Detail Update

Detail Update

MENJAGA PERSATUAN, MENYIAPKAN GENERASI MASA DEPAN

Card image cap Sumpah Pemuda 2026

SUMPAH PEMUDA: MENJAGA PERSATUAN, MENYIAPKAN GENERASI MASA DEPAN

Oleh: Dr. Ir. H. Irianto Lambrie, M.M.
Ketua Umum Badan Pengelola Islamic Center (BPIC) Kalimantan Timur

Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda. Peringatan ini bukan sekadar mengenang peristiwa bersejarah pada tahun 1928, melainkan juga menjadi kesempatan untuk merenungkan kembali semangat persatuan dan tanggung jawab kita dalam mempersiapkan masa depan bangsa.

Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai latar belakang suku, daerah, dan organisasi menyatukan tekad melalui ikrar bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Mereka menyadari bahwa perjuangan untuk mewujudkan cita-cita bersama tidak mungkin berhasil apabila setiap kelompok hanya mementingkan identitas dan kepentingannya sendiri.

Saat itu, Indonesia belum merdeka. Namun, para pemuda telah memiliki keberanian untuk membayangkan sebuah bangsa yang bersatu. Mereka mampu melampaui sekat-sekat kedaerahan dan menyatukan perbedaan demi cita-cita yang lebih besar: Indonesia yang merdeka dan bermartabat.

Hampir satu abad telah berlalu sejak peristiwa bersejarah tersebut. Tantangan yang dihadapi generasi muda sekarang memang berbeda, tetapi semangat yang diwariskan para pendahulu tetap relevan. Jika dahulu perjuangan dilakukan untuk melepaskan bangsa dari penjajahan, kini perjuangan itu hadir dalam bentuk lain, mulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, penguatan karakter, hingga upaya menjaga persatuan di tengah perubahan zaman.

Pertanyaannya, sejauh mana semangat Sumpah Pemuda telah menjadi bagian dari kehidupan generasi muda saat ini?

Pemuda dan Tantangan Zaman Digital

Kita hidup pada masa ketika perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat. Informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik, komunikasi melintasi batas wilayah, dan berbagai peluang pendidikan maupun pekerjaan terbuka semakin luas. Generasi muda memiliki kesempatan yang jauh lebih besar untuk belajar, berkreasi, berinovasi, dan membangun masa depan.

Namun, kemajuan teknologi juga membawa tantangan yang tidak sederhana. Media sosial, misalnya, dapat menjadi sarana untuk menyebarkan pengetahuan, membangun jejaring, dan memperkuat persaudaraan. Sebaliknya, jika digunakan tanpa tanggung jawab, media yang sama dapat menjadi ruang penyebaran berita bohong, ujaran kebencian, perundungan, dan permusuhan.

Kondisi ini mengingatkan kita bahwa kecakapan teknologi saja tidak cukup. Generasi muda juga membutuhkan kemampuan berpikir kritis, kedewasaan dalam menyikapi perbedaan, serta kebijaksanaan dalam menggunakan informasi.

Kita tentu berharap generasi muda Indonesia tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan terampil. Akan tetapi, kecerdasan perlu berjalan beriringan dengan kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama. Kemajuan yang sesungguhnya tidak hanya diukur dari penguasaan teknologi atau keberhasilan mencapai kedudukan tertentu, tetapi juga dari kemampuan seseorang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakatnya.

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Nilai ini penting ditanamkan kepada generasi muda agar ilmu, keterampilan, dan kemajuan yang mereka capai tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi, tetapi juga menjadi sarana untuk menghadirkan kebaikan bagi orang lain.

Ilmu Pengetahuan Harus Berjalan Bersama Akhlak

Pembangunan generasi muda tidak cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik. Pendidikan harus mampu membentuk manusia yang memiliki pengetahuan, keterampilan, karakter, dan integritas.

Islam menempatkan ilmu pengetahuan pada kedudukan yang sangat mulia. Al-Qur'an, dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11, menjelaskan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.

Pesan ini mengandung makna bahwa iman dan ilmu merupakan dua hal penting dalam membangun kualitas manusia. Ilmu membantu seseorang memahami persoalan dan menemukan jalan keluar, sedangkan iman dan akhlak menjadi landasan moral dalam menggunakan pengetahuan tersebut.

Kecerdasan tanpa integritas dapat disalahgunakan. Keterampilan tanpa tanggung jawab dapat merugikan orang lain. Sebaliknya, ilmu yang disertai akhlak akan menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Pembentukan karakter tidak dapat dibebankan kepada sekolah semata. Keluarga, lembaga pendidikan, masyarakat, dan lembaga keagamaan perlu mengambil bagian secara bersama-sama. Anak-anak muda membutuhkan lingkungan yang memberikan keteladanan, membiasakan perilaku baik, membuka ruang dialog, dan memberi kesempatan untuk mengembangkan potensi.

Dalam konteks inilah, masjid dan Islamic Center memiliki peran yang strategis. Masjid tidak hanya menjadi tempat melaksanakan ibadah ritual, tetapi juga dapat menjadi pusat pendidikan, pembinaan akhlak, pengembangan kepemimpinan, dan penguatan kepedulian sosial.

Islamic Center perlu terus membuka ruang bagi generasi muda untuk belajar agama, mengembangkan kreativitas, berdiskusi, berorganisasi, serta terlibat dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Generasi muda bukan sekadar objek pembinaan, melainkan mitra penting dalam membangun kehidupan umat yang lebih baik.

Persatuan dalam Keberagaman

Salah satu pelajaran terbesar dari Sumpah Pemuda adalah kesediaan untuk menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok. Para pemuda tahun 1928 menunjukkan bahwa perbedaan latar belakang bukanlah penghalang untuk membangun cita-cita bersama.

Pesan tersebut sangat penting bagi Indonesia yang memiliki keragaman suku, budaya, bahasa, dan agama. Keberagaman merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari, tetapi bagaimana kita menyikapinya menentukan apakah perbedaan itu menjadi sumber kekuatan atau justru menimbulkan perpecahan.

Dalam kehidupan bermasyarakat, perbedaan pandangan adalah hal yang wajar. Kita tidak harus selalu memiliki pendapat yang sama untuk dapat bekerja sama. Yang dibutuhkan adalah kesediaan untuk saling menghormati, mendengarkan, dan mencari titik temu demi kepentingan bersama.

Islam juga mengajarkan pentingnya menghargai keberagaman. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 13, Allah SWT menjelaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Ayat ini mengingatkan kita bahwa perbedaan identitas tidak seharusnya menjadi alasan untuk merendahkan atau memusuhi orang lain.

Semangat persatuan yang diwariskan Sumpah Pemuda sejalan dengan nilai persaudaraan dan penghormatan terhadap sesama. Generasi muda perlu menjadi pelopor dalam membangun dialog, menjaga kerukunan, menolak diskriminasi, serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang memecah belah.

Persatuan bukan berarti menghilangkan perbedaan. Persatuan berarti kesediaan untuk hidup bersama, saling menghormati, dan bekerja sama meskipun memiliki latar belakang dan pandangan yang tidak selalu sama.

Generasi Muda Kalimantan Timur dan Masa Depan Daerah

Bagi Kalimantan Timur, semangat Sumpah Pemuda memiliki arti yang semakin penting. Daerah ini memiliki masyarakat dengan latar belakang yang beragam serta potensi sumber daya alam dan manusia yang besar. Perkembangan Ibu Kota Nusantara juga menghadirkan berbagai peluang sekaligus tantangan dalam pembangunan daerah.

Perubahan tersebut membutuhkan generasi muda yang berpendidikan, berkarakter, kreatif, dan mampu beradaptasi. Mereka harus memiliki keberanian untuk mengambil peluang, mengembangkan inovasi, serta berpartisipasi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kita tidak ingin generasi muda Kalimantan Timur hanya menjadi penonton di tengah perubahan yang berlangsung. Mereka harus dipersiapkan agar mampu mengambil peran sebagai pelaku pembangunan, baik dalam bidang pendidikan, teknologi, kewirausahaan, lingkungan, pelayanan publik, maupun kehidupan sosial dan keagamaan.

Untuk itu, akses terhadap pendidikan yang berkualitas perlu terus diperkuat. Demikian pula kesempatan untuk mengembangkan keterampilan, membangun usaha, mengikuti perkembangan teknologi, dan memperoleh pengalaman melalui berbagai kegiatan produktif.

Di sisi lain, kemajuan daerah tidak boleh hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik. Pembangunan manusia tetap menjadi fondasi penting. Daerah yang maju membutuhkan masyarakat yang berpengetahuan, berintegritas, peduli terhadap lingkungan, dan memiliki semangat gotong royong.

Generasi muda harus dibekali kemampuan untuk bersaing, tetapi pada saat yang sama perlu memiliki kesadaran untuk berkontribusi. Keberhasilan pribadi akan memiliki makna yang lebih besar ketika dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat luas.

Jangan Berhenti pada Seremoni

Peringatan Hari Sumpah Pemuda akan kehilangan makna apabila hanya berhenti pada upacara, slogan, dan berbagai kegiatan seremonial. Semangat yang diwariskan para pendahulu perlu diterjemahkan ke dalam tindakan nyata.

Bagi pelajar, semangat Sumpah Pemuda dapat diwujudkan melalui kesungguhan belajar, kedisiplinan, kejujuran, dan penghormatan kepada sesama. Bagi mahasiswa, semangat tersebut dapat diwujudkan melalui pengembangan ilmu pengetahuan, pemikiran kritis, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Bagi generasi muda yang telah memasuki dunia kerja, kontribusi dapat dimulai dengan bekerja secara profesional, menjaga integritas, dan menghasilkan karya yang bermanfaat. Sementara itu, mereka yang aktif dalam organisasi sosial dan keagamaan dapat mengambil peran dalam memperkuat solidaritas, membantu masyarakat yang membutuhkan, serta membangun lingkungan yang lebih baik.

Generasi yang lebih tua juga memiliki tanggung jawab besar. Kita tidak cukup hanya meminta anak-anak muda menjadi pribadi yang tangguh, berkarakter, dan bertanggung jawab. Kita perlu memberikan teladan, membuka kesempatan, dan mempercayai kemampuan mereka untuk berkembang.

Kepercayaan tersebut penting karena kepemimpinan tidak tumbuh hanya melalui nasihat. Kepemimpinan terbentuk melalui pengalaman, tanggung jawab, keberanian mengambil keputusan, serta kesediaan untuk belajar dari kesalahan.

Kita tidak cukup hanya berharap agar generasi muda menjadi pemimpin masa depan. Kita harus mempersiapkan mereka sejak sekarang.

Menjaga Warisan, Menyiapkan Masa Depan

Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa masa depan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam atau besarnya modal yang dimiliki. Masa depan bangsa juga ditentukan oleh kualitas manusia, kekuatan karakter, dan kesediaan warganya untuk bekerja bersama.

Semangat persatuan yang lahir pada 1928 perlu terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari. Tantangan zaman boleh berubah, teknologi boleh berkembang, dan masyarakat boleh mengalami transformasi, tetapi nilai persaudaraan, tanggung jawab, kejujuran, dan kepedulian tidak boleh ditinggalkan.

Bagi Badan Pengelola Islamic Center Kalimantan Timur, momentum Hari Sumpah Pemuda merupakan pengingat akan pentingnya memperkuat peran masjid dan Islamic Center dalam membangun generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, serta memiliki kepedulian terhadap bangsa dan negara.

Mari kita jadikan keluarga, sekolah, kampus, masjid, dan lingkungan masyarakat sebagai tempat tumbuhnya generasi yang tidak hanya unggul dalam pengetahuan, tetapi juga matang dalam sikap dan kuat dalam karakter.

Kepada generasi muda Indonesia, masa depan bukan sekadar sesuatu yang kelak akan kalian hadapi. Masa depan sedang dibentuk melalui pilihan, sikap, dan tindakan yang kalian lakukan hari ini.

Jangan biarkan perbedaan memutus persaudaraan. Jangan biarkan kemajuan teknologi menjauhkan kita dari nilai-nilai kemanusiaan. Dan jangan biarkan potensi besar yang kalian miliki berhenti sebagai harapan tanpa diwujudkan dalam karya nyata.

Selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026.

Mari bersatu dalam keberagaman, bertumbuh dalam ilmu, berpegang teguh pada akhlak, dan berkarya untuk Indonesia yang lebih maju, adil, damai, dan bermartabat.