Detail Update

Detail Update

Penempatan Guru

Card image cap Jangan jauhkan guru dari rumahnya.

JANGAN JAUHKAN GURU DARI RUMAHNYA

Oleh: Djoko Iriandono, S.E., M.A*)

Dalam dunia pendidikan, kita sering disibukkan dengan berbagai persoalan besar. Mulai dari pemerataan guru, peningkatan kompetensi, sertifikasi, kurikulum, digitalisasi pembelajaran, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Semua itu memang penting.

Namun, di tengah berbagai agenda besar tersebut, ada satu hal yang menurut saya sering luput dari perhatian, yakni penempatan guru.

Selama bertahun-tahun kita lebih banyak memandang penempatan guru dari sisi administrasi dan kebutuhan sekolah. Padahal, ada aspek lain yang tidak kalah penting, yaitu jarak antara rumah guru dan sekolah tempat ia mengajar.

Pengalaman saya ketika menjabat sebagai Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar mengajarkan bahwa persoalan ini bukanlah masalah sepele. Justru dari sinilah banyak persoalan lain bermula.

Sebuah pengalaman yang tidak pernah saya lupakan

Ketika masih bertugas di Dinas Pendidikan, saya pernah melakukan penataan kembali penempatan guru dan kepala sekolah. Salah satu pertimbangannya adalah sedapat mungkin guru ditempatkan di sekolah yang lokasinya lebih dekat dengan tempat tinggalnya.

Kebijakan ini tidak muncul karena mengikuti teori tertentu. Saya hanya menggunakan logika sederhana.

Kalau seseorang setiap hari harus menempuh perjalanan yang jauh untuk bekerja, tentu tenaga, waktu, biaya, dan pikirannya akan banyak terkuras di jalan. Sebaliknya, jika tempat kerjanya lebih dekat, ia akan bekerja dengan lebih nyaman dan lebih tenang.

Di antara puluhan guru yang saat itu mengalami penataan, ada satu kisah yang hingga kini masih saya ingat.

Seorang guru sekolah dasar telah mengabdi lebih dari sepuluh tahun di sekolah yang sama. Jarak dari rumahnya ke sekolah sekitar 20 kilometer. Setiap hari ia harus menempuh perjalanan pulang-pergi sekitar 40 kilometer menggunakan sepeda motor.

Selama bertahun-tahun ia berkali-kali mengajukan mutasi. Namun setiap kali pula usahanya gagal.

Ketika penataan dilakukan dan ia akhirnya dipindahkan ke sekolah yang lebih dekat dengan rumahnya, kebahagiaan begitu jelas terpancar dari wajahnya. Ia berkali-kali mengucapkan terima kasih.

Yang membuat saya semakin terharu, hingga sekarang, meskipun saya telah pensiun, setiap kali kami bertemu ia hampir selalu mengingat kembali peristiwa itu dan mengucapkan terima kasih.

Bahkan bukan hanya beliau. Masih ada beberapa guru lain yang mengalami hal serupa. Mereka mungkin sudah lupa berbagai kebijakan yang pernah saya buat. Tetapi mereka tidak lupa bahwa pernah ada kebijakan yang membuat hidup mereka menjadi lebih ringan.

Dari situlah saya belajar bahwa sebuah kebijakan tidak selalu dikenang karena rumitnya peraturan yang dibuat. Kadang-kadang justru dikenang karena mampu menyentuh kehidupan orang-orang yang menjalankannya.

Guru juga manusia

Sering kali kita menuntut guru untuk profesional, disiplin, kreatif, inovatif, dan menjadi teladan bagi peserta didik.

Tuntutan itu tentu benar.

Namun kita juga harus mengingat bahwa guru adalah manusia biasa.

Mereka memiliki keluarga yang harus diperhatikan.

Mereka memiliki anak yang perlu diantar ke sekolah.

Mereka memiliki orang tua yang harus dirawat.

Mereka juga membutuhkan waktu untuk beristirahat agar esok hari dapat kembali mengajar dengan penuh semangat.

Apabila setiap hari energi mereka sudah terkuras di jalan sebelum memasuki ruang kelas, tentu kondisi tersebut sedikit banyak akan memengaruhi kualitas pekerjaan mereka.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2024 menemukan bahwa guru yang memiliki waktu tempuh lebih panjang menuju sekolah cenderung lebih mudah mengajukan perpindahan kerja. Bahkan setiap tambahan lima menit perjalanan meningkatkan kemungkinan guru untuk berpindah sekolah. Temuan ini menunjukkan bahwa jarak menuju tempat kerja bukan hanya persoalan transportasi, tetapi juga berpengaruh terhadap kepuasan kerja dan keberlanjutan profesi guru.

Mengurangi beban pengeluaran guru

Kita sering berbicara tentang bagaimana meningkatkan kesejahteraan guru.

Biasanya solusi yang muncul adalah menaikkan penghasilan.

Padahal ada cara lain yang jauh lebih sederhana, yaitu mengurangi pengeluaran rutin mereka.

Guru yang setiap hari menempuh perjalanan puluhan kilometer tentu harus mengeluarkan biaya bahan bakar, servis kendaraan, penggantian oli, ban, dan biaya perawatan lainnya.

Jika jarak rumah dan sekolah dapat dipangkas, pengeluaran tersebut otomatis ikut berkurang.

Tanpa menaikkan gaji satu rupiah pun, daya beli guru sebenarnya sudah meningkat.

Dalam kondisi ekonomi seperti sekarang, penghematan biaya transportasi tentu bukan sesuatu yang bisa dianggap kecil.

Mengurangi emisi karbon

Dunia saat ini sedang menghadapi tantangan perubahan iklim.

Pemerintah di berbagai negara berupaya mengurangi emisi karbon melalui berbagai kebijakan.

Salah satu penyumbang emisi adalah transportasi.

Semakin jauh seseorang melakukan perjalanan setiap hari, semakin besar pula emisi karbon yang dihasilkan.

Penelitian mengenai mobilitas menuju sekolah menunjukkan bahwa pemendekan jarak perjalanan mampu memberikan kontribusi terhadap pengurangan emisi karbon.

Mungkin perjalanan seorang guru terlihat kecil.

Tetapi jika puluhan bahkan ratusan ribu guru di Indonesia setiap hari dapat mengurangi perjalanan beberapa kilometer saja, dampaknya terhadap lingkungan tentu tidak bisa dianggap remeh.

Meminimalisir risiko kecelakaan

Guru berangkat bekerja pada jam-jam ketika lalu lintas sedang padat.

Semakin lama seseorang berada di jalan raya, semakin besar peluang menghadapi risiko kecelakaan.

Tidak ada yang dapat menjamin keselamatan seseorang selama berkendara.

Namun kita dapat mengurangi risikonya.

Salah satunya adalah dengan mempersingkat jarak perjalanan menuju tempat kerja.

Selain melindungi guru, kebijakan ini juga memberikan ketenangan bagi keluarga mereka.

Mengurangi keterlambatan

Guru adalah teladan.

Namun keteladanan juga harus didukung oleh kebijakan yang rasional.

Semakin jauh rumah guru dari sekolah, semakin besar kemungkinan muncul hambatan di perjalanan.

Macet.

Hujan deras.

Ban bocor.

Jalan rusak.

Semuanya dapat menyebabkan keterlambatan.

Sebaliknya, guru yang tinggal dekat sekolah memiliki peluang lebih besar datang tepat waktu, mempersiapkan pembelajaran dengan baik, dan menyambut peserta didik dengan kondisi yang lebih segar.

Guru lebih dekat dengan masyarakat

Ada manfaat lain yang sering terlupakan.

Guru yang tinggal di sekitar lingkungan sekolah biasanya lebih mengenal peserta didik beserta keluarganya.

Hubungan dengan orang tua menjadi lebih akrab.

Komunikasi lebih mudah.

Jika ada peserta didik yang membutuhkan perhatian khusus, koordinasi dapat dilakukan lebih cepat.

Guru juga lebih mengenal kondisi sosial masyarakat sehingga pembinaan karakter peserta didik dapat dilakukan secara lebih efektif.

Sekolah benar-benar menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, bukan sekadar tempat belajar pada jam-jam tertentu.

Waktu bersama keluarga menjadi lebih banyak

Salah satu dampak yang paling dirasakan para guru setelah dipindahkan ke sekolah yang lebih dekat adalah bertambahnya waktu bersama keluarga.

Mungkin hanya satu jam setiap hari.

Tetapi jika dikumpulkan selama satu tahun, jumlahnya mencapai ratusan jam.

Waktu tersebut dapat digunakan untuk mendampingi anak belajar, beribadah bersama keluarga, berolahraga, membaca, atau sekadar menikmati kebersamaan yang selama ini tergerus oleh panjangnya perjalanan menuju tempat kerja.

Guru yang memiliki kehidupan keluarga yang lebih seimbang umumnya juga bekerja dengan lebih tenang dan lebih bahagia.

Dan guru yang bahagia akan lebih mudah menularkan energi positif kepada peserta didiknya.

Sudah saatnya menjadi pertimbangan kebijakan

Saya memahami bahwa tidak semua guru dapat ditempatkan tepat di dekat rumahnya.

Ada sekolah yang kekurangan guru mata pelajaran tertentu.

Ada daerah terpencil yang memang harus didukung oleh guru dari luar wilayah.

Ada pula kebutuhan pemerataan tenaga pendidik.

Karena itu saya tidak mengatakan bahwa domisili harus menjadi satu-satunya dasar penempatan guru.

Namun saya berpendapat bahwa domisili seharusnya menjadi salah satu variabel penting dalam setiap kebijakan penempatan dan mutasi guru, di samping kompetensi, kebutuhan sekolah, pemerataan, dan kepentingan pelayanan pendidikan.

Teknologi saat ini memungkinkan pemerintah memetakan alamat guru dan lokasi sekolah dengan sangat mudah. Melalui sistem informasi geografis (GIS) dan basis data kepegawaian yang sudah dimiliki pemerintah, proses penempatan guru dapat dilakukan secara lebih objektif, efisien, dan berbasis data.

Jika pendekatan ini diterapkan secara konsisten, manfaatnya bukan hanya dirasakan oleh guru, tetapi juga oleh peserta didik, sekolah, keluarga guru, bahkan lingkungan hidup.

Penutup

Selama puluhan tahun berkecimpung di dunia pendidikan, saya belajar bahwa kebijakan yang baik tidak selalu harus mahal, rumit, atau spektakuler.

Kadang-kadang, kebijakan yang paling sederhana justru memberikan dampak yang paling nyata bagi kehidupan banyak orang.

Menempatkan guru sedekat mungkin dengan tempat tinggalnya mungkin tampak sebagai persoalan kecil. Namun di balik kebijakan itu tersimpan begitu banyak manfaat, antara lain: mengurangi biaya hidup, menekan risiko kecelakaan, meningkatkan disiplin, memperkuat hubungan guru dengan masyarakat, mengurangi emisi karbon, sekaligus memberikan lebih banyak waktu bagi guru untuk keluarganya.

Yang paling penting, guru dapat datang ke sekolah dengan pikiran yang lebih tenang, tubuh yang lebih segar, dan hati yang lebih bahagia. Pada akhirnya, peserta didiklah yang akan menikmati manfaat terbesar dari kondisi tersebut.

Karena itu, saya berharap para kepala daerah, kepala dinas pendidikan, pejabat yang menangani kepegawaian, serta seluruh pengambil kebijakan di bidang pendidikan mulai memberikan perhatian yang lebih serius terhadap faktor domisili dalam setiap penempatan dan mutasi guru. Memang tidak semua kondisi memungkinkan untuk memenuhi harapan tersebut. Namun selama tidak mengganggu pemerataan layanan pendidikan dan kebutuhan sekolah, menjadikan domisili sebagai salah satu pertimbangan utama adalah sebuah langkah yang bijaksana.

Kita tidak sedang memberikan keistimewaan kepada guru. Kita sedang menciptakan kondisi agar mereka dapat menjalankan tugas mulianya dengan lebih baik.

Sebab pendidikan yang berkualitas tidak hanya lahir dari kurikulum yang baik atau gedung sekolah yang megah. Pendidikan yang berkualitas juga lahir dari kebijakan-kebijakan yang memanusiakan guru.

Jangan jauhkan guru dari rumahnya. Karena ketika guru lebih dekat dengan rumahnya, sesungguhnya mereka akan lebih dekat dengan murid-muridnya, lebih dekat dengan masyarakatnya, dan lebih dekat dengan panggilan pengabdiannya.

*) Pengamat Pendidikan Kaltim