Detail Update

Detail Update

Masjid Tidak Harus Besar untuk Memberi Manfaat Besar

Card image cap Pertemuan dengan pengurus masjid Suciati Saliman

Masjid Tidak Harus Besar untuk Memberi Manfaat Besar

Oleh: Djoko Iriandono, S.E. M.A.*)

Kadang-kadang kita terlalu sibuk menghitung luas bangunan masjid, tetapi lupa menghitung berapa banyak hati yang disentuhnya. Kesan itulah yang kami bawa ketika mengunjungi Masjid Suciati Saliman Yogyakarta, sehari setelah rombongan studi tiru BPIC Kalimantan Timur berkunjung ke Masjid Sheikh Zayed Solo. Kunjungan ini bukan sekadar perjalanan dari satu masjid ke masjid lain, melainkan bagian dari ikhtiar untuk belajar bagaimana sebuah masjid dikelola dan dihidupkan oleh masyarakat.

Masjid Suciati Saliman mungkin tidak sebesar masjid-masjid yang sebelumnya kami kunjungi. Bangunannya pun berada di lingkungan yang sudah lebih dahulu memiliki beberapa masjid kampung. Namun justru di situlah letak keunikannya: masjid ini tidak berusaha menjadi yang paling besar, tetapi berusaha menjadi masjid yang manfaatnya benar-benar dirasakan oleh jamaah dan masyarakat di sekitarnya.

Masjid Suciati Saliman berdiri pada tahun 2018 dan dikelola melalui Yayasan Suciati Saliman Raharjo. Pengelolaannya tidak hanya berkaitan dengan lembaga kemakmuran masjid atau takmir, tetapi juga mencakup lembaga pendidikan serta lembaga ekonomi dan sosial. Struktur ini menunjukkan bahwa sejak awal masjid dipandang bukan semata-mata sebagai tempat ibadah, melainkan sebagai sebuah institusi yang memiliki fungsi pelayanan yang lebih luas bagi umat.

Dari penjelasan ustad Affandi (ketua pengelola) yang disampaikan pada kunjungan tersebut kami mendapatkan sebuah pelajaran penting. Kemakmuran masjid tidak cukup diukur dari megahnya bangunan, luasnya halaman, atau banyaknya jamaah yang hadir pada waktu-waktu tertentu. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh masjid mampu menghadirkan manfaat, memberikan pelayanan, membangun kebersamaan, serta menyentuh kebutuhan nyata masyarakat.

Masjid yang Mengerti Siapa Jamaahnya

Salah satu hal yang menarik dari Masjid Suciati Saliman adalah cara pengelola memahami jamaahnya. Jamaah tidak dipandang sebagai satu kelompok yang seragam, tetapi dibedakan berdasarkan usia, kebutuhan, dan kondisi kehidupan mereka. Anak-anak, remaja, keluarga muda, orang dewasa, lansia, bahkan masyarakat yang belum rutin datang ke masjid dipandang sebagai kelompok yang membutuhkan pendekatan dan program yang berbeda.

Pendekatan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai kegiatan. Untuk anak-anak terdapat TPA, dongeng Islami dan berbagai kegiatan pembinaan, sementara untuk keluarga muda tersedia program seperti Kelas Samawa dan kajian keluarga. Ada pula kajian tazkiyatun nafs, healing class, nonton bersama, makan siang gratis, pelatihan UMKM, kajian Ahad pagi, hingga program untuk para mualaf.

Bagi kami, pendekatan seperti ini memberikan pelajaran yang sangat menarik. Masjid tidak hanya menunggu jamaah datang, tetapi berusaha memahami apa yang dibutuhkan jamaah. Ketika pengelola mengetahui siapa yang dilayani dan apa yang mereka butuhkan, maka kegiatan masjid tidak berhenti sebagai rutinitas, tetapi berkembang menjadi pelayanan yang memiliki makna bagi kehidupan jamaah.

Perbedaan cara pandang itu sangat terasa ketika berbicara tentang anak muda. Masjid yang hanya menunggu mungkin akan bertanya, “Mengapa anak muda tidak datang ke masjid?” Sementara masjid yang berusaha memahami generasi muda akan bertanya, “Apa yang bisa kami lakukan agar anak muda merasa bahwa masjid adalah bagian dari kehidupan mereka?” Pertanyaan kedua inilah yang membuka ruang bagi lahirnya berbagai bentuk kreativitas dan keterlibatan anak muda.

Ketika Anak Muda Tidak Lagi Dipandang sebagai Penonton

Salah satu hal yang paling menarik perhatian kami adalah kekuatan relawan, terutama dari kalangan anak muda. Mahasiswa dan pelajar tidak hanya ditempatkan sebagai peserta atau penerima manfaat kegiatan, tetapi diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari ekosistem masjid. Mereka dapat terlibat dalam berbagai kegiatan sesuai dengan kemampuan, waktu, dan minat yang mereka miliki.

Menurut kami, pendekatan ini penting karena anak muda membutuhkan kepercayaan dan kesempatan untuk berbuat. Mereka membutuhkan ruang untuk belajar berorganisasi, berkomunikasi, bekerja dalam tim, berkreasi, sekaligus belajar bertanggung jawab. Ketika ruang itu tersedia, masjid tidak hanya memperoleh bantuan tenaga, tetapi sekaligus sedang menyiapkan generasi yang kelak dapat meneruskan kehidupan dan pengelolaan masjid.

Dalam pengelolaan sumber daya manusia, Masjid Suciati Saliman membedakan antara takmir sebagai tim inti, kerja sama dengan majelis taklim, organisasi dan himpunan mahasiswa, serta relawan tetap dan relawan lepas. Pola seperti ini menunjukkan bahwa pengelolaan masjid tidak harus bertumpu pada segelintir orang, tetapi dapat dibangun melalui jaringan kerja sama yang lebih luas.

Pada akhirnya, masjid dapat menjadi rumah bersama bagi siapa saja yang ingin mengambil bagian dalam kebaikan. Anak muda tidak hanya datang untuk salat atau mengikuti kajian, tetapi juga dapat menemukan ruang untuk belajar dan mengembangkan dirinya. Dengan cara seperti itu, hubungan anak muda dengan masjid dibangun bukan hanya melalui ceramah, tetapi melalui pengalaman langsung menjadi bagian dari gerakan kebaikan.

Takmir Bukan Pekerjaan Sisa

Ada satu kalimat dalam materi Masjid Suciati Saliman yang menurut saya sangat dalam: “Takmir harus disiapkan dengan serius dan siap untuk mengelola masjid dengan waktu, tenaga dan pikiran yang bukan sisa.” Kalimat ini mengingatkan kita bahwa mengelola masjid bukan pekerjaan yang dapat dilakukan sekadar ketika seseorang memiliki waktu luang.

Masjid membutuhkan orang-orang yang hadir dengan kesungguhan. Sebab masjid bukan hanya bangunan yang harus dibersihkan dan dijaga, tetapi sebuah lembaga yang melayani manusia dengan berbagai kebutuhan. Ada jamaah yang membutuhkan tempat beribadah, anak-anak yang membutuhkan pendidikan, keluarga yang membutuhkan pembinaan, mualaf yang membutuhkan pendampingan, serta masyarakat yang membutuhkan pemberdayaan dan bantuan.

Karena itu, pengelolaan masjid membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki komitmen, kompetensi, dan kemampuan bekerja secara bersama-sama. Keikhlasan tentu menjadi fondasi utama, tetapi keikhlasan tidak berarti bekerja tanpa sistem dan standar. Justru ketika sebuah pekerjaan diniatkan sebagai ibadah, ia semestinya dikelola dengan penuh tanggung jawab dan kesungguhan.

Lima Pilar yang Menarik untuk Dipelajari

Masjid Suciati Saliman mengembangkan konsep lima pilar masjid, yaitu Baitullah, Baitul Qur'an, Baitul Maal, Baitul Mu'amalah, dan Baitul Dakwah. Konsep tersebut memperlihatkan bahwa fungsi masjid tidak berhenti pada kegiatan salat, tetapi dapat berkembang menjadi pusat pembinaan umat dalam berbagai bidang kehidupan.

Masjid menjadi tempat membangun hubungan manusia dengan Allah sekaligus menjadi rumah Al-Qur'an. Masjid juga menjadi tempat mengelola kepedulian sosial, mengembangkan kegiatan ekonomi dan muamalah, serta menjalankan dakwah yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Dengan lima pilar tersebut, fungsi masjid dipahami secara lebih luas dan tidak terjebak hanya pada kegiatan seremonial.

Implementasinya dapat dilihat dari berbagai program yang dikembangkan. Ada kajian mingguan, bulanan dan tahunan, tahsin, ngaji fikih, tazkiyatun nafs, kelas murotal, kelas adzan, fikih perempuan, healing class, kajian Ahad pagi, safari dakwah, hingga berbagai kegiatan keagamaan lainnya.

Di bidang sosial dan pemberdayaan, terdapat pula program nasi Jumat berkah, santunan, pelatihan UMKM, kegiatan untuk masyarakat, serta berbagai kegiatan kebersamaan lainnya. Dari sini kami kembali menemukan sebuah makna bahwa masjid yang hidup bukanlah masjid yang sekadar ramai, tetapi masjid yang mampu menghadirkan kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya.

Kebaikan Juga Harus Dikelola

Ada sebuah ungkapan yang menarik perhatian saya tatkala ketua takmir Masjid Suciati Saliman memberikan penjelasan: “Kejahatan yang terorganisir akan dapat mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir.” Ungkapan tersebut terasa relevan dalam konteks pengelolaan masjid, sebab niat baik saja tidak selalu cukup untuk menghasilkan manfaat yang besar.

Kebaikan juga membutuhkan perencanaan. Program membutuhkan pengorganisasian, relawan membutuhkan koordinasi, dana membutuhkan tata kelola, jamaah membutuhkan pelayanan, sementara komunikasi membutuhkan strategi agar berbagai kegiatan masjid diketahui dan dapat diikuti oleh masyarakat.

Masjid Suciati Saliman memperlihatkan bahwa keikhlasan dan profesionalisme bukan dua hal yang bertentangan. Keduanya justru dapat berjalan bersama karena pekerjaan yang dilakukan dengan ikhlas tetap membutuhkan kesungguhan, disiplin, perencanaan, dan tanggung jawab agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas.

Pelajaran untuk Islamic Center Kalimantan Timur

Bagi saya yang datang sebagai bagian dari rombongan studi tiru BPIC Kalimantan Timur, kunjungan ke Masjid Suciati Saliman meninggalkan pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar, “Apa yang bisa kita tiru?” Pertanyaan yang lebih mendasar adalah, “Apa yang bisa kita kembangkan sesuai dengan karakter dan kebutuhan Islamic Center Kalimantan Timur?”

Tentu tidak semua hal harus disalin begitu saja. Setiap masjid memiliki karakter, lingkungan, sumber daya, sejarah, dan tantangan yang berbeda. Namun semangat yang ada di balik pengelolaan Masjid Suciati Saliman sangat layak untuk dipelajari, terutama dalam hal pemberdayaan relawan, pelibatan generasi muda, pelayanan jamaah, pengembangan program sosial, serta penguatan manajemen takmir.

Bagi Islamic Center Kalimantan Timur, keterlibatan mahasiswa dan pelajar sebagai relawan dapat menjadi salah satu gagasan yang menarik untuk dikembangkan. Mereka bukan hanya calon penerima manfaat program masjid, tetapi dapat ditempatkan sebagai mitra dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan. Jika dikelola dengan baik, keterlibatan tersebut sekaligus dapat menjadi proses kaderisasi generasi muda yang dekat dengan masjid.

Kunjungan ini akhirnya membawa kami pada sebuah kesimpulan sederhana. Masjid tidak harus besar untuk menjadi besar manfaatnya. Sebuah masjid mungkin tidak memiliki bangunan yang paling megah, tetapi jika di dalamnya ada orang-orang yang ikhlas bekerja, anak-anak muda yang mau terlibat, jamaah yang merasa dilayani, dan masyarakat yang merasa diperhatikan, maka masjid itu telah memiliki sesuatu yang jauh lebih penting daripada kemegahan fisik.

Ia memiliki denyut kehidupan.

Dan mungkin, itulah ukuran sejati sebuah masjid yang makmur. Bukan semata-mata seberapa tinggi kubahnya, seberapa luas halamannya, atau seberapa besar bangunannya. Melainkan seberapa banyak manusia yang pulang dari masjid dengan membawa kebaikan ke dalam kehidupannya.

*)  Kasi Kominfo BPIC Kaltim.