Detail Update

Detail Update

MEMANFAATKAN WAKTU TUNGGU SAAT MENGANTRE (ANTRI)

Card image cap

Oleh: Djoko Iriandono*)

Pada saat ini antrean di sebagian besar bank sudah diatur sedemikian rupa sehingga nasabah tidak harus berdiri dalam barisan antrean yang mengular dalam waktu yang lama. Sebagian diatur untuk berdiri dalam barisan di hadapan counter dan sebagian lainnya diminta duduk agar tidak capek berdiri dalam antrean.

Kemarin pagi sekitar jam 08.00 Penulis sudah duduk di bangku di belakang barisan antrean di salah satu bank di Samarinda. Sambil duduk Penulis memperhatikan semua orang-orang yang berada di ruangan antrean tersebut. Hampir seluruh orang yang sedang mengantre baik yang berdiri maupun yang duduk terlihat sedang asyik memeloti gadget (ponsel) masing-masing.

Venomena ini membuktikan adanya pergeseran budaya pada masyarakat Indonesia. Dahulu dalam kegiatan menunggu giliran seperti antre untuk membeli tiket di gedung bioskop atau menunggu keberangkatan kereta api maupun pesawat terbang umumnya masyarakat kita hanya berdiam diri atau mengobrol sesama pengantre dan jarang ditemukan orang yang sedang membaca buku atau majalah. Sekarang sudah ada kemajuan karena sebagian besar masyarakat kita dalam mengisi waktu tunggu saat mengantre dengan membaca. Namun sayangnya yang mereka baca bukanlah buku melainkan apa yang muncul di layar ponsel mereka. Jika kita teliti satu persatu maka sudah hampir dapat dipastikan bahwa yang mereka baca adalah obrolan WhatsApp, facebook, instagram atau menonton video pendek di YouTube, Tik-Tok dan Snack Video atau platform media sosial lainnya.

Pada tanggal 23 Juni 2024 yang lalu di media ini juga Penulis telah uraikan tentang pentingnya membangun budaya antre dari sisi manfaat, tantangan dan peran dari pemerintah, masyarakat dan keluarga dalam membangun budaya antre. Pada artikel kali ini, Penulis mencoba mengurai budaya antre masyarakat Indonesia namun dari perspektif yang berbeda yaitu khusus hubungannya dengan kemauan baca dan kebiasaan memandangi ponsel.

Budaya antre adalah salah satu bentuk disiplin yang mencerminkan tingkat peradaban sebuah masyarakat. Dalam praktiknya, antre bukan sekadar berdiri berbaris menunggu giliran, tetapi juga melibatkan kesabaran, toleransi, dan penghormatan terhadap hak orang lain. Di Indonesia, budaya antre masih menjadi tantangan. Meski banyak yang sudah memahami pentingnya antre, perilaku tidak sabar, serobot-menyelak, atau mencari jalan pintas masih sering terlihat, terutama di tempat-tempat umum seperti terminal pengisian bahan bakar, loket tiket, hingga pusat perbelanjaan.

Salah satu alasan utama lemahnya budaya antre di Indonesia adalah kurangnya kesadaran kolektif. Banyak individu yang memandang waktu sebagai sesuatu yang dapat dikompromikan sehingga mereka merasa berhak mengorbankan aturan demi kepentingan pribadi. Selain itu, keterbatasan fasilitas publik yang memadai juga menjadi pemicu perilaku serobot.

Namun, ada fenomena menarik yang bisa dilihat saat masyarakat antre, yaitu bagaimana mereka memanfaatkan waktu tunggu. Di era modern, dua kebiasaan yang paling menonjol adalah membaca buku dan melihat handphone. Kedua aktivitas ini mencerminkan bagaimana masyarakat mengisi waktu luang dengan cara yang berbeda, yang kemudian memengaruhi pengalaman dan perilaku mereka.

Membaca Buku: Pengisi Waktu yang Reflektif

Bagi sebagian orang, membawa buku saat antre menjadi cara untuk memanfaatkan waktu secara produktif. Hal ini banyak dilakukan oleh masyarakat di negara maju seperti Amerika, Inggris dan Jepang. Membaca buku memungkinkan seseorang untuk memperluas wawasan, melatih konsentrasi, dan mengalihkan pikiran dari rasa bosan. Sayangnya, di Indonesia, kebiasaan membaca buku masih tergolong rendah. Data UNESCO menunjukkan minat baca di Indonesia sangat rendah yaitu menduduki urutan ke dua dari bawah soal urusan literasi dunia (0,001%). Fenomena ini menjadi cermin bahwa budaya membaca belum benar-benar mengakar, sehingga kebiasaan membawa buku saat antre masih jarang ditemukan.

Melihat Handphone: Kebutuhan atau Kebiasaan?

Sebaliknya, melihat handphone sudah menjadi pemandangan umum dalam antrean. Handphone menyediakan hiburan instan, seperti media sosial, video pendek, hingga permainan. Aktivitas ini memang membantu mengusir rasa bosan, tetapi sering kali justru memicu ketidaksabaran. Algoritma pada aplikasi sering memberikan sensasi kepuasan instan, sehingga pengguna terbiasa mendapatkan sesuatu secara cepat. Kebiasaan ini berpotensi menurunkan toleransi terhadap situasi yang membutuhkan kesabaran, seperti antre.

Dampak Sosial dan Budaya

Kedua kebiasaan ini memiliki dampak berbeda terhadap pembentukan budaya antre di masyarakat. Membaca buku, meskipun jarang, mendukung penguatan budaya sabar dan fokus. Sementara itu, penggunaan handphone, meski menghibur, kadang memicu disrupsi sosial, seperti kurangnya interaksi dengan sesama atau meningkatnya ketidaksabaran.

Untuk memperbaiki budaya antre, masyarakat perlu didorong untuk mengisi waktu tunggu dengan cara yang lebih produktif. Kampanye literasi dapat digalakkan untuk meningkatkan minat membaca buku, termasuk melalui program perpustakaan digital yang mudah diakses dari handphone. Di sisi lain, edukasi tentang etika menggunakan gadget di ruang publik juga penting agar teknologi tidak justru merusak tatanan sosial.

Peran Pemerintah dan Masyarakat dalam Membangun Budaya Antre

Untuk memperkuat budaya antre yang baik di Indonesia, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta. Pemerintah dapat berperan melalui kebijakan dan fasilitas publik yang mendukung terciptanya budaya disiplin. Sementara itu, masyarakat perlu mengambil peran aktif dengan mengubah pola pikir dan kebiasaan sehari-hari.

  1. Pendidikan Karakter Sejak Dini

 Salah satu cara efektif untuk membangun budaya antre adalah dengan menanamkan nilai-nilai disiplin, sabar, dan menghargai hak orang lain sejak usia dini. Sekolah dapat menjadi tempat yang strategis untuk mengajarkan pentingnya antre, misalnya melalui simulasi antrean di kantin atau kegiatan sehari-hari lainnya. Dengan pembiasaan ini, anak-anak akan tumbuh dengan pemahaman bahwa antre adalah bagian dari kehidupan bermasyarakat.

  1. Teknologi Sebagai Solusi, Bukan Distraksi

Kemajuan teknologi sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kenyamanan dalam antre. Sistem antrean berbasis digital, seperti nomor tiket elektronik, dapat mengurangi ketegangan dan meminimalkan potensi konflik. Selain itu, teknologi juga bisa digunakan untuk menyebarkan kampanye literasi melalui aplikasi yang mempromosikan kebiasaan membaca, seperti menyediakan buku digital gratis bagi pengguna yang sedang menunggu di ruang publik.

Namun, masyarakat perlu diingatkan untuk menggunakan teknologi secara bijak. Penggunaan handphone selama antre sebaiknya tidak hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk aktivitas yang produktif, seperti membaca artikel informatif atau belajar sesuatu yang baru.

  1. Infrastruktur yang Memadai

Pemerintah dan pengelola fasilitas umum perlu menyediakan infrastruktur yang mendukung budaya antre. Misalnya, menyediakan ruang tunggu yang nyaman, jalur antrean yang jelas, dan petugas yang mengawasi agar proses antre berjalan dengan tertib. Di tempat-tempat seperti stasiun kereta, bandara, atau rumah sakit, keberadaan sistem pengelolaan antrean yang baik dapat meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap aturan antre.

  1. Kampanye Budaya Antre dan Literasi

Kampanye untuk memperkenalkan dan mempromosikan budaya antre bisa dilakukan secara masif, misalnya melalui media sosial, iklan layanan masyarakat, atau kerja sama dengan figur publik yang menjadi panutan. Kampanye ini dapat digabungkan dengan gerakan literasi untuk meningkatkan minat baca di masyarakat. Contohnya, mendorong orang untuk membawa buku atau membaca e-book sambil menunggu giliran.

Dampak Jangka Panjang Budaya Antre yang Baik

Ketika budaya antre sudah melekat dalam kehidupan sehari-hari, manfaatnya akan dirasakan secara luas. Beberapa dampak positif dari budaya antre yang baik meliputi:

  1. Tertibnya Kehidupan Sosial: Budaya antre menciptakan keteraturan di ruang publik, mengurangi potensi konflik, dan meningkatkan rasa saling menghormati.
  2. Peningkatan Produktivitas: Dengan mengisi waktu antre secara produktif, seperti membaca buku, masyarakat dapat memanfaatkan waktu luang untuk memperluas wawasan dan keterampilan.
  3. Cerminan Bangsa yang Beradab: Budaya antre adalah salah satu indikator penting dari tingkat peradaban sebuah masyarakat. Semakin tinggi kepatuhan masyarakat terhadap budaya antre, semakin positif citra bangsa di mata dunia.

Budaya antre merupakan cerminan perilaku kolektif masyarakat. Kebiasaan membaca buku dan melihat handphone saat antre mencerminkan dua pola yang berbeda dalam memanfaatkan waktu. Dengan meningkatkan minat baca dan penggunaan teknologi yang bijak, masyarakat Indonesia dapat memperkuat budaya antre sebagai wujud peradaban yang lebih maju. Upaya ini membutuhkan sinergi antara individu, keluarga, dan pemerintah untuk menciptakan perubahan positif dalam kebiasaan sehari-hari.

Budaya antre bukan hanya soal menunggu giliran, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai penting seperti kesabaran, disiplin, dan penghormatan terhadap sesama. Kebiasaan membaca buku dan melihat handphone saat antre menggambarkan cara masyarakat Indonesia memanfaatkan waktu tunggu. Dengan pendekatan yang holistik, termasuk pendidikan karakter, pemanfaatan teknologi, pembangunan infrastruktur, dan kampanye budaya, Indonesia dapat menciptakan masyarakat yang lebih tertib, produktif, dan beradab. Budaya antre yang baik tidak hanya menguntungkan individu, tetapi juga membawa dampak positif bagi kehidupan sosial secara keseluruhan.

 

*) Kasi Kominfo BPIC