Tidak semua yang kita inginkan harus menjadi kenyataan.
Tidak Semua yang Hilang Harus Disesali, Tidak Semua yang Tertunda Harus Ditangisi
Belajar ikhlas, memahami takdir, dan menemukan ketenangan di balik setiap peristiwa kehidupan.
Oleh: Djoko Iriandono*)
Pernahkah kita begitu menginginkan sesuatu, sudah berusaha sekuat tenaga, berdoa siang dan malam, bahkan merasa bahwa sesuatu itu memang pantas kita dapatkan, tetapi ternyata Allah belum mengizinkannya menjadi kenyataan?
Pernahkah kita kecewa karena seseorang yang kita percaya justru mengecewakan? Atau merasa hidup tidak adil ketika apa yang kita perjuangkan dengan sungguh-sungguh justru berakhir tidak seperti yang kita harapkan?
Jika pernah, mungkin kita perlu berhenti sejenak. Menarik napas panjang, kemudian mencoba melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.
Sebab, tidak semua yang kita inginkan itu baik bagi kehidupan kita. Dan tidak semua yang tertunda berarti kita sedang diabaikan oleh Allah.
Ada kalanya sesuatu tidak diberikan bukan karena kita tidak pantas menerimanya, melainkan karena Allah mengetahui sesuatu yang belum mampu kita pahami.
Ketika keinginan tidak sejalan dengan kenyataan
Manusia memang memiliki banyak keinginan. Kita ingin hidup berkecukupan, keluarga bahagia, karier berjalan lancar, usaha berkembang, dihargai orang lain, dan semua rencana berjalan sesuai harapan.
Tidak ada yang salah dengan keinginan-keinginan tersebut. Bukankah kita juga diperintahkan untuk berusaha, bekerja keras, dan berdoa?
Namun, persoalannya muncul ketika kita terlalu menggantungkan kebahagiaan pada sesuatu yang belum tentu menjadi milik kita.
Kita sering lupa bahwa kehidupan bukan sekadar tentang mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi juga tentang belajar menerima apa yang telah ditetapkan.
Ada orang yang begitu mengejar jabatan, tetapi setelah mendapatkannya justru kehilangan ketenangan. Ada yang mengejar kekayaan, tetapi semakin banyak yang dimiliki semakin besar pula kecemasannya. Ada pula yang sangat berharap mempertahankan seseorang, tetapi justru perpisahan yang harus diterima.
Mungkin, jika semua keinginan kita selalu terpenuhi, kita tidak akan pernah belajar memahami makna kehilangan, kesabaran, dan penerimaan.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
"... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216).
Ayat ini mengingatkan kita bahwa pengetahuan manusia sangat terbatas. Kita hanya mampu melihat apa yang ada di depan mata, sementara Allah mengetahui apa yang telah terjadi, sedang terjadi, dan yang akan datang.
Karena itu, jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa kehidupan sedang berlaku tidak adil hanya karena keinginan kita belum terwujud.
Ketika Allah mengurangi kebahagiaan duniawi
Ada masa ketika Allah menguji kita dengan kehilangan sesuatu yang sangat kita cintai. Kehilangan pekerjaan, kegagalan usaha, berkurangnya penghasilan, renggangnya hubungan persahabatan, bahkan ditinggalkan oleh orang yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan.
Pada saat seperti itu, tidak mudah bagi kita untuk memahami mengapa semua itu harus terjadi.
Namun, pernahkah kita berpikir bahwa mungkin selama ini kita terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa memperhatikan hubungan dengan Allah?
Kita begitu bersemangat mengejar kesenangan, tetapi sering menunda salat. Kita memiliki banyak waktu untuk membicarakan kehidupan orang lain, tetapi sedikit waktu untuk mengevaluasi diri sendiri. Kita begitu takut kehilangan harta, jabatan, dan penghargaan manusia, tetapi tidak cukup takut kehilangan kedekatan dengan Allah.
Barangkali, melalui berbagai peristiwa kehidupan, Allah sedang mengingatkan kita untuk kembali menata arah perjalanan.
Bukan berarti setiap kehilangan harus dimaknai sebagai hukuman. Bukan pula berarti setiap kesulitan merupakan tanda bahwa Allah sedang menjauh dari kita.
Justru, dalam keadaan sulit sekalipun, pintu untuk mendekat kepada-Nya selalu terbuka.
Terkadang, ketika dunia tidak lagi memberikan kebahagiaan seperti yang kita harapkan, kita mulai menemukan ketenangan melalui doa, zikir, sujud, dan kepasrahan kepada-Nya.
Jangan-jangan, yang sedang kita butuhkan bukan tambahan kenikmatan dunia, melainkan hati yang lebih dekat dengan Allah.
Berhenti menyalahkan keadaan dan membenci manusia
Dalam perjalanan hidup, kita akan bertemu dengan berbagai macam karakter manusia.
Ada yang membantu, ada yang mendukung, ada yang menginspirasi. Namun, ada pula yang mengecewakan, menyakiti, bahkan mengkhianati kepercayaan kita.
Ketika menghadapi perlakuan yang tidak menyenangkan, sangat manusiawi jika kita merasa marah, kecewa, atau terluka.
Tetapi, jangan biarkan luka itu menguasai seluruh kehidupan kita.
Terlalu lama menyimpan kebencian hanya akan membuat hati semakin lelah. Kita mungkin terus mengingat kesalahan orang lain, sementara orang yang kita benci belum tentu mengingat apa yang pernah dilakukannya kepada kita.
Belajar melihat Allah di balik setiap kejadian bukan berarti membenarkan perbuatan buruk seseorang. Bukan pula berarti kita harus membiarkan diri terus-menerus disakiti.
Kita tetap boleh mengambil jarak, menetapkan batas, memperjuangkan hak, dan bersikap tegas. Namun, jangan sampai semua itu membuat hati kita dipenuhi dendam.
Ada pelajaran yang bisa kita ambil dari setiap perjumpaan. Orang yang baik mengajarkan kita tentang ketulusan. Orang yang mengecewakan mengajarkan kita tentang kehati-hatian. Kegagalan mengajarkan kita tentang kerendahan hati. Sementara kehilangan mengajarkan kita bahwa tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang benar-benar menjadi milik kita selamanya.
Dengan cara pandang seperti itu, perlahan kita akan memahami bahwa kehidupan bukan hanya tentang siapa yang datang dan siapa yang pergi, tetapi juga tentang bagaimana kita bertumbuh menjadi manusia yang lebih dewasa.
Ikhlas bukan berarti berhenti berusaha
Ada satu hal yang sering disalahpahami tentang ikhlas. Sebagian orang menganggap bahwa ikhlas berarti menerima segala sesuatu tanpa melakukan apa-apa.
Padahal, ikhlas bukanlah alasan untuk berhenti berjuang.
Kita tetap harus berusaha, bekerja keras, merencanakan masa depan, dan memperbaiki keadaan. Kita tetap harus berdoa dan berharap kepada Allah.
Namun, setelah semua ikhtiar dilakukan, kita harus menyadari bahwa hasil akhir bukan sepenuhnya berada dalam kendali manusia.
Di sinilah letak pentingnya tawakal.
Kita berusaha sebaik mungkin, tetapi tidak memaksakan hasil sesuai keinginan. Kita berharap setinggi mungkin, tetapi tidak kehilangan ketenangan ketika kenyataan berkata lain.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Ketika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur. Ketika mendapatkan kesulitan, ia bersabar. Keduanya menjadi kebaikan baginya. (HR. Muslim).
Betapa indahnya ajaran ini.
Kebahagiaan tidak selalu harus datang dari keberhasilan mendapatkan sesuatu. Bahkan, dalam keadaan kehilangan sekalipun, seseorang masih bisa menemukan kebaikan melalui kesabaran dan keimanannya.
Belajar pulang kepada Allah
Pada akhirnya, perjalanan kehidupan akan membawa kita pada satu kesadaran penting: dunia ini bukan tempat untuk memenuhi seluruh keinginan, melainkan tempat untuk menjalani amanah dan mempersiapkan kepulangan.
Kita datang ke dunia tanpa membawa apa-apa. Harta, jabatan, popularitas, dan segala kebanggaan yang pernah kita miliki suatu saat akan kita tinggalkan.
Yang akan menjadi bekal adalah iman, amal saleh, dan segala kebaikan yang pernah kita lakukan.
Maka, jangan terlalu bersedih ketika sesuatu yang kita inginkan belum menjadi kenyataan. Jangan terlalu kecewa ketika seseorang tidak memperlakukan kita sebagaimana yang kita harapkan. Jangan pula merasa hidup telah berakhir hanya karena sebuah rencana tidak berjalan sesuai keinginan.
Mungkin ada jalan lain yang belum kita ketahui. Mungkin ada hikmah yang belum kita pahami. Dan mungkin, ada bagian dari diri kita yang sedang Allah tuntun untuk menjadi lebih sabar, lebih kuat, dan lebih dekat kepada-Nya.
Ikhlas bukan berarti kita tidak boleh menangis ketika kehilangan. Ikhlas adalah ketika setelah air mata mengering, kita tetap percaya bahwa Allah tidak pernah salah dalam menetapkan takdir.
Mari kita belajar menjalani kehidupan dengan hati yang lebih lapang.
Berusaha tanpa merasa paling mampu. Berharap tanpa memaksakan kehendak. Mencintai tanpa harus memiliki. Menerima tanpa harus berhenti berjuang. Dan bersyukur tanpa harus menunggu semua keinginan terpenuhi.
Sebab, ketenangan hidup tidak selalu ditemukan ketika kita berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan.
Terkadang, ketenangan justru hadir ketika kita mampu menerima apa yang telah Allah tetapkan.
Semoga Allah senantiasa membimbing hati kita agar tidak terlalu mencintai dunia, tidak mudah membenci sesama, dan tidak pernah kehilangan harapan kepada-Nya.
Selamat menikmati kehidupan. Bukan dengan memaksakan semua keinginan menjadi kenyataan, tetapi dengan belajar menemukan makna dan hikmah di balik setiap ketetapan-Nya.
*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim