"Dan sungguh, masjid-masjid itu adalah milik Allah..." (QS. Al-Jinn: 18)
Oleh: Djoko Iriandono*)
Setiap kali berbicara tentang masjid yang makmur, sebagian besar dari kita masih mengukurnya dari satu indikator yang paling mudah terlihat: ramainya jamaah. Semakin penuh saf shalat lima waktu, semakin padat kajian keislaman, atau semakin semarak kegiatan pada bulan Ramadan, maka semakin makmurlah sebuah masjid.
Ukuran itu tentu tidak salah. Masjid memang dibangun sebagai tempat sujud, tempat mengingat Allah, dan pusat pembinaan spiritual umat. Masjid yang sepi tentu menjadi keprihatinan bersama.
Namun, apakah kemakmuran masjid cukup diukur dari banyaknya orang yang datang untuk beribadah?
Pertanyaan inilah yang terus mengemuka dalam benak saya ketika mengikuti kunjungan studi tiru Badan Pengelola Islamic Center (BPIC) Kalimantan Timur ke tiga masjid besar di Surabaya, yakni Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Masjid Raya Islamic Center Jawa Timur, dan Masjid Al Falah Surabaya. Kunjungan tersebut bukan sekadar melihat kemegahan bangunan atau mengagumi arsitekturnya, melainkan mempelajari bagaimana ketiga masjid itu mengelola amanah umat sehingga mampu menjadi pusat pelayanan masyarakat secara luas.
Dari kunjungan tersebut, ada satu pelajaran besar yang sangat berharga.
Masjid yang benar-benar makmur bukan hanya mampu mengundang jamaah datang, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat yang dirasakan umat.
Masjid Sebagai Pusat Peradaban
Ketika Rasulullah SAW membangun Masjid Nabawi di Madinah, fungsi masjid tidak pernah dibatasi hanya sebagai tempat shalat. Dari masjid itulah lahir berbagai keputusan penting umat. Masjid menjadi pusat pendidikan, tempat musyawarah, penyelesaian persoalan sosial, pelayanan masyarakat, bahkan pusat pemberdayaan ekonomi.
Masjid adalah jantung peradaban Islam.
Karena itu, apabila hari ini fungsi masjid hanya berhenti pada penyelenggaraan ibadah ritual, sesungguhnya kita baru menjalankan sebagian kecil dari peran besar yang diwariskan Rasulullah.
Kesan itulah yang sangat terasa selama berada di Surabaya.
Ketiga masjid yang dikunjungi memiliki karakteristik yang berbeda, tetapi mempunyai benang merah yang sama, yaitu menjadikan masjid sebagai pusat pelayanan umat.
Belajar dari Masjid Nasional Al-Akbar
Masjid Nasional Al-Akbar memang terkenal karena kemegahan bangunannya. Kubah raksasa, menara setinggi 99 meter, dan kapasitas puluhan ribu jamaah menjadikannya salah satu ikon Jawa Timur. Namun sesungguhnya kekuatan masjid ini bukan hanya terletak pada arsitekturnya.
Yang jauh lebih mengesankan adalah bagaimana pengelola mengembangkan berbagai fungsi pendukung. Di lingkungan masjid berkembang lembaga pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, pusat kajian Al-Qur'an, kawasan edukasi, urban farming, wisata religi, hingga berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat. Semua itu dirancang agar masjid tetap hidup sepanjang hari, bukan hanya pada waktu shalat.
Masjid ini mengajarkan bahwa aset terbesar sebuah masjid bukanlah bangunannya, melainkan kemampuannya melayani umat secara berkelanjutan.
Masjid Raya Islamic Center Jawa Timur: Tata Kelola yang Profesional
Hal menarik lainnya terlihat di Masjid Raya Islamic Center Jawa Timur.
Pengelolaan masjid dilakukan dengan pendekatan yang profesional. Program-programnya tidak hanya menyentuh bidang ibadah, tetapi juga pendidikan, pelayanan sosial, pembinaan generasi muda, pelatihan, dan pemberdayaan masyarakat. Pengelolaan yang baik menjadikan kegiatan masjid berjalan sistematis dan berkesinambungan.
Dari sini terlihat bahwa kemakmuran masjid bukanlah hasil kerja spontan, melainkan buah dari perencanaan yang matang, tata kelola yang baik, sumber daya manusia yang kompeten, serta kepemimpinan yang visioner.
Masjid Al Falah: Masjid yang Hadir untuk Masyarakat
Pengalaman paling menarik mungkin datang dari Masjid Al Falah Surabaya.
Masjid ini tidak hanya dikenal karena ramainya jamaah, tetapi juga karena keberhasilannya membangun ekosistem pelayanan umat. Yayasan yang mengelolanya mengembangkan lembaga pendidikan, kursus Al-Qur'an, berbagai kajian tematik, pembinaan keluarga, layanan konsultasi, hingga kerja sama dengan berbagai lembaga untuk memperluas manfaat bagi masyarakat. Visi yang diusung sangat jelas: yayasan hadir untuk umat, bukan sekadar mengurus bangunan masjid.
Di sinilah saya melihat makna sesungguhnya dari masjid yang makmur.
Masjid tidak lagi menjadi tempat masyarakat datang hanya ketika membutuhkan ruang ibadah, tetapi menjadi tempat masyarakat memperoleh solusi.
Masjid Harus Menjadi Problem Solver
Umat Islam hari ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Persoalan-persoalan itu tidak mungkin selesai hanya dengan ceramah satu arah. Masjid harus hadir sebagai bagian dari solusi.
Bayangkan apabila setiap masjid memiliki klinik kesehatan sederhana, rumah konsultasi keluarga, pelatihan kewirausahaan, beasiswa pendidikan, koperasi syariah, pendampingan UMKM, perpustakaan digital, kelas keterampilan bagi pemuda, dan layanan sosial bagi kaum dhuafa.
Bukankah manfaatnya akan jauh lebih besar daripada sekadar menambah jumlah kegiatan seremonial?
Refleksi untuk Islamic Center Kalimantan Timur
Bagi kami di Badan Pengelola Islamic Center Kalimantan Timur, studi tiru ini bukanlah perjalanan wisata kelembagaan.
Ini adalah cermin.
Cermin yang mengajak kami bertanya kepada diri sendiri.
Sudahkah Islamic Center benar-benar menjadi pusat pemberdayaan umat?
Ataukah selama ini kita masih lebih banyak disibukkan dengan pengelolaan fasilitas daripada pengembangan manfaat?
Sesungguhnya Islamic Center Kalimantan Timur memiliki modal yang sangat besar. Kawasan yang luas, masjid yang megah, lembaga pendidikan dari TPA hingga SMP, layanan kesehatan, fasilitas pertemuan, sumber daya manusia yang cukup, serta kepercayaan masyarakat merupakan fondasi yang tidak dimiliki banyak masjid di Indonesia.
Yang diperlukan sekarang adalah menyatukan seluruh potensi tersebut dalam satu visi besar, yaitu menjadikan Islamic Center sebagai pusat peradaban Islam modern di Kalimantan Timur.
Peradaban tidak dibangun hanya dengan beton dan kubah.
Peradaban dibangun oleh gagasan, pelayanan, inovasi, dan kepedulian.
Saatnya Mengubah Cara Pandang
Sudah saatnya ukuran keberhasilan masjid diperluas.
Bukan hanya berapa ribu jamaah yang datang.
Tetapi juga berapa banyak anak yatim yang dibantu.
Berapa keluarga yang berhasil diselamatkan.
Berapa pemuda yang memperoleh pekerjaan.
Berapa pelaku UMKM yang berkembang.
Berapa generasi muda yang semakin mencintai Al-Qur'an.
Berapa masyarakat yang merasakan kehadiran masjid sebagai tempat mencari solusi kehidupan.
Ketika indikator-indikator itu mulai tumbuh, barulah kita dapat mengatakan bahwa masjid benar-benar makmur.
Penutup
Studi tiru ke Surabaya telah memberikan pelajaran yang sangat berharga.
Kemegahan bangunan memang mampu menarik perhatian.
Ramainya jamaah menghadirkan kebahagiaan.
Tetapi keduanya belum cukup.
Masjid akan mencapai kemuliaan yang sesungguhnya ketika mampu menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat di sekitarnya. Ketika masyarakat tidak hanya datang untuk shalat, tetapi juga datang untuk belajar, bekerja, berkonsultasi, berobat, mengembangkan usaha, memperkuat keluarga, dan menemukan harapan baru.
Itulah makna kemakmuran yang lebih utuh.
Karena pada akhirnya, masjid yang makmur bukanlah masjid yang hanya penuh oleh jamaah, melainkan masjid yang mampu membuat umatnya bangkit, mandiri, berilmu, dan sejahtera. Sebab di sanalah masjid kembali menjalankan fungsi agungnya sebagai pusat ibadah sekaligus pusat peradaban.
*) Kominfo BPIC Kaltim