Oleh: Djoko Iriandono*)
Beberapa hari yang lalu saat membuka aplikasi youtube tanpa sengaja Penulis mendapati video presiden Prabowo Subianto sedang berpidato. Dalam pidato itu beliau mengatakan bahwa beliau sangat menaruh hormat kepada seluruh presiden pendahulunya. Beliau mengatakan bahwa tidak ada manusia yang sempurna, semua pemimpin pasti memiliki kekurangan atau kelemahan dan bahkan kesalahan baik disengaja maupun tidak. Hal itu manusiawi. Oleh sabab itu kita tidak perlu mengungkit-ungkit segala yang menjadi kekurangan mereka, namun sebaliknya kita justru harus mengangkat tinggi-tingi segala kebaikan dan jasa-jasa mereka. Lebih jauh bapak Prabowo mengatakan bahwa hal ini sesuai dengan pepatah Jawa yang berbunyi “Mikul Duwur Mendem Jero”. Berdasarkan pidato di atas maka pada kesempatan ini Penulis mencoba menggali lebih jauh apa makna yang terkandung dari pepatah yang diucapkan oleh presiden kita itu.
Pepatah Jawa "Mikul Duwur Mendem Jero" memiliki arti yang sangat mendalam dalam kehidupan bermasyarakat dan keluarga. Secara harfiah, pepatah ini berarti "mengangkat tinggi-tinggi dan mengubur dalam-dalam." Filosofi ini mengajarkan nilai penghormatan terhadap orang tua, dan leluhur serta pentingnya menjaga martabat keluarga. Mari kita telusuri lebih jauh makna dan relevansi pepatah ini di era modern.
Makna Filosofis
"Mikul Duwur" melambangkan kewajiban anak untuk menjunjung tinggi nama baik orang tua dan keluarga. Hal ini mencakup memberikan penghormatan, menjaga citra, dan melanjutkan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. Sebaliknya, "Mendem Jero" berarti mengubur dalam-dalam kesalahan atau aib orang tua dan keluarga kita. Filosofi ini tidak mengajarkan kita untuk menutupi kesalahan secara membabi buta, tetapi lebih kepada menahan diri dari mengumbar keburukan orang tua, dan keluarga kita kepada orang lain demi menjaga keharmonisan dan kehormatan.
Implementasi dalam Kehidupan Sehari-hari
Menghormati orang tua tidak hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan nyata. Anak yang menghormati orang tuanya akan selalu berusaha untuk menjaga perasaan mereka, memberikan perhatian, dan meringankan beban mereka, baik secara material maupun emosional.
Dalam era digital seperti sekarang, menjaga nama baik keluarga menjadi semakin penting. Informasi dapat dengan mudah tersebar melalui media sosial. Anak-anak memiliki tanggung jawab untuk berhati-hati dalam bertindak agar tidak mencemarkan nama baik keluarga.
"Mendem Jero" bukan berarti melupakan kesalahan yang pernah terjadi, tetapi mengambil hikmah darinya. Kesalahan masa lalu dapat menjadi pelajaran berharga bagi generasi berikutnya untuk tidak mengulanginya. Jadi tidak perlu untuk menceritakan kesalahan atau aib keluarga kepada orang lain. Kita harus mampu menahan diri dan tidak terpancing untuk bercerita kepada orang lain betapapun besar kesalahan orang tua atau anggota keluarga kita.
Dalam konteks keluarga, nilai-nilai positif seperti kejujuran, kerja keras, dan tanggung jawab harus diwariskan kepada anak-anak. Inilah cara untuk memastikan bahwa "mikul duwur" dilakukan dengan sungguh-sungguh, bukan hanya sekadar penghormatan formalitas.
Relevansi di Era Modern
Di era modern, tantangan dalam menerapkan filosofi "Mikul Duwur Mendem Jero" semakin besar. Perubahan sosial, perbedaan generasi, dan gaya hidup yang semakin individualistis seringkali menjadi penghalang. Namun, inti dari filosofi ini tetap relevan: menjaga hubungan harmonis dalam keluarga dan menghormati warisan nilai-nilai baik.
Dalam organisasi atau komunitas, filosofi ini juga dapat diterapkan. Pemimpin yang baik akan selalu menghargai jasa pendahulunya (mikul duwur) sekaligus bijak dalam menyelesaikan konflik internal tanpa mempermalukan pihak lain (mendem jero).
Menghidupkan Kembali Nilai Luhur dalam Kehidupan Modern
Filosofi "Mikul Duwur Mendem Jero" tidak hanya terbatas pada hubungan keluarga, tetapi juga dapat diimplementasikan dalam berbagai aspek kehidupan:
1. Dalam Dunia Pendidikan
Guru dan murid memiliki hubungan yang serupa dengan orang tua dan anak. Sebagai murid, menjunjung tinggi jasa dan pengabdian seorang guru adalah bentuk "mikul duwur." Sementara itu, "mendem jero" mengajarkan murid untuk tidak memperbesar kesalahan kecil atau kekurangan guru, melainkan mengambil pelajaran dari apa yang diajarkan.
2. Dalam Kehidupan Bermasyarakat
Dalam komunitas, konsep ini mengajarkan pentingnya menjaga kehormatan bersama. Anggota masyarakat diharapkan dapat menjunjung nilai gotong royong dan solidaritas (mikul duwur) serta menyelesaikan permasalahan internal tanpa mempermalukan pihak tertentu (mendem jero).
3. Dalam Kepemimpinan
Bagi seorang pemimpin, filosofi ini menjadi pedoman penting. "Mikul duwur" berarti menghormati perjuangan pendahulu dan melanjutkan visi mereka dengan penuh tanggung jawab. Sementara "mendem jero" berarti tidak mencari-cari kekurangan atau kesalahan para pendahulu, tetapi menjadikan kekurangan dan kelemahan serta kesalahan para pendahulu sebagai bahan renungan untuk bersikap dan bertindak lebih baik. Selain itu juga dimaksudkan untuk menjaga keharmonisan dan stabilitas organisasi dengan menyelesaikan masalah secara bijak tanpa menimbulkan konflik terbuka yang dapat merusak reputasi.
4. Dalam Media Sosial
Di era digital, di mana informasi dapat menyebar dalam hitungan detik, penting bagi setiap individu untuk menerapkan prinsip "Mendem Jero." Hindari menyebarkan aib orang lain atau keluarga di media sosial, karena hal tersebut dapat merusak hubungan dan martabat diri sendiri. Sebaliknya, gunakan platform digital untuk menyebarkan hal-hal positif dan menginspirasi (mikul duwur).
Mikul Duwur Mendem Jero dan Karakter Bangsa
Pepatah ini sejatinya merupakan refleksi dari karakter bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai kesopanan, kehormatan, dan gotong royong. Dalam konteks pembangunan bangsa, "Mikul Duwur" berarti menghargai jasa pahlawan yang telah berjuang untuk kemerdekaan dan menginspirasi generasi penerus untuk melanjutkan perjuangan mereka. Sedangkan "Mendem Jero" mengingatkan kita untuk tidak terjebak dalam masa lalu yang kelam, melainkan fokus pada membangun masa depan yang lebih baik.
Bagaimana Mempraktikkannya?
"Mikul Duwur Mendem Jero" bukan hanya sekadar pepatah, tetapi juga panduan etis yang relevan sepanjang zaman. Filosofi ini mengajarkan kita untuk hidup dengan penuh rasa hormat, tanggung jawab, dan kebijaksanaan. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, menerapkan nilai-nilai luhur ini akan membantu kita menjaga jati diri sebagai individu yang berintegritas dan sebagai bangsa yang bermartabat.
Mari kita bersama-sama menjadikan filosofi ini sebagai bagian dari kehidupan kita sehari-hari, karena dari nilai-nilai kecil inilah akan tercipta keharmonisan dan kedamaian yang lebih besar. "Apa yang kita junjung hari ini, akan menjadi warisan yang dikenang oleh generasi mendatang."
"Mikul Duwur Mendem Jero" adalah warisan budaya yang mengajarkan kita untuk hidup dalam harmoni dan saling menghormati. Filosofi ini bukan hanya pedoman untuk berbakti kepada orang tua, tetapi juga sebuah prinsip universal yang relevan dalam hubungan sosial, pekerjaan, dan kehidupan bermasyarakat.
Mari kita jadikan pepatah ini sebagai pengingat untuk selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebajikan dan menjaga kehormatan, baik dalam keluarga maupun di lingkungan yang lebih luas.
*) Kasi Kominfo BPIC