Nilai rapor tinggi, nilai TKA rendah. Kenapa bisa?
Refleksi atas Rendahnya Kemampuan Literasi dan Numerasi Siswa SD dan SMP
Oleh: Djoko Iriandono, S.E., M.A.
Belajar dari Dunia, Membangun Harapan untuk Indonesia
Rendahnya capaian Tes Kemampuan Akademik (TKA) Tahun 2026 tentu bukan kabar yang menggembirakan. Namun demikian, hasil tersebut juga tidak boleh membuat kita kehilangan optimisme. Dalam sejarah pendidikan dunia, banyak negara pernah menghadapi persoalan serupa, kemudian berhasil melakukan lompatan besar melalui reformasi pendidikan yang dilakukan secara konsisten.
Karena itu, hasil TKA hendaknya kita maknai sebagai titik awal perubahan, bukan sebagai akhir dari perjalanan.
Salah satu cermin yang dapat kita gunakan untuk melihat posisi pendidikan Indonesia adalah Programme for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Asesmen internasional ini tidak mengukur seberapa banyak materi yang dihafal peserta didik, tetapi menilai sejauh mana mereka mampu menggunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk memecahkan persoalan dalam kehidupan nyata.
Dalam beberapa siklus PISA, kemampuan membaca, matematika, dan sains peserta didik Indonesia memang masih berada di bawah rata-rata negara-negara OECD. Meskipun terdapat sejumlah kemajuan pada aspek tertentu, hasil tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama pendidikan kita masih terletak pada kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills), bukan semata-mata pada penguasaan materi pelajaran.
Temuan tersebut sejalan dengan hasil TKA Tahun 2026. Ketika kemampuan numerasi peserta didik masih berada pada kisaran rata-rata 40-an, kita memperoleh sinyal yang konsisten bahwa penguatan cara berpikir analitis dan pemecahan masalah perlu menjadi prioritas utama dalam pembelajaran.
Apa yang Dapat Kita Pelajari dari Negara Lain?
Ketika membicarakan pendidikan berkualitas, nama-nama seperti Singapura, Finlandia, Jepang, Korea Selatan, atau Estonia sering kali menjadi rujukan. Namun, keberhasilan mereka bukan semata-mata karena kurikulum yang lebih baik atau teknologi yang lebih canggih.
Keunggulan mereka lahir dari budaya belajar yang dibangun secara konsisten selama bertahun-tahun.
Di Finlandia, misalnya, guru diposisikan sebagai profesi yang sangat dihormati. Proses seleksi calon guru berlangsung ketat, pendidikan profesi dirancang dengan standar tinggi, dan guru diberi ruang yang luas untuk berinovasi dalam pembelajaran. Kepercayaan yang diberikan kepada guru diimbangi dengan tanggung jawab profesional yang besar.
Di Singapura, pengembangan guru dilakukan secara berkelanjutan. Setiap guru didorong untuk terus belajar, melakukan refleksi terhadap praktik mengajarnya, dan berbagi pengalaman dengan rekan sejawat. Sekolah tidak hanya menjadi tempat mengajar, tetapi juga menjadi komunitas belajar bagi para pendidik.
Sementara itu, Jepang membangun budaya disiplin, tanggung jawab, dan pembelajaran kolaboratif sejak usia dini. Peserta didik tidak hanya belajar akademik, tetapi juga belajar menghargai waktu, menjaga kebersihan lingkungan, bekerja sama, dan menyelesaikan persoalan bersama teman-temannya.
Praktik-praktik tersebut menunjukkan bahwa pendidikan berkualitas tidak lahir dari satu kebijakan yang spektakuler. Ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, dari hari ke hari, dari tahun ke tahun. Bagaimana dengan perlakuan terhadap guru di Indonesia?
Guru Tetap Menjadi Kunci Utama
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, sering muncul anggapan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) akan menggantikan peran guru. Pandangan seperti itu menurut saya terlalu berlebihan.
AI memang mampu menyajikan informasi dengan sangat cepat. Ia dapat menjelaskan konsep, membuat rangkuman, bahkan membantu menyelesaikan berbagai jenis soal. Namun AI tidak mampu menggantikan sentuhan kemanusiaan yang dimiliki seorang guru.
Guru bukan sekadar penyampai materi pelajaran. Guru adalah pembimbing, motivator, teladan, sekaligus pembentuk karakter.
Seorang guru yang baik mampu melihat potensi yang belum disadari oleh peserta didiknya. Ia mampu menumbuhkan rasa percaya diri, membangkitkan semangat belajar, serta mengajarkan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, kerja sama, dan empati. Peran-peran seperti itu tidak dapat digantikan oleh teknologi.
Justru di era AI, peran guru menjadi semakin strategis. Guru perlu mengajarkan peserta didik cara menggunakan teknologi secara cerdas, kritis, dan bertanggung jawab. Peserta didik harus dibimbing agar tidak sekadar menerima jawaban dari mesin, tetapi mampu memverifikasi informasi, mengevaluasi sumber, serta mengembangkan pemikiran yang orisinal.
Dengan kata lain, masa depan pendidikan bukanlah memilih antara guru atau teknologi, melainkan bagaimana guru memanfaatkan teknologi untuk memperkaya proses pembelajaran.
Orang Tua: Mitra Pertama dan Utama Sekolah
Sering kali kita menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan kepada sekolah. Ketika prestasi anak menurun, guru menjadi pihak pertama yang dipersalahkan. Padahal, pendidikan tidak pernah berlangsung hanya di ruang kelas.
Rumah adalah sekolah pertama bagi setiap anak.
Di rumah, anak belajar berbicara, bersikap, menghargai orang lain, mengelola emosi, dan membangun kebiasaan. Di rumah pula tumbuh kecintaan terhadap membaca, rasa ingin tahu, kedisiplinan, serta semangat untuk terus belajar.
Penelitian di berbagai negara menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua memiliki hubungan yang erat dengan keberhasilan belajar anak. Kehadiran orang tua yang mendampingi, berdialog, mengapresiasi usaha anak, serta menciptakan lingkungan belajar yang kondusif sering kali memberikan dampak yang lebih besar daripada sekadar memberikan les tambahan.
Karena itu, membangun kemitraan antara sekolah dan keluarga harus menjadi salah satu prioritas dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan.
Sekolah perlu membuka ruang komunikasi yang lebih intensif dengan orang tua, sementara orang tua perlu memandang guru sebagai mitra, bukan sekadar penyedia layanan pendidikan.
Mempersiapkan Generasi Indonesia Emas 2045
Indonesia telah menetapkan visi besar menuju Indonesia Emas 2045, saat bangsa ini memasuki usia satu abad kemerdekaan. Pada saat itu, generasi yang saat ini duduk di bangku SD dan SMP akan menjadi tenaga profesional, pemimpin, ilmuwan, pengusaha, birokrat, maupun tokoh masyarakat yang menentukan arah perjalanan bangsa.
Pertanyaannya, apakah kita telah mempersiapkan mereka dengan baik?
Tantangan yang akan mereka hadapi jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Dunia kerja semakin kompetitif, perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat, dan berbagai persoalan global—seperti perubahan iklim, transformasi digital, serta dinamika ekonomi—menuntut kemampuan berpikir yang kompleks.
Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang mampu menjawab soal ujian. Pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang memiliki karakter kuat, literasi yang baik, numerasi yang kokoh, kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, berkolaborasi, berkreasi, serta memiliki integritas.
Semua itu hanya dapat dicapai apabila proses pembelajaran benar-benar berorientasi pada pengembangan kompetensi, bukan sekadar penyelesaian kurikulum.
Optimisme yang Beralasan
Meskipun berbagai tantangan masih kita hadapi, saya tetap optimis bahwa pendidikan Indonesia mampu berkembang menjadi lebih baik.
Optimisme tersebut bukan lahir dari angan-angan, melainkan dari keyakinan bahwa bangsa ini memiliki modal yang sangat besar.
Indonesia memiliki jutaan guru yang setiap hari mengabdikan diri dengan penuh dedikasi. Kita memiliki kepala sekolah yang terus berinovasi, orang tua yang menginginkan masa depan terbaik bagi anak-anaknya, perguruan tinggi yang menghasilkan berbagai penelitian pendidikan, serta pemerintah yang terus melakukan pembaruan kebijakan.
Semua potensi tersebut merupakan kekuatan yang luar biasa apabila mampu disinergikan.
Hasil TKA Tahun 2026 memang memberikan sinyal bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Namun, hasil itu sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap pembenahan yang kita lakukan hari ini akan menentukan kualitas generasi Indonesia pada masa mendatang.
Masa depan pendidikan Indonesia tidak ditentukan oleh satu hasil asesmen, satu kurikulum, atau satu kebijakan. Masa depan pendidikan ditentukan oleh kesediaan kita semua untuk terus belajar, berbenah, dan bekerja sama demi kepentingan terbaik bagi anak-anak Indonesia.
Bersambung ke Bagian 4.