Pemimpin harus bijak
(Renungan tentang amanah, kemanusiaan, dan makna sesungguhnya dari sebuah kepemimpinan)
Oleh: Djoko Iriandono, S.E., M.A.*)
Ada satu pertanyaan sederhana yang layak kita renungkan setiap kali melihat seseorang duduk di kursi kekuasaan.
Apakah kehadirannya membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik?
Sebab, tidak semua orang yang memiliki jabatan benar benar menjadi pemimpin. Ada yang memiliki kewenangan, tetapi sulit mendengar. Ada yang pandai memberikan perintah, tetapi tidak hadir ketika rakyat membutuhkan pertolongan. Ada pula yang namanya dikenal luas, tetapi keberadaannya nyaris tidak dirasakan oleh mereka yang hidup dalam kesulitan.
Kepemimpinan bukan semata tentang siapa yang berada di depan. Kepemimpinan adalah tentang siapa yang bersedia memikul tanggung jawab ketika orang lain membutuhkan bantuan.
Di situlah makna pelayanan publik menemukan ruhnya.
Sering kali, jabatan dipandang sebagai tanda keberhasilan. Seseorang merasa telah mencapai puncak ketika memperoleh kedudukan, dihormati, dipanggil dengan gelar tertentu, dan mendapatkan berbagai fasilitas.
Namun, Islam mengajarkan cara pandang yang lebih mendalam.
Allah SWT berfirman dalam Surah An Nisa ayat 58
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil.”
Ayat ini mengingatkan bahwa amanah dan keadilan merupakan bagian penting dari tanggung jawab manusia, termasuk mereka yang diberi kewenangan memimpin.
Jabatan bukan hadiah untuk menikmati penghormatan. Jabatan adalah kepercayaan yang harus dipertanggungjawabkan.
Seorang pemimpin boleh saja memiliki ruang kerja yang nyaman, kendaraan dinas, dan berbagai fasilitas yang mendukung tugasnya. Namun, semua itu kehilangan makna apabila masyarakat masih kesulitan mendapatkan pelayanan yang semestinya.
Kursi jabatan bisa membuat seseorang terlihat lebih tinggi. Tetapi, yang membuatnya benar benar mulia adalah kesediaannya merendahkan hati untuk melayani.
Bayangkan seorang ibu yang datang ke kantor pelayanan sejak pagi. Ia membawa berkas yang sudah disiapkan dengan susah payah. Ongkos perjalanan telah dikeluarkan. Waktu bekerja terpaksa ditinggalkan. Namun, setelah menunggu berjam jam, ia pulang dengan tangan kosong karena satu persyaratan yang tidak pernah dijelaskan sebelumnya.
Bayangkan pula seorang guru yang harus berulang kali mendatangi kantor untuk mengurus haknya. Seorang warga lanjut usia yang kesulitan memahami prosedur administrasi. Atau masyarakat kecil yang tidak tahu harus mengadu kepada siapa ketika menghadapi persoalan.
Bagi mereka, pelayanan publik bukan sekadar urusan meja, formulir, dan tanda tangan. Di dalamnya ada harapan, kebutuhan, bahkan nasib sebuah keluarga.
Mungkin bagi petugas, satu berkas yang tertunda hanyalah pekerjaan yang belum selesai. Namun, bagi orang yang menunggu, berkas itu bisa berkaitan dengan biaya sekolah anak, pengobatan orang tua, atau penghidupan keluarga.
Di sinilah seorang pemimpin perlu belajar melihat sesuatu bukan hanya dari balik meja kerjanya, melainkan juga dari sudut pandang orang yang sedang membutuhkan pertolongan.
Pelayanan yang baik tidak membuat masyarakat merasa sedang meminta belas kasihan. Pelayanan yang baik membuat mereka merasa dihormati sebagai manusia yang memiliki hak.
Kita tentu memahami bahwa pelayanan publik membutuhkan aturan. Prosedur dibuat agar pekerjaan tertib, anggaran dapat dipertanggungjawabkan, dan setiap orang memperoleh perlakuan yang adil.
Namun, aturan seharusnya menjadi jalan untuk memberikan pelayanan, bukan alasan untuk menghindari tanggung jawab.
Ketika masyarakat menghadapi kesulitan, pemimpin tidak cukup hanya mengatakan bahwa semua sudah sesuai prosedur. Ia perlu memastikan apakah prosedur itu dipahami masyarakat, apakah petugas menjalankannya dengan benar, dan apakah ada jalan keluar yang sah bagi persoalan yang dihadapi.
Pemimpin yang melayani tidak berarti mengabaikan aturan demi menyenangkan semua orang. Ia justru berusaha menegakkan aturan dengan adil, sekaligus memastikan bahwa kemanusiaan tidak hilang dalam proses administrasi.
Rasulullah SAW bersabda
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
Hadis riwayat Bukhari dan Muslim ini memberikan pengingat yang sangat kuat. Tanggung jawab kepemimpinan tidak berhenti pada keputusan yang dibuat, tetapi juga mencakup orang orang yang berada dalam lingkup tanggung jawabnya.
Seorang kepala daerah bertanggung jawab terhadap pelayanan masyarakat. Seorang kepala dinas bertanggung jawab terhadap kinerja jajarannya. Seorang kepala sekolah bertanggung jawab terhadap lingkungan pendidikan yang dipimpinnya.
Bahkan seorang petugas yang berada di garis depan pelayanan memiliki amanah sesuai dengan tugasnya.
Semua memiliki peran. Semua memiliki tanggung jawab.
Ada pemimpin yang senang berbicara, tetapi kurang bersedia mendengar. Setiap rapat dipenuhi arahan. Setiap pertemuan diwarnai nasihat. Namun, ketika masyarakat menyampaikan keluhan, jawabannya sering kali sudah disiapkan sebelum keluhan itu selesai disampaikan.
Padahal, tidak semua persoalan dapat dipahami hanya melalui laporan tertulis.
Ada kenyataan yang baru terlihat ketika pemimpin bersedia turun langsung. Ada kesulitan yang tidak pernah masuk dalam laporan resmi. Ada suara masyarakat yang tidak terdengar karena mereka tidak memiliki keberanian untuk menyampaikannya.
Khalifah Umar bin Khattab sering dikenang dalam tradisi Islam sebagai pemimpin yang memperhatikan keadaan rakyatnya, termasuk melalui kisah tentang kepeduliannya terhadap masyarakat yang mengalami kesulitan.
Kisah kisah tersebut menjadi pengingat bahwa kepemimpinan membutuhkan kedekatan dengan kehidupan orang yang dipimpin.
Tentu, mendengar saja tidak cukup. Keluhan perlu ditindaklanjuti. Aspirasi perlu dipertimbangkan. Kesalahan perlu diperbaiki.
Namun, langkah pertama dari semua itu adalah kesediaan membuka telinga dan hati.
Sebab, masyarakat tidak selalu menuntut pemimpinnya mengetahui segala sesuatu. Mereka hanya berharap bahwa ketika menyampaikan kesulitan, ada seseorang yang sungguh sungguh bersedia mendengarkan.
Imam Al Ghazali dalam pemikirannya tentang akhlak dan kehidupan manusia banyak menekankan pentingnya membersihkan hati dari sifat sifat tercela. Kesombongan, kecintaan berlebihan terhadap kedudukan, dan keinginan memperoleh pujian dapat menjauhkan manusia dari kejernihan dalam bertindak.
Pemikiran tersebut relevan untuk direnungkan oleh siapa pun yang memegang amanah kepemimpinan.
Ketika seseorang mulai merasa dirinya selalu benar, kritik mudah dianggap sebagai serangan. Ketika pujian menjadi kebutuhan, keputusan bisa lebih banyak diarahkan untuk menjaga citra daripada menyelesaikan persoalan.
Pemimpin yang rendah hati bukan berarti pemimpin yang lemah. Ia tetap tegas ketika diperlukan, tetapi tidak merasa dirinya lebih berharga daripada orang yang dilayaninya.
Ia berani mengakui kekeliruan. Bersedia menerima kritik. Tidak malu meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
Sebab, kewibawaan tidak harus dibangun dengan membuat orang lain takut.
Ada kewibawaan yang tumbuh karena ketegasan. Ada pula penghormatan yang lahir dari kejujuran, keteladanan, dan kepedulian.
Yang kedua itu tidak bisa dibeli dengan fasilitas jabatan.
Dalam pemerintahan, keberhasilan sering dilaporkan melalui angka dan capaian program. Jalan yang dibangun, anggaran yang terserap, gedung yang diresmikan, serta penghargaan yang diterima tentu dapat menjadi bagian dari evaluasi.
Namun, ada pertanyaan lain yang tidak boleh dilupakan.
Apakah masyarakat semakin mudah memperoleh pelayanan?
Apakah warga miskin mendapatkan perhatian yang layak?
Apakah guru dapat menjalankan tugasnya dengan baik?
Apakah anak anak memperoleh kesempatan belajar yang lebih luas?
Apakah masyarakat merasa aman untuk menyampaikan kritik dan pengaduan?
Angka dapat menunjukkan capaian. Tetapi pengalaman masyarakat membantu kita memahami arti dari capaian tersebut.
Sebuah gedung pelayanan boleh tampak megah. Namun, jika masyarakat harus menunggu tanpa kepastian, masih ada pekerjaan yang perlu dibenahi.
Sebuah program boleh dinyatakan berhasil. Namun, jika kelompok yang paling membutuhkan justru tidak merasakan manfaatnya, keberhasilan itu perlu dilihat kembali secara lebih utuh.
Pembangunan yang bermakna bukan hanya yang terlihat oleh mata, melainkan juga yang dirasakan dalam kehidupan sehari hari.
Renungan tentang kepemimpinan tidak hanya ditujukan kepada mereka yang duduk di kursi pemerintahan.
Setiap orang memiliki ruang untuk melayani.
Seorang guru melayani melalui ilmu dan keteladanan. Seorang tenaga kesehatan melayani melalui kepedulian terhadap pasien. Seorang pengurus masjid melayani jamaah dan masyarakat. Seorang orang tua melayani keluarganya melalui kasih sayang dan tanggung jawab.
Bahkan, seseorang yang tidak memiliki jabatan apa pun dapat menjadi sumber kebaikan bagi lingkungannya.
Membantu tetangga yang kesulitan, memberikan informasi yang benar, menyampaikan kritik dengan santun, dan memperlakukan orang lain dengan hormat merupakan bentuk pelayanan yang sederhana, tetapi bermakna.
Kita tidak perlu menunggu memiliki kewenangan untuk berbuat baik.
Sebab, kemanusiaan tidak mengenal pangkat.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al Qasas ayat 77 agar manusia mencari kebahagiaan negeri akhirat tanpa melupakan bagiannya di dunia, serta berbuat baik sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadanya.
Pesan ini mengajak kita memahami bahwa kehidupan bukan hanya tentang apa yang berhasil kita kumpulkan, tetapi juga tentang kebaikan yang kita berikan.
Bagi seorang pemimpin, pertanyaannya menjadi semakin dalam.
Sudahkah jabatan yang kita miliki menjadi jalan bagi orang lain untuk memperoleh kemudahan?
Sudahkah kewenangan yang diberikan kepada kita digunakan untuk menegakkan keadilan?
Sudahkah orang yang datang membawa kesulitan pulang dengan harapan, bukan dengan kekecewaan yang bertambah?
Kelak, ketika jabatan telah berakhir, papan nama diturunkan, fasilitas dikembalikan, dan penghormatan perlahan menghilang, yang tersisa adalah jejak pengabdian.
Mungkin masyarakat tidak lagi mengingat berapa banyak rapat yang pernah kita pimpin. Mereka juga belum tentu mengingat berapa banyak pidato yang pernah kita sampaikan.
Namun, seseorang mungkin akan selalu mengenang pemimpin yang pernah membantunya ketika berada dalam kesulitan.
Seorang anak mungkin tumbuh dengan kenangan tentang guru yang mempercayainya ketika orang lain meragukannya.
Seorang warga mungkin masih menceritakan petugas yang melayaninya dengan tulus ketika ia hampir kehilangan harapan.
Itulah warisan kepemimpinan yang tidak tercatat dalam surat keputusan, tetapi hidup dalam ingatan dan doa manusia.
Semoga kita tidak hanya sibuk mengejar kedudukan, tetapi juga belajar menjaga amanah. Tidak hanya ingin dihormati, tetapi juga berusaha menghormati. Tidak hanya ingin dikenang sebagai orang besar, tetapi bersedia melakukan kebaikan kecil yang berarti bagi kehidupan orang lain.
Karena pemimpin yang dirindukan bukanlah mereka yang selalu meminta dihormati.
Melainkan mereka yang kehadirannya membuat manusia merasa diperhatikan, didengar, dan diperlakukan dengan bermartabat.
Dan semoga, ketika Allah meminta pertanggungjawaban atas amanah yang pernah kita emban, kita memiliki sesuatu yang dapat kita bawa selain sekadar nama dan jabatan.
Yaitu jejak kebaikan yang pernah kita tinggalkan bagi sesama.
*) Kominfo BPIC Kaltim