Detail Update

Detail Update

Masjid yang Tidak Menunggu Jamaah

Card image cap Pertemuan antara pengurus BPIC Kaltim dengan takmir masjid Al Falah Sragen

Masjid yang Tidak Menunggu Jamaah

Belajar Tata Kelola Masjid Modern dari Masjid Raya Al-Falah Sragen

Oleh: Djoko Iriandono*)

Ada pengurus masjid yang menunggu jamaah datang.

Ada pula pengurus masjid yang berpikir, apa yang bisa dilakukan agar jamaah merasa membutuhkan masjid?

Pertanyaan sederhana itu menjadi salah satu kesan penting dalam kunjungan kami ke Masjid Raya Al-Falah Sragen, Jawa Tengah, yang dipimpin Ir. KH. Kusnadi Ikhwani, M.M.

Ada hal menarik ketika pertama kali melihat masjid ini. Bangunannya tidak tampak megah. Tidak pula memiliki arsitektur yang membuat orang datang hanya untuk mengagumi kemewahannya. Secara fisik, Masjid Al-Falah terlihat sederhana, bahkan bisa dikatakan biasa saja jika dibandingkan dengan sejumlah masjid besar yang dibangun dengan anggaran dan arsitektur yang sangat megah.

Namun justru di situlah letak pelajarannya.

Masjid Al-Falah dikenal bukan karena kemegahan bangunannya, tetapi karena tata kelolanya, kegiatan-kegiatannya dan pelayanan yang diberikan kepada jamaah.

Masjid ini memperlihatkan bahwa kemakmuran masjid tidak selalu harus dimulai dari membangun gedung yang besar. Kemakmuran dapat dimulai dari sesuatu yang lebih mendasar: bagaimana masjid memberikan manfaat nyata bagi manusia yang berada di sekitarnya.

Dalam pertemuan dengan pengurus, Ir. KH. Kusnadi Ikhwani, M.M yang didampingi oleh ustadz Lutfan menyampaikan sebuah gagasan yang sederhana tetapi sangat kuat: dalam upaya memakmurkan masjid, kuncinya adalah bahwa masjid harus banyak memberikan manfaat kepada masyarakat sekitarnya terutama para jamaahnya.

Kalimat tersebut terasa semakin bermakna ketika melihat berbagai aktivitas yang berlangsung di Al-Falah.

Masjid yang Mengutamakan Manfaat

Menurut Kusnadi, perkembangan zaman menuntut masjid untuk terus berbenah. Ada setidaknya empat hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengembangan masjid modern.

Pertama, manajerial takmir masjid.

Masjid tidak cukup dikelola hanya dengan modal keikhlasan para pengurusnya. Keikhlasan memang menjadi fondasi utama dalam mengabdikan diri kepada masjid, tetapi pada saat yang sama diperlukan kemampuan manajerial, pengetahuan, keterampilan, dan tanggung jawab yang memadai. Mengelola masjid pada zaman sekarang bukan lagi sekadar mengatur jadwal imam, khatib, azan, atau kegiatan pengajian. Masjid telah berkembang menjadi lembaga pelayanan umat yang membutuhkan tata kelola yang baik agar seluruh potensinya dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi jamaah dan masyarakat.

Karena itu, pengelolaan masjid perlu dibangun melalui perencanaan yang jelas, pembagian tugas yang proporsional, administrasi yang tertib, pengelolaan keuangan yang transparan, serta sistem pelayanan yang berorientasi pada kebutuhan jamaah. Setiap pengurus perlu memahami tugas dan tanggung jawabnya sehingga tidak terjadi tumpang tindih pekerjaan atau bahkan saling menunggu. Program kegiatan juga sebaiknya disusun berdasarkan kebutuhan nyata jamaah, bukan semata-mata berdasarkan kebiasaan yang dilakukan dari tahun ke tahun.

Pengelolaan keuangan menjadi bagian yang tidak kalah penting. Setiap dana yang dipercayakan jamaah harus dikelola dengan amanah, terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan. Demikian pula setiap program perlu dievaluasi secara berkala. Apa yang sudah berjalan, apa yang belum tercapai, apa kendalanya, dan apa yang perlu diperbaiki. Dengan cara seperti itu, takmir tidak hanya sibuk melaksanakan kegiatan, tetapi juga belajar dari setiap proses yang telah dilakukan.

Di sinilah pentingnya profesionalisme dalam pengelolaan masjid. Profesional bukan berarti menghilangkan keikhlasan, tetapi justru menjadi cara untuk menjaga agar keikhlasan menghasilkan manfaat yang lebih besar. Pengurus yang ikhlas perlu terus meningkatkan kapasitasnya, terbuka terhadap perubahan, mampu bekerja dalam tim, serta bersedia menggunakan pendekatan manajemen modern tanpa kehilangan nilai-nilai ibadah. Keikhlasan adalah ruhnya, sementara profesionalisme adalah ikhtiarnya. Keduanya perlu berjalan bersama agar masjid benar-benar menjadi pusat ibadah, pendidikan, pelayanan, pemberdayaan dan kemaslahatan masyarakat.

Dari Al-Falah kita belajar bahwa takmir bukan sekadar penjaga masjid atau pengatur jadwal khotib dan imam sholat. Takmir adalah pengelola pelayanan umat.

Kedua, pelibatan anak muda.

Sebagian besar masjid sampai hari ini masih didominasi oleh orang tua, baik dari sisi pengurus maupun jamaahnya. Kondisi seperti ini tentu perlu menjadi perhatian. Masjid tidak boleh hanya menjadi ruang yang nyaman bagi generasi tua, tetapi juga harus mampu menjadi tempat yang dekat, terbuka dan menarik bagi generasi muda. Para orang tua yang selama ini menjadi penggerak masjid perlu mulai membuka ruang yang lebih luas bagi anak-anak muda, bukan sekadar mengajak mereka hadir sebagai jamaah, tetapi juga mempercayakan sebagian urusan kemasjidan kepada mereka.

Anak-anak dan generasi muda perlu merasa bahwa masjid adalah bagian dari kehidupan mereka. Mereka perlu diberi kesempatan untuk beraktivitas, berkreasi, berorganisasi, mengambil keputusan dan terlibat langsung dalam berbagai kegiatan masjid. Dengan demikian, mereka tidak tumbuh sebagai generasi yang hanya mengenal masjid sebagai tempat shalat, tetapi sebagai rumah bersama yang memberi ruang bagi pertumbuhan, persahabatan, kreativitas dan kontribusi mereka.

Pengalaman Masjid Al-Falah Sragen menunjukkan bahwa mendekatkan anak muda kepada masjid membutuhkan pendekatan yang lebih terbuka. Kegiatan tidak selalu harus dikemas dalam bentuk keagamaan yang formal seperti belajar membaca Al Qur’an, kajian ataupun tabligh. Olahraga, komunitas, kegiatan sosial, hiking, diskusi, hiburan yang positif dan berbagai aktivitas kreatif dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kedekatan mereka dengan masjid. Bahkan di Masjid Al-Falah disediakan fasilitas “nobar” (nonton bareng) untuk acara-acara yang diminati anak muda, seperti pertandingan sepak bola dan berbagai siaran langsung lainnya.

Pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa mengajak anak muda ke masjid tidak selalu harus dimulai dengan ceramah; bisa dimulai dengan menciptakan rasa nyaman dan rasa memiliki. Setelah mereka merasa masjid adalah bagian dari kehidupannya, akan lebih mudah menumbuhkan kecintaan terhadap kegiatan keagamaan dan kepedulian terhadap sesama. Pada saat yang sama, generasi tua juga perlu menyadari bahwa melibatkan anak muda bukan berarti kehilangan kendali, melainkan menyiapkan penerus agar kehidupan masjid tidak berhenti ketika generasi sekarang sudah tidak lagi mampu mengelolanya.

Ketiga, pemberdayaan media sosial.

Masjid hari ini tidak cukup hanya mengandalkan pengeras suara dan papan pengumuman untuk berkomunikasi dengan jamaah. Zaman telah berubah. Informasi bergerak begitu cepat dan dalam hitungan detik sebuah peristiwa yang terjadi di suatu tempat dapat diketahui oleh jutaan orang di tempat lain. Perubahan ini tentu tidak boleh diabaikan oleh pengelola masjid. Cara masjid menyampaikan pesan kepada umat juga perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan kebiasaan masyarakat.

Para pengurus masjid perlu menyadari bahwa jamaah saat ini hidup dalam ekosistem digital. Mereka memperoleh informasi melalui telepon pintar, media sosial dan berbagai platform digital yang hampir selalu berada dalam genggaman. Karena itu, masjid perlu hadir di ruang-ruang tersebut. Informasi tentang jadwal shalat, kajian, kegiatan sosial, program pendidikan, pelayanan jamaah hingga berbagai agenda kemasjidan dapat disampaikan secara cepat dan mudah melalui media digital.

Kehadiran masjid di media sosial juga tidak semestinya hanya berisi pengumuman kegiatan. Media sosial dapat menjadi sarana untuk menyebarkan ilmu, menyampaikan pesan-pesan keagamaan, membangun kepedulian sosial, mendokumentasikan aktivitas dan memperkenalkan berbagai program kemasjidan kepada masyarakat yang lebih luas. Dengan pengelolaan yang baik, apa yang dilakukan di dalam masjid dapat menjangkau mereka yang belum sempat datang secara langsung.

Karena itu, media sosial hendaknya tidak dipandang sekadar sebagai alat promosi. Media sosial dapat menjadi perpanjangan tangan pelayanan masjid. Masjid yang mampu memanfaatkan teknologi dengan bijak akan memiliki ruang yang lebih luas untuk berkomunikasi, membangun kedekatan dengan jamaah, menjangkau generasi muda dan menghadirkan nilai-nilai kebaikan di tengah derasnya arus informasi.

Keempat, inovasi secara terus-menerus.

Kebutuhan masyarakat terus berubah. Karakter jamaah berubah. Teknologi berkembang, sementara tantangan sosial yang dihadapi masyarakat juga semakin beragam. Masjid yang ingin tetap dekat dengan jamaah tidak bisa mengabaikan perubahan tersebut. Pengurus perlu memiliki kepekaan untuk membaca perkembangan zaman dan memahami apa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh masyarakat di sekitarnya.

Karena itu, kegiatan masjid tidak boleh berhenti hanya karena sebuah program sudah dilakukan selama bertahun-tahun. Program yang dahulu dirasakan bermanfaat belum tentu masih sesuai dengan kebutuhan jamaah hari ini. Masjid perlu berani mengevaluasi, memperbaiki dan, bila diperlukan, melahirkan cara-cara baru dalam memberikan pelayanan.

Pertanyaan yang perlu terus hadir dalam pikiran para pengurus adalah: “Apa yang dibutuhkan jamaah hari ini?” Pertanyaan sederhana ini dapat menjadi sumber lahirnya berbagai gagasan dan inovasi. Dari sinilah saya melihat salah satu kekuatan Masjid Al-Falah. Mereka tidak sekadar mempertahankan kegiatan yang sudah berjalan, tetapi terus berusaha mencari bentuk pelayanan yang lebih dekat dengan kebutuhan jamaah.

Dari berbagai program yang saya lihat, ada tiga kata yang menurut saya sangat menarik dan menggambarkan semangat pelayanan Masjid Al-Falah, yaitu Melayani, Mencerahkan dan Membahagiakan. Ketiganya bukan sekadar slogan, tetapi diterjemahkan ke dalam berbagai kegiatan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Melayani berarti menjadikan masjid sebagai tempat yang selalu terbuka ketika masyarakat membutuhkan. Masjid Al-Falah buka selama 24 jam dan berusaha memberikan suasana yang ramah, baik bagi jamaah, anak-anak, anak muda maupun para musafir. Tersedia pula fasilitas menginap secara gratis bagi musafir serta berbagai bentuk layanan konsultasi.

Menariknya, terdapat pula program SPD—Spesialis Pembaca Doa, yaitu bentuk pelayanan personal kepada masyarakat yang membutuhkan perhatian dan pendampingan. Bahkan pada waktu tertentu ketua masjid sendiri yang datang berkunjung ke pasar untuk mendo’akan para pedagang agar usahanya lancar dan dimudahkan rezekinya. Program seperti ini menunjukkan bahwa pelayanan masjid tidak selalu harus berbentuk fasilitas yang besar. Kadang-kadang, kehadiran, perhatian dan doa yang tulus justru menjadi bentuk pelayanan yang paling dirasakan oleh seseorang yang sedang menghadapi persoalan.

Dari sini saya menangkap sebuah pesan penting bahwa masjid tidak menunggu jamaah datang membawa kebutuhannya. Masjid berusaha hadir ketika jamaah membutuhkan. Inilah wajah masjid yang tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga menjadi tempat masyarakat menemukan ketenangan, pertolongan dan rasa bahwa mereka tidak berjalan sendirian.

Mencerahkan

Masjid juga harus mampu menempatkan dirinya sebagai pusat ilmu dan pembelajaran masyarakat. Fungsi masjid tidak berhenti pada pelaksanaan ibadah ritual, tetapi juga menjadi tempat jamaah memperluas wawasan, memperdalam pemahaman agama dan membangun kualitas kehidupan. Di Masjid Al-Falah, semangat tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan seperti kajian rutin, kajian Subuh, program Madinah, serta One Day One Juz. Kegiatan-kegiatan tersebut memberikan ruang bagi jamaah untuk terus belajar dan menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an di tengah kesibukan kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, masjid bukan hanya tempat seseorang datang untuk menunaikan kewajiban shalat, lalu kembali menjalani aktivitasnya. Masjid semestinya menjadi ruang untuk bertumbuh—tempat manusia mencari ilmu, mendapatkan pencerahan, menemukan ketenangan dan membangun kehidupan yang lebih baik. Ketika masjid mampu menghadirkan tradisi keilmuan yang hidup, jamaah tidak hanya datang untuk beribadah, tetapi juga pulang membawa pengetahuan, inspirasi dan semangat untuk memperbaiki dirinya serta memberikan manfaat bagi lingkungan di sekitarnya.

Membahagiakan

Masjid juga hadir melalui berbagai program sosial yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Di Masjid Al-Falah, kepedulian tersebut diwujudkan melalui program seperti Pasar Jumat Bahagia, Santunan Anak Yatim, MIRAS (Mikul Beras), Pejuang Nafkah, kegiatan anak muda dan Wedangan Subuh. Nama-nama program tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi justru kesederhanaannya membuat program-program itu terasa dekat dengan kehidupan masyarakat. Masjid hadir bukan dengan konsep yang rumit, melainkan melalui kegiatan yang langsung menyentuh kebutuhan jamaah.

Ada masyarakat yang membutuhkan beras dan dibantu melalui program Mikul Beras. Ada anak-anak yatim yang mendapatkan perhatian dan santunan. Ada para pejuang nafkah yang dirangkul dan diberi kepedulian. Ada anak-anak muda yang mendapatkan ruang untuk berkumpul dan beraktivitas secara positif. Bahkan dalam Wedangan Subuh, secangkir minuman hangat dapat menjadi sarana mempererat silaturahmi setelah melaksanakan ibadah. Dari berbagai kegiatan tersebut terlihat bahwa masjid tidak harus selalu memberikan sesuatu yang besar dan spektakuler. Yang lebih penting adalah manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat. Ketika jamaah merasakan bahwa masjid peduli terhadap kehidupan mereka, di situlah tumbuh rasa memiliki dan kecintaan terhadap masjid.

Kemegahan masjid tidak selalu terletak pada marmer, kubah, menara, atau luas bangunannya.

Kemegahan yang sesungguhnya justru terlihat dari seberapa banyak manusia yang merasakan manfaat keberadaan masjid. Bangunannya mungkin sederhana, tetapi manajemennya tertata, kegiatannya hidup, anak mudanya terlibat, media sosialnya aktif, pelayanannya berjalan, program sosialnya menyentuh masyarakat, dan inovasinya terus berkembang. Di situlah kita menemukan makna masjid yang benar-benar hidup. Masjid yang makmur bukan hanya masjid yang penuh ketika shalat berjamaah berlangsung, tetapi masjid yang manfaatnya tetap dirasakan masyarakat bahkan ketika mereka sedang tidak berada di dalamnya.

Kunjungan ke Masjid Al-Falah Sragen memberikan pelajaran bahwa jangan terlalu sibuk membangun masjid yang megah, tetapi lupa membangun kemanfaatan yang luas. Masyarakat tentu akan mengagumi keindahan sebuah bangunan, tetapi yang lebih lama tinggal dalam ingatan adalah kebaikan yang pernah mereka rasakan di dalamnya. Sebuah masjid boleh saja sederhana secara fisik, tetapi jika mampu menghadirkan ilmu, pelayanan, kepedulian, persaudaraan dan kebahagiaan bagi masyarakat, sesungguhnya masjid itu telah memiliki kemegahan yang jauh lebih berarti: kemegahan yang tumbuh dari manfaat dan kebaikan yang terus hidup di tengah umat.

Semoga artikel yang saya susun berdasarkan pengalaman nyata selama kunjungan ke Masjid Al-Falah Sragen ini tidak hanya memberikan manfaat bagi para pengurus Islamic Center Kalimantan Timur dalam mengembangkan tata kelola dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat, khususnya kepada para jamaah, tetapi juga dapat menjadi bahan inspirasi dan pembelajaran bagi para takmir masjid di seluruh wilayah Kalimantan Timur.

Semoga apa yang kami lihat, dengar dan pelajari dari pengalaman Masjid Al-Falah dapat menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menghadirkan masjid yang semakin terkelola dengan baik, dekat dengan jamaah, ramah terhadap anak-anak dan generasi muda, responsif terhadap perkembangan zaman, serta semakin luas manfaatnya bagi masyarakat. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan dan keistiqamahan kepada kita semua dalam memakmurkan masjid dan menjadikannya sebagai pusat ibadah, ilmu, pelayanan dan kemaslahatan umat. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim