Detail Update

Detail Update

Wahai Hujan, Kenapa Engkau Belum Juga Turun? (Bag.2)

Card image cap Yaa Allah, kami mohon segera turunkanlah hujan di bumi Kaltim.

Wahai Hujan, Kenapa Engkau Belum Juga Turun? (Bag.2)

Catatan Renungan dari Langit Kalimantan yang Merindukan Hujan

Oleh: Djoko Iriandono, S.E., M.A*)

 

Pagi ini, saya kembali menengadah ke langit.

Ada sesuatu yang terasa berbeda. Matahari yang biasanya menyambut pagi dengan cahaya keemasan, kini tampak seperti rembulan yang tersesat di siang hari. Bulat, merah, dan redup. Sinarnya tertahan oleh kabut asap yang menyelimuti langit Kalimantan Timur.

Saya terdiam cukup lama memandangnya.

Matahari masih ada, tetapi cahayanya seolah kehilangan kekuatannya. Langit masih terbentang, tetapi kejernihannya menghilang. Pagi datang, tetapi kehangatan yang biasanya menyertainya terasa jauh berkurang.

Dan sekali lagi, pertanyaan itu hadir di dalam hati.

“Wahai hujan, kenapa engkau belum juga turun?”

Bukan sekadar karena tanah merindukan air. Bukan hanya karena pepohonan mulai kehausan. Ada kerinduan yang lebih dalam, yang mungkin tak pernah bisa diungkapkan sepenuhnya oleh kata-kata.

Kerinduan akan udara yang bersih. Kerinduan akan langit yang kembali biru. Kerinduan melihat matahari bersinar tanpa selimut asap, dan anak-anak dapat menghirup udara pagi tanpa rasa khawatir.

Betapa menyedihkan ketika sesuatu yang seharusnya memberi kehidupan justru terasa jauh dari jangkauan.

Kemarin, saya sempat mengira langit yang kelabu adalah pertanda hujan akan segera turun. Ternyata yang menutupi matahari bukanlah awan pembawa hujan, melainkan asap kebakaran hutan dan lahan.

Hari ini, matahari kembali tampak merah dan redup.

Seolah-olah alam sedang menyampaikan pesan yang tidak mampu kita dengar dengan telinga, tetapi dapat kita rasakan dengan hati.

Barangkali bukan matahari yang kehilangan cahayanya. Barangkali kitalah yang telah membuat langit kehilangan kejernihannya.

Hutan yang dahulu menjadi rumah bagi begitu banyak kehidupan kini terluka oleh api. Tanah yang dahulu menyimpan kesejukan kini merindukan air. Udara yang seharusnya kita hirup dengan bebas kini membawa kegelisahan.

Dan di tengah semua itu, kita masih bertanya, kapan hujan akan turun?

Padahal mungkin ada pertanyaan lain yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri.

Apa yang telah kita lakukan terhadap bumi yang selama ini begitu sabar memberi kehidupan kepada kita?

Kita sering meminta alam memberikan kesejukan, tetapi lupa menjaganya. Kita merindukan hujan, tetapi kadang-kadang abai terhadap pohon-pohon yang menjadi bagian dari keseimbangan kehidupan.

Kita berharap langit kembali cerah, tetapi lupa bahwa menjaga bumi bukan hanya tugas orang lain. Ia adalah amanah kita bersama.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik.”

(QS. Al-A’raf: 56)

Ayat ini terasa begitu dekat dengan apa yang kita saksikan hari ini.

Bumi bukan sekadar tempat kita berpijak. Ia adalah titipan. Hutan, air, udara, dan segala kehidupan di dalamnya adalah bagian dari amanah yang harus dijaga.

Ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pepohonan. Ada kehidupan yang terancam. Ada makhluk-makhluk kecil yang kehilangan tempat tinggal. Ada keluarga yang harus menghadapi udara tidak sehat. Ada anak-anak yang mungkin tidak dapat bermain bebas di luar rumah.

Dan ada pula orang-orang yang diam-diam berdoa agar pagi esok membawa udara yang lebih baik.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman, lalu tanaman itu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan hal itu menjadi sedekah baginya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa indahnya ajaran ini.

Menanam bukan sekadar pekerjaan tangan. Ia dapat menjadi amal yang manfaatnya terus mengalir, bahkan ketika kita telah tiada.

Barangkali inilah saatnya kita kembali memahami bahwa mencintai bumi juga bagian dari rasa syukur kepada Allah.

Bukan hanya dengan kata-kata, melainkan melalui tindakan nyata: menjaga hutan, tidak membakar lahan sembarangan, merawat pepohonan, dan mengingatkan sesama agar tidak merusak lingkungan.

Sebab doa memohon hujan akan terasa semakin bermakna ketika disertai ikhtiar menjaga bumi yang akan menerimanya.

Wahai hujan...

Kami tidak tahu kapan engkau akan turun.

Kami tidak tahu berapa lama lagi matahari akan tampak seperti rembulan yang kehilangan cahayanya.

Kami hanya tahu, pagi ini langit kembali mengajarkan tentang sesuatu yang sering kita lupakan: betapa berharganya nikmat yang selama ini kita terima tanpa banyak berpikir.

Udara bersih, misalnya.

Selama ini kita menghirupnya begitu saja. Tidak pernah kita hitung berapa kali paru-paru menghirup udara dalam sehari. Tidak pernah kita bayangkan betapa sulitnya hidup ketika setiap tarikan napas menghadirkan kekhawatiran.

Kini, ketika asap menyelimuti langit, kita mulai menyadari bahwa udara bersih adalah karunia yang luar biasa.

Begitu pula hujan.

Saat ia turun, mungkin kita mengeluh karena jalanan basah, pakaian sulit kering, atau perjalanan terganggu. Namun ketika ia tak kunjung datang, kita baru menyadari betapa berharganya setiap tetes air.

Betapa sering manusia baru memahami arti sebuah nikmat setelah nikmat itu terasa jauh darinya.

Ya Allah...

Jika hari-hari ini kami sedang engkau uji dengan panas yang panjang, asap yang menyesakkan, dan hujan yang belum juga turun, maka kami mohon kuatkanlah hati kami ya Allah.

Lindungilah anak-anak, orang-orang lanjut usia, para petugas pemadam kebakaran, serta semua saudara kami yang sedang menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan.

Berikanlah kesadaran kepada kami untuk menjaga bumi-Mu. Jauhkanlah kami dari keserakahan yang merusak, dari kelalaian yang mencelakakan, dan dari sikap merasa bahwa alam akan selalu mampu menanggung segala perbuatan kami.

Turunkanlah hujan yang membawa rahmat, bukan bencana. Basahilah tanah yang kering. Sejukkanlah udara yang panas. Pulihkanlah kehidupan yang terluka.

Dan sebelum hujan itu datang, jangan biarkan hati kami ikut mengering.

Pagi ini, matahari masih tampak merah.

Cahayanya redup, tertutup kabut asap yang membentang di langit Kalimantan Timur.

Saya kembali menatapnya, dengan harapan yang sama seperti kemarin.

Semoga esok pagi langit lebih jernih.

Semoga matahari kembali bersinar terang.

Semoga hujan segera turun, membasahi bumi dan menghidupkan kembali harapan.

Namun, ada satu hal yang ingin saya tanamkan dalam hati:

Jangan hanya menunggu hujan untuk menyelamatkan bumi. Jadilah bagian dari ikhtiar untuk menjaganya.

Sebab langit yang cerah bukan hanya tentang awan yang pergi. Ia juga tentang manusia yang kembali menyadari amanahnya.

Wahai hujan...

Jika engkau belum juga turun, kami akan tetap berdoa.

Kami akan tetap berharap.

Kami akan berusaha menjaga bumi yang menjadi tempat kami hidup.

Semoga ketika kelak engkau datang, bukan hanya tanah yang kembali basah, tetapi juga hati manusia yang kembali sadar.

Bahwa bumi ini bukan warisan yang boleh kita habiskan sesuka hati, melainkan amanah yang harus kita jaga untuk kehidupan hari ini dan generasi yang akan datang.

*) Kasi Kominfo BPIC Kaltim