Oleh: Djoko Iriandono*)
Di mata publik, guru sering dipandang sebagai profesi yang mulia. Ucapan “pahlawan tanpa tanda jasa” terus diulang dalam pidato-pidato resmi pada Hari Guru Nasional, spanduk peringatan Hari Pendidikan, hingga caption media sosial. Masyarakat berharap guru mampu membentuk generasi masa depan, menanamkan nilai, mendidik karakter, sekaligus menjadi teladan moral di tengah kehidupan yang makin kompleks. Harapan itu begitu besar, begitu tinggi, bahkan kadang terasa nyaris tanpa batas.
Namun di balik harapan publik itu, ada realitas pribadi yang tidak selalu mudah dijalani oleh sebagian guru yang menyandang status “guru honorer”.
Tidak semua orang tahu atau bahkan mungkin tidak mau tahu bahwa sebagian guru honorer harus memulai hari dengan menghitung sisa uang di dompet sebelum berangkat mengajar. Ada yang harus membagi penghasilan kecil untuk biaya sekolah anaknya sendiri, membayar kontrakan, membeli BBM, dan memenuhi kebutuhan rumah tangga yang terus naik dari waktu ke waktu. Ironisnya, orang yang mengajarkan cita-cita kepada anak-anak bangsa justru sering dipaksa berdamai dengan kenyataan hidup yang begitu sederhana.
Sebagian dari mereka menerima honor yang bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar selama satu bulan penuh. Ada yang dibayar per jam mengajar. Ada yang harus menunggu berbulan-bulan hingga honor cair. Ada pula yang tetap bertahan mengajar meski tahu penghasilannya jauh di bawah pekerjaan lain yang mungkin tidak menuntut tanggung jawab sebesar profesi guru.
Tetapi mereka tetap datang.
Mereka tetap berdiri di depan kelas.
Mereka tetap memanggil nama murid satu per satu.
Karena bagi banyak guru honorer, mengajar bukan sekadar pekerjaan. Ada panggilan batin yang membuat mereka bertahan lebih lama daripada logika ekonomi.
Di sinilah letak ironi yang sering tidak terlihat. Publik menginginkan pendidikan yang berkualitas, tetapi dalam banyak keadaan, sistem belum sepenuhnya memberi penghargaan yang layak kepada orang-orang yang menjalankan tugas pendidikan itu sendiri. Kita berharap guru membangun generasi yang tangguh, sementara sebagian dari mereka harus bertahan menghadapi ketidakpastian hidup yang berkepanjangan.
Guru honorer hidup di antara dua dunia: dunia pengabdian dan dunia kebutuhan.
Di satu sisi, mereka dituntut untuk tetap profesional, disiplin, kreatif, dan penuh dedikasi dalam menjalankan tugasnya. Mereka harus menyusun administrasi pembelajaran, mengikuti berbagai pelatihan, menyesuaikan diri dengan perubahan kurikulum yang terus bergerak, memahami perkembangan teknologi, bahkan sering kali dituntut menjadi sosok “serba bisa” di lingkungan sekolah.
Mereka bukan hanya berperan sebagai guru di ruang kelas, tetapi juga menjadi operator sekolah, pembina kegiatan, pengelola administrasi digital, hingga tempat murid-murid mencurahkan kegelisahan dan kehilangan arah hidupnya. Ironisnya, dalam banyak kenyataan yang sering terdengar, guru honorer—terutama yang masih muda—kerap pula diminta membantu guru-guru senior berstatus ASN untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan yang berkaitan dengan penggunaan komputer, aplikasi, dan internet. Mereka bekerja lebih banyak, memikul tanggung jawab yang tidak sedikit, tetapi sering kali tetap berada pada posisi yang paling rentan secara kesejahteraan.
Namun di sisi lain, mereka juga manusia biasa.
Mereka punya keluarga yang perlu diperhatikan. Mereka punya anak yang butuh biaya sekolah. Mereka punya orang tua yang mulai menua. Mereka punya rasa lelah, kecewa, dan kekhawatiran tentang masa depan yang sering dipendam sendirian.
Tidak sedikit guru honorer yang memasuki usia matang tanpa kepastian status pekerjaan. Tahun demi tahun berlalu dalam penantian: menunggu formasi, menunggu regulasi, menunggu kebijakan yang entah kapan benar-benar berpihak kepada mereka. Sebagian tetap optimis, sebagian mulai letih berharap, dan sebagian lain diam-diam memilih pergi meninggalkan dunia pendidikan karena keadaan memaksa mereka mencari penghidupan yang lebih pasti.
Yang menyedihkan, kepergian mereka sering nyaris tak terdengar.
Tidak ada berita besar.
Tidak ada pidato perpisahan.
Hanya satu kursi kosong di ruang guru, lalu beberapa minggu kemudian digantikan oleh orang baru yang memulai perjuangan serupa.
Padahal setiap guru honorer menyimpan cerita yang tidak sederhana. Ada yang menempuh perjalanan jauh melewati sungai, jalan rusak, atau perbukitan demi mengajar. Ada yang mengajar di daerah terpencil dengan fasilitas terbatas. Ada yang tetap masuk kelas meski sedang sakit karena tidak ada guru pengganti. Ada pula yang tetap tersenyum di depan murid, walau malam sebelumnya memikirkan bagaimana membayar kebutuhan rumah tangga.
Mungkin karena itulah, banyak guru honorer terlihat lebih kuat daripada yang sebenarnya.
Mereka terbiasa menyimpan lelah di balik tawa kecil bersama murid-murid. Mereka belajar menerima keadaan tanpa banyak mengeluh. Mereka memahami bahwa murid tidak seharusnya menanggung beban kegelisahan gurunya. Maka mereka tetap mengajar dengan sepenuh hati, meski kadang hati mereka sendiri sedang rapuh.
Kita tentu tidak bisa menutup mata bahwa pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki kesejahteraan guru, termasuk melalui skema pengangkatan ASN, PPPK, dan berbagai program bantuan lainnya. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa persoalan guru honorer belum sepenuhnya selesai. Jumlah kebutuhan guru yang besar, keterbatasan anggaran, persoalan administratif, hingga kebijakan yang berubah-ubah membuat banyak guru masih berada dalam ketidakpastian.
Karena itu, persoalan guru honorer seharusnya tidak hanya dipandang sebagai isu administrasi kepegawaian. Ini adalah persoalan kemanusiaan.
Ketika seseorang mengabdikan hidupnya untuk mendidik generasi bangsa selama bertahun-tahun, maka yang mereka harapkan sebenarnya bukan hanya soal angka gaji. Mereka ingin dihargai sebagai manusia. Mereka ingin merasa bahwa pengorbanannya dilihat. Bahwa pengabdiannya tidak dianggap biasa-biasa saja. Bahwa negara dan masyarakat benar-benar memahami arti penting kehadiran mereka.
Pendidikan yang baik tidak lahir dari gedung-gedung megah kementerian, kantor gubernur, kantor Bupati/Walikota, kantor dinas pendidikan atau kurikulum yang terus diperbarui. Pendidikan yang baik lahir dari ruang kelas dimana guru-guru bekerja dengan ikhlas dan dengan hati yang tenang, hidup yang layak, dan masa depan yang tidak penuh kecemasan.
Sebab sulit meminta seseorang menyalakan harapan bagi orang lain jika hidupnya sendiri terus berada dalam ketidakpastian.
Pada akhirnya, guru honorer mengajarkan kepada kita sesuatu yang lebih dalam daripada pelajaran di buku sekolah. Mereka mengajarkan arti ketulusan. Mereka menunjukkan bahwa pengabdian kadang tetap berjalan meski penghargaan belum datang. Mereka membuktikan bahwa ada orang-orang yang terus bekerja demi masa depan bangsa, walau sering harus mengorbankan kenyamanan hidupnya sendiri.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar keuntungan, keberadaan guru honorer menjadi pengingat bahwa masih ada orang-orang yang bertahan bukan semata karena materi, tetapi karena keyakinan bahwa mendidik adalah jalan untuk menjaga masa depan.
Namun keyakinan sebesar apa pun tetap membutuhkan keberpihakan.
Sebab ketulusan tidak seharusnya dijadikan alasan untuk membiarkan seseorang terus hidup dalam keterbatasan.
Sudah saatnya kita tidak hanya memuji guru honorer dengan ungkapan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”, tetapi juga menghadirkan kebijakan dan perhatian yang benar-benar membuat mereka merasa dihargai. Karena di balik papan tulis yang sederhana itu, ada kehidupan yang juga ingin diperlakukan dengan layak.
Dan di balik senyum seorang guru honorer, sering tersembunyi perjuangan panjang yang tidak semua orang sanggup menjalaninya.
*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim.