Detail Update

Detail Update

PROFESI PELAWAK DAN MUBALIGH DI ERA KEMAJUAN TEKNOLOGI DIGITAL

Card image cap Tantangan baru profesi Pelawak dan Mubaligh di Era Digital

KETIKA PELAWAK DAN MUBALIGH DITUNTUT SELALU BARU

Antara kreativitas, kejenuhan audiens, dan tantangan zaman media sosial

Oleh: Djoko Iriandono*)

Beberapa hari yang lalu, saya menghadiri sebuah acara tabligh akbar di sebuah masjid. Panitia menghadirkan seorang mubaligh kondang yang namanya cukup dikenal masyarakat. Tidak sedikit jamaah yang datang untuk mendengarkan ceramahnya.

Namun, ada sebuah peristiwa kecil yang justru menarik perhatian saya.

Tidak lama setelah sang mubaligh mulai berbicara, seseorang yang duduk di samping saya tiba-tiba berkomentar pelan, "Ceramahnya itu-itu saja." Tidak lama kemudian, ia berpamitan dan meninggalkan tempat acara.

Saya sempat berpikir, bukankah mubaligh yang sedang berceramah ini termasuk penceramah terkenal? Bukankah banyak orang yang justru ingin hadir dan mendengarkan ceramahnya secara langsung?

Tetapi, rupanya popularitas saja tidak cukup untuk membuat semua orang bertahan mendengarkan.

Peristiwa sederhana tersebut kemudian membawa pikiran saya pada sebuah pertanyaan: Apakah sekarang semakin sulit menjadi seorang mubaligh?

Menariknya, persoalan yang sama ternyata juga dihadapi oleh profesi lain, yaitu pelawak.

Keduanya memiliki kesamaan yang menarik. Pelawak dituntut selalu mampu menghadirkan kelucuan, sedangkan mubaligh dituntut mampu menyampaikan pesan yang menyentuh hati. Keduanya sama-sama harus berhadapan dengan audiens yang semakin kritis, memiliki banyak referensi, dan mudah membandingkan penampilan satu dengan lainnya.

Mengapa demikian?

Ketika semua orang menjadi penonton sekaligus perekam

Dahulu, seorang pelawak yang tampil di panggung hanya berhadapan dengan penonton yang hadir di tempat itu. Materi lawakan yang disampaikan pada sebuah acara mungkin hanya diketahui oleh mereka yang menyaksikannya secara langsung.

Begitu pula seorang mubaligh. Ceramah yang disampaikan di sebuah masjid, pengajian, atau majelis taklim umumnya hanya didengar oleh jamaah yang hadir.

Kalaupun materi yang disampaikan sama, belum tentu jamaah di tempat lain mengetahuinya.

Situasinya sekarang sudah berubah total.

Ketika seorang pelawak tampil di panggung, puluhan bahkan ratusan telepon genggam mengarah kepadanya. Setiap kelucuan direkam, kemudian diunggah ke YouTube, Facebook, Instagram, TikTok, dan berbagai platform media sosial lainnya.

Hal serupa terjadi ketika seorang mubaligh menyampaikan ceramah. Potongan ceramahnya bisa direkam oleh jamaah, kemudian disebarluaskan ke berbagai grup WhatsApp dan media sosial.

Dalam hitungan menit, apa yang disampaikan di sebuah tempat bisa dinikmati oleh jutaan orang di berbagai belahan dunia.

Di sinilah persoalannya bermula.

Seseorang yang hari ini datang menyaksikan seorang pelawak mungkin sudah menonton puluhan video lawakannya di YouTube. Demikian pula jamaah yang datang menghadiri pengajian mungkin sudah berkali-kali mendengarkan ceramah mubaligh tersebut melalui media sosial.

Ketika materi yang disampaikan ternyata sama, muncullah komentar yang sering kita dengar:

"Lawakannya itu-itu saja!"

"Ceramahnya kok materi itu lagi?"

Komentar semacam ini menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang berprofesi sebagai pelawak maupun mubaligh.

Mereka tidak lagi hanya dituntut mampu berbicara dengan baik, tetapi juga harus memiliki kemampuan memperbarui materi secara terus-menerus.

Paradoks popularitas: Semakin terkenal, semakin berat tantangannya

Ada sebuah paradoks menarik dalam dunia hiburan dan dakwah.

Semakin terkenal seorang pelawak atau mubaligh, semakin besar pula peluang orang untuk mengetahui materi yang pernah disampaikannya.

Popularitas yang seharusnya menjadi keuntungan justru menghadirkan tantangan baru.

Seorang pelawak yang sudah memiliki ciri khas tertentu mungkin dikenal karena gaya bicara, ekspresi wajah, atau jenis humor yang menjadi andalannya. Namun, ketika pola yang sama terus diulang, penonton yang sudah mengenalnya bisa kehilangan kejutan.

Padahal, dalam dunia humor, kejutan merupakan salah satu unsur penting yang membuat orang tertawa.

Sebuah cerita yang lucu ketika pertama kali didengar belum tentu masih mengundang tawa ketika diceritakan untuk kesepuluh kalinya.

Demikian pula seorang mubaligh.

Ada mubaligh yang dikenal karena gaya ceramahnya yang jenaka. Ada yang dikenal karena kedalaman ilmu agamanya. Ada pula yang memiliki kemampuan luar biasa dalam menyampaikan pesan keagamaan melalui kisah-kisah kehidupan sehari-hari.

Namun, ketika jamaah sudah hafal cerita, ayat, hadis, bahkan bagian lucu yang akan disampaikan, daya kejutnya tentu berkurang.

Persoalannya bukan karena materi tersebut tidak baik, melainkan karena audiens sudah terlalu sering mendengarnya.

Di sinilah seorang pelawak dan mubaligh harus memahami bahwa popularitas membawa konsekuensi berupa ekspektasi yang lebih tinggi dari masyarakat.

Semakin banyak orang mengenal dirinya, semakin besar pula tuntutan agar penampilannya selalu menarik.

Materi boleh sama, tetapi cara menyampaikan harus berkembang

Meskipun demikian, bukan berarti seorang pelawak atau mubaligh harus selalu menemukan materi yang benar-benar baru setiap kali tampil.

Dalam dunia lawak, sebuah tema bisa dikembangkan menjadi banyak cerita dengan sudut pandang yang berbeda. Persoalan keluarga, kehidupan rumah tangga, pendidikan, pekerjaan, pelayanan publik, hingga perilaku masyarakat selalu menyediakan bahan humor yang tidak pernah habis.

Begitu pula dalam dakwah.

Al-Qur'an dan hadis merupakan sumber ajaran yang tetap. Nilai-nilai tentang kejujuran, kesabaran, amanah, sedekah, salat, dan hubungan antarmanusia tidak pernah kehilangan relevansinya.

Seorang mubaligh tidak harus mencari ayat atau hadis baru untuk setiap ceramah. Yang perlu diperbarui adalah pendekatan, ilustrasi, contoh kehidupan, dan cara menghubungkan pesan agama dengan persoalan yang sedang dihadapi masyarakat.

Misalnya, ketika membahas tentang amanah, dahulu seorang mubaligh mungkin memberikan contoh tentang seseorang yang meminjam uang tetapi tidak mengembalikannya.

Sekarang, tema yang sama dapat dikembangkan dengan membahas amanah dalam menggunakan media sosial, menyebarkan informasi, mengelola dana publik, atau menjalankan tanggung jawab pekerjaan.

Pesan agamanya tetap sama, tetapi konteksnya berkembang mengikuti perubahan zaman.

Dengan demikian, kebaruan tidak selalu terletak pada apa yang disampaikan, tetapi juga pada bagaimana pesan itu dikemas dan dihubungkan dengan kehidupan nyata.

Bagaimana agar materi lawakan selalu segar?

Bagi seorang pelawak, kreativitas bukan sesuatu yang datang begitu saja ketika sudah berada di atas panggung. Kreativitas harus dirawat melalui kebiasaan mengamati, membaca, mendengar, dan berpikir.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan.

Pertama, jadilah pengamat kehidupan.

Kehidupan sehari-hari merupakan sumber humor yang tidak pernah habis. Perhatikan perilaku masyarakat, kebiasaan keluarga, fenomena sosial, perkembangan teknologi, hingga kejadian-kejadian sederhana yang sering dianggap biasa.

Sesuatu yang bagi orang lain terlihat normal bisa menjadi bahan lawakan yang menarik ketika dilihat dari sudut pandang yang berbeda.

Kedua, perbanyak membaca dan memperluas wawasan.

Pelawak yang hanya mengandalkan pengalaman masa lalu akan lebih mudah kehabisan bahan. Membaca berita, mengikuti perkembangan teknologi, memahami persoalan sosial, dan mempelajari perubahan perilaku masyarakat dapat memperkaya perspektif.

Ketiga, kembangkan materi lama dengan pendekatan baru.

Tidak semua materi lama harus dibuang. Sebuah cerita bisa disampaikan dengan karakter, latar, dialog, dan akhir cerita yang berbeda.

Yang perlu dihindari adalah mengulang cerita persis seperti sebelumnya, terutama ketika audiens sudah mengenal materi tersebut.

Keempat, pahami karakter audiens.

Penonton anak muda tentu memiliki referensi humor yang berbeda dengan penonton orang tua. Demikian pula penonton di perkotaan mungkin memiliki pengalaman sosial yang berbeda dengan masyarakat pedesaan.

Pelawak yang cerdas bukan hanya mampu membuat materi lucu, tetapi juga mampu menyesuaikan materi dengan siapa yang sedang dihadapinya.

Bagaimana agar ceramah mubaligh tidak terasa monoton?

Tantangan seorang mubaligh sesungguhnya lebih kompleks. Ia tidak hanya dituntut menarik perhatian jamaah, tetapi juga harus menjaga kebenaran pesan yang disampaikan.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan.

Pertama, memperkaya referensi keilmuan.

Seorang mubaligh harus terus belajar. Memperdalam tafsir Al-Qur'an, mempelajari hadis, membaca sejarah Islam, mengikuti perkembangan pemikiran keislaman, serta memahami persoalan sosial merupakan bagian dari tanggung jawab seorang pendakwah.

Jangan sampai seseorang merasa cukup dengan ilmu yang diperolehnya bertahun-tahun lalu.

Ilmu agama memang memiliki prinsip-prinsip yang tetap, tetapi pemahaman terhadap persoalan kehidupan terus berkembang.

Kedua, mengangkat persoalan aktual masyarakat.

Ceramah akan lebih mudah menyentuh hati apabila jamaah merasa bahwa apa yang disampaikan berkaitan dengan kehidupan mereka.

Ketika membahas tentang tanggung jawab orang tua, misalnya, mubaligh dapat mengaitkannya dengan tantangan mendidik anak di tengah derasnya pengaruh gadget.

Ketika membahas tentang menjaga lisan, ia dapat menghubungkannya dengan kebiasaan menyebarkan berita yang belum tentu benar melalui media sosial.

Ketika membahas tentang sedekah, ia dapat memberikan contoh kepedulian terhadap pendidikan anak yatim, guru yang membutuhkan bantuan, atau masyarakat yang sedang mengalami kesulitan.

Dengan cara seperti ini, jamaah tidak merasa sedang mendengarkan pengulangan ceramah, meskipun tema keagamaannya sudah sering dibahas.

Ketiga, memperbanyak kisah dan pengalaman nyata.

Manusia pada dasarnya menyukai cerita. Sebuah nasihat terkadang lebih mudah dipahami ketika disampaikan melalui kisah kehidupan seseorang.

Cerita tentang kejujuran seorang pedagang kecil, kesabaran seorang guru, pengorbanan orang tua, atau keikhlasan seseorang dalam membantu sesama dapat menjadi ilustrasi yang kuat.

Namun, setiap kisah harus dipastikan kebenarannya. Jangan sampai keinginan membuat ceramah menarik justru mengorbankan kejujuran.

Keempat, variasikan metode penyampaian.

Ceramah tidak harus selalu berupa monolog selama satu jam. Mubaligh dapat menggunakan dialog, pertanyaan reflektif, ilustrasi, humor yang santun, ataupun mengajak jamaah merenungkan pengalaman hidupnya sendiri.

Humor boleh digunakan untuk mencairkan suasana, tetapi jangan sampai mengalahkan substansi dakwah.

Kelima, lakukan evaluasi terhadap materi ceramah.

Seorang mubaligh sebaiknya memiliki catatan tentang tema, ayat, hadis, kisah, dan ilustrasi yang pernah disampaikan.

Catatan tersebut dapat menjadi semacam bank materi yang membantu menghindari pengulangan yang tidak perlu.

Lebih dari itu, evaluasi juga diperlukan untuk mengetahui bagian mana yang menyentuh jamaah, bagian mana yang kurang dipahami, dan pesan apa yang perlu dikembangkan lebih lanjut.

Jangan terjebak menjadi budak tuntutan kebaruan

Meskipun kreativitas sangat penting, ada satu hal yang perlu diingat: keinginan untuk selalu tampil baru jangan sampai membuat seseorang kehilangan jati dirinya.

Seorang pelawak tidak harus selalu membuat penonton tertawa dengan cara yang sensasional. Humor yang baik tetap harus memperhatikan etika, tidak merendahkan martabat orang lain, dan tidak menjadikan penghinaan sebagai sumber kelucuan.

Begitu pula seorang mubaligh. Jangan sampai tuntutan untuk tampil menarik membuat dakwah berubah menjadi sekadar pertunjukan.

Ada kalanya sebuah ceramah sederhana, dengan ayat yang sudah sering didengar, justru mampu menggetarkan hati seseorang.

Ada pula sebuah lawakan sederhana yang tetap mengundang tawa karena disampaikan dengan ketulusan dan ketepatan momentum.

Sebab, kebaruan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah penampilan.

Dalam dakwah, ukuran keberhasilannya bukan seberapa banyak jamaah tertawa, melainkan seberapa jauh pesan kebaikan dipahami dan diamalkan.

Dalam dunia lawak, ukuran keberhasilannya bukan sekadar seberapa keras penonton tertawa, tetapi juga seberapa baik seorang pelawak menghadirkan hiburan tanpa menyakiti orang lain.

Penutup: Teruslah belajar, jangan berhenti memperbarui diri

Era digital telah mengubah cara manusia menikmati hiburan dan memperoleh pengetahuan agama. Apa yang dahulu hanya dinikmati oleh puluhan atau ratusan orang di sebuah ruangan, sekarang dapat disaksikan jutaan orang melalui layar telepon genggam.

Rekaman digital membuat setiap penampilan memiliki jejak yang panjang. Materi yang pernah disampaikan tidak mudah hilang, bahkan dapat muncul kembali bertahun-tahun kemudian.

Kondisi ini menuntut pelawak dan mubaligh untuk lebih kreatif, rajin belajar, memperluas wawasan, serta memiliki kepekaan terhadap perubahan masyarakat.

Namun, ada satu prinsip yang sebaiknya tidak dilupakan: jangan hanya sibuk mencari materi baru, tetapi teruslah memperbarui diri.

Sebab, materi yang baru tidak selalu lahir dari buku yang baru dibaca atau cerita yang baru ditemukan. Terkadang, materi baru justru lahir dari cara pandang yang semakin matang terhadap kehidupan.

Pelawak yang terus mengamati kehidupan akan selalu menemukan sesuatu yang mengundang senyum dan tawa.

Mubaligh yang terus belajar dan mendalami kehidupan umat akan selalu menemukan cara baru untuk menyampaikan kebenaran.

Pada akhirnya, bukan sekadar materi yang harus diperbarui, melainkan wawasan, pengalaman, kepekaan, dan kualitas diri orang yang menyampaikannya.

Karena orang yang berhenti belajar akan mudah kehabisan bahan. Sebaliknya, orang yang terus belajar akan selalu menemukan sesuatu yang layak dibagikan kepada orang lain.

Dan bukankah kehidupan itu sendiri merupakan sumber inspirasi yang tidak pernah habis?

*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim