Rasyid
Oleh: Djoko Iriandono *)
Pagi tadi, setelah menunaikan sholat Subuh, saya duduk di ruang kerja kecil di rumah menghadap laptop yang masih dalam kondisi menyala. Entah kenapa, hati saya terdorong untuk menulis tentang satu hal yang sudah lama menggelitik pikiran: seruan taqwa dalam khutbah Jum'at .
Tulisan itu mulai saya ketik selepas Subuh dan baru benar-benar selesai sekitar pukul 09.30 WITA. Saya menulis tentang bagaimana setiap khatib sebelum pelaksanaan sholat Jum'at selalu mengucapkan kalimat “ Ushikum wa nafsi bitaqwallah… ” — namun jarang sekali yang menjabarkan secara rinci apa sebenarnya makna taqwa, apa saja perintah Allah yang harus dijalankan, apa saja larangan-Nya yang harus dijauhi, serta dari mana umat bisa memahami semua itu secara sistematis.
Sebenarnya, setelah tulisan itu rampung, saya bermaksud untuk segera mengunggahnya ke website. Namun karena harus segera berangkat ke Islamic Center untuk menghadiri rapat, naskah tersebut belum sempat saya publikasikan.
Usai rapat, mengingat hari ini adalah hari Jum'at, saya langsung masuk ke ruang utama Masjid Raya Baitul Muttaqien untuk melaksanakan sholat Jum'at. Saat itulah khatib yang menyampaikan khutbah yaitu KH. Muhammad Rasyid, S.Pd.I, Imam Besar Masjid Raya Baitul Muttaqien Islamic Center Kalimantan Timur.
Dan di sanalah saya dibuat terpana.
Isi khutbah beliau siang hari berbicara tentang “ taqwa” . Bukan sekedar seruan normatif, namun penjelasan yang rinci dan sistematis tentang makna taqwa, tentang perintah dan larangan Allah, serta urgensi memahami keduanya secara konkret dalam kehidupan sehari-hari.
Saya benar-benar terkejut. Rasanya seperti khatib sedang membacakan isi hati saya. Seumur hidup saya melaksanakan sholat Jum’at, baru kali ini saya mendengar seorang khatib menjelaskan kata “taqwa” secara begitu detail — padahal kata itu selalu diucapkan setiap pekan oleh para khatib.
Momen itu terasa seperti teguran lembut dari Allah. Seolah-olah Allah ingin menunjukkan bahwa apa yang saya pikirkan dan tuliskan di pagi hari, ternyata juga menjadi kegelisahan dakwah yang disampaikan dari mimbar di siang harinya.
Berikut adalah uraian yang saya tulis di pagi hari sebelum peristiwa itu terjadi.
Setiap khutbah Jum’at yang kita dengarkan hampir selalu memuat kalimat yang sama: “Ushikum wa nafsi bitaqwallah…” — aku berwasiat kepada diriku dan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah SWT. Kalimat ini bukan sekadar pembuka retoris. Ia adalah salah satu rukun khutbah Jum’at yang wajib disampaikan oleh khatib. Mayoritas ulama fiqih menyebutkan bahwa wasiat taqwa merupakan rukun dalam dua khutbah Jum’at.
Namun seringkali seruan taqwa itu berhenti sebagai ajakan normatif. Jarang dijelaskan secara rinci: apa saja sebenarnya perintah Allah yang harus dijalankan? Apa saja larangan-Nya yang wajib dijauhi? Dan di mana kita dapat mengetahui secara jelas daftar perintah dan larangan tersebut?
Padahal Allah SWT memerintahkan:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 102)
Ayat ini menjadi dasar kuat bahwa taqwa bukan konsep abstrak, melainkan tuntutan nyata dalam kehidupan.
Hakikat Taqwa: Bukan Sekadar Takut, Tetapi Taat
Secara bahasa, kata taqwa berasal dari akar kata waqa–yaqi–wiqayah yang berarti menjaga atau melindungi. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hakikat taqwa adalah menjaga diri dari murka Allah dengan menjalankan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan (Ihya’ Ulumuddin).
Ibnu Katsir ketika menafsirkan QS. Al-Baqarah ayat 2 — “Hudan lil muttaqin” — menjelaskan bahwa orang bertakwa adalah mereka yang melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya berdasarkan petunjuk Rasulullah ﷺ (Tafsir Ibnu Katsir).
Dengan demikian, taqwa bukan hanya perasaan takut dalam hati, tetapi sikap hidup yang terwujud dalam ketaatan konkret.
Apa Saja Perintah Allah?
Jika khatib menyerukan taqwa, maka sejatinya ia sedang menyeru jamaah untuk menjalankan seluruh perintah Allah. Perintah-perintah ini tersebar di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.
1. Perintah Ibadah
Allah berfirman:
“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 21)
Ibadah mahdhah seperti shalat (QS. Al-Baqarah: 43), zakat (QS. At-Taubah: 103), puasa (QS. Al-Baqarah: 183), dan haji (QS. Ali ‘Imran: 97) adalah fondasi ketaqwaan. Bahkan tujuan puasa secara eksplisit disebutkan: “La’allakum tattaqun” — agar kamu bertakwa (QS. Al-Baqarah: 183).
2. Perintah Akhlak dan Sosial
Taqwa juga diwujudkan dalam hubungan sosial. Allah memerintahkan keadilan dan kebaikan:
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan…”
(QS. An-Nahl [16]: 90)
Ayat ini sering dibaca dalam khutbah Jum’at karena ia merangkum prinsip moral Islam: adil, ihsan, dan memberi kepada kerabat.
Perintah menjaga amanah (QS. An-Nisa’: 58), berkata benar (QS. Al-Ahzab: 70), dan menunaikan janji (QS. Al-Isra’: 34) juga merupakan bagian dari ketaqwaan.
3. Perintah Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Allah berfirman:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar…”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 104)
Ini menunjukkan bahwa taqwa tidak hanya bersifat individual, tetapi juga sosial dan kolektif.
Apa Saja Larangan Allah?
Sebagaimana perintah tersebar dalam Al-Qur’an, demikian pula larangan.
1. Larangan Syirik
Larangan terbesar adalah menyekutukan Allah:
“Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar.”
(QS. Luqman [31]: 13)
Syirik adalah dosa terbesar sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nisa’: 48.
2. Larangan Dosa Besar
Al-Qur’an melarang pembunuhan (QS. Al-Isra’: 33), zina (QS. Al-Isra’: 32), riba (QS. Al-Baqarah: 275), memakan harta anak yatim (QS. An-Nisa’: 10), serta berdusta dan bersaksi palsu (HR. Bukhari dan Muslim tentang dosa besar).
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jauhilah tujuh dosa besar…”
(HR. Bukhari No. 2766; Muslim No. 89)
Hadits ini merinci dosa-dosa besar seperti syirik, sihir, membunuh, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh zina perempuan mukminah.
3. Larangan Akhlak Tercela
Ghibah (QS. Al-Hujurat: 12), su’udzon (prasangka buruk), sombong (QS. Luqman: 18), serta kecurangan dalam timbangan (QS. Al-Muthaffifin: 1-3) termasuk larangan yang sering dianggap ringan padahal berdampak besar.
Di Mana Kita Mengetahui Perintah dan Larangan Itu?
Pertanyaan penting yang sering luput dijelaskan dalam khutbah adalah: dari mana kita mengetahui perintah dan larangan Allah?
1. Al-Qur’an
Allah menegaskan:
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 2)
Al-Qur’an adalah sumber utama. Ia memuat prinsip, hukum, nilai, dan panduan hidup.
2. Sunnah Rasulullah ﷺ
Allah berfirman:
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka ambillah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.”
(QS. Al-Hasyr [59]: 7)
Sunnah menjelaskan, merinci, dan mencontohkan implementasi Al-Qur’an. Tanpa hadits, kita tidak akan tahu tata cara shalat, zakat, dan ibadah lainnya secara detail.
3. Ijma’ dan Qiyas
Dalam ushul fiqih, para ulama juga menetapkan ijma' (kesepakatan ulama) dan qiyas (analogi hukum) sebagai metode memahami hukum Islam (Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh). Ini penting dalam menjawab persoalan kontemporer yang tidak disebutkan secara eksplisit dalam nash.
Mengapa Khatib Perlu Menjelaskan Secara Konkret?
Seruan taqwa yang tidak disertai penjabaran berisiko menjadi formalitas. Padahal khutbah Jum'at adalah media pendidikan umat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sampaikanlah dariku walau satu ayat.”
(HR. Bukhari No. 3461)
Artinya, khutbah adalah momen dakwah yang seharusnya menjelaskan apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari.
Dalam konteks kekinian, perintah dan larangan Allah juga relevan dengan isu modern: kejujuran dalam jabatan, transparansi anggaran, etika bermedia sosial, hingga menjaga persatuan umat. Semua itu bagian dari ketaqwaan.
Taqwa: Ukuran Kemuliaan Sejati
Allah menegaskan:
“… sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat [49]: 13)
Kemuliaan bukan pada jabatan, kekayaan, atau popularitas, melainkan pada ketaqwaan. Maka ketika khatib menyeru jamaah untuk bertaqwa, ia sebenarnya sedang mengingatkan tentang standar kemuliaan sejati.
Penutup: Dari Seruan Menuju Kesadaran
Khutbah Jum'at bukan sekedar rutinitas mingguan. Ia adalah pengingat kolektif umat agar kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah. Seruan taqwa seharusnya tidak berhenti pada kalimat pembuka, tetapi diikuti dengan penjelasan konkrit tentang perintah dan larangan Allah.
Taqwa bukan semboyan. Ia adalah komitmen hidup. Ia adalah kesadaran bahwa setiap perintah Allah adalah rahmat, dan setiap larangan-Nya adalah perlindungan.
Maka marilah kita tidak hanya mendengar seruan taqwa, tetapi memahami isinya, menggali sumbernya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang benar-benar bertaqwa. Aamiin.
*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim