Gambar ilustrasi, bukan sebenarnya.
Oleh: Djoko Iriandono, S.E., M.A.*)
Kemarin pagi, saya berdiskusi dengan seorang sahabat tentang pendidikan. Pembicaraan berlangsung hangat dan tidak hanya membahas layanan pendidikan, tetapi juga merambah ke berbagai persoalan lainnya.
Ketika pembicaraan mulai menyinggung media sosial yang sedang ramai dengan berita tentang korupsi, tiba-tiba sahabat saya berkata, “Apa ada yang salah dengan pendidikan kita?”
Saya terdiam sejenak mendengar pertanyaan itu.
Bukan karena saya tidak pernah memikirkan persoalan pendidikan, tetapi karena sebagian besar hidup saya justru saya habiskan di dunia pendidikan. Saya pernah menjadi guru, kepala sekolah dan pernah pula mengemban amanah sebagai pejabat di lingkungan pendidikan. Bahkan setelah memasuki usia pensiun sampai saat ini saya juga masih berkecimpung di dunia pendidikan. Selama berada di dalamnya, saya melihat begitu banyak guru yang bekerja dengan tulus dan sungguh-sungguh.
Lalu apa yang salah? Dimanakah letak kesalahannya?
Mereka datang ke sekolah, mengajar, mendidik, melatih, membimbing, dan berusaha menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak-anak. Banyak di antara mereka yang tetap menjalankan tugas dengan penuh dedikasi dan penuh rasa tanggung jawab meskipun menghadapi berbagai keterbatasan.
Lalu, apakah benar ada yang salah dengan pendidikan kita?
Pertanyaan teman saya itu terus terngiang di pikiran. Saat itu saya tidak langsung mendebatnya. Saya memilih diam dan mencoba mengalihkan pembicaraan.
Namun, setelah pulang dan sampai di rumah, perkataan itu justru kembali muncul dalam pikiran. Saya mulai merenung. Saya mencoba melihat persoalan pendidikan bukan hanya dari apa yang terjadi di dalam ruang kelas, tetapi juga dari berbagai kebiasaan yang selama ini mengiringi proses pendidikan.
Saya kemudian teringat pada proses penerimaan siswa baru.
Setiap tahun, ketika sekolah mulai membuka pendaftaran, kita menyaksikan orang tua datang membawa berbagai persyaratan. Mereka berharap anaknya dapat diterima di sekolah yang dianggap baik, bahkan kalau bisa di sekolah yang selama ini dikenal sebagai sekolah favorit.
Keinginan orang tua untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak tentu bukan sesuatu yang salah. Setiap orang tua tentu ingin melihat anaknya mendapatkan kesempatan yang baik.
Persoalannya muncul ketika keinginan itu mendorong seseorang untuk menempuh cara-cara yang tidak semestinya.
Kita sering mendengar cerita tentang orang tua yang berusaha mencari jalan khusus agar anaknya dapat diterima di sekolah tertentu. Ada yang meminta bantuan kepada orang yang dianggap mempunyai pengaruh. Ada pula yang mencoba mendekati pihak-pihak tertentu agar proses yang seharusnya berjalan sesuai aturan dapat berubah sesuai keinginan.
Mungkin bagi orang tua, hal itu hanya dianggap sebagai sebuah ikhtiar. Mereka merasa sedang memperjuangkan masa depan anak.
Tetapi saya mulai bertanya-tanya, apa yang sebenarnya sedang dipelajari oleh seorang anak ketika menyaksikan semua itu?
Anak mungkin belum memahami persoalan secara utuh. Tetapi ia melihat bagaimana orang tuanya berusaha mendapatkan sesuatu. Ia melihat bahwa ada aturan yang ternyata bisa dicari jalan keluarnya.
Ia bisa saja menangkap sebuah pesan sederhana: kalau cara biasa tidak berhasil, masih ada cara lain yang bisa ditempuh.
Pesan semacam ini tentu tidak pernah tertulis dalam buku pelajaran. Tidak ada guru yang mengajarkannya di depan kelas.
Namun, anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang kita katakan. Mereka juga belajar dari apa yang dilakukan orang dewasa di sekelilingnya.
Hal yang sama membuat saya teringat pada persoalan penilaian di sekolah.
Seorang guru sebenarnya paling tahu kemampuan siswanya. Ia tahu siapa yang rajin belajar, siapa yang masih tertinggal, dan siapa yang belum mencapai kemampuan yang diharapkan.
Nilai yang diberikan seharusnya menjadi gambaran tentang proses dan hasil belajar yang sesungguhnya.
Tetapi dalam kenyataan, tidak selalu mudah bagi seorang guru untuk bersikap tegas dan jujur.
Ada kalanya muncul harapan agar semua siswa memperoleh nilai yang baik. Ada kekhawatiran jika nilai seorang siswa rendah akan membuat orang tua kecewa dan marah.
Ada pula kepentingan agar nilai lulusan sekolah terlihat bagus sehingga mereka memiliki peluang lebih besar untuk diterima di sekolah atau jenjang pendidikan yang dianggap lebih baik.
Di sinilah seorang guru bisa berada dalam posisi yang sulit.
Ketika nilai yang sebenarnya biasa saja kemudian dibuat menjadi sangat baik, mungkin persoalannya terlihat kecil. Hanya sebuah angka di dalam rapor.
Namun, bagi seorang anak, angka itu bisa mengandung pelajaran yang jauh lebih besar.
Bayangkan seorang siswa yang sebenarnya tahu bahwa kemampuannya tidak terlalu bagus. Ia juga tahu bahwa dirinya belum sungguh-sungguh menguasai pelajaran tertentu.
Tetapi ketika menerima rapor, nilai yang tercantum justru sangat baik.
Bisa jadi ia bertanya dalam hati, “Kok nilai saya bisa sebagus ini?”
Pertanyaan itu seharusnya membuat kita berhenti sejenak.
Sebab yang sedang diterima anak bukan hanya sebuah rapor. Tanpa kita sadari, ia juga sedang menerima sebuah pesan tentang kehidupan, yaitu: bahwa hasil yang baik ternyata bisa diperoleh meskipun kemampuan sebenarnya belum memadai.
Jika pengalaman semacam itu terus berulang, anak bisa tumbuh dengan pemahaman yang keliru. Ia dapat menganggap bahwa selama tujuan yang ingin dicapai baik, cara apa pun untuk mendapatkannya dapat dibenarkan.
Di situlah saya mulai melihat ada persoalan yang lebih besar daripada sekadar nilai rapor.
Pendidikan seharusnya mengajarkan anak untuk menghargai proses. Kalau belum mampu, ia harus belajar. Kalau belum berhasil, ia harus berusaha lagi. Kalau nilainya belum bagus, ia harus memperbaiki diri.
Bukan membuat nilai terlihat bagus agar kelemahan itu tidak tampak.
Mungkin kita terlalu sering sibuk mengejar hasil sampai lupa bahwa cara mendapatkan hasil juga merupakan bagian penting dari pendidikan.
Anak yang memperoleh nilai tinggi karena belajar keras sedang mendapatkan pelajaran yang berbeda dengan anak yang memperoleh nilai tinggi karena nilainya dinaikkan.
Dari luar, keduanya mungkin terlihat sama. Tetapi pengalaman yang mereka bawa tentu berbeda.
Yang satu belajar bahwa kerja keras menghasilkan sesuatu.
Yang lain bisa belajar bahwa kenyataan dapat dibuat terlihat lebih baik daripada keadaan yang sebenarnya.
Ketika kebiasaan seperti ini terjadi berulang-ulang, kita patut bertanya apakah kita sedang membentuk karakter atau justru tanpa sadar sedang membentuk cara berpikir yang keliru.
Anak yang sejak kecil melihat bahwa aturan bisa dilonggarkan demi kepentingan tertentu dapat tumbuh dengan pemahaman bahwa aturan bukan sesuatu yang mutlak harus dihormati.
Ia mungkin belajar bahwa yang penting adalah hasilnya.
Cara mencapainya bisa dipikirkan kemudian.
Inilah yang membuat perkataan teman saya tentang korupsi menjadi semakin masuk akal untuk direnungkan. Tentu tidak tepat jika kita mengatakan bahwa seseorang menjadi koruptor hanya karena pernah mendapatkan nilai rapor yang tidak sesuai dengan kemampuan.
Penyebab korupsi jauh lebih kompleks. Ada persoalan moral, lingkungan, kekuasaan, kesempatan, pengawasan, keteladanan, dan banyak faktor lainnya.
Namun, pendidikan karakter memang dibangun dari pengalaman-pengalaman kecil.
Apa yang dianggap biasa ketika seseorang masih menjadi anak dapat ikut membentuk cara pandangnya ketika dewasa.
Dulu mungkin hanya soal nilai rapor.
Kemudian bisa menjadi soal mencari jalan khusus untuk masuk sekolah.
Setelah dewasa, bentuknya mungkin berbeda: mencari jalan pintas untuk memperoleh jabatan, memenangkan proyek, mendapatkan keuntungan, atau menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi.
Tentu tidak semua orang yang mengalami hal tersebut akan tumbuh menjadi pribadi yang koruptif. Tetapi kebiasaan membenarkan cara yang tidak benar tetap merupakan sesuatu yang perlu kita waspadai.
Di sinilah saya mulai memahami kegelisahan teman saya.
Mungkin bukan guru yang salah.
Banyak guru justru telah berusaha menjalankan tugasnya dengan baik. Mereka mendidik dengan hati, berusaha berlaku adil, dan mengajarkan kejujuran kepada murid-muridnya.
Persoalannya mungkin terletak pada lingkungan pendidikan yang terkadang memberikan pesan yang berbeda dari apa yang diajarkan di dalam kelas.
Kita mengajarkan kejujuran, tetapi pada saat yang sama membiarkan ketidakjujuran memperoleh ruang.
Kita mengajarkan kerja keras, tetapi kadang memberikan penghargaan kepada mereka yang menemukan jalan pintas.
Kita mengajarkan keadilan, tetapi dalam keadaan tertentu masih ada perlakuan berbeda karena kedudukan, hubungan, atau kepentingan.
Anak-anak tentu memperhatikan semua itu.
Mereka mungkin tidak langsung memprotes. Mereka mungkin juga tidak memahami seluruh persoalannya.
Tetapi apa yang mereka lihat akan tersimpan dalam ingatan dan membentuk pemahaman mereka tentang bagaimana dunia bekerja.
Karena itu, pendidikan sesungguhnya tidak hanya berlangsung ketika guru berdiri di depan papan tulis.
Pendidikan berlangsung ketika orang tua berbicara dengan anaknya.
Pendidikan berlangsung ketika seorang kepala sekolah mengambil keputusan.
Pendidikan berlangsung ketika guru memberikan nilai.
Pendidikan berlangsung ketika sekolah menerima siswa baru.
Bahkan pendidikan berlangsung ketika seorang anak melihat bagaimana orang dewasa menghadapi sebuah aturan.
Di sinilah keteladanan menjadi sangat penting.
Kita tidak cukup hanya mengatakan kepada anak, “Jadilah orang yang jujur.”
Kita harus menunjukkan bahwa kejujuran memang layak dipertahankan, bahkan ketika kejujuran itu membuat kita kehilangan kesempatan tertentu.
Kita juga perlu mengajarkan kepada mereka bahwa tidak semua yang kita inginkan harus kita dapatkan.
Ada kalanya seorang anak harus menerima kenyataan bahwa ia belum cukup mampu untuk masuk ke sekolah yang diinginkannya.
Ada kalanya nilai yang diperoleh belum seperti yang diharapkan.
Dalam keadaan seperti itu, tugas kita bukan mencari jalan agar kenyataan terlihat lebih baik.
Tugas kita adalah membantu anak menghadapi kenyataan, kemudian mendorongnya untuk memperbaiki diri.
Bukankah justru di situlah pendidikan berlangsung?
Anak belajar menerima kekurangan, belajar berusaha, belajar gagal, kemudian bangkit dan mencoba lagi.
Proses semacam itu mungkin tidak selalu menghasilkan nilai yang sempurna. Tetapi ia bisa menghasilkan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu: karakter.
Saya pernah berada cukup lama di dunia pendidikan. Karena itu, saya tahu bahwa persoalan pendidikan tidak bisa dibebankan kepada guru saja.
Orang tua mempunyai tanggung jawab. Sekolah mempunyai tanggung jawab. Pengambil kebijakan mempunyai tanggung jawab. Masyarakat juga memiliki tanggung jawab.
Guru memang berada di depan kelas, tetapi pendidikan anak sesungguhnya berlangsung jauh lebih luas daripada ruang kelas.
Mungkin itulah yang dimaksud teman saya ketika mengatakan, “Apa ada yang salah dengan pendidikan kita.”
Bukan berarti semua yang ada dalam dunia pendidikan salah.
Bukan pula berarti guru gagal menjalankan tugasnya.
Justru karena masih banyak guru yang bekerja dengan hati dan penuh tanggung jawab, kita perlu menjaga agar nilai-nilai yang mereka ajarkan tidak dirusak oleh praktik-praktik di luar kelas.
Saya pun akhirnya menyadari bahwa pertanyaan teman saya tidak perlu dijawab dengan bantahan.
Pertanyaan itu lebih tepat dijawab dengan perenungan.
Sudahkah kita memberikan contoh kejujuran kepada anak-anak?
Sudahkah kita memperlakukan aturan dengan adil?
Sudahkah kita menghargai proses, bukan hanya hasil?
Dan yang tidak kalah penting, sudahkah kita menyadari bahwa setiap keputusan orang dewasa dapat menjadi pelajaran bagi seorang anak?
Seorang anak mungkin lupa apa yang pernah diajarkan gurunya tentang rumus Matematika, Kimia atau mata pelajaran lainnya bertahun-tahun kemudian.
Tetapi pengalaman tentang bagaimana orang dewasa bersikap terhadap kejujuran, aturan, nilai, dan kekuasaan bisa melekat jauh lebih lama.
Karena itu, jika hari ini kita resah melihat korupsi terjadi di berbagai tempat, mungkin tidak ada salahnya kita sesekali melihat kembali ke tempat pendidikan itu bermula.
Bukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan.
Melainkan untuk bertanya kepada diri sendiri: nilai apa yang sebenarnya sedang kita ajarkan kepada anak-anak kita melalui apa yang kita lakukan setiap hari?
*) Kepala Bidang Peningkatan Mutu Tenaga Pendidik dan Kependidikan Yayasan Baitul Muttaqien Islamic Center kalimantan Timur.