Hidup Ini Pilihan
Oleh: Djoko Iriandono *)
Hidup adalah rangkaian pilihan. Sejak mata kita terbuka di pagi hari hingga kembali terpejam di malam hari, kita dihadapkan pada berbagai keputusan: memilih bangun untuk shalat atau kembali menarik selimut, memilih berkata jujur atau berkelit, memilih bekerja dengan amanah atau sekadar menggugurkan kewajiban. Pilihan-pilihan itu mungkin terlihat kecil, tetapi sebenarnya ia adalah benih yang kelak tumbuh menjadi pohon bernama konsekuensi.
Dalam Islam, konsep pilihan bukanlah sesuatu yang asing. Allah ﷻ menciptakan manusia dengan akal dan kehendak (ikhtiar), sehingga manusia berbeda dari makhluk lain. Allah berfirman:
“Dan mengatakan: Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.”
(QS. Al-Kahfi : 29)
Ayat ini menegaskan bahwa manusia diberi kebebasan memilih. Namun kebebasan itu bukan tanpa batas. Kebebasan itu dibingkai oleh tanggung jawab. Setiap pilihan akan dimintai pertanggungjawaban, baik di dunia maupun di akhirat.
Kebebasan yang Bertanggung Jawab
Islam tidak mengajarkan fatalisme—bahwa manusia hanyalah wayang yang bertindak takdir tanpa daya. Sebaliknya, Allah menegaskan bahwa perubahan nasib manusia sangat terkait dengan pilihan yang mereka ambil. Firman-Nya:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra'd : 11)
Ayat ini sering kita dengar, namun maknanya jarang yang memahaminya begitu dalam. Ia sungguh-sungguh mengajarkan bahwa pilihan untuk berubah adalah titik awal dari segala perubahan besar. Seseorang yang memilih untuk malas, menunda, dan abai terhadap kewajiban tidak bisa menyalahkan takdir atas kegagalannya. Sebaliknya, orang yang memilih untuk bangkit, belajar, dan bersabar akan merasakan buah dari pilihannya itu.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita melihat bagaimana pilihan membentuk karakter. Pilihan untuk jujur, meskipun pahit, akan melahirkan kepercayaan. Pilihan untuk bersabar, meskipun berat, akan melahirkan kematangan jiwa. Pilihan untuk istiqamah, meski sedikit, akan disajikan pada keberkahan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai tanggung jawab atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa setiap manusia adalah pengambil keputusan dalam perlindungannya masing-masing. Seorang ayah memilih bagaimana mendidik anaknya. Seorang guru memilih bagaimana membimbing muridnya. Seorang pemimpin memilih kebijakan yang akan mempengaruhi banyak orang. Dan setiap pilihan itu tidak akan hilang begitu saja; ia akan dicatat dan dipertanggungjawabkan.
Pengakuan Dunia dan Akhirat
Kadang-kadang kita berpikir bahwa konsekuensi hanya berlaku di dunia. Padahal Islam mengajarkan bahwa konsekuensi terbesar justru menanti di akhirat. Allah ﷻ berfirman:
"Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya). Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya)."
(QS. Az-Zalzalah : 7–8)
Ayat ini menggugah kesadaran kita bahwa tidak ada pilihan yang sia-sia. Sekecil apa pun keputusan yang kita ambil—baik atau buruk—akan ada dampaknya. Bahkan senyum yang tulus, sedekah yang tersembunyi, atau doa yang lirih di lorong malam tidak akan pernah hilang dari perhitungan Allah.
Begitu pula sebaliknya. Kata-kata yang melukai, fitnah yang disebarkan, atau amanah yang dikhianati akan menjadi beban yang harus dipikul. Rasulullah ﷺ mengingatkan:
“Tidak akan berpindah kedua kaki seorang hamba pada hari berhenti hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa yang dihabiskan, tentang ilmunya untuk apa diamalkan, tentang hartanya dari mana yang diperoleh dan ke mana yang dibelanjakan, serta tentang tubuhnya untuk apa yang digunakan.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini adalah pengingat bahwa hidup bukan sekedar perjalanan tanpa arah. Ia sedang ujian. Dan setiap pilihan adalah jawaban atas soal-soal yang diberikan Allah kepada kita.
Pilihan yang Membentuk Takdir
Sering kali kita mendengar ungkapan, “Sudah takdir.” Padahal, dalam banyak hal, takdir berjalan seiring dengan pilihan kita. Kita memang tidak bisa memilih di mana dilahirkan, dari keluarga mana berasal, atau kapan ajal menjemput. Namun kita bisa memilih sikap terhadap semua itu.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah bantuan kepada Allah dan janganlah lemah.”
(HR.Muslim)
Hadis ini menunjukkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Kita diperintahkan untuk memilih yang bermanfaat, berusaha sekuat tenaga, lalu menyerahkan hasil kepada Allah. Tidak ada ruang bagi sikap pasrah tanpa usaha.
Dalam konteks kehidupan modern, pilihan semakin kompleks. Informasi datang begitu deras. Godaan begitu dekat. Dunia digital membuka peluang kebaikan sekaligus pintu keburukan. Kita bisa memilih menggunakan media sosial untuk berdakwah, berbagi ilmu, dan menyebarkan inspirasi. Namun kita juga bisa memilih untuk menyebarkan kebencian, hoaks, dan ghibah. Menariknya? Bukan hanya pada citra diri, namun juga pada catatan amal kita.
Memilih dengan Hati yang Terang
Agar pilihan kita benar, kita memerlukan cahaya petunjuk. Al-Qur'an adalah kompas kehidupan. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus.”
(QS. Al-Isra': 9)
Ketika bingung menentukan arah, kembalilah pada Al-Qur'an dan sunnah. Tanyakan pada diri sendiri: Apakah pilihan ini mendekatkan saya kepada Allah atau menjauh? Apakah ia membawa maslahat atau mudarat? Akankah saya banggakan di hadapan Allah kelak?
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan doa istikharah sebagai bentuk kesadaran bahwa manusia terbatas dalam melihat konsekuensi jangka panjang. Kita mungkin melihat sesuatu sebagai kebaikan, padahal ia membawa keburukan. Sebaliknya, kita mungkin menghindari sesuatu karena tampak sulit, padahal di sanalah keberkahan disembunyikan.
Allah mengingatkan:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah : 216)
Ayat ini menenangkan sekaligus mengingatkan. Menenangkan, karena Allah Maha Tahu apa yang terbaik bagi kita. Mengingatkan, karena kita tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan.
Menjadi Hamba yang Bijak Memilih
Pada akhirnya, hidup ini adalah perjalanan menuju Allah. Setiap pilihan adalah langkah di jalan itu. Ada yang membawa kita mendekat, ada yang menjauh. Ada yang memperberat timbangan amal, ada yang meringankannya.
Maka jadilah hamba yang bijak memilih. Pilihlah sabar ketika marah. Pilihlah memaafkan ketika tidak mampu membalas. Pilihlah bekerja dengan jujur meski ada kesempatan berbuat curang terbuka. Pilihlah istiqamah meski terasa sepi.
Karena sesungguhnya, hidup ini memang tentang pilihan. Tapi jangan pernah lupa, setiap pilihan memiliki konsekuensi. Dan kelak, di hadapan Allah, kita akan melihat dengan jelas hasil dari setiap keputusan yang pernah kita ambil.
Semoga Allah membimbing kita untuk selalu memilih jalan yang diridhai-Nya, menguatkan kita dalam menjalani konsekuensinya, dan mengumpulkan kita dalam golongan orang-orang yang beruntung di dunia dan akhirat. Aamiin.
*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim