Menunduklah agar kamu senantiasa bersyukur
Oleh: Djoko Iriandono*)
Pagi hari sering kali menjadi waktu yang penuh harapan.
Kita membuka mata, memulai aktivitas, dan menyusun berbagai rencana untuk hari yang akan dijalani.
Namun, tidak sedikit di antara kita yang memulai pagi dengan keluhan tentang pekerjaan yang belum sesuai harapan, penghasilan yang terasa kurang, usaha yang belum berkembang, atau kehidupan yang tampak jauh tertinggal dibandingkan orang lain.
Di era media sosial seperti sekarang, keluhan itu bahkan semakin mudah muncul.
Dalam hitungan detik kita dapat melihat teman lama yang berhasil membangun bisnis besar, tetangga yang baru membeli rumah mewah, atau seorang kawan yang sedang pergi ke luar kota atau ke luar daerah untuk berbagai urusan sekaligus menikmati liburan di tempat-tempat indah.
Tanpa sadar, kita mulai membandingkan hidup kita dengan hidup mereka.
"Kok hidup mereka terlihat lebih mudah?"
"Mengapa saya belum berhasil seperti mereka?"
"Kenapa saya sudah bekerja keras tetapi hasilnya belum terlihat?"
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu terus berputar di dalam pikiran hingga akhirnya melahirkan rasa iri, kecewa, dan ketidakpuasan terhadap kehidupan yang sedang kita jalani.
Padahal, sering kali masalahnya bukan karena kita benar-benar kekurangan.
Masalahnya adalah karena kita terlalu sibuk melihat ke atas sehingga lupa melihat ke bawah.
Ketika kita terus memandang orang-orang yang lebih sukses, lebih kaya, lebih terkenal, atau lebih beruntung, kita akan merasa bahwa hidup kita selalu kurang.
Tidak peduli berapa banyak yang sudah kita miliki, semuanya akan terasa tidak cukup.
Seorang yang memiliki sepeda motor ingin memiliki mobil.
Setelah memiliki mobil, ia ingin mobil yang lebih mahal.
Setelah itu, ia ingin rumah yang lebih besar.
Setelah rumah besar dimiliki, ia mulai membandingkan dirinya dengan orang yang memiliki beberapa rumah sekaligus.
Keinginan manusia memang tidak pernah berhenti.
Jika kebahagiaan hanya diukur dari apa yang belum dimiliki, maka seseorang tidak akan pernah merasa cukup sampai kapan pun.
Padahal, jika kita mau berhenti sejenak dan menundukkan kepala, kita akan menemukan kenyataan yang berbeda.
Di luar sana ada banyak orang yang sedang berjuang jauh lebih berat daripada yang kita alami.
Ada orang yang pagi ini bangun tanpa mengetahui apakah keluarganya bisa makan siang atau tidak.
Ada orang yang terbaring di rumah sakit, berharap dapat kembali berjalan normal seperti dahulu.
Ada anak-anak yang harus berhenti sekolah karena keterbatasan biaya.
Ada orang tua yang menghabiskan hari-harinya sendirian tanpa keluarga yang menemani.
Ada pekerja yang kehilangan pekerjaan dan terus berjuang mencari nafkah demi anak-anaknya.
Ada pula mereka yang hidup di daerah konflik dan bencana, yang setiap hari harus berjuang hanya untuk bertahan hidup.
Ketika kita melihat kenyataan itu, perlahan kita akan menyadari bahwa banyak hal yang selama ini kita keluhkan sebenarnya merupakan nikmat yang luar biasa.
Kita mengeluh karena pekerjaan terasa berat, sementara banyak orang berdoa agar memiliki pekerjaan.
Kita mengeluh karena rumah terasa sempit, sementara ada orang yang bahkan tidak memiliki tempat tinggal yang layak.
Kita mengeluh karena makanan yang tersedia tidak sesuai selera, sementara ada orang yang kesulitan mendapatkan makanan sama sekali.
Kita mengeluh karena kendaraan yang kita gunakan sudah tua, sementara ada orang yang harus berjalan kaki berkilo-kilometer setiap hari.
Perspektif inilah yang sering hilang dari kehidupan kita.
Kita terlalu fokus pada apa yang belum kita miliki sehingga lupa menghargai apa yang sudah ada di tangan kita.
Padahal, rasa syukur bukanlah tentang memiliki segalanya.
Rasa syukur adalah kemampuan melihat bahwa apa yang kita miliki saat ini sudah merupakan karunia yang besar.
Orang yang bersyukur bukan berarti tidak memiliki cita-cita.
Orang yang bersyukur tetap boleh bermimpi besar, tetap boleh bekerja keras, dan tetap boleh mengejar kesuksesan.
Namun, ia tidak menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk terus mengeluh.
Ia memahami bahwa kehidupan bukanlah perlombaan untuk menjadi lebih hebat dari orang lain, melainkan perjalanan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari dirinya yang kemarin.
Sayangnya, banyak orang terjebak dalam kebiasaan membandingkan diri.
Mereka mengukur kebahagiaan berdasarkan pencapaian orang lain.
Akibatnya, kebahagiaan mereka tidak pernah stabil.
Ketika melihat orang lain sukses, mereka merasa gagal.
Ketika melihat orang lain lebih kaya, mereka merasa miskin.
Ketika melihat orang lain lebih populer, mereka merasa tidak berharga.
Padahal setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda.
Tuhan tidak memberikan garis start yang sama kepada semua orang.
Ada yang lahir dalam keluarga berkecukupan, ada yang lahir dalam keterbatasan.
Ada yang mencapai kesuksesan pada usia muda, ada yang baru meraihnya setelah usia senja.
Membandingkan perjalanan hidup kita dengan orang lain sama seperti membandingkan bunga mawar dengan pohon mangga.
Keduanya memiliki waktu tumbuh, cara berkembang, dan manfaat yang berbeda.
Karena itu, daripada menghabiskan energi untuk membandingkan diri dengan orang lain, lebih baik kita menggunakannya untuk memperbaiki diri sendiri.
Setiap pagi, cobalah meluangkan waktu beberapa menit untuk menghitung nikmat yang telah diberikan kepada kita.
Masih bisa bernapas dengan sehat.
Masih memiliki keluarga yang mencintai kita.
Masih memiliki kesempatan bekerja dan berkarya.
Masih dapat menikmati sinar matahari pagi.
Masih diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dan memulai hari yang baru.
Hal-hal sederhana itu sering dianggap biasa karena kita menikmatinya setiap hari.
Padahal, bagi sebagian orang, hal-hal tersebut adalah anugerah yang sangat mahal.
Rasa syukur bukan hanya membuat hati lebih tenang, tetapi juga membuat hidup terasa lebih bermakna.
Orang yang bersyukur cenderung lebih bahagia karena fokusnya bukan pada apa yang hilang, melainkan pada apa yang masih dimiliki.
Mereka tidak hidup dalam bayang-bayang kekurangan.
Mereka hidup dalam kesadaran bahwa kehidupan telah memberikan begitu banyak karunia yang patut disyukuri.
Pagi ini, sebelum kita kembali mengeluh tentang berbagai persoalan hidup, cobalah berhenti sejenak.
Tundukkan kepala, bukan untuk meratapi nasib, tetapi untuk melihat kenyataan yang sering terlupakan.
Lihatlah bahwa masih banyak orang yang memikul beban jauh lebih berat daripada kita.
Kemudian angkat kepala kembali dengan hati yang lebih lapang.
Bersyukurlah atas apa yang telah ada.
Berjuanglah untuk apa yang belum ada.
Dan jangan biarkan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain mencuri kebahagiaan yang sesungguhnya sudah berada di dalam hidup kita.
Sebab sering kali, bukan kehidupan kita yang kurang baik.
Yang kurang hanyalah rasa syukur di dalam hati kita.
Ketika rasa syukur tumbuh, kita akan menyadari bahwa sesungguhnya kita jauh lebih kaya daripada yang selama ini kita kira.
*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim