Masjid Nasional Al Akbar Surabaya
Oleh: Djoko Iriandono*)
Pendahuluan
Tidak semua bangunan besar mampu melahirkan pengaruh besar. Sebaliknya, banyak bangunan megah yang hanya menjadi monumen tanpa ruh dan aktivitas. Namun hal itu tidak berlaku bagi Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya.
Saat rombongan Badan Pengelola Islamic Center (BPIC) Kalimantan Timur melakukan kunjungan kerja ke Surabaya, kami menyaksikan secara langsung bagaimana sebuah masjid mampu berkembang jauh melampaui fungsi dasarnya sebagai tempat ibadah. Masjid Nasional Al-Akbar bukan hanya menjadi tempat sujud bagi ribuan jamaah setiap hari, tetapi telah tumbuh menjadi pusat pendidikan, pemberdayaan masyarakat, wisata religi, ekonomi umat, hingga ruang pembinaan generasi muda Islam.
Di balik kemegahan kubah birunya yang menjadi ikon Kota Surabaya, tersimpan kisah panjang tentang visi, keberanian, ketekunan, dan komitmen para pendirinya dalam membangun sebuah pusat peradaban Islam modern.
Berawal dari Sebuah Mimpi Besar
Pada awal dekade 1990-an, Surabaya sebenarnya telah memiliki banyak masjid besar dan bersejarah. Namun muncul sebuah pertanyaan mendasar: mengapa kota terbesar kedua di Indonesia ini belum memiliki sebuah masjid yang mampu menjadi simbol kebangkitan umat Islam Jawa Timur?
Pertanyaan itulah yang kemudian melahirkan gagasan besar dari Wali Kota Surabaya saat itu, H. Soenarto Soemoprawiro atau yang lebih dikenal dengan nama Cak Narto. Beliau membayangkan sebuah masjid yang tidak hanya besar secara fisik, tetapi juga besar dalam manfaat dan pengaruhnya bagi masyarakat.
Gagasan tersebut mendapat dukungan luas dari berbagai kalangan. Para ulama, akademisi, birokrat, dan masyarakat bersatu dalam satu cita-cita: menghadirkan sebuah masjid yang mampu menjadi pusat kegiatan umat sebagaimana fungsi masjid pada masa Rasulullah SAW.
Ujian di Tengah Perjalanan
Pembangunan dimulai pada 4 Agustus 1995 dan peletakan batu pertama dilakukan oleh Wakil Presiden RI, Try Sutrisno.
Namun perjalanan menuju terwujudnya mimpi tersebut tidaklah mudah.
Ketika pembangunan sedang berlangsung, Indonesia dilanda krisis moneter tahun 1997. Banyak proyek besar terhenti, termasuk pembangunan Masjid Al-Akbar. Dana pembangunan menipis, pekerjaan konstruksi melambat, bahkan sempat berhenti.
Di sinilah terlihat bahwa sebuah masjid besar bukan hanya dibangun dengan beton dan baja, tetapi juga dengan keyakinan dan keteguhan hati para penggagasnya.
Mereka memilih untuk tetap melanjutkan perjuangan meskipun situasi ekonomi nasional sedang berada pada titik terberat.
Tonggak Sejarah Baru
Setelah melewati berbagai tantangan, pembangunan kembali dilanjutkan hingga akhirnya pada 10 November 2000, bertepatan dengan Hari Pahlawan, Presiden Republik Indonesia KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) meresmikan Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya.
Momentum tersebut menjadi tonggak sejarah penting, bukan hanya bagi Kota Surabaya, tetapi juga bagi perkembangan Islam di Jawa Timur.
Masjid yang lahir dari sebuah gagasan kini berdiri sebagai simbol optimisme, persatuan, dan kebangkitan umat.
Dari Masjid Besar Menjadi Islamic Center
Keunggulan terbesar Masjid Nasional Al-Akbar sesungguhnya bukan terletak pada kubahnya yang megah ataupun menaranya yang menjulang setinggi 99 meter.
Keunggulan sesungguhnya terletak pada keberhasilannya menerjemahkan konsep "Islamic Center" dalam praktik nyata.
Pengelola tidak berhenti pada penyelenggaraan ibadah semata. Mereka terus mengembangkan berbagai program pendidikan, dakwah, sosial, ekonomi umat, pembinaan keluarga, pemberdayaan pemuda, hingga wisata religi.
Berbagai inovasi yang dikembangkan antara lain:
Inovasi-inovasi tersebut menunjukkan bahwa masjid modern harus mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai syariat.
Pelajaran Berharga bagi Pengelola Masjid
Kunjungan ke Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya memberikan pelajaran penting bahwa keberhasilan sebuah masjid tidak diukur dari luas bangunan atau tingginya menara.
Keberhasilan sesungguhnya terletak pada sejauh mana masjid mampu menghadirkan manfaat bagi umat.
Masjid yang hidup adalah masjid yang dipenuhi aktivitas pendidikan, pembinaan, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan pengembangan generasi muda.
Masjid Al-Akbar membuktikan bahwa apabila dikelola dengan visi yang jelas, tata kelola yang profesional, serta inovasi yang berkelanjutan, maka masjid dapat menjadi pusat peradaban yang mampu memberi pengaruh luas bagi masyarakat.
Penutup
Kini, setelah lebih dari seperempat abad berdiri, Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya telah menjelma menjadi salah satu ikon Islam terbesar di Indonesia.
Ia bukan sekadar bangunan megah yang menghiasi cakrawala Kota Surabaya. Ia adalah simbol bagaimana sebuah mimpi besar dapat diwujudkan melalui kerja keras, kesabaran, dan kolaborasi banyak pihak.
Masjid Al-Akbar mengajarkan kepada kita bahwa masjid bukan hanya tempat berkumpulnya jamaah untuk beribadah, tetapi juga tempat lahirnya ilmu, tumbuhnya persaudaraan, berkembangnya ekonomi umat, dan bertemunya berbagai gagasan untuk membangun peradaban yang lebih baik.
Dari Surabaya, masjid ini memberikan inspirasi bahwa masa depan umat dapat dimulai dari sebuah masjid yang dikelola dengan baik dan dimakmurkan bersama.
Versi ini lebih mengalir, bernuansa reflektif, dan cocok dimuat dalam buku laporan kunjungan kerja maupun majalah keislaman. Selain itu, fokusnya tidak hanya pada sejarah, tetapi juga pada pelajaran strategis yang dapat diambil oleh BPIC Kaltim dari keberhasilan pengelolaan Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya.
*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim