Detail Update

Detail Update

Pertengkaran Dalam Keluarga : Mengapa Fenomena Ini Sering Terjadi?

Card image cap Pertengkaran Dalam Keluarga

Oleh : Djoko Iriandono, S.E., M.A.*)

Pada essai sebelumnya, Penulis telah membahas tentang Kekerasan Dalam Keluarga (KDRT). Kali ini Penulis coba untuk membahas tentang salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya KDRT tersebut. 

Keluarga adalah landasan yang kuat dalam kehidupan kita. Ini adalah tempat di mana kita menemukan cinta, dukungan, dan rasa kepemilikan yang unik. Namun, tidak jarang keluarga juga menjadi arena pertengkaran dan konflik yang intens. Fenomena sering terjadinya pertengkaran dalam keluarga telah menjadi perhatian sosial yang signifikan. Dalam esai ini, Penulis akan mengeksplorasi penyebab dan konsekuensi dari pertengkaran dalam keluarga serta menyelidiki langkah-langkah yang dapat diambil untuk memperbaiki hubungan yang retak.

Pertengkaran dalam keluarga adalah fenomena yang kompleks dan dapat terjadi dalam berbagai bentuk dan intensitas. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat untuk membangun ikatan emosional yang kuat seringkali menjadi sumber ketegangan dan kecemasan. Mengapa fenomena ini sering terjadi? Apa yang mendasarinya? Pertanyaan-pertanyaan ini mengundang kita untuk menjelajahi akar-akar masalah yang menyebabkan pertengkaran dalam keluarga.

Penyebab Pertengkaran dalam Keluarga.

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan pertengkaran dalam keluarga. Pertama, perbedaan pendapat dan nilai-nilai antara anggota keluarga sering menjadi pemicu utama konflik. Masing-masing individu memiliki latar belakang, keyakinan, dan preferensi yang berbeda, yang dapat menyebabkan ketegangan dan sulitnya mencapai kesepakatan. Selain itu, kurangnya komunikasi yang efektif dalam keluarga juga dapat memperburuk situasi. Ketidakmampuan untuk secara terbuka berbicara dan mendengarkan dengan empati dapat mengarah pada salah pengertian, kesalahpahaman, dan akhirnya pertengkaran yang melibatkan semua pihak.

Dampak Pertengkaran dalam Keluarga.

Pertengkaran dalam keluarga memiliki dampak yang merugikan tidak hanya pada individu yang terlibat, tetapi juga pada keseluruhan unit keluarga. Pertama-tama, tingkat stres meningkat secara signifikan dalam keluarga yang sering terlibat dalam pertengkaran. Hal ini dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental semua anggota keluarga. Selain itu, pertengkaran yang terus-menerus dapat merusak ikatan emosional dan memperlemah rasa persatuan dalam keluarga. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh pertengkaran cenderung mengalami kesulitan dalam membangun hubungan interpersonal yang sehat di masa depan.

Solusi dan Langkah-Langkah Perbaikan.

Untuk memperbaiki hubungan keluarga yang retak dan mengurangi seringnya pertengkaran, langkah-langkah berikut dapat diambil, antara lain:

Pertama, penting untuk membangun komunikasi yang efektif dalam keluarga. Ini melibatkan mendengarkan dengan empati, menghargai perbedaan pendapat, dan mencari solusi yang saling menguntungkan.

Ke dua, penting juga untuk menghormati privasi dan batasan individu di dalam keluarga. Setiap anggota keluarga memiliki kebutuhan dan keinginan pribadi yang perlu diakui dan dihormati.

Ke tiga, menumbuhkan rasa pengertian dan toleransi antar anggota keluarga juga sangat penting. Ini membutuhkan kesadaran tentang peran masing-masing dalam memelihara keharmonisan dan kerukunan.

Ke empat, penting untuk membangun komunikasi yang terbuka dan jujur antara anggota keluarga. Ini melibatkan kemampuan untuk mengungkapkan perasaan dan kebutuhan dengan jelas, serta mendengarkan dengan penuh perhatian. Selain itu, menghindari penggunaan bahasa yang merendahkan atau menyerang saat berkomunikasi sangat penting. Mempraktikkan komunikasi yang penuh kasih sayang dan mempertimbangkan perasaan orang lain akan membantu mengurangi konflik yang muncul.

Ke lima, mencari cara untuk menyelesaikan konflik dengan cara yang konstruktif. Daripada menghindari masalah atau membiarkannya membesar, penting untuk menghadapinya secara langsung dan mencari solusi yang saling menguntungkan bagi semua pihak. Ini dapat melibatkan kompromi, negosiasi, atau bahkan melibatkan mediator yang netral jika diperlukan. Penting untuk diingat bahwa tujuan utama adalah memperbaiki hubungan, bukan memenangkan pertengkaran.

Ke enam, membangun empati dan pengertian antara anggota keluarga juga penting. Cobalah untuk melihat dari perspektif orang lain dan mencoba memahami perasaan dan pengalaman mereka. Menghormati perbedaan pendapat dan memperlakukan semua anggota keluarga dengan penghargaan dan hormat akan membantu mencegah pertengkaran yang tidak perlu.

Ke tujuh, meluangkan waktu untuk melakukan kegiatan bersama sebagai keluarga juga dapat membantu mengurangi pertengkaran. Mengadakan waktu berkualitas di mana anggota keluarga dapat saling berbagi kegembiraan, minat, dan hobi bersama akan memperkuat ikatan dan mengurangi ketegangan yang mungkin timbul.

Ke delapan, jika pertengkaran dalam keluarga tampaknya tidak dapat diatasi sendiri, penting untuk mencari bantuan profesional. Terapis keluarga atau konselor dapat memberikan panduan dan alat yang diperlukan untuk membantu keluarga mengatasi konflik dan membangun hubungan yang sehat.

Sebagai penutup perlu Penulis tegaskan sekali lagi bahwa pertengkaran dalam keluarga adalah fenomena yang umum terjadi, tetapi dengan komunikasi yang efektif, empati, penyelesaian konflik yang konstruktif, dan mencari bantuan profesional jika diperlukan, hubungan keluarga dapat diperbaiki dan menjadi lebih harmonis. Keluarga adalah tempat di mana kita bisa mendapatkan dukungan dan cinta, dan dengan usaha bersama, kita dapat menciptakan lingkungan keluarga yang penuh dengan kedamaian dan kebahagiaan. Penting bagi setiap anggota keluarga untuk berpartisipasi aktif dalam menciptakan lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang dan saling pengertian, di mana pertengkaran dapat dihindari atau diselesaikan dengan cara yang sehat dan produktif.

 

*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim