei bukan sekadar kegiatan mengenang sejarah berdirinya organisasi Budi Utomo. Momen ini menjadi sarana refleksi bagi generasi muda untuk menafsirkan kembali makna “kebangkitan” di tengah dinamika dunia yang berubah dengan sangat cepat.
Jika pada awal abad ke-20 kebangkitan dimaknai sebagai kesadaran bersatu melawan penjajahan, makna tersebut kini jauh lebih luas dan kompleks. Di abad ke-21, kebangkitan nasional mencakup persaingan dalam ranah gagasan, teknologi, ekonomi, serta pelestarian identitas budaya.
Generasi masa kini hidup dalam lingkungan global yang ditandai oleh kemajuan teknologi informasi, kecerdasan buatan, serta keterhubungan tanpa batas.
Batas geografis semakin memudar, informasi bergerak dengan sangat cepat, budaya saling berinteraksi, dan persaingan berlangsung secara terbuka.
Dalam konteks ini, kebangkitan nasional berarti kemampuan generasi muda untuk menjadi pelaku utama, bukan sekadar penonton dalam arus besar globalisasi.
Makna kebangkitan bagi generasi muda masa depan dapat dilihat dari empat aspek utama. Pertama, kebangkitan intelektual dan literasi digital. Di tengah melimpahnya arus informasi, generasi muda dituntut tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan kritis dalam menyaring informasi.
Berita bohong, informasi keliru, dan manipulasi isi konten merupakan tantangan nyata yang harus dihadapi. Oleh sebab itu, semangat kebangkitan harus diwujudkan melalui kemampuan berpikir yang mendalam, analitis, dan senantiasa berlandaskan nilai-nilai luhur.
Kedua, kebangkitan nasional bermakna sebagai kemandirian dan kreativitas ekonomi. Generasi muda wajib mampu memanfaatkan peluang yang dibuka oleh ekonomi digital, seperti pengembangan usaha rintisan, industri kreatif, dan kewirausahaan berbasis teknologi. Perjuangan masa kini tidak lagi berbentuk pertempuran fisik, melainkan diwujudkan lewat inovasi dan produktivitas guna meningkatkan daya saing bangsa di kancah internasional.
Ketiga, aspek identitas dan budaya memegang peranan yang sangat penting. Di tengah derasnya arus lintas budaya dunia, generasi muda menghadapi risiko hilangnya jati diri bangsa.
Kebangkitan nasional harus dimaknai sebagai kesadaran kuat untuk menjaga dan mengembangkan nilai-nilai budaya bangsa, sekaligus menyesuaikannya agar relevan dalam konteks kekinian.
Dengan demikian, generasi muda tidak hanya menjadi pengguna budaya asing, melainkan juga pencipta budaya yang memiliki ciri khas Indonesia.
Keempat, kebangkitan generasi muda berkaitan erat dengan kesiapan kepemimpinan masa depan. Dunia yang semakin kompleks membutuhkan pemimpin yang mampu beradaptasi, bersikap terbuka, serta memiliki pandangan jauh ke depan.
Kapasitas kepemimpinan harus mulai dibangun sejak dini melalui jalur pendidikan, keterlibatan dalam organisasi, serta partisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Kebangkitan nasional tidak akan memiliki arti tanpa adanya kader pemimpin yang berkualitas dan berkesinambungan.
Di sisi lain, dinamika global masa kini juga menghadirkan situasi yang bertolak belakang. Globalisasi membuka peluang yang sangat luas, namun berpotensi menimbulkan ketergantungan, ketimpangan, hingga krisis jati diri.
Oleh karena itu, sikap generasi muda dalam menyikapi kebangkitan haruslah selektif dan kritis: terbuka terhadap kemajuan dunia, namun tetap berpijak kokoh pada nilai-nilai kebangsaan.
Dalam konteks Indonesia, generasi muda memegang peran strategis sebagai agen perubahan. Mereka bukan hanya pewaris sejarah, melainkan penentu arah masa depan bangsa. Semangat yang diwariskan para pendiri bangsa melalui Hari Kebangkitan Nasional harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata: belajar dengan sungguh-sungguh, berinovasi, menjaga integritas, dan berkontribusi aktif bagi kemajuan masyarakat.
Dengan demikian, makna peringatan Hari Kebangkitan Nasional dalam perspektif dinamika global kontemporer adalah seruan untuk bangkit secara menyeluruh.
Kebangkitan tersebut mencakup penguasaan ilmu pengetahuan, daya cipta, keteguhan identitas, dan kesiapan memimpin. Kebangkitan masa kini bukan lagi soal mengusir penjajah, melainkan tentang upaya memenangkan masa depan.
Generasi muda Indonesia harus siap menjadi pelaku utama dalam percaturan dunia, dengan senantiasa berpegang teguh pada nilai-nilai luhur bangsa.
*) Dosen Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, Kalimantan Timur
Email: ruslanafendi68@gmail.com