Disiplin berlalulintas walau tak ada yang mengawasi
KETIKA TIDAK ADA YANG MENGAWASI, SIAPA YANG MENJAGA KITA TETAP TERTIB?
Dari headphone di toko musik hingga bus yang berhenti pada pukul 00.15 malam
Oleh: Djoko Iriandono, S.E., M.A.
Ada satu pertanyaan sederhana yang sering saya renungkan sejak menjalani pendidikan di Inggris.
Mengapa seseorang tetap mematuhi aturan ketika tidak ada petugas yang mengawasi?
Pertanyaan ini muncul dari beberapa pengalaman yang saya temui selama tinggal di Inggris. Pengalaman-pengalaman itu mungkin terlihat biasa bagi masyarakat setempat, tetapi bagi saya mengandung pelajaran penting tentang kedisiplinan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap orang lain.
Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi ketika saya melakukan perjalanan malam menggunakan bus dari Birmingham menuju London.
Pukul 00.15 Malam, Bus Berhenti di Lampu Merah
Perjalanan berlangsung ketika sebagian besar orang mungkin sudah beristirahat.
Tiba-tiba, bus yang saya tumpangi berhenti.
Saya melihat jam. Pukul 00.15 malam.
Saya sempat bertanya-tanya dalam hati, ada apa gerangan? Mengapa bus berhenti pada jam seperti itu ketika jalanan tampak sepi?
Setelah memperhatikan keadaan di sekitar, saya baru menyadari bahwa bus berhenti karena lampu lalu lintas sedang menyala merah.
Tidak ada kendaraan lain yang terlihat melintas. Jalanan lengang. Tidak tampak pula antrean kendaraan yang mengharuskan bus berhenti.
Namun, sopir tetap menunggu.
Bus baru bergerak setelah lampu berubah menjadi hijau.
Peristiwa itu sederhana. Hanya sebuah bus yang berhenti di lampu merah pada tengah malam.
Namun, bagi saya, ada pelajaran penting di baliknya.
Sopir tersebut tetap mengikuti aturan meskipun jalanan tampak sepi dan tidak ada kendaraan lain yang terlihat.
Saya tidak mengetahui apa yang ada dalam pikirannya. Namun, tindakan yang saya saksikan membuat saya merenungkan makna kedisiplinan.
Apakah kita mematuhi aturan karena memahami manfaatnya, atau hanya karena takut mendapatkan hukuman?
Sangat mudah mematuhi aturan ketika ada polisi yang berjaga. Sangat mudah tertib ketika ada kamera pengawas. Sangat mudah mengikuti ketentuan ketika pelanggaran akan segera mendapatkan sanksi.
Namun, apakah kita tetap melakukan hal yang benar ketika tidak ada seorang pun yang melihat?
Di sinilah kedisiplinan berhubungan dengan karakter.
Aturan lalu lintas bukan semata-mata dibuat agar pengemudi terhindar dari sanksi. Aturan itu diperlukan untuk melindungi keselamatan semua pengguna jalan.
Jika setiap orang merasa boleh melanggar karena jalanan sedang sepi, ketertiban akan berubah menjadi sesuatu yang bergantung pada penilaian pribadi masing-masing.
Padahal, salah satu fungsi aturan adalah memastikan keselamatan bersama tidak bergantung pada keinginan sesaat seseorang.
Kedisiplinan yang sesungguhnya bukanlah kepatuhan yang muncul karena diawasi, melainkan kesediaan melakukan hal yang benar meskipun tidak ada seorang pun yang mengawasi.
Kebebasan Pribadi Bukan Berarti Bebas Mengganggu Orang Lain
Pengalaman lain yang saya temui berkaitan dengan kebiasaan masyarakat menghormati kenyamanan orang lain.
Ketika mengunjungi pedagang yang menjual VCD film atau lagu, saya memperhatikan bahwa pedagang tersebut menyediakan headphone bagi calon pembeli yang ingin mendengarkan lagu sebelum memutuskan untuk membeli.
Dengan headphone itu, pembeli dapat menikmati lagu tanpa harus memperdengarkan musik keras-keras kepada pedagang maupun orang lain di sekitarnya.
Bagi saya, tindakan tersebut menunjukkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar pelayanan kepada pelanggan.
Pedagang itu memahami bahwa keinginan seseorang untuk menikmati musik tidak boleh mengganggu kenyamanan orang lain.
Pembeli tetap dapat mencoba barang yang hendak dibelinya. Pedagang dapat melayani dengan baik. Orang-orang di sekitar pun tidak harus ikut mendengarkan musik yang bukan pilihan mereka.
Semua kepentingan dapat diakomodasi tanpa harus saling mengganggu.
Pelajaran serupa saya temukan dari pengalaman seorang teman.
Suatu ketika, teman saya bercerita bahwa ia didatangi petugas polisi setelah tetangganya melaporkan bahwa ia memutar lagu dengan volume yang dianggap terlalu keras dan mengganggu.
Saya tidak mengetahui secara terperinci bagaimana proses penanganan laporan tersebut. Karena itu, saya tidak dapat menyimpulkan tindakan apa yang kemudian diambil oleh petugas.
Namun, pengalaman itu memberikan bahan renungan.
Di dalam kehidupan bermasyarakat, kebebasan pribadi harus berjalan berdampingan dengan tanggung jawab sosial.
Kita boleh mendengarkan musik, tetapi bukan berarti kita bebas memaksa tetangga ikut mendengarkannya.
Kita boleh mengadakan pesta, tetapi tetap perlu memikirkan waktu dan tingkat kebisingan agar tidak mengganggu orang lain.
Kita boleh menikmati kebebasan di rumah sendiri, tetapi rumah kita tidak berdiri terpisah dari lingkungan sosial di sekitarnya.
Saya teringat bahwa di Indonesia, persoalan suara yang mengganggu tetangga juga kerap menjadi sumber ketidaknyamanan. Mulai dari musik yang diputar keras-keras hingga kegiatan yang berlangsung sampai larut malam.
Tentu, setiap lingkungan mempunyai kebiasaan dan konteks yang berbeda. Namun, prinsip dasarnya tetap sama.
Hak kita untuk merasa nyaman tidak boleh dibayar dengan hilangnya kenyamanan orang lain.
Menghargai Waktu adalah Bentuk Menghargai Manusia
Selama menjalani pendidikan di Inggris, saya juga mendapatkan pengalaman menarik ketika berkonsultasi mengenai disertasi dengan dosen pembimbing.
Saya merasakan bahwa mereka relatif mudah ditemui selama saya membuat janji terlebih dahulu.
Dengan membuat janji, waktu pertemuan menjadi jelas. Dosen dapat menyiapkan waktu untuk membimbing, sedangkan mahasiswa dapat mempersiapkan pertanyaan dan bahan diskusi.
Saya tidak harus datang tanpa kepastian, berharap dosen sedang berada di ruangannya, kemudian menunggu tanpa mengetahui kapan akan mendapatkan kesempatan berkonsultasi.
Kebiasaan tersebut membuat saya memahami bahwa menghargai waktu bukan hanya persoalan ketepatan jadwal.
Di balik sebuah janji terdapat komitmen yang melibatkan dua pihak. Ketika seseorang menyediakan waktu untuk kita, sesungguhnya ia sedang memberikan sebagian dari kehidupannya yang tidak dapat diulang.
Ada hal lain yang juga saya ingat.
Ketika melakukan pembimbingan, saya tidak pernah duduk berhadapan dengan dosen pembimbing dalam suasana yang terasa seperti pemeriksaan. Saya justru senantiasa duduk berdampingan dengan beliau.
Posisi duduk tersebut menciptakan suasana yang lebih terbuka dan nyaman untuk berdiskusi.
Saya tidak merasa sedang berhadapan dengan seseorang yang hanya bertugas menilai atau mencari kesalahan. Saya merasa sedang bekerja bersama seorang akademisi yang membantu saya memperbaiki pemikiran dan mengembangkan kualitas penelitian.
Tentu, posisi duduk tidak dengan sendirinya menentukan kualitas hubungan akademik. Namun, bagi saya, pengalaman tersebut memberikan kesan tentang pentingnya hubungan profesional yang dilandasi rasa saling menghormati.
Dosen tetap memiliki otoritas akademik. Mahasiswa tetap memiliki tanggung jawab untuk belajar. Namun, kewenangan tidak harus diwujudkan melalui jarak sosial yang membuat mahasiswa takut bertanya.
Pengalaman itu juga mengingatkan saya pada pentingnya budaya menghargai waktu dalam pelayanan publik di Indonesia.
Kita terkadang harus menunggu lama tanpa kepastian. Janji pertemuan bisa berubah tanpa pemberitahuan yang memadai. Ada pula situasi ketika seseorang harus berulang kali datang untuk menyelesaikan urusan yang seharusnya dapat ditangani secara lebih terencana.
Tentu, tidak semua pelayanan seperti itu. Banyak pula petugas dan lembaga yang bekerja secara profesional.
Namun, kita perlu menyadari bahwa ketepatan waktu dan kepastian pelayanan bukan sekadar persoalan teknis. Keduanya merupakan bentuk penghormatan terhadap orang lain.
Disiplin Tidak Selalu Membutuhkan Hukuman
Dari pengalaman-pengalaman tersebut, saya semakin memahami bahwa masyarakat yang tertib tidak terbentuk hanya karena memiliki peraturan yang baik.
Peraturan memang penting. Penegakan hukum juga diperlukan.
Namun, keduanya akan lebih bermakna apabila tumbuh bersama kesadaran masyarakat untuk mematuhi aturan.
Seseorang yang berhenti di lampu merah karena memahami pentingnya keselamatan telah menunjukkan sesuatu yang lebih mendalam daripada sekadar kepatuhan formal.
Pedagang yang menyediakan headphone memperlihatkan bahwa kepentingan pelanggan dapat dipenuhi tanpa mengabaikan kenyamanan orang lain.
Seseorang yang membuat janji sebelum menemui dosen pembimbing menunjukkan penghargaan terhadap waktu dan tanggung jawab profesional.
Semua itu merupakan contoh bahwa nilai-nilai sosial dapat diwujudkan melalui kebiasaan yang sederhana.
Kita tidak harus menunggu adanya aturan baru untuk menghormati hak orang lain. Kita juga tidak perlu menunggu seseorang menegur untuk menyadari bahwa perilaku kita mungkin mengganggu orang lain.
Kesadaran itu seharusnya tumbuh dari dalam diri.
Di sinilah pendidikan karakter memiliki peran penting.
Anak-anak perlu belajar bahwa kejujuran bukan hanya berarti tidak berbohong ketika diawasi. Disiplin bukan hanya berarti mematuhi aturan ketika guru berada di kelas. Tanggung jawab bukan hanya berarti menyelesaikan tugas ketika ada nilai yang dipertaruhkan.
Mereka perlu memahami bahwa melakukan hal yang benar tetap penting meskipun tidak ada hadiah atau hukuman yang menanti.
Orang dewasa pun perlu terus belajar tentang hal yang sama.
Sebab, usia, pendidikan, jabatan, dan status sosial tidak secara otomatis menjadikan seseorang disiplin. Karakter dibentuk melalui pilihan-pilihan yang dilakukan berulang kali.
Sebuah Pertanyaan untuk Kita
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa masyarakat Inggris selalu disiplin atau bahwa masyarakat Indonesia tidak memiliki kedisiplinan.
Pengalaman pribadi tentu tidak cukup untuk menggambarkan keseluruhan karakter suatu bangsa.
Di Indonesia, kita memiliki banyak orang yang jujur, tertib, dan bertanggung jawab. Sebaliknya, masyarakat Inggris juga menghadapi berbagai persoalan sosial.
Namun, pengalaman saya di sana memberikan pelajaran yang patut kita renungkan.
Kita sering berbicara tentang pentingnya membangun budaya disiplin. Kita membuat peraturan, memasang papan peringatan, mengadakan sosialisasi, dan memberikan berbagai nasihat.
Tetapi, pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri adalah: apakah kita sudah melakukan hal yang benar ketika tidak ada orang yang mengawasi?
Apakah kita tetap berhenti di lampu merah ketika jalanan kosong?
Apakah kita menjaga ketenangan lingkungan ketika ingin menikmati hiburan?
Apakah kita menghargai waktu orang lain sebagaimana kita ingin waktu kita dihargai?
Apakah kita menaati aturan karena menyadari manfaatnya, atau hanya karena takut mendapatkan sanksi?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin lebih menentukan kualitas kedisiplinan kita daripada banyaknya peraturan yang telah dibuat.
Sebab, aturan dapat mengendalikan perilaku untuk sementara, tetapi kesadaranlah yang membuat seseorang tetap melakukan hal yang benar ketika tidak ada yang mengawasi.
Dan mungkin, di situlah salah satu pekerjaan terbesar kita sebagai bangsa: membangun masyarakat yang tidak hanya mengetahui apa yang benar, tetapi juga terbiasa melakukannya.
Bersambung ke Seri 3: Ramah, Beragama, dan Beradab—Mengapa Nilai Luhur Harus Terlihat dalam Perilaku?